PANDUAN PRAKTIK KLINIS PUSKESMAS BENDA ASING DI TELINGA

BENDA ASING DI TELINGA

1. Pengertian (Definisi) Meatus  akustikus  eksternus  (MAE)  merupakan  salah  satu  bagian tubuh yang sering dimasuki benda asing, yang dapat berupa:

1. Benda asing reaktif, misal: batere, potongan besi. Benda asing reaktif berbahaya karena dapat bereaksi dengan epitel MAE dan menyebabkan edema serta obstruksi hingga menimbulkan infeksi sekunder. Ekstraksi harus segera dilakukan.

2. Benda asing non-reaktif (inert). Benda asing ini tidak bereaksi dengan epitel dan tetap ada di dalam MAE tanpa menimbulkan gejala hingga terjadi infeksi.

3. Benda asing serangga, yang dapat menyebabkan iritasi dan nyeri akibat pergerakannya


2. Anamnesis Keluhan

1. Riwayat  jelas  benda  asing  masuk  ke  telinga  secara  sengaja maupun tidak

2. Telinga terasa tersumbat atau penuh

3. Telinga berdengung

4. Nyeri pada telinga

5. Keluar cairan telinga yang dapat berbau

6. Gangguan pendengaran

3. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan MAE dengan senter / lampu kepala / otoskop menunjukkan adanya benda asing, edema dan hiperemia liang telinga luar, serta dapat disertai sekret.


4. Pemeriksaan Penunjang Tidak ada



5. Kriteria Diagnosis Diagnosis klinis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik.


6. Diagnosis Kerja Benda asing di konjungtiva


7. Diagnosis Banding Tidak ada



8. Penatalaksanaan 1. Non-medikamentosa: Ekstraksi benda asing

a. Pada kasus benda asing yang baru, ekstraksi dilakukan dalam anestesi lokal.

b. Pada kasus benda asing reaktif, pemberian cairan dihindari karena dapat mengakibatkan korosi.

c. Pada kasus benda asing berupa serangga:

Dilakukan penetesan alkohol, obat anestesi lokal (Lidokain spray atau tetes), atau minyak mineral selama ± 10 menit untuk membuat serangga tidak bergerak dan melubrikasi dinding MAE.

Setelah serangga mati, serangga dipegang dan dikeluarkan dengan forceps aligator atau irigasi menggunakan air sesuai suhu tubuh.

2.  Medikamentosa

a. Tetes telinga antibiotik hanya diberikan bila telah dipastikan tidak ada ruptur membran timpani.

b.   Analgetik untuk mengurangi rasa nyeri


9. Edukasi Orang tua disarankan untuk menjaga lingkungan anak dari benda- benda yang berpotensi dimasukkan ke telinga atau hidung.


10. Kriteria Rujukan Bila benda asing tidak berhasil dikeluarkan.


11. Prognosis 1. Ad vitam          : Bonam

2. Ad functionam : Bonam

3. Ad sanationam : Bonam

12. Referensi Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/MENKES/514/2015 tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama.


benda asing di telinga, benda asing di telinga icd 10, biaya mengambil benda asing di telinga, alat untuk mengeluarkan benda asing di telinga, sop pengambilan benda asing di telinga, benda asing di telinga bahasa medis, icd 10 kemasukan benda asing di telinga, benda asing di telinga pdf, kemasukan benda asing di telinga, kode icd 10 ekstraksi benda asing di telinga, tatalaksana benda asing di telinga, apakah benda asing di telinga bisa keluar sendiri, benda asing di telinga diagnosis, mengeluarkan benda asing dari telinga, bahasa medis kemasukan benda asing di telinga, cara mengeluarkan benda asing di telinga, kode icd 10 benda asing di telinga, benda asing masuk ke telinga, benda asing dalam telinga, kode diagnosis benda asing di telinga, diagnosis kemasukan benda asing di telinga, sop ekstraksi benda asing di telinga, kemasukan benda asing di telinga icd 10, ekstraksi benda asing telinga icd 9, icd kemasukan benda asing di telinga, icd 10 benda asing di telinga, kode icd benda asing di telinga, benda asing masuk telinga, mengeluarkan benda asing di telinga, benda asing telinga pdf, benda asing pada telinga, sop benda asing di telinga, icd x benda asing di telinga


PANDUAN PRAKTIK KLINIS PUSKESMAS BENDA ASING DI KONJUNGTIVA

BENDA ASING DI KONJUNGTIVA

1. Pengertian (Definisi) Benda asing di konjungtiva adalah benda yang dalam keadaan normal tidak dijumpai di konjungtiva dandapat menyebabkan iritasi jaringan. Pada umumnya kelainan ini bersifat ringan, namun pada beberapa keadaan dapat berakibat serius terutama pada benda asing yang bersifat asam atau basa dan bila timbul infeksi sekunder


2. Anamnesis Pasien datang dengan keluhan adanya benda yang masuk ke dalam konjungtiva  atau  matanya.  Gejala  yang  ditimbulkan berupa nyeri, mata merah dan berair, sensasi benda asing, dan fotofobia


3. Pemeriksaan Fisik 1. Visus biasanya normal.

2. Ditemukan injeksi konjungtiva tarsal dan/atau bulbi.

3. Ditemukan   benda   asing   pada   konjungtiva   tarsal superior dan/atau inferior dan/atau konjungtiva bulbi.


4. Pemeriksaan Penunjang Tidak ada



5. Kriteria Diagnosis Diagnosis ditegakkan melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik.


6. Diagnosis Kerja Benda asing di konjungtiva


7. Diagnosis Banding Konjungtivitis akut



8. Penatalaksanaan 1. Non-medikamentosa: Pengangkatan benda asing.

Berikut adalah cara yang dapat dilakukan:

a. Berikan tetes mata Tetrakain 0,5% sebanyak 1-2 tetes pada mata yang terkena benda asing.

b. Gunakan kaca pembesar (lup) dalam  pengangkatan  benda asing.

c. Angkat benda asing dengan menggunakan lidi  kapas  atau jarum suntik ukuran 23G.

d. Arah pengambilan benda asing dilakukan dari tengah ke tepi.

e. Oleskan lidi kapas yang dibubuhkan Povidon Iodin pada tempat bekas benda asing.  

2. Medikamentosa

Antibiotik topikal (salep atau tetes mata), misalnya Kloramfenikol tetes mata, 1 tetes setiap 2 jam selama 2 hari


9. Edukasi 1. Memberitahu pasien agar tidak menggosok matanya agar tidak memperberat lesi.

2. Menggunakan alat/kacamata pelindung pada saat bekerja atau berkendara.

3. Menganjurkan pasien untuk kontrol bila keluhan bertambah berat setelah dilakukan  tindakan,  seperti  mata  bertambah  merah, bengkak, atau disertai dengan penurunan visus.


10. Kriteria Rujukan 1. Bila terjadi penurunan visus

2. Bila   benda   asing   tidak   dapat   dikeluarkan,   misal:   karena keterbatasan fasilitas


11. Prognosis 1. Ad vitam          : Bonam

2. Ad functionam : Bonam

3. Ad sanationam : Bonam

12. Referensi Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/MENKES/514/2015 tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama.


benda asing di konjungtiva, sop benda asing di konjungtiva, benda asing di konjungtiva pdf, benda asing di kornea, benda asing di mata, benda asing pada konjungtiva adalah, benda asing konjungtiva, benda asing konjungtiva pdf, ada benda asing di mata, kemasukan benda asing di mata, benda asing kornea icd 10, benda asing di mata bahasa medis, 3 benda konduktor, 5 benda konduktor dan isolator, 5 benda konduktor, benda asing pada mata, 7 benda ajaib di dunia, benda asing di mata icd 10,


PANDUAN PRAKTIK KLINIS PUSKESMAS BELLS PALSY

BELLS PALSY

1. Pengertian (Definisi) Bells’palsy adalah paralisis fasialis perifer idiopatik, yang merupakan penyebab tersering dari paralisis fasialis perifer unilateral. Bells’ palsy muncul mendadak (akut), unilateral, berupa paralisis saraf fasialis perifer, yang secara gradual dapat mengalami perbaikan pada 80-90% kasus. 

2. Anamnesis Keluhan Pasien datang dengan keluhan:

1. Paralisis otot fasialis atas dan bawah unilateral, dengan onset akut (periode 48 jam) 

2. Nyeri auricular posterior atau otalgia, ipsilateral 

3. Peningkatan produksi air mata (epifora), yang diikuti penurunan produksi air mata yang dapat mengakibatkan mata kering (dry eye), ipsilateral 

4. Hiperakusis ipsilateral 

5. Penurunan rasa pengecapan pada lidah, ipsilateral


Gejala awal: 

1. Kelumpuhan otot otot fasialis unilateral, yang mengakibatkan hilangnya kerutan dahi ipsilateral, tidak mampu menutup mata ipsilateral, wajah merot/tertarik ke sisi kontralateral, bocor saat berkumur, tidak bisa bersiul.

2. Nyeri tajam pada telinga dan mastoid (60%) 

3. Penurunan rasa pengecapan pada lidah, ipsilateral (30-50%) 

4. Hiperakusis ipsilateral (15-30%) 

5. Gangguan lakrimasi ipsilateral (60%) 

6. Gangguan sensorik wajah jarang ditemukan, kecuali jika inflamasi menyebar ke saraf trigeminal.


Awitan (onset)

Awitan Bells’ palsy mendadak, dan gejala mencapai puncaknya kurang dari 48 jam. Gejala yang mendadak ini membuat pasien khawatir dan mencemaskan pasien. Mereka sering berpikir terkena stroke atau tumor otak dapat yang mengakibatkan distorsi wajah permanen. Karena kondisi ini terjadi secara mendadak dan cepat, pasien sering datang langsung ke IGD. Kebanyakan pasien menyatakan paresis terjadi pada pagi hari. Kebanyakan kasus paresis mulai terjadi selama pasien tidur.

Faktor Risiko: 

1. Paparan dingin (kehujanan, udara malam, AC)

2. Infeksi, terutama virus (HSV tipe 1)

3. Penyakit autoimun 

4. Diabetes mellitus 

5. Hipertensi 

6. Kehamilan

3. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan yang teliti pada kepala, telinga, mata, hidung dan mulut harus dilakukan pada semua pasien dengan paralisis fasial.

