MOHON MAAF APABILA SUSUNANYA ADA YANG BERANTAKAN , KARENA HASIL COPY PASTE DARI FILE WORD/EXEL KE POSTINGAN BLOG
Showing posts with label PANDUAN PRAKTEK KLINIS. Show all posts
Showing posts with label PANDUAN PRAKTEK KLINIS. Show all posts

Friday, November 8, 2024

PANDUAN PRAKTIK KLINIS VULVITIS



1. Pengertian (Definisi) Vulvitis adalah suatu peradangan pada vulva (organ kelamin luar wanita)


2. Anamnesis Rasa gatal dan perih di kemaluan, serta keluarnya cairan kental dari kemaluan yang berbau.

Gejala Klinis:

1.  Rasa terbakar di daerah kemaluan

2.  Gatal

3.  Kemerahan dan iritasi

4.  Keputihan


3. Pemeriksaan Fisik Dari inspeksi daerah genital didapati kulit vulva yang menebal dan kemerahan, dapat ditemukan juga lesi di sekitar vulva. Adanya cairan kental dan berbau yang keluar dari vagina.


4. Pemeriksaan Penunjang

Tidak ada

5. Kriteria Diagnosis Tidak ada



6. Diagnosis Kerja Vulvitis


7. Diagnosis Banding

Dermatitis alergika 


8. Penatalaksanaan 1. Menghindari penggunaan bahan yang dapat menimbulkan iritasi di sekitar daerah genital.

2. Menggunakan  salep  kortison.  Jika  vulvitis  disebabkan  infeksi vagina, dapat   dipertimbangkan   pemberian   antibiotik   sesuai penatalaksanaan vaginitis atau vulvovaginitis.


9. Edukasi -


10. Kriteria Rujukan Pasien dirujuk ke dokter spesialis kulit dan kelamin jika pemberian salep kortison tidak memberikan respon.


11. Prognosis Prognosis pada umumnya bonam.


12. Referensi Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/MENKES/514/2015 tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama.



PANDUAN PRAKTIK KLINIS VAGINITIS


1. Pengertian (Definisi) Vaginitis  adalah  peradangan  pada  vagina  yang  ditandai  dengan adanya pruritus, keputihan, dispareunia, dan disuria. Penyebab vaginitis:

1. Vaginosis bakterialis (bakteri Gardnerella Vaginalis adalah bakteri anaerob yang bertanggung jawab atas terjadinya infeksi vagina yang non-spesifik, insidennya terjadi sekitar 23,6%).

2. Trikomonas (kasusnya berkisar antara 5,1-20%).

3. Kandida (vaginal kandidiasis, merupakan penyebab tersering peradangan pada   vagina   yang   terjadi   pada   wanita   hamil, insidennya berkisar antara 15-42%).


2. Anamnesis Bau adalah keluhan yang paling sering dijumpai. Gejala klinis

1.  Bau

2.  Gatal (pruritus)

3.  Keputihan

4.  Dispareunia

5.  Disuria


Faktor Risiko

1.  Pemakai AKDR

2.  Penggunaan handuk bersamaan

3.  Imunosupresi

4.  Diabetes melitus

5.  Perubahan hormonal (misal : kehamilan)

6.  Penggunaan terapi antibiotik spektrum luas

7.  Obesitas


3. Pemeriksaan Fisik Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan adanya iritasi, eritema atau edema pada vulva dan vagina. Mungkin serviks juga dapat tampak eritematous.


4. Pemeriksaan Penunjang

Tidak dapat dilakukan di Puskesmas ...........

5. Kriteria Diagnosis Kriteria diagnostil sindroma

Normal Vaginosis bakterialis Vaginosis trikomoniasis Vulvovaginitis kandida

pH Vagina 3,8-4,2 > 4,5 > 4,5 >4,5 (usually)

Cairan Vagina Putih, jernih, halus Tipis, homogen, putih, abu-abu, lengket, sering kali bertambah banyak Kuning-hijau, berbuih,lengket, tambah banyak 

Putih 

seperti 

keju, 

kadang-kadang tambah banyak 

Uji whiff 

Bau amis (KOH) -

Tidak ada

ada ± 

Mungkin ada

Tidak ada 

Tidak ada Keputihan, bau busuk Keputihan bau busuk prurutus vulva dysuria Gatal/panas keputihan


6. Diagnosis Kerja Vaginitis 


7. Diagnosis Banding Vaginosis bakterialis, Vaginosis trikomonas, Vulvovaginitis kandida


8. Penatalaksanaan a. Jaga kebersihan diri terutama daerah vagina 

b. Hindari pemakaian handuk secara bersamaan 

c. Hindari pemakaian sabun untuk membersihkan daerah vagina yang dapat menggeser jumlah flora normal dan dapat merubah kondisi pH daerah kewanitaan tersebut. 

d. Jaga berat badan ideal 

e. Farmakologis: 

1. Tatalaksana Vaginosis Bakterialis 

Metronidazol 500 mg peroral 2 x sehari selama 7 hari 

Metronidazol pervagina 2 x sehari selama 5 hari 

2. Tatalaksana Vaginosis trikomonas 

Metronidazol 2 g peroral (dosis tunggal) 

Pasangan seks pasien sebaiknya juga diobati 

9. Edukasi 1. Berikan informasi kepada pasien, dan (pasangan seks) suami, mengenai faktor risiko dan penyebab dari penyakit vaginitis ini sehingga pasien dan suami dapat menghindari faktor risikonya. 

2. Informasikan pula pentingnya pasangan seks (suami) untuk dilakukan juga pemeriksaan dan terapi guna pengobatan secara keseluruhan antara suami-istri dan mencegah terjadinya kondisi yang berulang


10. Kriteria Rujukan -


11. Prognosis Prognosis pada umumnya bonam.


12. Referensi Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/MENKES/514/2015 tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama.



PANDUAN PRAKTIK KLINIS URTIKARIA AKUT


1. Pengertian (Definisi) Urtikaria adalah reaksi vaskular pada kulit akibat bermacam-macam sebab.


2. Anamnesis 1. Pasien datang dengan keluhan biasanya gatal, rasa tersengat atau tertusuk. Gatal sedang-berat di kulit yang disertai bentol-bentol di daerah wajah, tangan, kaki, atau hampir di seluruh tubuh. 

2. Pasien juga mengeluh rasa panas seperti terbakar atau tertusuk. 

3. Dalam kondisi berat, Kadang-kadang terdapat keluhan sesak napas, nyeri perut, muntah-muntah, nyeri kepala, dan berdebar-debar (gejala angioedema).

4. Pasien memiliki faktor risiko antara lain : 

a. Riwayat atopi pada diri dan keluarga. 

b. Riwayat alergi. 

c. Riwayat trauma fisik pada aktifitas. 

d. Riwayat gigitan/sengatan serangga. 

e. Konsumsi obat-obatan (NSAID, antibiotik – tersering penisilin, diuretik, imunisasi, injeksi, hormon, pencahar, dan sebagainya). 

f. Konsumsi makanan (telur, udang, ikan, kacang, dan sebagainya). 

g. Riwayat infeksi dan infestasi parasit. 

h. Penyakit autoimun dan kolagen 

i. Usia rata-rata adalah 35 tahun. 

j. Riwayat trauma faktor fisik (panas, dingin, sinar matahari, sinar UV, radiasi). 


3. Pemeriksaan Fisik 1. Ruam atau patch eritema. 

2. Berbatas tegas. 

3. Bagian tengah tampak pucat. 

4. Bentuk papul dengan ukuran bervariasi, mulai dari papular hingga plakat. 

5. Kadang-kadang disertai demografisme, berupa edema linier di kulit yang terkena goresan benda tumpul, timbul dalam waktu lebih kurang 30 menit. 

6. Pada lokasi tekanan dapat timbul lesi urtika. 

7. Tanda lain dapat berupa lesi bekas garukan. 

4. Pemeriksaan Penunjang 1. Pemeriksaan darah (eosinofil) 

2. Tes eliminasi makanan dengan cara menghentikan semua makanan yang dicurigai untuk beberapa waktu, lalu mencobanya kembali satu per satu. 


5. Kriteria Diagnosis Penegakan diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan penunjang. 


6. Diagnosis Kerja Diagnosis urtikaria ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan penunjang antara lain :  

1. Berdasarkan waktu berlangsungnya serangan, urtikaria dibedakan atas urtikaria akut (< 6 minggu atau selama 4 minggu terus menerus) dan kronis (> 6 minggu). 