1. Kelemahan atau paralisis yang melibatkan saraf fasial (N VII) mengakibatkan kelemahan wajah (atas dan bawah) satu sisi (unilateral). Pada lesi UMN (lesi supra nuclear/di atas nukleus fasialis di pons), wajah bagian atas tidak mengalami kelumpuhan. Hal ini disebabkan muskuli orbikularis, frontalis dan korrugator, diinervasi bilateral oleh saraf kortikobulbaris. Inspeksi awal pasien memperlihatkan hilangnya lipatan (kerutan) dahi dan lipatan nasolabial unilateral. 

2. Saat pasien diminta untuk tersenyum, akan tampak kelumpuhan otot orbikularis oris unilateral, dan bibir akan tertarik ke sisi wajah yang normal (kontralateral). 

3. Pada saat pasien diminta untuk mengangkat alis, sisi dahi yang lumpuh terlihat datar.

4. Pada fase awal, pasien juga dapat melaporkan adanya peningkatan salivasi.


Jika paralisis hanya melibatkan wajah bagian bawah saja, maka harus dipikirkan penyebab sentral (supranuklear). Apalagi jika pasien mengeluh juga tentang adanya kelumpuhan anggota gerak (hemiparesis), gangguan keseimbangan (ataksia), nistagmus, diplopia, atau paresis saraf kranialis lainnya, kemungkinan besar BUKAN Bell’s palsy. Pada keadaan seperti itu harus dicurigai adanya lesi serebral, serebelar, atau batang otak, oleh karena berbagai sebab, antara lain vaskular (stroke), tumor, infeksi, trauma, dan sebagainya. Pada Bell’s palsy, progresifitas paresis masih mungkin terjadi, namun biasanya tidak memburuk setelah hari ke 7 sampai 10. Jika progresifitas masih berlanjut setelah hari ke 7-10, harus dicurigai diagnosis lain (bukan Bell’s palsy). Pasien dengan kelumpuhan fasial bilateral harus dievaluasi lebih lanjut, karena dapat disebabkan oleh Sindroma Guillain-Barre, penyakit Lyme, meningitis (terutama tuberkulosa), penyakit autoimun (multiple sclerosis, neurosarcoidosis) dan lain-lain.


Manifestasi Okular

Komplikasi okular unilateral pada fase awal berupa:

1. Lagoftalmus (ketidakmampuan untuk menutup mata secara total)

2. Penurunan sekresi air mata 

3. Kedua hal diatas dapat mengakibatkan paparan kornea (corneal exposure), erosi kornea, infeksi dan ulserasi kornea 

4. Retraksi kelopak mata atas


Manifestasi okular lanjut

1. Ringan: kontraktur pada otot fasial, melebarnya celah palpebral. 

2. Regenerasi aberan saraf fasialis dengan sinkinesis motorik. 

3. Sinkinesis otonom (air mata buaya, berupa menetesnya air mata saat mengunyah). 

4. Dua pertiga pasien mengeluh masalah air mata. Hal ini terjadi karena penurunan fungsi orbicularis okuli dalam membantu ekskresi air mata. 


Nyeri auricular posterior

Separuh pasien dengan Bells’ palsy mengeluh nyeri auricular posterior. Nyeri sering terjadi simultan dengan paresis, tapi nyeri mendahului paresis 2-3 hari sekitar pada 25% pasien. Pasien perlu ditanya apakah ada riwayat trauma, yang dapat diperhitungkan menjadi penyebab nyeri dan paralisis fasial. Sepertiga pasien mengalami hiperakusis pada telinga ipsilateral paralisis, sebagai akibat kelumpuhan sekunder otot stapedius. 


Gangguan pengecapan 

Walaupun hanya sepertiga pasien melaporkan gangguan pengecapan, sekitar 80% pasien menunjukkan penurunan rasa pengecapan. Kemungkinan pasien gagal mengenal penurunan rasa, karena sisi lidah yang lain tidak mengalami gangguan. Penyembuhan awal pengecapan mengindikasikan penyembuhan komplit. 

4. Pemeriksaan Penunjang Laboratorium darah: Darah lengkap, gula darah sewaktu. 



5. Kriteria Diagnosis Diagnosis Klinis 

Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik umum dan neurologis (saraf kranialis, motorik, sensorik, serebelum). Bells’ palsy adalah diagnosis eksklusi. Gambaran klinis penyakit yang dapat membantu membedakan dengan penyebab lain dari paralisis fasialis:

1. Onset yang mendadak dari paralisis fasial unilateral

2. Tidak adanya gejala dan tanda pada susunan saraf pusat, telinga, dan penyakit cerebellopontin angle (CPA).


Klasifikasi Sistem grading ini dikembangkan oleh House and Brackmann dgn skala I sampai VI.

1. Grade I adalah fungsi fasial normal. 

2. Grade II disfungsi ringan. Karakteristiknya adalah sebagai berikut: 

a. Kelemahan ringan saat dilakukan inspeksi secara detil. 

b. Sinkinesis ringan dapat terjadi. 

c. Simetris normal saat istirahat. 

d. Gerakan dahi sedikit sampai baik. 

e. Menutup mata sempurna dapat dilakukan dengan sedikit usaha.

f. Sedikit asimetri mulut dapat ditemukan. 

3. Grade III adalah disfungsi moderat, dengan karekteristik:

a. Asimetri kedua sisi terlihat jelas, kelemahan minimal. 

b. Adanya sinkinesis, kontraktur atau spasme hemifasial dapat ditemukan. 

c. Simetris normal saat istirahat. 

d. Gerakan dahi sedikit sampai moderat. 

e. Menutup mata sempurna dapat dilakukan dengan usaha.

f. Sedikit lemah gerakan mulut dengan usaha maksimal. 

4. Grade IV adalah disfungsi moderat sampai berat, dengan tandanya sebagai berikut:

a. Kelemahan dan asimetri jelas terlihat. 

b. Simetris normal saat istirahat. 

c. Tidak terdapat gerakan dahi. 

d. Mata tidak menutup sempurna.

e. Asimetris mulut dilakukan dengan usaha maksimal. 

5. Grade V adalah disfungsi berat. Karakteristiknya adalah sebagai berikut: 

a. Hanya sedikit gerakan yang dapat dilakukan. 

b. Asimetris juga terdapat pada saat istirahat. 

c. Tidak terdapat gerakan pada dahi. 

d. Mata menutup tidak sempurna.

e. Gerakan mulut hanya sedikit. 

6. Grade VI adalah paralisis total. Kondisinya yaitu: 

a. Asimetris luas. 

b. Tidak ada gerakan otot otot wajah. 

Dengan sistem ini, grade I dan II menunjukkan hasil yang baik, grade III dan IV terdapat disfungsi moderat, dan grade V dan VI menunjukkan hasil yang buruk. Grade VI disebut dengan paralisis fasialis komplit. Grade yang lain disebut sebagai inkomplit. Paralisis fasialis inkomplit dinyatakan secara anatomis dan dapat disebut dengan saraf intak secara fungsional. Grade ini seharusnya dicatat pada rekam medik pasien saat pertama kali datang memeriksakan diri.

6. Diagnosis Kerja Bells Palsy


7. Diagnosis Banding Penyakit-penyakit berikut dipertimbangkan sebagai diagnosis banding, yaitu:

1. Stroke vertebrabasilaris (hemiparesis alternans) 

2. Acoustic neuroma dan lesi cerebellopontine angle 

3. Otitis media akut atau kronik 

4. Sindroma Ramsay Hunt (adanya lesi vesicular pada telinga atau bibir) 

5. Amiloidosis 

6. Aneurisma a. vertebralis, a. basilaris, atau a. Carotis 

7. Sindroma autoimun 

8. Botulismus 

9. Karsinomatosis 

10. Cholesteatoma telinga tengah 

11. Malformasi congenital 

12. Schwannoma n. Fasialis 

13. Infeksi ganglion genikulatum 

14. Penyebab lain, misalnya trauma kepala

8. Penatalaksanaan Penatalaksanaan Prognosis pasien Bells’ palsy umumnya baik. Karena penyebabnya idiopatik, pengobatan Bell’s palsy masih kontroversi. Tujuan pengobatan adalah memperbaiki fungsi saraf VII (saraf fasialis) dan mencegah kerusakan saraf lebih lanjut. Pengobatan dipertimbangkan untuk mulai diberikan pada pasien dalam fase awal 1-4 hari onset. 


Hal penting yang perlu diperhatikan:

1. Pengobatan inisial 

a. Kortikosteroid (Prednison), dosis: 1 mg/kg atau 60 mg/day selama 6 hari, diikuti penurunan bertahap total selama 10 hari

b. Steroid dan asiklovir (dengan prednison) mungkin efektif untuk pengobatan Bells’ palsy (American Academy Neurology/AAN, 2011). 

c. Steroid kemungkinan kuat efektif dan meningkatkan perbaikan fungsi saraf kranial, jika diberikan pada onset awal (ANN, 2012). 

d. Apabila tidak ada gangguan gungsi ginjal, antiviral (Asiklovir) dapat diberikan dengan dosis 400 mg oral 5 kali sehari selama 7-10 hari. Jika virus varicella zoster dicurigai, dosis tinggi 800 mg oral 5 kali/hari.

2. Lindungi mata Perawatan mata: lubrikasi okular topikal dengan air mata artificial (tetes air mata buatan) dapat mencegah corneal exposure. (lihat bagian pembahasan dry eye)

3. Fisioterapi atau akupunktur dapat dilakukan setelah melewati fase akut (+/- 2 minggu).

9. Edukasi -


10. Kriteria Rujukan 1. Bila dicurigai kelainan lain ( lihat diagnosis banding)

2. Tidak menunjukkan perbaikan 

3. Terjadi kekambuhan atau komplikasi

11. Prognosis Prognosis pada umumnya baik, kondisi terkendali dengan pengobatan pemeliharaan. Kesembuhan terjadi dalam waktu 3 minggu pada 85% pasien. Dapat meninggalkan gejala sisa (sekuale) berupa kelemahan fasial unilateral atau kontralateral, sinkinesis, spasme hemifasialis, dan terkadang terjadi rekurensi, sehingga perlu evaluasi dan rujukan lebih lanjut.