2. Berdasarkan morfologi klinis, urtikaria dibedakan menjadi urtikaria papular (papul), gutata (tetesan air) dan girata (besar-besar). 

3. Berdasarkan luas dan dalamnya jaringan yang terkena, urtikaria dibedakan menjadi urtikaria lokal (akibat gigitan serangga atau kontak), generalisata (umumnya disebabkan oleh obat atau makanan) dan angioedema. 

4. Berdasarkan penyebab dan mekanisme terjadinya, urtikaria dapat dibedakan menjadi: 

a. Urtikaria imunologik, yang dibagi lagi menjadi: 

1. Keterlibatan IgE  reaksi hipersensitifitas tipe I (Coombs and Gell) yaitu pada atopi dan adanya antigen spesifik. 

2. Keikutsertaan komplemen  reaksi hipersensitifitas tipe II dan III (Coombs and Gell), dan genetik. 

b. Urtikaria kontak  reaksi hipersensitifitas tipe 4 (Coombs and Gell). 

c. Urtikaria non-imunologik (obat golongan opiat, NSAID, aspirin serta trauma fisik). 

d. Urtikaria idiopatik (tidak jelas penyebab dan mekanismenya). 


7. Diagnosis Banding Purpura anafilaktoid (purpura Henoch-Schonlein), Pitiriasis rosea (lesi awal berbentuk eritema), Eritema multiforme (lesi urtika, umumnya terdapat pada ekstremitas bawah).


8. Penatalaksanaan a. Antihistamin oral nonsedatif, misalnya loratadin 1 x 10 mg per hari selama 1 minggu. 

b. Apabila terjadi angioedema atau urtikaria generalisata, dapat diberikan Prednison oral 60-80 mg mg per hari dalam 3 kali pemberian selama 3 hari dan dosis diturunkan 5-10 mg per hari.

c. Bila disertai obstruksi saluran napas, diindikasikan pemberian epinefrin subkutan yang dilanjutkan dengan pemberian kortikosteroid prednison 60-80 mg/hari selama 3 hari, dosis diturunkan 5-10 mg/hari.


9. Edukasi 1. Prinsip pengobatan adalah identifikasi dan eliminasi faktor penyebab urtikaria. 

2. Penyebab urtikaria perlu menjadi perhatian setiap anggota keluarga. 

3. Pasien dapat sembuh sempurna.

4. Pasien menghindari penyebab yang dapat menimbulkan urtikaria, seperti: 

a. Kondisi yang terlalu panas, stres, alkohol, dan agen fisik. 

b. Penggunaan antibiotik penisilin, aspirin, NSAID, dan ACE inhibitor. 

c. Agen lain yang diperkirakan dapat menyebabkan urtikaria 


10. Kriteria Rujukan 1. Rujukan ke dokter spesialis bila ditemukan fokus infeksi. 

2. Jika urtikaria berlangsung kronik dan rekuren. 

3. Jika pengobatan first-line therapy gagal. 

4. Jika kondisi memburuk, yang ditandai dengan makin bertambahnya patch eritema, timbul bula, atau bahkan disertai sesak. 


11. Prognosis Prognosis pada umumnya bonam dengan tetap menghindari factor pencetus.


12. Referensi Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/MENKES/514/2015 tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama.


PANDUAN PRAKTIK KLINIS VARISELA


1. Pengertian (Definisi) Infeksi akut primer oleh virus Varicella zoster yang menyerang kulit dan mukosa, klinis terdapat gejala konstitusi, kelainan kulit polimorf, terutama berlokasi di bagian sentral tubuh. Masa inkubasi 14-21 hari. Penularan melalui udara (air-borne) dan kontak langsung.


2. Anamnesis Demam, malaise, dan nyeri kepala. Kemudian disusul timbulnya lesi kulit berupa papul eritem yang dalam waktu beberapa jam berubah menjadi vesikel. Biasanya disertai rasa gatal.

Faktor Risiko

1.  Anak-anak.

2.  Riwayat kontak dengan penderita varisela.

3.  Keadaan imunodefisiensi.


3. Pemeriksaan Fisik Erupsi kulit berupa papul eritematosa yang dalam waktu beberapa jam berubah menjadi vesikel. Bentuk vesikel ini khas berupa tetesan embun  (tear  drops).  Vesikel  akan  menjadi  keruh  dan  kemudian menjadi krusta. Sementara proses ini berlangsung, timbul lagi vesikel- vesikel baru yang menimbulkan gambaran polimorfik khas untuk varisela. Penyebaran terjadi secara sentrifugal, serta dapat menyerang selaput lendir mata, mulut, dan saluran napas atas.


4. Pemeriksaan Penunjang

Tidak dapat dilakukan di Puskesmas ..............

5. Kriteria Diagnosis Tidak ada



6. Diagnosis Kerja Varisela


7. Diagnosis Banding 1. Variola

2. Herpes simpleks disseminata

3. Coxsackievirus

4. Rickettsialpox


8. Penatalaksanaan 1. Gesekan kulit perlu dihindari agar tidak mengakibatkan pecahnya vesikel. Selain itu, dilakukan pemberian nutrisi TKTP, istirahat dan mencegah kontak dengan orang lain.

2. Gejala prodromal diatasi sesuai dengan indikasi. Aspirin dihindari karena dapat menyebabkan Reye’s syndrome.

3. Losio kalamin dapat diberikan untuk mengurangi gatal.

4. Pengobatan antivirus oral

Asiklovir: dewasa 5 x 800 mg/hari, anak-anak 4 x 20 mg/kgBB (dosis maksimal 800 mg), atau Pemberian obat tersebut selama 7-10 hari dan efektif diberikan pada 24 jam pertama setelah timbul lesi.


9. Edukasi Edukasi bahwa varisella merupakan penyakit yang self-limiting pada anak yang imunokompeten. Komplikasi yang ringan dapat berupa infeksi bakteri sekunder. Oleh karena itu, pasien sebaiknya menjaga kebersihan tubuh. Penderita sebaiknya dikarantina untuk mencegah penularan.


10. Kriteria Rujukan 1. Terdapat gangguan imunitas

2. Mengalami komplikasi yang berat seperti pneumonia, ensefalitis, dan hepatitis.


11. Prognosis Bonam pada pasien imunokompetem

Dubia ad bonam pada pasien immunokompramais


12. Referensi Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/MENKES/514/2015 tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama. 


PANDUAN PRAKTIK KLINIS VERUKA VULGARIS / KUTIL


1. Pengertian (Definisi) Veruka vulgaris merupakan hiperplasia epidermis yang disebabkan oleh Human Papilloma Virus (HPV) tipe tertentu. Sinonim penyakit ini adalah kutil atau common wart. Penularan melalui kontak langsung dengan agen penyebab. Veruka ini sering dijumpai pada anak-anak dan remaja. 


2. Anamnesis Keluhan 

Adanya kutil pada kulit dan mukosa. 


Faktor Risiko 

1. Biasanya terjadi pada anak-anak dan orang dewasa sehat. 

2. Pekerjaan yang berhubungan dengan daging mentah. 

3. Imunodefisiensi. 

3. Pemeriksaan Fisik Tanda Patognomonis 

Papul berwarna kulit sampai keabuan dengan permukaan verukosa. Papul ini dapat dijumpai pada kulit, mukosa dan kuku. Apabila permukaannya rata, disebut dengan veruka Plana. Dengan goresan dapat timbul autoinokulasi sepanjang goresan (fenomena Koebner). 

 

4. Pemeriksaan Penunjang Tidak diperlukan


5. Kriteria Diagnosis Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik


6. Diagnosis Kerja Diagnosis klinis dapat ditambahkan sesuai dengan bentuk klinis atau lokasi, yaitu: 

1. Veruka vulgaris 

2. Veruka Plana 

3. Veruka Plantaris 


7. Diagnosis Banding Kalus, Komedo, Liken planus, Kondiloma akuminatum, Karsinoma sel skuamosa 


8. Penatalaksanaan 1. Pasien harus menjaga kebersihan kulit. 

2. Pengobatan topikal dilakukan dengan pemberian bahan kaustik, misalnya dengan larutan AgNO3 25%, asam trikloroasetat 50% atau asam salisilat 20% - 40%. 


9. Edukasi Edukasi pasien bahwa penyakit ini seringkali residif walaupun diberi pengobatan yang adekuat.

 

10. Kriteria Rujukan Rujukan sebaiknya dilakukan apabila: 

1. Diagnosis belum dapat ditegakkan. 

2. Tindakan memerlukan anestesi/sedasi. 

11. Prognosis Pada 90% kasus sembuh spontan dalam 5 tahun sehingga prognosis umumnya bonam. 


12. Referensi Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/MENKES/514/2015 tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama



PANDUAN PRAKTIK KLINIS ULKUS PADA TUNGKAI


1. Pengertian (Definisi) Ulkus pada tungkai adalah penyakit arteri, vena, kapiler dan pembuluh darah limfe yang dapat menyebabkan kelainan pada kulit. Insiden penyakit ini meningkat seiring dengan bertambahnya usia. 

Trauma, higiene yang buruk, gizi buruk, gangguan pada pembuluh darah dan kerusakan saraf perifer dianggap sebagai penyebab yang paling sering. Kerusakan saraf perifer biasanya terjadi pada penderita diabetes mellitus dan penderita kusta. Hipertensi juga dikaitkan sebagai salah satu penyebab rusaknya pembuluh darah. Pembagian ulkus kruris dibagi ke dalam empat golongan yaitu, ulkus tropikum, ulkus varikosus, ulkus arterial dan ulkus neurotrofik. 


2. Anamnesis Keluhan 

Pasien datang dengan luka pada tungkai bawah. Luka bisa disertai dengan nyeri atau tanpa nyeri. Terdapat penyakit penyerta lainnya yang mendukung kerusakan pembuluh darah dan jaringan saraf perifer. 

Anamnesa: 

1. Dapat ditanyakan kapan luka pertama kali terjadi. Apakah pernah mengalami hal yang sama di daerah yang lain. 

2. Perlu diketahui apakah pernah mengalami fraktur tungkai atau kaki. Pada tungkai perlu diperhatikan apakah ada vena tungkai superfisial yang menonjol dengan tanda inkompetensi katup. 

3. Perlu diketahui apakah penderita mempunyai indikator adanya penyakit yang dapat memperberat kerusakan pada pembuluh darah. 


Faktor Risiko: usia penderita, berat badan, jenis pekerjaan, penderita gizi buruk, mempunyai higiene yang buruk, penyakit penyerta yang bisa menimbulkan kerusakan pembuluh darah. 


3. Pemeriksaan Fisik Gejala klinis keempat tipe ulkus:

1. Ulkus Tropikum

Penyebab:

Trauma, higiene dan gizi serta infeksi oleh kuman Bacillus fusiformis dan Borrelia vincentii.

Gejala:

Luka kecil terbentuk papula dan menjadi vesikel. Vesikel pecah akan terbentuk ulkus kecil. Ulkus akan meluas ke samping dan ke dalam.

2. Ulkus Varikosum

Penyebab:

Kelainan pembuluh seperti trombosis atau kelainan katup vena yang berasal dari luar pembuluh darah seperti bendungan daerah proksimal karena tumor di abdomen, kehamilan atau pekerjaan yang dilakukan berdiri.

Gejala:

Ada edema, bengkak pada kaki yang meningkat saat berdiri. Kaki terasa gatal, pegal, rasa terbakar tidak nyeri dan berdenyut. Ulkus yang terjadi akan mempunyai tepi yang tidak teratur. Dasar ulkus terdapat jaringan granulasi, eksudat. Kulit sekitar akan nampak merah kecoklatan. Terdapat indurasi, mengkilat, dan fibrotik pada kulit sekitar luka.

3. Ulkus Arteriosum

Penyebab:

Ulkus ini paling sering terdapat pada posterior, medial atau anterior. Dapat terjadi pada tonjolan tulang. Bersifat eritematosa, nyeri, bagian tengah berwarna kebiruan yang akan menjadi bula hemoragik. Ulkus yang dalam, berbentuk plon (punched out), tepi ulkus kotor. Rasa nyeri akan bertambah jika tungkai diangkat atau dalam keadaan dingin. Denyut nadi pada dorsum pedis akan melemah atau sama sekali tidak ada.

Gejala:

Ulkus ini paling sering terdapat pada posterior, medial atau anterior. Dapat terjadi pada tonjolan tulang. Bersifat eritematosa, nyeri, bagian tengah berwarna kebiruan yang akan menjadi bula hemoragik. Ulkus yang dalam, berbentuk plon (punched out), tepi ulkus kotor. Rasa nyeri akan bertambah jika tungkai diangkat atau dalam keadaan dingin. Denyut nadi pada dorsum pedis akan melemah atau sama sekali tidak ada.

4. Ulkus Neurotrofik

Penyebab:

Terjadi karena tekanan atau trauma pada kulit yang anestetik.

Gejala:

Pada tempat yang paling kuat menerima tekanan yaitu di tumit dan metatarsal. Bersifat tunggal atau multipel. Ulkus bulat, tidak nyeri dan berisi jaringan nekrotik. Dapat mencapai subkutis dan membentuk sinus. Bisa mencapai tulang dan menimbulkan infeksi sekunder.


4. Pemeriksaan Penunjang 1. Pemeriksaan darah lengkap 

2. Urinalisa  

3. Pemeriksaan kadar gula dan kolesterol 

4. Biakan kuman 

5. Kriteria Diagnosis Dapat ditegakkan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang, Pemeriksaan biakan kuman pada ulkus sangat membantu dalam diagnosa dan pemberian terapi.

 

6. Diagnosis Kerja Ulkus pada tungkai


7. Diagnosis Banding Keadaan dan bentuk luka dari keempat jenis ulkus ini sulit di bedakan pada stadium lanjut. Pada ulkus tropikum yang kronis dapat menyerupai ulkus varikosum atau ulkus arteriosum. 


8. Penatalaksanaan 1. Non medikamentosa 

a. Perbaiki keadaan gizi dengan makanan yang mengandung kalori dan protein tinggi, serta vitamin dan mineral. 

b. Hindari suhu yang dingin 

c. Hindari rokok 

d. Menjaga berat badan 

e. Jangan berdiri terlalu lama dalam melakukan pekerjaan 

2. Medikamentosa 

Pengobatan yang akan dilakukan disesuaikan dengan tipe dari ulkus tersebut. 

a. Pada ulkus varikosum lakukan terapi dengan meninggikan letak tungkai saat berbaring untuk mengurangi hambatan aliran pada vena, sementara untuk varises yang terletak di proksimal dari ulkus diberi bebat elastin agar dapat membantu kerja otot tungkai bawah memompa darah ke jantung. 

b. Pada ulkus arteriosum, pengobatan untuk penyebabnya dilakukan konsul ke bagian bedah. 

9. Edukasi 1. Edukasi perawatan kaki. 

2. Olah raga teratur dan menjaga berat badan ideal. 

3. Menghindari trauma berulang, trauma dapat berupa fisik, kimia dan panas yang biasanya berkaitan dengan aktivitas atau jenis pekerjaan. 

4. Menghentikan kebiasaan merokok. 

5. Merawat kaki secara teratur setiap hari, dengan cara: 

a. Selalu menjaga kaki dalam keadaan bersih. 

b. Membersihkan dan mencuci kaki setiap hari dengan air mengeringkan dengan sempurna dan hati-hati terutama diantara jari-jari kaki. 

c. Memakai krim kaki yang baik pada kulit yang kering atau tumit yang retak-retak. Tidak memakai bedak, sebab ini akan menyebabkan kering dan retak-retak. 

d. Menggunting kuku, lebih mudah dilakukan sesudah mandi, sewaktu kuku lembut. 

e. Menghindari penggunaan air panas atau bantal panas. 

f. Tidak boleh berjalan tanpa alas kaki, termasuk di pasir. 


10. Kriteria Rujukan Respon terhadap perawatan ulkus tungkai akan berbeda. Hal ini terkait lamanya ulkus, luas dari ulkus dan penyebab utama. 


11. Prognosis 1. Ad vitam : Bonam 

2. Ad functionam : Bonam 

3. Ad sanationam : Bonam 

12. Referensi Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/MENKES/514/2015 tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama



PANDUAN PRAKTIK KLINIS BPPV / VERTIGO


1. Pengertian (Definisi) BPPV adalah gangguan klinis yang sering terjadi dengan karakteristik serangan vertigo di perifer, berulang dan singkat, sering berkaitan dengan perubahan posisi kepala dari tidur, melihat ke atas, kemudian memutar kepala


2. Anamnesis Deskripsi jelas keluhan pasien. Pusing yang dikeluhkan dapat berupa sakit kepala, rasa goyang, pusing berputar, rasa tidak stabil atau melayang.