12. Referensi Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/MENKES/514/2015 tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama.

panduan praktik klinis puskesmas bells palsy, panduan praktik klinis puskesmas pdf, panduan praktik klinis puskesmas, bell's palsy penatalaksanaan, panduan praktik klinis ptm, tatalaksana bell's palsy pdf, bells palsy.pdf, anatomi bells palsy, askep bell's palsy, ppt bell's palsy, bell palsy pdf, bell's palsy pdf, bells palsy ppt, pencegahan bell's palsy, contoh bell's palsy, penatalaksanaan bells palsy pdf, sop bells palsy, diagnosis banding bells palsy pdf, dosis bell's palsy, edukasi pasien bells palsy, pemeriksaan bells palsy pdf, bell's palsy pdf download, bell's palsy handbook pdf, bell’s palsy pdf, gejala klinis bell's palsy, pengobatan bell's palsy pdf, tatalaksana bell's palsy, terapi bells palsy pdf, jurnal bell's palsy pdf, jurnal bell's palsy, jurnal fisioterapi bell's palsy pdf, journal bell's palsy, sk bells palsy, sk pelayanan klinis puskesmas di masa pandemi, skdi bell's palsy, lp bell's palsy scribd, lp bell's palsy, download panduan praktik klinis pdf, makalah bells palsy, bell's palsy pada anak pdf, status klinis bell's palsy, tatalaksana bell's palsy prednison, permenkes panduan praktik klinis terbaru, permenkes panduan praktik klinis dokter gigi, permenkes panduan praktik klinis 2022, exercise bell's palsy, bell's palsy physical examination, panduan praktik klinis dokter di fasilitas pelayanan primer, panduan praktik klinis fisioterapi pdf, prevalensi bell's palsy di indonesia, bells palsy pdf, bell's palsy terapi pdf, bell's palsy physical therapy, patofisiologi bells palsy pdf


PANDUAN PRAKTIK KLINIS PUSKESMAS ASTIGMATISM RINGAN

 ASTIGMATISM RINGAN


1. Pengertian (Definisi) Astigmatisme adalah keadaan di mana sinar sejajar tidak dibiaskan pada satu titik fokus yang sama pada semua meridian. Hal ini disebabkan oleh kelengkungan kornea atau lensa yang tidak sama pada berbagai meridian.

2. Anamnesis Pasien  biasanya  datang  dengan  keluhan  penglihatan  kabur  dan sedikit distorsi yang kadang juga menimbulkan sakit kepala. Pasien memicingkan mata, atau head tilt  untuk dapat melihat lebih jelas.

3. Pemeriksaan Fisik Keadaan umum biasanya baik

Pemeriksaan visus tidak bisa dilakukan di Puskesmas

4. Pemeriksaan Penunjang Tidak diperlukan.



5. Kriteria Diagnosis Penegakan diagnosis dilakukan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan refraksi.

6. Diagnosis Kerja astigmatisme

7. Diagnosis Banding

Kelainan refraksi lainnya


8. Penatalaksanaan Di Puskesmas ........... tidak dapat memberikan kacamata

Penggunaan kacamata lensa silindris dengan koreksi yang sesuai.


9. Edukasi Memberitahu  keluarga  bahwa  astigmatisma  merupakan  gangguan penglihatan yang dapat dikoreksi.


10. Kriteria Rujukan 1. Tidak ada pemeriksaan visus

2. Tidak ada koreksi kacamata, resep kacamata harus dari spesialis mata


11. Prognosis 1. Ad vitam           : Bonam

2. Ad functionam : Bonam

3. Ad sanationam : Bonam

12. Referensi Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/MENKES/514/2015 tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama.



panduan praktik klinis puskesmas astigmatism ringan, panduan praktik klinis puskesmas pdf, panduan praktik klinis puskesmas, panduan praktik klinis ptm, panduan praktik klinis mata, panduan praktik klinis di rumah sakit, astigmatisma pdf, astigmat pdf, astigmatisme pdf, buku panduan praktik klinis 2022, buku panduan praktik klinis, contoh panduan praktik klinis rumah sakit, contoh panduan praktik klinis, download panduan praktik klinis pdf, ep akreditasi puskesmas 5 bab, panduan praktik klinis di fktp, panduan praktik klinis dokter gigi pdf, permenkes panduan praktik klinis dokter gigi, sk panduan praktik klinis, sk pelayanan klinis puskesmas di masa pandemi, ruangan puskesmas akreditasi, tatalaksana astigmatisme, panduan praktik klinis asma, uu akreditasi puskesmas, uu praktik kedokteran pdf, uu praktik kedokteran 2013, panduan praktik klinis 2021 pdf, permenkes panduan praktik klinis terbaru, 5 jenis astigmatisme, panduan praktik klinis mata pdf


PANDUAN PRAKTIK KLINIS PUSKESMAS ASMA PADA DEWASA

 PANDUAN PRAKTIK KLINIS PUSKESMAS ASMA BRONKHIAL (ASMA STABIL)

ASMA PADA DEWASA

1. Pengertian (Definisi) Asma adalah penyakit heterogen, selalu dikarakteristikkan dengan inflamasi kronis di saluran napas. Terdapat riwayat gejala respirasi seperti mengi, sesak, rasa berat di dada dan batuk yang intensitasnya berberda-beda berdasarkan variasi keterbatasan aliran udara ekspirasi 


2. Anamnesis Gejala khas untuk Asma, jika ada maka menigkatkan kemungkinan pasien memiliki Asma, yaitu:

1. Terdapat lebih dari satu gejala (mengi, sesak, dada terasa berat) khususnya pada dewasa muda

2. Gejala sering memburuk di malam hari atau pagi dini hari

3. Gejala bervariasi waktu dan intensitasnya

4. Gejala dipicu oleh infeksi virus, latihan, pajanan allergen, perubahan cuaca, tertawa atau iritan seperti asap kendaraan, rokok atau bau yang sangat tajam 


Faktor risiko asma bronkial 

 




 


3. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik pasien asma biasanya normal. Abnormalitas yang paling sering ditemukan adalah mengi ekspirasi saat pemeriksaan auskultasi, tetapi ini bisa saja hanya terdengar saat ekspirasi paksa. Mengi dapat juga tidak terddengan selama eksaserbasi asma yang berat karena penurunan aliran napas yang dikenal dengan “silent chest”. 

4. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan darah (eosinofil dalam darah) 

5. Kriteria Diagnosis Diagnosis Klinis 

Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisis dan pemeriksaan penunjang, yaitu terdapat kenaikan ≥15 % rasio APE sebelum dan sesudah pemberian inhalasi salbutamol

Klasifikasi Asma Bronkhial

 


Penilaian Derajat Kontrol Asma

 



6. Diagnosis Kerja Asma Bronkhial (Asma Stabil)

7. Diagnosis Banding Disfungsi pita suara, Hiperventilasi, Bronkiektasis, Kistik fibrosis, Gagal jantung, Defisiensi benda asing 

8. Penatalaksanaan Penatalaksanaan

1. Pasien disarankan untuk mengidentifikasi serta mengendalikan faktor pencetusnya.

2. Perlu dilakukan perencanaan dan pemberian pengobatan jangka panjang serta menetapkan pengobatan pada serangan akut sesuai tabel di bawah ini. 
















Penatalaksanaan Asma Berdasarkan Beratnya Keluhan

 

9. Edukasi 1. Memberikan informasi kepada individu dan keluarga mengenai seluk beluk penyakit, sifat penyakit, perubahan penyakit (apakah membaik atau memburuk), jenis  dan mekanisme kerja obat-obatan dan mengetahui kapan harus meminta pertolongan dokter

2. Kontrol secara teratur antara lain untuk menilai dan monitor berat asma secara berkala (asthma control test/ ACT)  

3. Pola hidup sehat. 

4. Menjelaskan pentingnya melakukan pencegahan dengan: a) Menghindari setiap pencetus. b) Menggunakan bronkodilator/steroid inhalasi sebelum melakukan exercise untuk mencegah exercise induced asthma. 

10. Kriteria Rujukan 1. Bila sering terjadi eksaserbasi.

2. Pada serangan asma akut sedang dan berat. 

3. Asma dengan komplikasi. 

Persiapan dalam melakukan rujukan bagi pasien asma, yaitu:

1. Terdapat oksigen. 

2. Pemberian steroid sistemik injeksi atau inhalasi disamping pemberian bronkodilator kerja cepat inhalasi.

3. Pasien harus didampingi oleh dokter/tenaga kesehatan terlatih selama perjalanan menuju ke  pelayanan sekunder.  

11. Prognosis 1. Ad vitam  : Bonam 

2. Ad functionam : Bonam 

3. Ad sanationam : Bonam

12. Referensi Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/MENKES/514/2015 tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama.


panduan praktik klinis puskesmas asma pada dewasa, panduan praktik klinis puskesmas pdf, panduan praktik klinis puskesmas, panduan asma anak, panduan asma, panduan asma pdpi, buku panduan asma, panduan praktik klinis asma, buku asma pdf, asma pnpk, clinical pathway asma, download panduan praktik klinis pdf, ebook asma pdf, ep akreditasi puskesmas 5 bab, epidemiologi asma pdf, ep akreditasi puskesmas terbaru, panduan praktik klinis dokter di fasyankes primer, panduan praktik klinis ilmu kesehatan anak, asma ppk, gina asma pdf, indikator mutu klinis puskesmas pdf, indikator mutu klinis puskesmas, indikator klinis puskesmas, jurnal asma pada lansia, jurnal asma pada anak, jurnal asma pada ibu hamil, sk aspak puskesmas pdf, sk panduan praktik klinis, sk aspak puskesmas, sk pelayanan klinis puskesmas di masa pandemi, lk asma sdki, lk asma bronkial, lk asma, materi asma ppt, materi asma pdf, obat asma di puskesmas, ruangan puskesmas akreditasi, panduan tatalaksana asma, tatalaksana asma pada kehamilan, uu puskesmas pdf, uu akreditasi puskesmas, uu puskesmas terbaru, uu puskesmas, asma v, woc asma pada anak, woc asma, ppk asma, panduan praktik klinis dokter, contoh panduan praktik klinis rumah sakit, permenkes panduan praktik klinis terbaru, contoh panduan praktik klinis, 5 bab akreditasi puskesmas apa saja, 6 prinsip penyelenggaraan puskesmas, tata laksana asma pdf 


PANDUAN PRAKTIK KLINIS PUSKESMAS ASMA PADA ANAK

ASMA BRONKHIALE (ASMA STABIL)

ASMA PADA ANAK

1. Pengertian (Definisi) Asma adalah mengi berulang dan/atau batuk persisten dengan karakteristik sebagai berikut: timbul secara episodik, cenderung pada malam/dini hari (nokturnal), musiman, setelah aktivitas fisik, serta terdapat riwayat asma atau atopi lain pada pasien dan/atau keluarganya. Inflamasi ini juga berhubungan dengan hiperreaktivitas jalan napas terhadap berbagai rangsangan. 

2. Anamnesis Anamnesis harus dilakukan dengan cermat agar didapatkan riwayat penyakit yang akurat mengenai gejala sulit bernapas, mengi atau dada terasa berat yang bersifat episodik dan berkaitan dengan musim serta terdapat riwayat asma atau penyakit atopi pada anggota keluarga. Walaupun informasi akurat mengenai hal-hal tersebut tidak mudah didapat, beberapa pertanyaan berikut ini sangat berguna dalam pertimbangan diagnosis asma :

1. Apakah anak mengalami serangan mengi atau serangan mengi berulang?

2. Apakah anak sering terganggu oleh batuk pada malam hari?

3. Apakah anak mengalami mengi atau batuk setelah berolahraga? 

4. Apakah anak mengalami gejala mengi, dada terasa berat, atau batuk setelah terpajan alergen atau polutan? 

5. Apakah jika mengalami pilek, anak membutuhkan >10 hari untuk sembuh?

6. Apakah gejala klinis membaik setelah pemberian pengobatan anti-asma? 

3. Pemeriksaan Fisik Pada pemeriksaan fisik, umumnya tidak ditemukan kelainan saat pasien tidak mengalami serangan. Pada sebagian kecil pasien yang derajat asmanya lebih berat, dapat dijumpai mengi di luar serangan. Dengan adanya kesulitan ini, diagnosis asma pada bayi dan anak kecil (di bawah usia 5 tahun) hanya merupakan diagnosis klinis (penilaian hanya berdasarkan gejala dan pemeriksaan fisis dan respons terhadap pengobatan). Pada kelompok usia ini, tes fungsi paru atau pemeriksaan untuk mengetahui adanya hiperresponsivitas saluran napas tidak mungkin dilakukan dalam praktek sehari-hari. Kemungkinan asma perlu dipikirkan pada anak yang hanya menunjukkan batuk sebagai satu-satunya gejala dan pada pemeriksaan fisis tidak ditemukan mengi, sesak, dan lain-lain. Pada anak yang tampak sehat dengan batuk malam hari yang rekuren, asma harus dipertimbangkan sebagai probable diagnosis. Beberapa anak menunjukkan gejala setelah berolahraga.  

4. Kriteria Diagnosis Asma Stabil Jika gejala dan tanda klinis jelas serta respons terhadap pemberian obat asma baik, pemeriksaan lebih lanjut tidak perlu dilakukan. Jika respons terhadap obat asma tidak baik, sebelum mengganti obat dengan yang lebih poten, harus dinilai lebih dulu apakah dosis sudah adekuat, cara dan waktu pemberian sudah benar, serta ketaatan pasien baik. Bila semua aspek tersebut sudah dilakukan dengan baik dan benar, diagnosis bukan asma perlu dipikirkan. 


Klasifikasi asma pada anak menurut PNAA 2004 

 


Asma Eksaserbasi

Eksaserbasi (serangan) asma adalah episode perburukan gejala-gejala asma secara progresif. Gejala yang dimaksud adalah sesak napas, batuk, mengi, dada rasa tertekan, atau berbagai kombinasi gejala tersebut. Pada umumnya, eksaserbasi disertai distres pernapasan. Serangan asma ditandai oleh penurunan PEF atau FEV1. Pengukuran ini merupakan indikator yang lebih dapat dipercaya daripada penilaian berdasarkan gejala. Sebaliknya, derajat gejala lebih sensitif untuk menunjukkan awal terjadinya ekaserbasi karena memberatnya gejala biasanya mendahului perburukan PEF. Derajat serangan asma bervariasi mulai dari yang ringan sampai yang mengancam jiwa, perburukan dapat terjadi dalam beberapa menit, jam, atau hari. Serangan akut biasanya timbul akibat pajanan terhadap faktor pencetus (paling sering infeksi virus atau allergen atau kombinasi keduanya), sedangkan serangan berupa perburukan yang bertahap mencerminkan kegagalan pengelolaan jangka panjang penyakit.

 

 

5. Diagnosis Kerja Asma Bronkhial (Asma Stabil)

6. Diagnosis Banding Disfungsi pita suara, Hiperventilasi, Bronkiektasis, Kistik fibrosis, Gagal jantung, Defisiensi benda asing

7. Pemeriksaan Penunjang Tidak bisa dilakukan di Puskesmas ..........

8. Penatalaksanaan Asma Stabil

Obat asma dapat dibagi dalam 2 kelompok besar, yaitu obat pereda (reliever) dan obat pengendali (controller). Obat pereda terkadang juga disebut sebagai obat pelega atau obat serangan. Obat kelompok ini digunakan untuk meredakan serangan atau gejala asma yang sedang timbul. Jika serangan sudah teratasi dan gejala sudah menghilang, obat ini tidak digunakan lagi. Kelompok kedua adalah obat pengendali yang sering disebut sebagai obat pencegah atau profilaksis. Obat ini digunakan untuk mengatasi masalah dasar asma, yaitu inflamasi kronik saluran napas. Dengan demikian, obat ini dipakai terus menerus dalam jangka waktu yang relatif lama, bergantung pada derajat penyakit asma dan responsnya terhadap pengobatan. 


 

9. Edukasi Pengendalian lingkungan, pemberian ASI eksklusif minimal 6 bulan, penghindaran makanan berpotensi alergenik, pengurangan pajanan terhadap tungau debu rumah dan rontokan bulu binatang, telah terbukti mengurangi timbulnya alergi makanan dan khususnya dermatitis atopik pada bayi.

10. Kriteria Rujukan 1. Bila sering terjadi eksaserbasi.

2. Pada serangan asma akut sedang dan berat. 

3. Asma dengan komplikasi.

11. Prognosis Prognosis tergantung pada beratnya penyakit dan ketepatan penanganan.


12. Referensi Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/MENKES/514/2015 tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama.


anak pdf, laporan kasus asma pada anak pdf, penyebab asma pada anak, pengobatan asma pada anak, pemicu asma pada anak, pencegahan asma pada anak, pertolongan pertama asma pada anak, asma ringan pada anak, resume asma pada anak, referat asma pada anak, radang asma pada anak, risiko asma pada anak, gejala asma ringan pada anak, rr anak asma, rr pada pasien asma, rr asma, asma pada anak sering kambuh, askep asma pada anak sdki, penyebab asma pada anak sering kambuh, serangan asma pada anak, sakit asma pada anak, sap asma pada anak, skripsi asma pada anak, sop asma pada anak, sp asma pada anak, seputar asma pada anak, seperti apa asma pada anak, askep asma bronkial pada anak sdki, asma pada anak tidur, asma pada anak umur 2 tahun, tanda asma pada anak, tatalaksana asma pada anak, tanda gejala asma pada anak, terapi untuk asma pada anak, tes asma pada anak, tanda dan gejala asma pada anak, asma pada anak umur 6 tahun, ciri ciri asma pada anak usia 2 tahun, antibiotik untuk asma pada anak, pertanyaan untuk asma pada anak, asma pada anak umur 4 tahun, asma v, asma pada anak 3 tahun, obat asma yang tidak diperbolehkan digunakan pada anak kecil adalah, terapi asma pada anak 0-4 tahun, asma pada bayi 1 tahun, apakah asma pada anak bisa sembuh, ciri asma pada anak 2 tahun, cara mengatasi asma pada anak 2 tahun, ciri ciri asma pada anak 2 tahun, asma pada balita 2 tahun, penyebab asma pada anak 3 tahun, penanganan asma pada anak 3 tahun, ciri ciri asma pada anak 3 tahun, asma pada bayi 3 bulan, gejala asma pada anak 3 tahun, penyakit asma pada anak 4 tahun, ciri ciri asma pada anak 4 tahun, asma pada bayi 6 bulan, asma pada anak 7 tahun, asma pada bayi 7 bulan, asma pada bayi 8 bulan

PANDUAN PRAKTIK KLINIS PUSKESMAS ASKARIASIS

ASKARIASIS

1. Pengertian (Definisi) Askariasis adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh infestasi parasit Ascaris lumbricoides. 

2. Anamnesis Keluhan 

Nafsu makan menurun, perut membuncit, lemah, pucat, berat badan menurun, mual, muntah. 


Gejala Klinis 

Gejala yang timbul pada penderita dapat disebabkan oleh cacing dewasa dan migrasi larva. 

Gangguan karena larva biasanya terjadi pada saat larva berada diparu. Pada orang yang rentan, terjadi perdarahan kecil pada dinding alveolus dan timbul gangguan pada paru yang disertai dengan batuk, demam, dan eosinofilia. Pada foto thoraks tampak infiltrat yang menghilang dalam waktu 3 minggu. Keadaan ini disebut sindroma Loeffler. 

Gangguan yang disebabkan cacing dewasa biasanya ringan, dan sangat tergantung dari banyaknya cacing yang menginfeksi di usus. Kadang-kadang penderita mengalami gejala gangguan usus ringan seperti mual, nafsu makan berkurang, diare, atau konstipasi. 

Pada infeksi berat, terutama pada anak dapat terjadi malabsorpsi sehingga memperberat keadaan malnutrisi. Gejala klinis yang paling menonjol adalah rasa tidak enak di perut, kolik akut pada daerah epigastrium, gangguan selera makan, mencret. Ini biasanya terjadi pada saat proses peradangan pada dinding usus. Pada anak kejadian ini bisa diikuti demam. Komplikasi yang ditakuti (berbahaya) adalah bila cacing dewasa menjalar ketempat lain (migrasi) dan menimbulkan gejala akut. Pada keadaan infeksi yang berat, paling ditakuti bila terjadi muntah cacing, yang akan dapat menimbulkan komplikasi penyumbatan saluran nafas oleh cacing dewasa. Pada keadaan lain dapat terjadi ileus oleh karena sumbatan pada usus oleh massa cacing, ataupun apendisitis sebagai akibat masuknya cacing ke dalam lumen apendiks. Bisa dijumpai penyumbatan ampulla Vateri ataupun saluran empedu dan terkadang masuk ke jaringan hati. 

Gejala lain adalah sewaktu masa inkubasi dan pada saat cacing menjadi dewasa di dalam usus halus, yang mana hasil metabolisme cacing dapat menimbulkan fenomena sensitisasi seperti urtikaria, asma bronkhial, konjungtivitis akut, fotofobia dan terkadang hematuria. Eosinofilia 10% atau lebih sering pada infeksi dengan Ascaris lumbricoides, tetapi hal ini tidak menggambarkan beratnya penyakit, tetapi lebih banyak menggambarkan proses sensitisasi dan eosinofilia ini tidak patognomonis untuk infeksi Ascaris lumbricoides. 