1. Bentuk serangan vertigo:

a. Pusing berputar

b. Rasa goyang atau melayang

2. Sifat serangan vertigo:

a. Periodik 

b. Kontinu

c.  Ringan atau berat

3. Faktor pencetus atau situasi pencetus dapat berupa:

a. Perubahan gerakan kepala atau posisi 

b. Situasi: keramaian dan emosional

c.  Suara

4. Gejala otonom yang menyertai keluhan vertigo:

a. Mual, muntah, keringat dingin

b. Gejala otonom berat atau ringan

5. Ada atau tidaknya gejala gangguan pendegaran seperti : tinitus atau tuli

6. Obat-obatan     yang     menimbulkan     gejala     vertigo     seperti: streptomisin, gentamisin, kemoterapi

7. Tindakan    tertentu:    temporal    bone    surgery,    transtympanal treatment

8. Penyakit yang diderita pasien: DM, hipertensi, kelainan jantung

9. Defisit  neurologis:  hemihipestesi,  baal  wajah  satu  sisi,  perioral numbness, disfagia,   hemiparesis,   penglihatan   ganda,   ataksia serebelaris


3. Pemeriksaan Fisik 1. Pemeriksaan umum

2. Pemeriksaan  sistem  kardiovaskuler  yang  meliputi  pemeriksaan tekanan darah pada saat baring, duduk dan berdiri dengan perbedaan lebih dari 30 mmHg.

3. Pemeriksaan neurologis

a. Kesadaran: kesadaran baik untuk vertigo vestibuler perifer dan vertigo non vestibuler, namun dapat menurun pada vertigo vestibuler sentral.

b. b. Nervus   kranialis:   pada   vertigo   vestibularis   sentral   dapat mengalami gangguan  pada  nervus  kranialis  III,  IV,  VI,  V sensorik, VII, VIII, IX, X, XI, XII.

c. Motorik: kelumpuhan satu sisi (hemiparesis).

d. Sensorik: gangguan sensorik pada satu sisi (hemihipestesi). 

e. Keseimbangan (pemeriksaan khusus neurootologi):

Tes nistagmus:

Nistagmus disebutkan berdasarkan komponen cepat, sedangkan komponen lambat menunjukkan lokasi lesi: unilateral, perifer, bidireksional, sentral.

Tes Romberg:

Jika pada keadaan berdiri dengan kedua kaki rapat dan mata terbuka pasien jatuh, kemungkinan kelainan pada serebelum. Jika saat mata terbuka pasien tidak jatuh, tapi saat mata tertutup  pasien cenderung  jatuh ke satu sisi,

Tes    Romberg    dipertajam    (sharpen     Romberg/tandem

Romberg):

Jika pada keadaan berdiri tandem dengan mata terbuka pasien jatuh, kemungkinan kelainan pada serebelum. Jika pada mata tertutup pasien cenderung jatuh ke satu sisi, kemungkinan kelainan pada system vestibuler atau proprioseptif.

Tes  jalan  tandem:  pada  kelainan  serebelar,  pasien  tidak dapat melakukan jalan tandem dan jatuh ke satu sisi. Pada kelaianan vestibuler, pasien akan mengalami deviasi.

Tes Fukuda(Fukuda stepping test), dianggap abnormal jika saat berjalan  ditempat  selama  1  menit  dengan  mata tertutup terjadi deviasi ke satu sisi lebih dari 30 derajat atau maju mundur lebih dari satu meter.

Tes  past  pointing,  pada  kelainan  vestibuler  ketika  mata tertutup maka jari pasien akan deviasi ke arah lesi. Pada kelainan serebelar akan terjadi hipermetri atau hipometri.

4. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang dilakukan sesuai dengan etiologi.


5. Kriteria Diagnosis Vertigo timbul mendadak pada perubahan posisi, misalnya miring ke satu sisi Pada waktu berbaring, bangkit dari tidur, membungkuk. atau menegakkan kembali badan, menunduk atau menengadah. Serangan berlangsung dalam waktu singkat, biasanya kurang dari 10-30 detik. Vertigo pada BPPV dirasakan berputar, bisa disertai rasa mual, kadang-kadang muntah. Setelah rasa berputar menghilang, pasien bisa merasa melayang dan diikuti disekulibrium selama beberapa hari sampai minggu. BPPV dapat muncul kembali.


6. Diagnosis Kerja Benign Paroxismal Positional Vertigo (BPPV))


7. Diagnosis Banding Gangguan otologi Gangguan neurologi Keadaan lain

Penyakit meniere Migraine associated dizziness Kecemasan

Neuritis vestibular Insufisiensi vertebrobasilar Gangguan panik

Vertigo pasca trauma Penyakit demielinisasi Efek samping obat

8. Penatalaksanaan 1. Pasien  dilakukan  latihan  vestibular  (vestibular  exercise)  dengan metode BrandDaroff.

2. Pasien duduk tegak di pinggir tempat tidur dengan kedua tungkai tergantung, dengan kedua mata tertutup baringkan tubuh dengan cepat ke salah satu sisi, pertahankan selama 30 detik. Setelah itu duduk kembali. Setelah 30 detik, baringkan dengan cepat ke sisi lain. Pertahankan selama 30 detik, lalu duduk kembali. Lakukan latihan ini 3 kali pada pagi, siang dan malam hari masing-masing diulang 5 kali serta dilakukan selama 2 minggu atau 3 minggu dengan latihan pagi dan sore hari.

3. Karena penyebab vertigo beragam, sementara penderita sering kali merasa sangat   terganggu   dengan   keluhan   vertigo   tersebut, seringkali menggunakan   pengobatan   simptomatik.   Lamanya pengobatan bervariasi.   Sebagian   besar   kasus   terapi   dapat dihentikan setelah beberapa minggu. Beberapa golongan yang sering digunakan:

a. Antihistamin (Dimenhidrinat atau Difenhidramin) 

Dimenhidrinat lama kerja obat ini ialah 4 – 6 jam. Obat dapat diberi    per    oral    atau    parenteral    (suntikan intramuskular dan intravena), dengan dosis 25 mg – 50 mg (1 tablet), 4 kali sehari.

Senyawa Betahistin (suatu analog histamin):

Betahistin Mesylate dengan dosis 12 mg, 3 kali sehari per oral.

Betahistin  HCl  dengan  dosis  8-24  mg,  3  kali  sehari. Maksimum 6 tablet dibagi dalam beberapa dosis.

b. Kalsium Antagonis

Cinnarizine, mempunyai khasiat menekan fungsi vestibular dan dapat mengurangi respons terhadap akselerasi angular dan linier. Dosis biasanya ialah 15-30 mg, 3 kali sehari atau 1x75 mg sehari


9. Edukasi 1. Keluarga  turut  mendukung  dengan  memotivasi  pasien  dalam mencari penyebab vertigo dan mengobatinya sesuai penyebab.

2. Mendorong pasien untuk teratur melakukan latihan vestibular.


10. Kriteria Rujukan 1. Vertigo vestibular tipe sentral harus segera dirujuk.

2. Tidak terdapat perbaikan pada vertigo vestibular setelah diterapi farmakologik dan non farmakologik.


11. Prognosis Pada BPPV, prognosis umumnya baik, namun BPPV sering terjadi berulang.



12. Referensi Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/MENKES/514/2015 tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama. 


PANDUAN PRAKTIK KLINIS ULKUS MULUT


1. Pengertian (Definisi) Aftosa / Stomatitis Aftosa Rekurens (SAR)

Stomatitis aftosa rekurens (SAR) merupakan penyakit mukosa mulut tersering dan memiliki prevalensi sekitar 10 – 25% pada populasi. Sebagian besar kasus bersifat ringan, self-limiting, dan seringkali diabaikan oleh pasien. Namun, SAR juga dapat merupakan gejala dari penyakit-penyakit sistemik, seperti penyakit Crohn, penyakit Coeliac, malabsorbsi, anemia defisiensi besi atau asam folat, defisiensi vitamin B12, atau HIV. Oleh karenanya, peran  dokter di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama dalam mendiagnosis dan menatalaksana SAR sangat penting.


Stomatitis Herpes

Stomatitis herpes merupakan inflamasi pada mukosa mulut akibat infeksi virus Herpes simpleks tipe 1 (HSV 1). Penyakit ini cukup sering ditemukan   pada   praktik   layanan   tingkat   pertama   sehari-hari. Beberapa diantaranya merupakan manifestasi dari kelainan imunodefisiensi yang berat, misalnya HIV. Amat penting bagi para dokter di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama untuk dapat mendiagnosis dan memberikan tatalaksana yang tepat dalam kasus stomatitis herpes.