Faktor Risiko 

1. Kebiasaan tidak mencuci tangan. 

2. Kurangnya penggunaan jamban. 

3. Kebiasaan menggunakan tinja sebagai pupuk. 

4. Kebiasaan tidak menutup makanan sehingga dihinggapi lalat yang membawa telur cacing. 


3. Pemeriksaan Fisik 1. Pemeriksaan tanda vital 

2. Pemeriksaan generalis tubuh: konjungtiva anemis, terdapat tanda-tanda malnutrisi, nyeri abdomen jika terjadi obstruksi.  


4. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan penunjang untuk penyakit ini adalah dengan melakukan pemeriksaan tinja secara langsung. Adanya telur dalam tinja memastikan diagnosis Askariasis. Tidak dapat dilakukan di Puskesmas ..........


5. Kriteria Diagnosis Penegakan diagnosis dilakukan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik dan ditemukannya larva atau cacing dalam tinja.


6. Diagnosis Kerja Askariasis


7. Diagnosis Banding Jenis kecacingan lainnya


8. Penatalaksanaan 1. Memberi pengetahuan kepada masyarakat akan pentingnya kebersihan diri dan lingkungan, antara lain: 

a. Kebiasaan mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir 

b. Menutup makanan 

c. Masing-masing keluarga memiliki jamban keluarga 

d. Tidak menggunakan tinja sebagai pupuk 

e. Kondisi rumah dan lingkungan dijaga agar tetap bersih dan tidak lembab. 


2. Farmakologis 

a. Mebendazol, dosis 100 mg, dua kali sehari, diberikan selama tiga hari berturut-turut, atau

Pengobatan dapat dilakukan secara perorangan atau secara masal pada masyarakat. Syarat untuk pengobatan massal antara lain: 

1. Obat mudah diterima dimasyarakat 

2. Aturan pemakaian sederhana 

3. Mempunyai efek samping yang minimal

4. Bersifat polivalen, sehingga dapat berkhasiat terhadap beberapa jenis cacing

5. Harga mudah dijangkau 

9. Edukasi Memberikan informasi kepada pasien dan keluarga mengenai pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan, yaitu antara lain: 

1. Masing-masing keluarga memiliki jamban keluarga. Sehingga kotoran manusia tidak menimbulkan pencemaran pada tanah disekitar lingkungan tempat tinggal kita. 

2. Tidak menggunakan tinja sebagai pupuk. 

3. Menghindari kontak dengan tanah yang tercemar oleh tinja manusia. 

4. Menggunakan sarung tangan jika ingin mengelola limbah/sampah. 

5. Mencuci tangan sebelum dan setelah melakukan aktifitas dengan menggunakan sabun dan air mengalir. 

6. Kondisi rumah dan lingkungan dijaga agar tetap bersih dan tidak lembab. 


10. Kriteria Rujukan -


11. Prognosis Pada umumnya prognosis adalah bonam, karena jarang menimbulkan kondisi yang berat secara klinis.


12. Referensi Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/MENKES/514/2015 tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama

penyakit askariasis, patofisiologi penyakit askariasis, ppt penyakit askariasis, jelaskan penyakit askariasis, penyakit ascariasis adalah, penyakit ascaris lumbricoides, penyakit yang disebabkan oleh ascaris lumbricoides, askariasis adalah, penyakit myasis adalah, penyakit ascariasis, askep penyakit gea, diagnosis ascariasis, epidemiologi ascariasis, penyakit asf, gejala askariasis, infeksi ascaris lumbricoides, askep penyakit kronis, lsk penyakit kulit, mrsa penyakit apa, penyakit asp, askariasis pdf, apa gejala penyakit ascariasis, makalah penyakit ascariasis, bahaya penyakit ascariasis, pencegahan penyakit ascariasis, penyakit apakah ascariasis, ascariasis penyakit menular, ascariasis gejala, penyakit s, penyakit asites adalah, terapi askariasis, penyakit urti, penyakit ws pada ikan, penyakit a-z, 2 penyakit, penyakit 4a, 5 penyakit yang disebabkan oleh parasit, 7 penyakit hati, 7 penyakit kronis bpjs, 8 penyakit hati dalam islam, 9 penyakit kronis, 9 penyakit hati


PANDUAN PRAKTIK KLINIS PUSKESMAS ARTRITIS, OSTEOARTRITIS

ARTRITIS, OSTEOARTRITIS

1. Pengertian (Definisi) Penyakit sendi degeneratif yang berkaitan dengan kerusakan kartilago sendi. Pasien sering datang berobat pada saat sudah ada deformitas sendi yang bersifat permanen. 

2. Anamnesis Keluhan

1. Nyeri sendi

2. Hambatan gerakan sendi

3. Kaku pagi

4. Krepitasi

5. Pembesaran sendi

6. Perubahan gaya berjalan 


Faktor Risiko

1. Usia > 60 tahun

2. Wanita, usia >50 tahun atau menopause

3. Kegemukan/ obesitas

4. Pekerja berat dengen penggunaan satu sendi terus menerus 

3. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan Fisik Tanda Patognomoni

1. Hambatan gerak

2. Krepitasi

3. Pembengkakan sendi yang seringkali asimetris

4. Tanda-tanda peradangan sendi

5. Deformitas sendi yang permanen

6. Perubahan gaya berjalan

4. Kriteria Diagnosis Diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran klinis. 

5. Diagnosis Kerja Atritis, Osteoartritis

6. Diagnosis Banding Artritis Gout, Rhematoid Artritis 

7. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan Penunjang Radiografi 

8. Penatalaksanaan 1. Pengelolaan OA berdasarkan atas distribusinya (sendi mana yang terkena) dan berat ringannya sendi yang terkena.

2. Pengobatan bertujuan untuk mencegah progresifitas dan meringankan gejala yang dikeluhkan.

3. Modifikasi gaya hidup, dengan cara:

a. Menurunkan berat badan

b. Melatih pasien untuk tetap menggunakan sendinya dan melindungi sendi yang sakit

4. Pengobatan Non Medikamentosa: Rehabilitasi Medik /Fisioterapi

5. Pengobatan Medikamentosa

a. Analgesik topical

b. NSAID (oral):

non selective: COX1 (Diklofenak, Ibuprofen, Piroksikam, Mefenamat, Metampiron)

selective: COX2 (Meloksikam) 

9. Edukasi 1. Menurunkan berat badan

2. Melatih pasien untuk tetap menggunakan sendinya dan melindungi sendi yang sakit

10. Kriteria Rujukan 1. Bila ada komplikasi, termasuk komplikasi terapi COX 1

2. Bila ada komorbiditas

3. Bila nyeri tidak dapat diatasi dengan obat-obatan

4. Bila curiga terdapat efusi sendi 

11. Prognosis Prognosis umumnya tidak mengancam jiwa, namun fungsi sering terganggu dan sering mengalami kekambuhan.

12. Referensi Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/MENKES/514/2015 tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama.

artritis, osteoartritis, artritis osteoartritis adalah, artritis osteoartritis, rheumatoid arthritis osteoarthritis and ankylosing spondylitis, tipos de artritis osteoartritis, rheumatoid artritis osteoartritis dan ankilosing spondilitis, jenis artritis osteoartritis, cara mengatasi artritis osteoartritis, pengertian arthritis osteoarthritis, apa yang dimaksud artritis osteoartritis, diferencia entre artritis y osteoartritis, que es la artritis osteoartritis, osteoartritis artritis artinya, artritis dan osteoartritis, artritis artrosis osteoartritis, revmatoidni artritis ali osteoartritis, artrosis, arthritis dan osteoarthritis, artritis akut, apa itu rheumatoid artritis osteoartritis dan ankilosing spondilitis, diferencia entre artritis artrosis y osteoartritis, beda reumatoid artritis dengan osteoartritis, beda osteoartritis dan reumatoid artritis, bilateral knee osteoarthritis, osteoartritis.pdf, arthritis bilateral, artritis osteoartritis concepto, arthritis kronis, arthritis of knee, arthritis classification, cuadro comparativo de artritis reumatoide y osteoartritis, cual es la diferencia entre artritis y osteoartritis, cual es la diferencia entre osteoartritis y artritis reumatoide, osteoartritis es la forma más común de artritis, arthritis oa, arthritis osteoarthritis, osteoartritis artritis disebabkan oleh, perbedaan artritis dan osteoartritis, osteoartritis dengan artritis, artritis y osteoartritis diferencias, artritis reumatoide osteoartritis diferencias, artritis reumatoide y osteoartritis diferencias, artritis osteoartritis degenerativa, osteoartritis y artritis reumatoide diferencias, que diferencia hay entre artritis y osteoartritis, que diferencia hay entre osteoartritis y artritis reumatoide, perbedaan reumatoid artritis dan osteoartritis, diferencias entre artritis reumatoide y osteoartritis pdf, artritis en osteoartritis, artritis y osteoartritis es lo mismo, artritis osteoartritis que es, artritis reumatoide es osteoartritis, etiologi osteoarthritis jurnal, artritis eksudatif, etiologi osteoarthritis pdf, etiologi osteoartritis, osteoartritis y artritis es lo mismo, similitudes entre osteoartritis y artritis reumatoide, que es peor la artritis o la osteoartritis, fisioterapi osteoarthritis, faktor risiko osteoartritis, faktor risiko osteoartritis pdf, fisioterapi osteoarthritis lutut, faktor predisposisi osteoartritis, arthritis genu, gout arthritis obat, gout artritis adalah, grade osteoarthritis adalah, rheumatoid arthritis osteoarthritis, osteoartritis artinya, osteoarthritis (oa) adalah, reumatoidni artritis i osteoartritis, artritis inflamatoria osteoartritis, osteoartritis artritis infecciosa, artritis idiopatik juvenil, arthritis icd 10, osteoarthritis indonesia, osteoartritis in revmatoidni artritis, osteoartritis i reumatoidni artritis, icd-10 osteoarthritis, intraartikular, osteoarthritis adalah jurnal, artritis reumatoid juvenil, arthritis joint, osteoartritis jurnal, artritis juvenil, journal of osteoarthritis, joint arthritis, osteoartritis artroskopi, juxta articular osteoporosis, knee osteoarthritis adalah, knee arthrosis, knee arthritis, arthritis lutut, osteoarthritis lp, osteoarthritis lutut pdf, osteoarthritis lutut, osteoartritis y artritis reumatoide es lo mismo, ¿qué diferencia hay entre la artritis y la osteoartritis, la diferencia entre artritis y osteoartritis, la artritis produce osteoartritis, m19 other arthrosis, manifestasi klinis osteoarthritis, makalah arthritis, materi osteoarthritis, makalah tentang osteoarthritis, nyeri arthritis adalah, osteoartritis of artritis, osteoartritis y artritis, osteoartritis o artritis reumatoide, osteoartritis o artritis diferencia, terapi obat osteoarthritis, osteoarthritis osteoporosis, apa obat osteoarthritis, obat oles osteoarthritis, ¿cómo saber si tengo artritis reumatoide o osteoartritis, artritis osteoporosis y osteoartritis, ¿cómo saber si es osteoartritis o artritis reumatoide, artritis reumatoide y osteoartritis pdf, osteoartritis artritis psoriasica, artritis y osteoartritis pdf, patofisiologi osteoartritis pdf, penatalaksanaan osteoartritis pdf, artritis reumatoid peregangan otot, arthritis pdf, artritis reumatoid pdf, artritis psoriásica y osteoartritis, ejercicios para la artritis osteoartritis, artrose, kuesioner osteoarthritis, arti osteoarthritis genu dextra, osteoartritis es lo mismo que artritis, que significa osteoartritis artritis, artritis eksudatif adalah, osteoartritis artritis reumatoid, osteoartritis reumatoidni artritis, osteoarthritis artritis de rodilla, arthritis rheumatoid remaja, arthritis rheumatoid pdf, arthritis reumatoid adalah, diferencia entre osteoartritis y artritis reumatoide, osteoartritis vs artritis reumatoidea, osteoartritis y artritis reumatoide similitudes, síntomas de la artritis osteoartritis, significado de artritis osteoartritis, artritis osteoartritis tipos, artritis reumatoid terapi fisik, tatalaksana osteoartritis pdf, perbedaan osteoartritis dan reumatoid artritis, tatalaksana osteoartritis, tinjauan pustaka osteoarthritis, arthritis unspecified, osteoarthritis vs artritis reumatoide, osteoartritis vs artritis reumatoide, osteoartritis vs artritis reumatoide similitudes, artritis vs osteoartritis, osteoarthritis vs osteoporosis, rheumatoid arthritis vs osteoarthritis, voltaren arthritis pain, osteoarthritis vs rheumatoid arthritis, woc osteoartritis, woc osteoarthritis, woc rheumatoid arthritis, artritis reumatoide y osteoartritis, artritis y osteoartritis, osteoartritis pdf, icd 10 0a, arthritis kode icd 10, klasifikasi osteoarthritis jurnal, osteoarthritis alomedika, kriteria osteoarthritis, grade 1 osteoarthritis, diferencia artritis y artrosis, osteoarthritis adalah pdf, arthritis grade 2, other arthritis, 3. osteoarthritis, osteoarthritis grade 3 treatment, osteoarthritis grade 3 adalah, osteoarthritis grade 4 treatment, osteoarthritis grade 4 adalah, kriteria oa, arthrosis of knee adalah, osteoartritis,


PANDUAN PRAKTIK KLINIS PUSKESMAS ANEMIA DEFISIENSI BESI

ANEMIA DEFISIENSI BESI

1. Pengertian (Definisi) Anemia secara fungsional didefinisikan sebagai penurunan jumlah massa eritrosit sehingga tidak dapat memenuhi fungsinya untuk membawa oksigen dalam jumlah cukup ke jaringan perifer

2. Anamnesis Pasien datang ke dokter dengan keluhan:

Lemah, lesu, letih, Lelah, penglihatan berkunang-kunang, pusing, telinga berdengung, penurunan konsentrasi dan sesak napas

Pada ibu hamil juga dengan keluhan yang sama

3. Pemeriksaan Fisik Gejala umum:

Pucat  dapat  terlihat  pada:  konjungtiva,  mukosa  mulut,  telapak tangan, dan jaringan di bawah kuku

Gejala anemia defisiensi besi

Disfagia, atrofi papil lidah, stomatitis angularis, koilonika

4. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan  darah:  hemoglobin  (Hb),  hematokrit  (Ht),  leukosit, trombosit,  jumlah  eritrosit,  MCV, MCH, MCHC, dan urin rutin.

5. Kriteria Diagnosis Anemia adalah suatu sindrom yang dapat disebabkan oleh penyakit dasar  sehingga  penting  menentukan  penyakit  dasar  yang menyebabkan anemia. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan hasil pemeriksaan darah dengan kriteria Hb darah kurang dari kadar Hb normal.

Nilai rujukan kadar hemoglobin normal menurut WHO:

1. Laki-laki: >13 g/dL

2. Perempuan: >12 g/dL

3. Perempuan hamil: >11 g/dL

6. Diagnosis Kerja Anemia defisiensi besi

7. Diagnosis Banding 1. Anemia defisiensi vitamin B12

2. Anemia aplastik

3. Anemia hemolitik

4. Anemia pada penyakit kronik

8. Penatalaksanaan Prinsip penatalaksanaan anemia harus berdasarkan diagnosis definitif yang telah ditegakkan. Setelah penegakan diagnosis dapat diberikan sulfas  ferrosus  3  x  200  mg  (200  mg  mengandung  66  mg  besi elemental)

9. Edukasi 1. Memberikan  pengertian     kepada  pasien  dan  keluarga  tentang perjalanan penyakit dan tata laksananya, sehingga meningkatkan kesadaran dan  kepatuhan  dalam  berobat  serta  meningkatkan kualitas hidup pasien.

2. Pasien diinformasikan mengenai efek samping obat berupa mual, muntah, heartburn, konstipasi, diare, serta BAB kehitaman.

3. Bila  terdapat  efek  samping  obat  maka  segera  ke  pelayanan kesehatan.

10. Kriteria Rujukan 1. Anemia tanpa gejala dengan kadar Hb <8 g/dL.

2. Anemia dengan gejala tanpa melihat kadar Hb segera dirujuk.

3. Anemia berat dengan indikasi transfusi (Hb <7 g/dL).

4. Anemia karena penyebab yang tidak termasuk kompetensi dokter di layanan tingkat   pertama   misalnya   anemia   aplastik,   anemia hemolitik dan anemia megaloblastik.

5. Jika didapatkan kegawatan (misal perdarahan aktif atau distres pernafasan) pasien segera dirujuk.

11. Prognosis Prognosis umumnya dubia ad bonam karena sangat tergantung pada penyakit   yang   mendasarinya.   Bila   penyakit   yang   mendasarinya teratasi, dengan nutrisi yang baik anemia defisiensi besi dapat teratasi.

12. Referensi Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/MENKES/514/2015 tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama.


PANDUAN PRAKTIK KLINIS PUSKESMAS ALERGI MAKANAN


ALERGI MAKANAN 

1. Pengertian (Definisi) Alergi makanan adalah reaksi alergi makanan terjadi bila alergen makanan menembus sawar gastro intestinal yang memacu reaksi IgE.


2. Anamnesis Pasien biasanya memiliki keluhan 

1. Pada kulit: eksim dan urtikaria. 

2. Pada saluran pernapasan: rinitis dan asma. 

3. Keluhan pada saluran pencernaan: gejala gastrointestinal non spesifik dan berkisar dari edema, pruritus bibir, mukosa pipi, mukosa faring, muntah, kram, distensi,dan diare. 

4. Diare kronis dan malabsorbsi terjadi akibat reaksi hipersensitivitas lambat non Ig-E-mediated seperti pada enteropati protein makanan dan penyakit seliak 

5. Hipersensitivitas susu sapi pada bayi menyebabkan occult bleeding atau frank colitis 


3. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik pada kulit dan mukosa serta paru. Pada pemeriksaan fisik biasanya ditemukan eksim dan urtikaria


4. Kriteria Diagnosis Diagnosis ditegakkan berdasar anamnesis dan pemeriksaan fisik


5. Diagnosis Kerja Alergi makanan


6. Diagnosis Banding Intoksikasi makanan 


7. Pemeriksaan Penunjang Tidak ada pemeriksaan penunjang khusus untuk pemeriksaan ini. 


8. Penatalaksanaan Riwayat reaksi alergi berat atau anafilaksis: 

1. Hindari makanan penyebab 

2. Jangan lakukan uji kulit atau uji provokasi makanan.

3. Pemberian antihistamin  sedatif, seperti cetrizine, 1x10 mg maupun antihistamin non sedatif seperti loratadine tablet, 1x10 mg, atau 2 x 5 mg/hari. 


9. Edukasi Rencana Tindak Lanjut 

1. Edukasi pasien untuk kepatuhan diet pasien 

2. Menghindari makanan yang bersifat alergen secara sengaja mapun tidak sengaja (perlu konsultasi dengan ahli gizi) 

3. Perhatikan label makanan 

4. Menyusui bayi sampai usia 6 bulan menimbulkan efek protektif terhadap alergi makanan


10. Kriteria Rujukan Pasien dirujuk apabila pemeriksaan uji kulit, uji provokasi dan eliminasi makanan terjadi reaksi anafilaksis.

11. Prognosis Umumnya prognosis adalah dubia ad bonam bila medikamentosa disertai dengan perubahan gaya hidup.


12. Referensi Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/MENKES/514/2015 tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama.


PANDUAN PRAKTIK KLINIS PUSKESMAS ACNE VULGARIS RINGAN / Jerawat


ACNE VULGARIS RINGAN 

1. Pengertian (Definisi) Akne vulgaris adalah penyakit peradangan kronis dari folikel pilosebasea yang diinduksi dengan peningkatan produksi sebum, perubahan pola keratinisasi, peradangan, dan kolonisasi dari bakteri Propionibacterium acnes.


2. Anamnesis 1. Pasien biasanya memiliki keluhan erupsi kulit polimorfi di lokasi predileksi, disertai rasa nyeri atau gatal namun masalah estetika umumnya merupakan keluhan utama.

2. Pasien memiliki faktor risiko antara lain : 

a. Usia Remaja

b. Stress emosional

c. Merokok

d. Riwayat akne dalam keluarga

e. Banyak makan-makanan berlemak dan tinggi karbohidrat.


3. Pemeriksaan Fisik 1. Komedo berupa papul miliar yang ditengahnya mengandung sumbatan sebum, bila berwarna hitam disebut komedo hitam (black comedo, open comedo) dan bila berwarna putih disebut komedo putih atau komedo tertutup (white comedo, close comedo). 

2. Erupsi kulit polimorfi dengan gejala predominan salah satunya, komedo, papul yang tidak beradang dan pustul, nodus dan kista yang beradang. 

3. Pengeluaran sumbatan sebum dengan komedo ekstraktor (sendok Unna) ditemukan sebum yang menyumbat folikel tampak sebagai massa padat seperti lilin atau massa lebih lunak seperti nasi yang ujungnya kadang berwarna hitam.