2. Anamnesis Aftosa/Stomatitis Aftosa Rekurens (SAR)

1. Luka yang terasa nyeri pada mukosa bukal, bibir bagian dalam, atau sisi lateral dan anterior lidah.

2. Onset penyakit biasanya dimulai pada usia kanak-kanak, paling sering pada usia remaja atau dewasa muda, dan jarang pada usia lanjut.

3. Frekuensi rekurensi bervariasi, namun seringkali dalam interval yang cenderung reguler.

4. Episode SAR yang sebelumnya biasanya bersifat self-limiting.

5. Pasien biasanya bukan perokok atau tidak pernah merokok.

6. Biasanya terdapat riwayat penyakit yang sama di dalam keluarga.

7. Pasien   biasanya   secara   umum   sehat.   Namun,   dapat   pula ditemukan gejala-gejala seperti diare, konstipasi, tinja berdarah, sakit perut berulang, lemas, atau pucat, yang berkaitan dengan penyakit yang mendasari.

8. Pada wanita, dapat timbul saat menstruasi.


Stomatitis Herpes

1. Luka pada bibir, lidah, gusi, langit-langit, atau bukal, yang terasa nyeri.

2. Kadang timbul bau mulut.

3. Dapat disertai rasa lemas (malaise), demam, dan benjolan pada kelenjar limfe leher.

4. Sering terjadi pada usia remaja atau dewasa.

5. Terdapat dua jenis stomatitis herpes, yaitu:

a. Stomatitis herpes primer, yang merupakan episode tunggal.

b. Stomatitis  herpes  rekurens,  bila  pasien  telah  mengalami beberapa kali penyakit serupa sebelumnya.

6. Rekurensi  dapat  dipicu  oleh  beberapa  faktor,  seperti:  demam, paparan sinar  matahari,  trauma,  dan  kondisi  imunosupresi seperti HIV, penggunaan kortikosteroid sistemik, dan keganasan.


3. Pemeriksaan Fisik Aftosa minor Aftosa mayor Aftosa herpetiform

Paling sering Jarang Jarang

Satu atau beberapa Satu atau beberapa Banyak

Dangkal Lebih dalam dari tipe minor Dangkal

Bulat, batas tegas Bulat, batas tegas Bulat, namun dapat berkonfluensi

Diameter 5 – 7 mm    Diameter lebih besar dari tipe minor Diameter 1 – 2 mm


Tepi eritematosa        Kadang menyerupai keganasan Mukosa sekitar eritematosa

Bagian tengah berwarna putih kekuningan


4. Kriteria Diagnosis



5. Diagnosis Kerja Ulkus Mulut (Aftosa, Herpes)


6. Diagnosis Banding 1. SAR tipe herpetiform

2. SAR minor multipel

3. Herpes zoster

4. Sindrom Behcet

5. Hand, foot, and mouth disease

6. Manifestasi oral dari penyakit autoimun (pemfigus, SLE, Crohn)


7. Penatalaksanaan Untuk stomatitis aftosa

Larutan kumur chlorhexidine 0,2% untuk membersihkan rongga mulut. Penggunaan sebanyak 3 kali setelah makan, masing- masing selama 1 menit.

Untuk stomatitis Herpes

1. Untuk mengurangi rasa nyeri, dapat diberikan analgetik seperti Parasetamol atau Ibuprofen. Larutan kumur chlorhexidine 0,2% juga memberi efek anestetik sehingga dapat membantu.

2. Pilihan antivirus yang dapat diberikan, antara lain:

Acyclovir, diberikan per oral, dengan dosis:

dewasa: 5 kali 200 – 400 mg per hari, selama 7 hari anak: 20 mg/kgBB/hari, dibagi menjadi 5 kali pemberian, selama 7 hari


8. Edukasi Pasien perlu menghindari trauma pada mukosa mulut dan makanan atau   zat   dalam   makanan   yang   berpotensi   menimbulkan   SAR, misalnya: kripik, susu sapi, gluten, asam benzoat, dan cuka.


9. Kriteria Rujukan 1. Gejala-gejala ekstraoral yang mungkin terkait penyakit sistemik yang mendasari, seperti:

a. Lesi genital, kulit, atau mata

b. Gangguan gastrointestinal

c. Penurunan berat badan 

d. Rasa lemah

e. Batuk kronik 

f. Demam

g. Limfadenopati, Hepatomegali, Splenomegali

2. Gejala dan tanda yang tidak khas, misalnya: 

a. Onset pada usia dewasa akhir atau lanjut 

b. Perburukan dari aftosa

c. Lesi yang amat parah

d. Tidak  adanya  perbaikan  dengan  tatalaksana  kortikosteroid topikal

3. Adanya lesi lain pada rongga mulut, seperti:

a. Kandidiasis

b. Glositis

c. Perdarahan, bengkak, atau nekrosis pada gingiva 

d. Leukoplakia

e. Sarkoma Kaposi

10. Prognosis 1. Ad vitam          : Bonam

2. Ad functionam : Bonam

3. Ad sanationam : Dubia


11. Referensi Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/MENKES/514/2015 tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama. 


PANDUAN PRAKTIK KLINIS TRIKIASIS


1. Pengertian (Definisi) Trikiasis adalah kondisi di mana bulu mata tumbuh mengarah ke dalam, yaitu ke arah permukaan bola mata, sehingga dapat menggores kornea atau konjungtiva dan menyebabkan berbagai komplikasi, seperti nyeri, erosi, infeksi, dan ulkus kornea. 

2. Anamnesis 1. Keluhan pasien dapat bermacam-macam, misalnya: mata berair, rasa mengganjal, silau bila terpapar cahaya, atau kelilipan. Penglihatan dapat terganggu bila sudah timbul ulkus pada kornea.

2. Keluhan dapat dialami pada satu atau kedua mata.  

3. Bila telah terjadi inflamasi, dapat timbul keluhan mata merah. 

4. Terdapat riwayat penyakit yang berkaitan dengan faktor predisposisi, misalnya: blefaritis, trakoma, trauma mekanik atau kimiawi, herpes zoster oftalmik, dan berbagai kelainan yang menyebabkan timbulnya sikatriks dan entropion. 

5. Keluhan dapat dialami oleh pasien dari semua kelompok usia. 

3. Pemeriksaan Fisik 1. Beberapa atau seluruh bulu mata berkontak dengan permukaan bola mata. 

2. Dapat ditemukan entropion, yaitu terlipatnya margo palpebra ke arah dalam. 

3. Bila terdapat inflamasi atau infeksi, dapat ditemukan injeksi konjungtival atau silier. 

4. Kelainan pada kornea, misalnya: abrasi, ulkus, nebula / makula / leukoma kornea. 

5. Bila telah merusak kornea, dapat menyebabkan penurunan visus. 

6. Bila terdapat ulkus pada kornea, uji fluoresein akan memberi hasil positif. 

7. Pemeriksaan harus dilakukan pada kedua mata, terlepas dari ada tidaknya keluhan. 

4. Pemeriksaan Penunjang Tidak dapat dilakukan pemeriksaan tes Fluoresens

5. Kriteria Diagnosis Diagnosis trikiasis ditegakkan melalui anamnesis dan pemeriksaan fisis sebagaimana disebutkan sebelumnya. Tes fluoresens dapat menunjukkan erosi atau ulkus kornea.

6. Diagnosis Kerja Trikiasis


7. Diagnosis Banding Penyebab inflamasi lain pada mata


8. Penatalaksanaan 1. Non-medikamentosa

Epilasi, yaitu pencabutan bulu mata dengan pinset. Hal ini bertujuan mengurangi gejala dan mencegah komplikasi pada bola mata. Namun, bulu mata akan tumbuh kembali dalam waktu 4 – 6 minggu, sehingga epilasi perlu diulang kembali.

2. Medikamentosa 

Pengobatan topikal diberikan sesuai indikasi, misalnya: salep atau tetes mata antibiotik untuk mengatasi infeksi. 

9. Edukasi 1. Pasien perlu diinformasikan untuk menjaga kebersihan matanya dan menghindari trauma pada mata yang dapat memperparah gejala.

2. Dokter perlu menjelaskan beberapa alternatif pilihan terapi, mulai dari epilasi dan pengobatan topikal yang dapat dilakukan oleh dokter di pelayanan kesehatan primer hingga operasi yang dilakukan oleh spesialis mata di layanan sekunder. Terapi yang akan dijalani sesuai dengan pilihan pasien.