4. Kriteria Diagnosis Acne vulgaris memiliki gradasi/tingkat keparahan : 

1. Ringan, bila: 

a. Beberapa lesi tak beradang pada satu predileksi 

b. Sedikit lesi tak beradang pada beberapa tempat predileksi

c. Sedikit lesi beradang pada satu predileksi 

2. Sedang, bila: 

a. Banyak lesi tak beradang pada satu predileksi 

b. Beberapa lesi tak beradang pada lebih dari satu predileksi 

c. Beberapa lesi beradang ada satu predileksi

d. Sedikit lesi beradang pada lebih dari satu predileksi 

3. Berat, bila: 

a. Banyak lesi tak beradang pada lebih dari satu predileksi 

b. Banyak lesi beradang pada satu atau lebih predileksi 


5. Diagnosis Kerja Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan  pemeriksaan fisik. 


6. Diagnosis Banding Erupsi akneiformis, Akne venenata, Rosasea, Dermatitis perioral


7. Pemeriksaan Penunjang Tidak diperlukan pemeriksaan penunjang khusus untuk pemeriksaan ini. 


8. Penatalaksanaan 1. Obat Topikal yang dapat diberikan :  oksitetrasiklin 1% atau klindamisin fosfat 1%. 

2. Antiperadangan topikal: hidrokortison 1-2,5%. 

3. Sistemik  : Pengobatan sistemik ditujukan untuk menekan aktivitas jasad renik disamping juga mengurangi reaksi radang, menekan produksi sebum. Dapat diberikan antibakteri sistemik, misalnya tetrasiklin 250 mg-1g/hari, eritromisin 4x250 mg/hari.


9. Edukasi 1. Menghindari terjadinya peningkatan jumlah lipid sebum dan perubahan isi sebum dengan cara : 

a. Diet rendah lemak dan karbohidrat. Meskipun hal ini diperdebatkan efektivitasnya, namun bila pada anamnesis menunjang, hal ini dapat dilakukan.

b. Melakukan perawatan kulit dengan membersihkan permukaan kulit.

2. Menghindari terjadinya faktor pemicu terjadinya akne, misalnya : 

a. Hidup teratur dan sehat, cukup istirahat, olahraga, sesuai kondisi tubuh, hindari stress. 

b. Penggunaan kosmetika secukupnya, baik banyaknya maupun lamanya. 

c. Menjauhi terpacunya kelenjar minyak, misalnya minuman keras, makanan pedas, rokok, lingkungan yang tidak sehat dan sebagainya. 

d. Menghindari polusi debu, pemencetan lesi yang tidak lege artis, yang dapat memperberat erupsi yang telah terjadi. 


10. Kriteria Rujukan Acne vulgaris sedang sampai berat. 



11. Prognosis Prognosis umumnya bonam. akne vulgaris umumnya sembuh sebelum mencapai usia 30-40 an.


12. Referensi Kementerian Kesehatan RI dan WHO. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu    di    Fasilitas    Kesehatan    Dasar    dan    Rujukan.    Jakarta :KementerianKesehatan  RI.  2013(Kementerian  Kesehatan  Republik Indonesia, 2013)