10. Kriteria Rujukan 1. Bila tatalaksana di atas tidak membantu pasien, dapat dilakukan rujukan ke layanan sekunder 

2. Bila telah terjadi penurunan visus 

3. Bila telah terjadi kerusakan kornea 

4. Bila pasien menghendaki tatalaksana langsung di layanan sekunder

11. Prognosis 1. Ad vitam  : Bonam 

2. Ad functionam : Dubia

3. Ad sanationam : Malam

12. Referensi Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/MENKES/514/2015 tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama.


PANDUAN PRAKTIK KLINIS TINEA UNGUIUM


1. Pengertian (Definisi) Tinea unguium adalah infeksi jamur dermatofita yang memiliki sifat mencernakan keratin di jaringan yang mengandung zat tanduk, misalnya kuku. Sumber penularan dapat berasal dari manusia (jamur antropofilik), binatang (jamur zoofilik) atau dari tanah (jamur geofilik) pada kuku jari dan tangan.

2. Anamnesis Keluhan 

Pada sebagian besar infeksi dermatofita, pasien datang dengan bercak merah bersisik yang gatal. Adanya riwayat kontak dengan orang yang mengalami dermatofitosis. 


Faktor Risiko

1. Lingkungan yang lembab dan panas

2. Imunodefisiensi 

3. Obesitas 

4. Diabetes Melitus

3. Pemeriksaan Fisik Gambaran umum: Lesi berbentuk infiltrat eritematosa, berbatas tegas, dengan bagian tepi yang lebih aktif daripada bagian tengah, dan konfigurasi polisiklik.

Tinea unguium merupakan dermatofitosis yang terjadi pada kuku jari tangan dan kaki

4. Pemeriksaan Penunjang Tidak dapat dilakukan pemeriksaan mikroskopis KOH

5. Kriteria Diagnosis Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Bila diperlukan dilakukan pemeriksaan penunjang.

6. Diagnosis Kerja Tinea Unguium

7. Diagnosis Banding Onikomikosis

8. Penatalaksanaan 1. Higiene diri harus terjaga, dan pemakaian handuk/pakaian secara bersamaan harus dihindari.

2. Untuk lesi terbatas, diberikan pengobatan topikal, yaitu dengan:  antifungal topikal seperti krim ketokonazol dan mikonazol, yang diberikan hingga lesi hilang dan dilanjutkan 1-2 minggu kemudian untuk mencegah rekurensi.

3. Untuk penyakit yang tersebar luas atau resisten terhadap terapi topikal, dilakukan pengobatan sistemik dengan: 

a. Griseofulvin dapat diberikan dengan dosis 0,5-1 g per hari untuk orang dewasa dan 0,25 – 0,5 g per hari untuk anak-anak atau 10-25 mg/kgBB/hari, terbagi dalam 2 dosis.

b. Golongan azol, seperti Ketokonazol: 200 mg/hari; Pengobatan diberikan selama 10-14 hari pada pagi hari setelah makan.  

9. Edukasi Edukasi mengenai penyebab dan cara penularan penyakit. Edukasi pasien dan keluarga juga untuk menjaga hygiene tubuh, namun penyakit ini bukan merupakan penyakit yang berbahaya.

10. Kriteria Rujukan Pasien dirujuk apabila:

1. Penyakit tidak sembuh dalam 10-14 hari setelah terapi.

2. Terdapat imunodefisiensi. 

3. Terdapat penyakit penyerta yang menggunakan multifarmaka.

11. Prognosis Pasien dengan imunokompeten, prognosis umumnya bonam, sedangkan pasien dengan imunokompromais, quo ad sanationamnya menjadi dubia ad bonam.

12. Referensi Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/MENKES/514/2015 tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama.


PANDUAN PRAKTIK KLINIS TONSILITIS AKUT


1. Pengertian (Definisi) Tonsilitis adalah peradangan tonsil palatina yang merupakan bagian dari cincin Waldeyer. Cincin Waldeyer terdiri atas susunan jaringan limfoid yang terdapat di dalam rongga mulut yaitu: tonsil faringeal (adenoid), tonsil palatina (tonsil faucial), tonsil lingual (tonsil pangkal lidah), tonsil tuba Eustachius (lateral band dinding faring/ Gerlach’s tonsil). Penyakit ini banyak diderita oleh anak-anak berusia 3 sampai 10 tahun

2. Anamnesis Keluhan

1. Rasa kering di tenggorokan sebagai gejala awal.

2. Nyeri pada tenggorok, terutama saat menelan. Rasa nyeri semakin lama semakin bertambah sehingga anak menjadi tidak mau makan. 

3. Nyeri dapat menyebar sebagai referred pain ke telinga.  

4. Demam yang dapat sangat tinggi sampai menimbulkan kejang pada bayi dan anak-anak. 

5. Sakit kepala, badan lesu, dan nafsu makan berkurang. 

6. Plummy voice / hot potato voice: suara pasien terdengar seperti orang yang mulutnya penuh terisi makanan panas. 

7. Mulut berbau (foetor ex ore) dan ludah menumpuk dalam kavum oris akibat nyeri telan yang hebat (ptialismus). 

8. Pada tonsilitis kronik, pasien mengeluh ada penghalang / mengganjal di tenggorok, tenggorok terasa kering dan pernafasan berbau (halitosis).

9. Pada Angina Plaut Vincent (Stomatitis ulseromembranosa) gejala yang timbul adalah demam tinggi (39˚C), nyeri di mulut, gigi dan kepala, sakit tenggorokan, badan lemah, gusi mudah berdarah dan hipersalivasi. 


Faktor Risiko

1. Faktor usia, terutama pada anak.

2. Penurunan daya tahan tubuh.

3. Rangsangan menahun (misalnya rokok, makanan tertentu).

4. Higiene rongga mulut yang kurang baik. 

5. Riwayat alergi 

3. Pemeriksaan Fisik 1. Tonsilitis akut:

a. Tonsil hipertrofik dengan ukuran ≥ T2.

b. Hiperemis dan terdapat detritus di dalam kripti yang memenuhi permukaan tonsil baik berbentuk folikel, lakuna, atau pseudomembran. Bentuk tonsillitis akut dengan detritus yang jelas disebut tonsilitis folikularis. Bila bercakbercak detritus ini menjadi satu, membentuk alur alur maka akan terjadi tonsilitis lakunaris.

c. Bercak detritus ini dapat melebar sehingga terbentuk membran semu (pseudomembran) yang menutupi ruang antara kedua tonsil sehingga tampak menyempit. Temuan ini mengarahkan pada diagnosis banding tonsilitis difteri.

d. Palatum mole, arkus anterior dan arkus posterior juga tampak udem dan hiperemis. 

e. Kelenjar limfe leher dapat membesar dan disertai nyeri tekan.

2. Tonsilitis kronik:

a. Tampak tonsil membesar dengan permukaan yang tidak rata, kriptus melebar dan berisi detritus.

b. Pembesaran kelenjar limfe submandibula dan tonsil yang mengalami perlengketan. 

3. Tonsilitis difteri: 

a. Tampak tonsil membengkak ditutupi bercak putih kotor yang makin lama makin meluas

b. Tampak pseudomembran yang melekat erat pada dasar tonsil sehingga bila diangkat akan mudah berdarah. 


Berdasarkan rasio perbandingan tonsil dengan orofaring, dengan mengukur jarak antara kedua pilar anterior dibandingkan dengan jarak permukaan medial kedua tonsil, maka gradasi pembesaran tonsil dapat dibagi menjadi:

1. T0: tonsil sudah diangkat.

2. T1: <25% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring atau batas medial tonsil melewati pilar anterior sampai ¼ jarak pilar anterior uvula.

3. T2: 25-50% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaringatau batas medial tonsil melewati ¼ jarak pilar anterior-uvula sampai ½ jarak pilar anterioruvula.

4. T3: 50-75% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring atau batas medial tonsil melewati ½ jarak pilar anterior-uvula sampai ¾ jarak pilar anterioruvula. 5. T4: > 75% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring atau batas medial tonsil melewati ¾ jarak pilar anterior-uvula sampai uvula atau lebih. 


 


4. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan darah lengkap jika diperlukan

5. Kriteria Diagnosis Diagnosis Klinis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan untuk diagnosis definitif dengan pemeriksaan penunjang.

6. Diagnosis Kerja Tonsilitis Akut

7. Diagnosis Banding Infiltrat tonsil, limfoma, tumor tonsil

8. Penatalaksanaan 1. Istirahat cukup

2. Makan makanan lunak dan menghindari makan makanan yang mengiritasi

3. Menjaga kebersihan mulut

4. Pemberian obat topikal dapat berupa obat kumur antiseptik 

5. Pemberian obat oral sistemik

a. Tonsilitis viral.

Istirahat, minum cukup, analgetika / antipiretik (misalnya, Paracetamol), dan antivirus diberikan bila gejala berat. Pengobatan antivirus diberikan.  

b. Tonsilitis bakteri

Bila diduga penyebabnya Streptococcus group A, diberikan antibiotik yaitu Amoksisilin 50 mg/kgBB dosis dibagi 3 kali/hari selama 10 hari dan pada dewasa 3 x 500 mg selama 6-10 hari atau Eritromisin 4 x 500 mg/hari. Selain antibiotik juga diberikan Kortikosteroid karena steroid telah terbukti menunjukkan perbaikan klinis yang dapat menekan reaksi inflamasi. Steroid yang dapat diberikan berupa Deksametason 3 x 0,5 mg pada dewasa selama 3 hari dan pada anak-anak 0,01 mg/kgBB/hari dibagi 3 kali pemberian selama 3 hari. Analgetik / antipiretik, misalnya Paracetamol dapat diberikan.

c. Tonsilitis difteri

Anti Difteri Serum diberikan segera tanpa menunggu hasil kultur, dengan dosis 20.000 - 100.000 unit tergantung umur dan jenis kelamin. Antibiotik penisilin atau eritromisin 25-50 mg/kgBB/hari. Antipiretik untuk simptomatis dan pasien harus diisolasi. Perawatan harus istirahat di tempat tidur selama 2-3 minggu.

d. Angina Plaut Vincent (Stomatitis ulseromembranosa) 

Antibiotik spektrum luas diberikan selama 1 minggu, dan pemberian vitamin C serta vitamin B kompleks. 


Indikasi dan Kontraindikasi Tonsilektomi Menurut Health Technology Assessment Kemenkes tahun 2004, indikasi tonsilektomi, yaitu:  

 

Kontraindikasi relatif tonsilektomi:

1. Gangguan perdarahan

2. Risiko anestesi atau penyakit sistemik yang berat

3. Anemia

9. Edukasi Memberitahu individu dan keluarga untuk:

1. Menghindari pencetus, termasuk makanan dan minuman yang mengiritasi

2. Melakukan pengobatan yang adekuat karena risiko kekambuhan cukup tinggi.

3. Menjaga daya tahan tubuh dengan mengkonsumsi makan bergizi dan olahraga teratur.

4. Berhenti merokok.

5. Selalu menjaga kebersihan mulut.

6. Mencuci tangan secara teratur. 

10. Kriteria Rujukan Segera rujuk jika terjadi:

1. Komplikasi tonsilitis akut: abses peritonsiler, septikemia, meningitis, glomerulonephritis, demam rematik akut.

2. Adanya indikasi tonsilektomi.

3. Pasien dengan tonsilitis difteri. 

11. Prognosis 1. Ad vitam  : Bonam 

2. Ad functionam : Bonam 

3. Ad sanationam : Bonam

12. Referensi Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/MENKES/514/2015 tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama.


PANDUAN PRAKTIK KLINIS TINEA KRURIS


1. Pengertian (Definisi) Tinea kruris adalah infeksi jamur dermatofita yang memiliki sifat mencernakan keratin di jaringan yang mengandung zat tanduk, misalnya stratum korneum pada epidermis terdapat pada bagian daerah genitocrural sekitar anus, bokong dan perut bagian bawah. Sumber penularan dapat berasal dari manusia (jamur antropofilik), binatang (jamur zoofilik) atau dari tanah (jamur geofilik). 

2. Anamnesis Keluhan 

Pada sebagian besar infeksi dermatofita, pasien datang dengan bercak merah bersisik yang gatal. Adanya riwayat kontak dengan orang yang mengalami dermatofitosis. 


Faktor Risiko

1. Lingkungan yang lembab dan panas

2. Imunodefisiensi 

3. Obesitas 

4. Diabetes Melitus

3. Pemeriksaan Fisik Gambaran umum: Lesi berbentuk infiltrat eritematosa, berbatas tegas, dengan bagian tepi yang lebih aktif daripada bagian tengah, dan konfigurasi polisiklik.

Tinea kruris merupakan dermatofitosis yang terjadi pada daerah genitokrural, sekitar anus, bokong, dan perut bagian bawah. 

4. Kriteria Diagnosis Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Bila diperlukan dilakukan pemeriksaan penunjang.

5. Diagnosis Kerja Tinea Kruris

6. Diagnosis Banding Kandidiasis, Dermatitis intertrigo, Eritrasma 

7. Pemeriksaan Penunjang Bila diperlukan, dapat dilakukan pemeriksaan mikroskopis dengan KOH, akan ditemukan hifa panjang dan artrospora. 

8. Penatalaksanaan 1. Higiene diri harus terjaga, dan pemakaian handuk/pakaian secara bersamaan harus dihindari.

2. Untuk lesi terbatas, diberikan pengobatan topikal, yaitu dengan:  antifungal topikal seperti krim ketokonazole, mikonazol, yang diberikan hingga lesi hilang dan dilanjutkan 1-2 minggu kemudian untuk mencegah rekurensi.

3. Untuk penyakit yang tersebar luas atau resisten terhadap terapi topikal, dilakukan pengobatan sistemik dengan: 

a. Griseofulvin dapat diberikan dengan dosis 0,5-1 g per hari untuk orang dewasa dan 0,25 – 0,5 g per hari untuk anak-anak atau 10-25 mg/kgBB/hari, terbagi dalam 2 dosis.

b. Golongan azol, seperti Ketokonazol: 200 mg/hari Pengobatan diberikan selama 10-14 hari pada pagi hari setelah makan.  

9. Edukasi Edukasi mengenai penyebab dan cara penularan penyakit. Edukasi pasien dan keluarga juga untuk menjaga hygiene tubuh, namun penyakit ini bukan merupakan penyakit yang berbahaya.

10. Kriteria Rujukan Pasien dirujuk apabila:

1. Penyakit tidak sembuh dalam 10-14 hari setelah terapi.

2. Terdapat imunodefisiensi. 

3. Terdapat penyakit penyerta yang menggunakan multifarmaka.

11. Prognosis Pasien dengan imunokompeten, prognosis umumnya bonam, sedangkan pasien dengan imunokompromais, quo ad sanationamnya menjadi dubia ad bonam.

12. Referensi Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/MENKES/514/2015 tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama.


PANDUAN PRAKTIK KLINIS TINEA PEDIS/MANUM


1. Pengertian (Definisi) Tinea pedis/manum adalah infeksi jamur dermatofita yang memiliki sifat mencernakan keratin di jaringan yang mengandung zat tanduk, misalnya stratum korneum pada epidermis pada bagian kaki dan tangan. Sumber penularan dapat berasal dari manusia (jamur antropofilik), binatang (jamur zoofilik) atau dari tanah (jamur geofilik) 

2. Anamnesis Keluhan 

Pada sebagian besar infeksi dermatofita, pasien datang dengan bercak merah bersisik yang gatal. Adanya riwayat kontak dengan orang yang mengalami dermatofitosis. 


Faktor Risiko

1. Lingkungan yang lembab dan panas

2. Imunodefisiensi 

3. Obesitas 

4. Diabetes Melitus

3. Pemeriksaan Fisik Gambaran umum: Lesi berbentuk infiltrat eritematosa, berbatas tegas, dengan bagian tepi yang lebih aktif daripada bagian tengah, dan konfigurasi polisiklik.

Tinea pedis et manum merupakan dermatofitosis yang terjadi pada kaki dan tangan

4. Pemeriksaan Penunjang Tidak dapat dilakukan pemeriksaan mikroskopis KOH

5. Kriteria Diagnosis Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Bila diperlukan dilakukan pemeriksaan penunjang.

6. Diagnosis Kerja Tinea Pedis/Manum

7. Diagnosis Banding Tinea Pedis: Hiperhidrosis, Dermatitis kontak, Dyshidrotic eczema 

Tinea Manum: Dermatitis kontak iritan, Psoriasis

8. Penatalaksanaan 1. Higiene diri harus terjaga, dan pemakaian handuk/pakaian secara bersamaan harus dihindari.

2. Untuk lesi terbatas, diberikan pengobatan topikal, yaitu dengan:  antifungal topikal seperti krim ketokonazole, mikonazol, yang diberikan hingga lesi hilang dan dilanjutkan 1-2 minggu kemudian untuk mencegah rekurensi.

3. Untuk penyakit yang tersebar luas atau resisten terhadap terapi topikal, dilakukan pengobatan sistemik dengan: 

a. Griseofulvin dapat diberikan dengan dosis 0,5-1 g per hari untuk orang dewasa dan 0,25 – 0,5 g per hari untuk anak-anak atau 10-25 mg/kgBB/hari, terbagi dalam 2 dosis.

b. Golongan azol, seperti Ketokonazol: 200 mg/hari; Itrakonazol: 100 mg/hari atau Terbinafin: 250 mg/hari Pengobatan diberikan selama 10-14 hari pada pagi hari setelah makan.  

9. Edukasi Edukasi mengenai penyebab dan cara penularan penyakit. Edukasi pasien dan keluarga juga untuk menjaga hygiene tubuh, namun penyakit ini bukan merupakan penyakit yang berbahaya.

10. Kriteria Rujukan Pasien dirujuk apabila:

1. Penyakit tidak sembuh dalam 10-14 hari setelah terapi.

2. Terdapat imunodefisiensi. 

3. Terdapat penyakit penyerta yang menggunakan multifarmaka.

11. Prognosis Pasien dengan imunokompeten, prognosis umumnya bonam, sedangkan pasien dengan imunokompromais, quo ad sanationamnya menjadi dubia ad bonam.

12. Referensi Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/MENKES/514/2015 tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama.


PANDUAN PRAKTIK KLINIS TINEA KAPITIS


1. Pengertian (Definisi) Tinea kapitis adalah infeksi jamur dermatofita yang memiliki sifat mencernakan keratin di jaringan yang mengandung zat tanduk seperti rambut pada kepala. Sumber penularan dapat berasal dari manusia (jamur antropofilik), binatang (jamur zoofilik) atau dari tanah (jamur geofilik).

2. Anamnesis Keluhan 

Pada sebagian besar infeksi dermatofita, pasien datang dengan bercak merah bersisik yang gatal. Adanya riwayat kontak dengan orang yang mengalami dermatofitosis. 


Faktor Risiko

1. Lingkungan yang lembab dan panas

2. Imunodefisiensi 

3. Obesitas 

4. Diabetes Melitus

3. Pemeriksaan Fisik Gambaran umum: Lesi berbentuk infiltrat eritematosa, berbatas tegas, dengan bagian tepi yang lebih aktif daripada bagian tengah, dan konfigurasi polisiklik.

Tinea kapitis merupakan dermatofitosis yang terjadi pada kulit dan rambut kepala. 

4. Pemeriksaan Penunjang Tidak dapat dilakukan pemeriksaan mikroskopis KOH.

5. Kriteria Diagnosis Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Bila diperlukan dilakukan pemeriksaan penunjang.

6. Diagnosis Kerja Tinea kapitis

7. Diagnosis Banding Dermatitis seboroik, Dermatitis kontak 

8. Pemeriksaan Penunjang Bila diperlukan, dapat dilakukan pemeriksaan mikroskopis dengan KOH, akan ditemukan hifa panjang dan artrospora. 

9. Penatalaksanaan 1. Higiene diri harus terjaga, dan pemakaian handuk/pakaian secara bersamaan harus dihindari.

2. Untuk lesi terbatas, diberikan pengobatan topikal, yaitu dengan:  antifungal topikal seperti krim mikonazol yang diberikan hingga lesi hilang dan dilanjutkan 1-2 minggu kemudian untuk mencegah rekurensi.

3. Untuk penyakit yang tersebar luas atau resisten terhadap terapi topikal, dilakukan pengobatan sistemik dengan: 

a. Griseofulvin dapat diberikan dengan dosis 0,5-1 g per hari untuk orang dewasa dan 0,25 – 0,5 g per hari untuk anak-anak atau 10-25 mg/kgBB/hari, terbagi dalam 2 dosis.

b. Golongan azol, seperti Ketokonazol: 200 mg/hari; Pengobatan diberikan selama 10-14 hari pada pagi hari setelah makan.  

10. Edukasi Edukasi mengenai penyebab dan cara penularan penyakit. Edukasi pasien dan keluarga juga untuk menjaga hygiene tubuh, namun penyakit ini bukan merupakan penyakit yang berbahaya.

11. Kriteria Rujukan Pasien dirujuk apabila:

1. Penyakit tidak sembuh dalam 10-14 hari setelah terapi.

2. Terdapat imunodefisiensi. 

3. Terdapat penyakit penyerta yang menggunakan multifarmaka.

12. Prognosis Pasien dengan imunokompeten, prognosis umumnya bonam, sedangkan pasien dengan imunokompromais, quo ad sanationamnya menjadi dubia ad bonam.

13. Referensi Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/MENKES/514/2015 tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama 


PANDUAN PRAKTIK KLINIS TINEA KORPORIS


1. Pengertian (Definisi) Tinea korporis adalah infeksi jamur dermatofita yang memiliki sifat mencernakan keratin di jaringan yang mengandung zat tanduk, misalnya stratum korneum pada epidermis pada bagian lain yang tidak termasuk bentuk 5 tinea di atas selain kulit dan rambut kepala, dagu dan jenggot, daerah kruris (daerah genitokrural), kaki dan tangan dan kuku jari tangan dan kaki . Sumber penularan dapat berasal dari manusia (jamur antropofilik), binatang (jamur zoofilik) atau dari tanah (jamur geofilik).. 

2. Anamnesis Keluhan 

Pada sebagian besar infeksi dermatofita, pasien datang dengan bercak merah bersisik yang gatal. Adanya riwayat kontak dengan orang yang mengalami dermatofitosis. 


Faktor Risiko

1. Lingkungan yang lembab dan panas

2. Imunodefisiensi 

3. Obesitas 

4. Diabetes Melitus

3. Pemeriksaan Fisik Gambaran umum: Lesi berbentuk infiltrat eritematosa, berbatas tegas, dengan bagian tepi yang lebih aktif daripada bagian tengah, dan konfigurasi polisiklik.

Tinea korporis merupakan dermatofitosis yang bisa muncul pada seluruh bagian tubuh, selain kulit dan rambut kepala, dagu dan jenggot, daerah kruris (daerah genitokrural), kaki dan tangan dan kuku jari tangan dan kaki.

4. Pemeriksaan Penunjang Tidak dapat dilakukan pemeriksaan mikroskopis KOH

5. Kriteria Diagnosis Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Bila diperlukan dilakukan pemeriksaan penunjang.

6. Diagnosis Kerja Tinea Korporis

7. Diagnosis Banding Dermatitis numularis, Pytiriasis rosea, Erythema annulare centrificum, Granuloma annulare

8. Penatalaksanaan 1. Higiene diri harus terjaga, dan pemakaian handuk/pakaian secara bersamaan harus dihindari.

2. Untuk lesi terbatas, diberikan pengobatan topikal, yaitu dengan:  antifungal topikal seperti krim mikonazol atau ketoconazole yang diberikan hingga lesi hilang dan dilanjutkan 1-2 minggu kemudian untuk mencegah rekurensi.

3. Untuk penyakit yang tersebar luas atau resisten terhadap terapi topikal, dilakukan pengobatan sistemik dengan: 

a. Griseofulvin dapat diberikan dengan dosis 0,5-1 g per hari untuk orang dewasa dan 0,25 – 0,5 g per hari untuk anak-anak atau 10-25 mg/kgBB/hari, terbagi dalam 2 dosis.

b. Golongan azol, seperti Ketokonazol: 200 mg/hari; Itrakonazol: 100 mg/hari atau Terbinafin: 250 mg/hari Pengobatan diberikan selama 10-14 hari pada pagi hari setelah makan.  

9. Edukasi Edukasi mengenai penyebab dan cara penularan penyakit. Edukasi pasien dan keluarga juga untuk menjaga hygiene tubuh, namun penyakit ini bukan merupakan penyakit yang berbahaya.

10. Kriteria Rujukan Pasien dirujuk apabila:

1. Penyakit tidak sembuh dalam 10-14 hari setelah terapi.

2. Terdapat imunodefisiensi. 

3. Terdapat penyakit penyerta yang menggunakan multifarmaka.

11. Prognosis Pasien dengan imunokompeten, prognosis umumnya bonam, sedangkan pasien dengan imunokompromais, quo ad sanationamnya menjadi dubia ad bonam.

12. Referensi Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/MENKES/514/2015 tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama.


POSTINGAN POPULER