KW

jerawat adalah

l70 jerawat adalah

pie jerawat adalah

hormon jerawat adalah

penyebab timbulnya jerawat adalah

injeksi jerawat adalah

deos jerawat adalah

coklat jerawat adalah

penyebab jerawat adalah

breakout jerawat adalah

jerawat aktif adalah

jerawat ain adalah

jerawat acne adalah

jerawat akut adalah

jerawat fungal acne adalah

obat jerawat alami adalah

anti jerawat adalah

apakah jerawat adalah penyakit

arti jerawat adalah

akibat jerawat adalah

ain jerawat adalah

alat listrik yang tepat digunakan untuk mengeringkan jerawat adalah

alat yang digunakan untuk menghilangkan komedo dan isi jerawat adalah

alat yang digunakan untuk memencet komedo atau jerawat adalah

air mawar untuk jerawat adalah

alat untuk membantu menghilangkan komedo atau jerawat adalah

jerawat batu adalah

jerawat batu

jerawat batu di pipi

jerawat batu di dagu

jerawat batu di hidung

jerawat badan

jerawat bahasa inggris

jerawat bernanah

jerawat breakout

jerawat batu di jidat

bahasa inggris jerawat adalah

biskuit jerawat adalah

bakteri penyebab jerawat adalah

bekas jerawat adalah

berikut ini cara yang tepat untuk mencegah jerawat adalah

bagian kulit yang bertanggungjawab terhadap keberadaan jerawat adalah

bopeng jerawat adalah

bakteri yg berperan paling besar infeksi pada jerawat adalah

bahasa inggrisnya jerawat adalah

jerawat cystic

jerawat cinta

jerawat conglobata

jerawat cinta di pipi

jerawat cinta dimana

jerawat ciri hamil

jerawat coklat

jerawat cream

jerawat cokelat

jerawat cuci muka

calming jerawat adalah

csm untuk jerawat adalah

cara menghilangkan jerawat adalah

cara mencegah jerawat adalah

cara mengatasi jerawat adalah

cauter jerawat adalah

ciri ciri jerawat adalah

ciri ciri timbulnya jerawat adalah

jerawat di dagu

jerawat di hidung

jerawat di pipi

jerawat di dahi

jerawat di kepala

jerawat di leher

jerawat di telinga

jerawat di kemaluan

jerawat di ketiak

jerawat di bibir

diagnosis l70 jerawat adalah

detox jerawat adalah

diagnosis jerawat adalah

definisi jerawat adalah

salah satu ciri pubertas adalah munculnya jerawat yang disebabkan oleh

jerawat adalah hal yang lumrah dialami oleh remaja yang mengalami

bekas jerawat pie dan pih adalah

untuk mengatasi jerawat hal yang perlu dilakukan adalah

jerawat english

jerawat eksim

jerawat efek kb suntik

jerawat es batu

jerawat efek kb

jerawat efek hamil

jerawat eksfoliasi

jerawat efek pil kb

jerawat efek hormon

jerawat erek erek

ekstraksi jerawat adalah

eksaserbasi jerawat adalah

bha adalah exfoliating yang dapat mengelupas kulit agar jerawat tersamarkan

jerawat

gejala jerawat

muka jerawatan

jerawat hilang

jerawat jorok

jerawat fungal adalah

jerawat fulminans

jerawat full muka

jerawat folikel rambut

jerawat flek hitam

jerawat faktor genetik

jerawat faktor hormon

jerawat fungi

jerawat fordyce

jerawat f

facial jerawat adalah

fakta tidak benar mengenai insulin dan jerawat adalah

fisiologis yang mempengaruhi munculnya jerawat adalah

fungsi benzoil peroksida 1 dalam sediaan untuk jerawat adalah

fungsi utama benzoyl peroxide dalam pengobatan jerawat adalah

flare jerawat adalah

fungsi jerawat adalah

jerawat folikulitis adalah

jerawat genetik adalah

jerawat gatal

jerawat gatal di rahang

jerawat gede

jerawat gede di pipi

jerawat gusi

jerawat gatal dan bernanah

jerawat ga ada matanya

jerawat gara gara apa

jerawat gatal setelah pakai skincare

gangguan pada kulit yang dapat menyebabkan jerawat adalah

gangguan yang menyebabkan timbul jerawat adalah

jerawat adalah istilah lain untuk renang gaya

jerawat gatal adalah

jerawat adalah gangguan kronis pada bagian kulit bernomor

jerawat parah banget

jerawat adalah hormon

jerawat hormon

jerawat hitam

jerawat hidung

jerawat hitam di pipi

jerawat hormon di pipi

jerawat haid

jerawat hamil

jerawat hormon di dagu

jerawat hamil muda

hormon penyebab jerawat adalah

hormon yang menyebabkan jerawat adalah

hal yang menyebabkan jerawat pada kulit adalah

jerawat karena hormon adalah

bekas jerawat hitam adalah

cara mengatasi jerawat hormon adalah

jerawat hormon pria adalah

jerawat inflamasi adalah

jerawat inggrisnya adalah

jerawat inversa adalah

jerawat itu adalah

jerawat menurut islam adalah

jerawat bahasa inggrisnya adalah

isi jerawat adalah

ipl jerawat adalah

inflamasi jerawat adalah

iritasi jerawat adalah

isi dalam jerawat adalah

isi dari jerawat adalah

berikut ini adalah upaya pencegahan jerawat kecuali

kombinasi penanganan utama jerawat dengan inflamasi ringan sedang adalah

berikut ini yang dapat menyebabkan timbulnya jerawat pada wajah adalah

jerawat adalah jurnal

jerawat jamur

jerawat jenis

jerawat adalah pdf

ada jerawat

jerawat adalah penyakit

jurnal jerawat adalah

jerawat jamur adalah

salah satu ciri masa pubertas adalah munculnya jerawat jerawat dapat

jenis jerawat yang dapat diberikan terapi oleh apoteker langsung adalah

salah satu ciri masa pubertas adalah munculnya jerawat jerawat

jerawat juvenilis adalah

jerawat kistik adalah

jerawat kistik

jerawat kecil putih

jerawat kecil

jerawat kepala

jerawat kelamin

jerawat klasik

jerawat ketiak

jerawat komedo

jerawat kecil di pipi

kista jerawat adalah

kandungan vitamin yang mampu untuk mengatasi jerawat adalah

kulit jerawat adalah

kosmetik yang digunakan untuk pengobatan dalam perawatan jerawat adalah

kepanjangan pie jerawat adalah

jerawat komedogenik adalah

masalah kulit yang muncul berbentuk bekas jerawat kemerahan adalah

jerawat l70 adalah

jerawat leher

jerawat lidah

jerawat leher belakang

jerawat lengan

jerawat lebih baik dipencet atau dibiarkan

jerawat luka

jerawat leher dan rahang

jerawat lemak

jerawat lutut

lesi jerawat adalah

l70 9 jerawat adalah

l70 0 jerawat adalah

laser jerawat adalah

lubang bekas jerawat adalah

lesi inflamasi jerawat adalah

tanda pubertas yang dialami laki-laki dan perempuan adalah timbulnya jerawat

jerawat mendem adalah

jerawat meradang

jerawat mendem di dagu

jerawat merah

jerawat matang

jerawat merah di pipi

jerawat milia

jerawat mata

jerawat menurut islam

jerawat mendem di hidung

metode penerapan hf yang berfungsi untuk mengeringkan jerawat adalah

masa yang salah satunya ditandai dengan munculnya banyak jerawat adalah

menyamarkan bekas jerawat adalah

mengatasi jerawat adalah

makanan yang menyebabkan jerawat adalah

mikroorganisme penyebab jerawat adalah

mikroba yang terlibat pada terbentuknya akne jerawat adalah

munculnya jerawat adalah

makanan pemicu jerawat adalah

jerawat nodul adalah

jerawat nasi adalah

jerawat nodul

jerawat nanah

jerawat nanah kecil

jerawat nodulokistik

jerawat nanah di hidung

jerawat nanah boleh dipencet

jerawat nyeri di pipi

jerawat nyeri

nodul jerawat adalah

noda jerawat adalah

noda bekas jerawat adalah

jerawat nanah adalah

penyebab jerawat nanah adalah

jerawat nodulokistik adalah

bahasa inggris nya jerawat adalah

jerawat on off

jerawat on off di pipi

jerawat on off terus

jerawat on off artinya

jerawat on off di dagu

jerawat on point artinya

jerawat orang hamil

jerawat orang hamil dimana

jerawat obat

jerawat obat alami

obat jerawat adalah

obat totol jerawat adalah

obat retinoid topikal yang sering digunakan untuk jerawat adalah

obat untuk jerawat adalah

jerawat on off adalah

obat jerawat batu adalah

salah satu ciri pubertas adalah munculnya jerawat disebabkan oleh

jerawat pustula adalah

jerawat pie adalah

jerawat papula adalah

jerawat pih adalah

jerawat purging adalah

jerawat punggung

jerawat pasir

jerawat pie

pih jerawat adalah

peeling jerawat adalah

penyakit ain jerawat adalah

pie bekas jerawat adalah

peradangan jerawat adalah

penyakit jerawat adalah

pustula jerawat adalah

jerawat quora

jerawat quotes

mukanya jerawatan

jerawat sembuh

jerawat retensi adalah

jerawat rindu adalah

jerawat rosacea adalah

jerawat rindu lirik

jerawat rahang

jerawat ringan

jerawat rindu chord

jerawat rambut

jerawat resdung

rentan jerawat adalah

radang jerawat adalah

roti jerawat adalah

rawan jerawat adalah

rentan timbul jerawat adalah

penyebab munculnya jerawat pada remaja adalah

jerawat sekitar mulut

jerawat sakit

jerawat seperti bisul

jerawat saat hamil

jerawat seperti bentol

jerawat saat haid

jerawat saat hamil muda

jerawat sebelum haid

jerawat sekitar bibir

jerawat stres

scar jerawat adalah

suntik jerawat adalah

susunan yang tepat petunjuk menghilangkan bekas jerawat adalah

simplisia dari pelikan berikut digunakan untuk mengobati jerawat adalah

salep jerawat adalah

jerawat adalah tanda

jerawat tanda hamil

jerawat telinga

jerawat tanpa mata

jerawat tak kunjung sembuh menurut islam

jerawat terasa gatal

jerawat tidak ada matanya

jerawat terparah

jerawat tumbuh di tempat yang sama

jerawat tiada mata

totol jerawat adalah

tanaman yang digunakan untuk mengatasi masalah kulit seperti jerawat adalah

tumbuh jerawat adalah ciri masa pubertas pada

tumbuh jerawat adalah

tanda jerawat adalah

terjadinya jerawat adalah

timbulnya jerawat adalah

treatment jerawat adalah

jerawat ubat

jerawat untuk

jerawat ungu

upaya pencegahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi jerawat adalah

upaya pencegahan jerawat adalah

unsur kimia yang dimanfaatkan sebagai obat jerawat adalah

upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah timbulnya jerawat adalah

jerawat uv adalah

sulfur untuk jerawat adalah

jerawat vulgaris adalah

jerawat vs bisul

jerawat vitamin c

jerawat vulgaris ringan

jerawat video

jerawat vs bruntusan

jerawat viva

jerawat virus

jerawat vs herpes

jerawat vitamin e

jerawat acne vulgaris adalah

yang dimaksud dengan jerawat akne vulgaris adalah

jerawat vulva adalah

jerawat/acne vulgaris adalah

jerawat v

jerawat+di+miss+v

jerawat whitehead adalah

jerawat whitehead

jerawat warna hitam

jerawat warna putih

jerawat wajah

jerawat warna hijau

jerawat warna kuning

jerawat warna merah

jerawat warna ungu

jerawat whitehead di dagu

wafer jerawat adalah

bakteri yang dapat menyebabkan timbul jerawat di wajah adalah

berikut ini penyebab timbulnya jerawat pada wajah adalah

jerawat xda mata

jerawat di mata

bekas jerawat parah

jerawat artinya

jerawat yang tidak ada matanya

jerawat yang sudah matang sebaiknya diapakan

jerawat yang tidak sakit saat disentuh

jerawat yang ada nanahnya

jerawat yang tidak ada nanahnya

jerawat yang sakit saat disentuh

jerawat yang meradang

jerawat yang gatal

jerawat yang boleh dipencet

yang merupakan jenis jenis noda bekas jerawat adalah

bakteri yang menyebabkan jerawat adalah

jerawat zona t

jerawat zakar

jerawat zoom

jerawat zaidul akbar

jerawat zinc

jerawat ada berapa jenis

ada berapa jenis jerawat

0÷0 =

obat jerawat hormon

jerawat 1 di pipi

jerawat 1 muka

jerawat 1

jerawat 1 bulan

jerawat 1 badan

jerawat 1 biji

jerawat 1/2

jerawat 1 di jidat

1 jerawat banyak mata

jerawat banyak di muka

jerawat 2 mata

jerawat 2 minggu tidak hilang

jerawat 2d togel

jerawat 2

jerawat 2 bulan tidak hilang

jerawat 2d

2 jenis jerawat

jerawat 3 mata

jerawat 3 tahun tidak hilang

jerawat 3

jerawat 3 titik

jerawat 3d

3 jenis jerawat

jerawat 4 mata

4 ×

4 jenis jerawat

4÷4=

48’

5 jenis jerawat

jerawat ada berapa macam

6 jenis jerawat

skincare jerawat kecil

7 jenis jerawat

7 jenis

8x8 build

halakon jerawat


PANDUAN PRAKTIK KLINIS PUSKESMAS ABSES FOLIKEL RAMBUT



ABSES FOLIKEL RAMBUT

1. Pengertian (Definisi) Abses folikel rambut merupakan infeksi pada folikel rambut yang disebabkan oleh bakteri gram positif dari golongan Stafilokokus dan Streptokokus. Abses folikel rambut merupakan penyakit yang sering dijumpai. Penularannya melalui kontak langsung dengan agen penyebab. 



2. Anamnesis Keluhan

Pasien datang mengeluh adanya koreng atau luka di kulit. Awalnya berbentuk seperti bintil kecil yang gatal, dapat berisi cairan atau nanah dengan dasar dan pinggiran sekitarnya kemerahan. Keluhan ini dapat meluas menjadi bengkak disertai dengan rasa nyeri. 


Faktor risiko 

1. Higiene yang kurang baik 

2. Defisiensi gizi 

3. Imunodefisiensi (CD4 dan CD8 yang rendah) 



3. Pemeriksaan Fisik Folikulitis adalah peradangan folikel rambut yang ditandai dengan papul eritema perifolikuler dan rasa gatal atau perih. 

Furunkel adalah peradangan folikel rambut dan jaringan sekitarnya berupa papul, vesikel atau pustul perifolikuler dengan eritema di sekitarnya dan disertai rasa nyeri. 

Furunkulosis adalah beberapa furunkel yang tersebar. 

Karbunkel adalah kumpulan dari beberapa furunkel, ditandai dengan beberapa furunkel yang berkonfluensi membentuk nodus bersupurasi di beberapa puncak.

 


4. Pemeriksaan Penunjang 1. Pemeriksaan dari apusan cairan sekret dari dasar lesi dengan pewarnaan Gram 

2. Pemeriksaan darah rutin kadang-kadang ditemukan leukositosis. 



5. Kriteria Diagnosis Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang jika diperlukan.


6. Diagnosis Kerja Abses Folikel Rambut


7. Diagnosis Banding 1. Kista Epidermal

2. Hidradenitis Suppurativa

3. Sporotrikosis

4. Blastomikosis

5. Skrofuloderma

8. Penatalaksanaan 1. Terapi suportif dengan menjaga higiene, nutrisi TKTP dan stamina tubuh. 

2. Farmakoterapi dilakukan dengan: 

a. Topikal: 

Bila banyak pus/krusta, dilakukan kompres terbuka dengan permanganas kalikus (PK) 1/5.000 atau yodium povidon 7,5% yang dilarutkan 10 kali. 

Bila tidak tertutup pus atau krusta, diberikan salep atau krim asam fusidat 2% atau mupirosin 2%, dioleskan 2-3 kali sehari selama 7-10 hari. 

b. Antibiotik oral dapat diberikan dari salah satu golongan di bawah ini: 

Penisilin yang resisten terhadap penisilinase, seperti: kloksasilin. 

o Dosis dewasa: 3 x 250-500 mg/hari, selama 5-7 hari, selama 5-7 hari. 

o Dosis anak: 50 mg/kgBB/hari terbagi dalam 4 dosis, selama 5-7 hari. 

Amoksisilin dengan asam klavulanat. 

o Dosis dewasa: 3 x 250-500 mg 

o Dosis anak: 25 mg/kgBB/hari terbagi dalam 3 dosis, selama 5-7 hari 

Klindamisin 4 x 150 mg per hari, pada infeksi berat dosisnya 4 x 300-450 mg per hari 

Eritromisin: dosis dewasa: 4 x 250-500 mg/hari, anak: 20- 50 mg/kgBB/hari terbagi 4 dosis, selama 5-7 hari. 

Sefalosporin, misalnya sefadroksil dengan dosis 2 x 500 mg atau 2 x 1000 mg per hari. c. Insisi untuk karbunkel yang menjadi abses untuk membersihkan eksudat dan jaringan nekrotik. 


9. Edukasi Edukasi pasien dan keluarga untuk pencegahan penyakit dengan menjaga kebersihan diri dan stamina tubuh. 


10. Kriteria Rujukan Pasien dirujuk apabila terjadi: 

1. Komplikasi mulai dari selulitis. 

2. Tidak sembuh dengan pengobatan selama 5-7 hari. 

3. Terdapat penyakit sistemik (gangguan metabolik endokrin dan imunodefisiensi). 


11. Prognosis Apabila penyakit tanpa disertai komplikasi, prognosis umumnya bonam, bila dengan komplikasi, prognosis umumnya dubia ad bonam. 


12. Referensi Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/MENKES/514/2015 tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama