SOP PENGUKURAN RANGE OF MOTION (ROM) SENDI
A. IDENTITAS DOKUMEN
| Komponen | Keterangan |
|---|---|
| Nama Fasilitas Kesehatan | ................................................ |
| Judul SOP | Pengukuran Range of Motion (ROM) Sendi |
| Nomor Dokumen | ................................................ |
| Nomor Revisi | ................................................ |
| Tanggal Terbit | ................................................ |
| Halaman | 1/..... |
| Unit/Program | Pelayanan Klinis / Rehabilitasi Medik |
| Disahkan oleh | Kepala Puskesmas ................................ |
B. KATA KUNCI SEO UTAMA
SOP pengukuran ROM sendi
C. KATA KUNCI TURUNAN
pengukuran Range of Motion
pengukuran ROM sendi
cara mengukur ROM sendi
pemeriksaan lingkup gerak sendi
SOP pemeriksaan ROM
pengukuran rentang gerak sendi
ROM aktif dan pasif
pemeriksaan gerak sendi
goniometer sendi
SOP fisioterapi Puskesmas
pemeriksaan muskuloskeletal
evaluasi fungsi sendi
1. PENGERTIAN
Range of Motion (ROM) atau lingkup gerak sendi adalah luas gerakan yang dapat dilakukan oleh suatu sendi pada bidang gerak tertentu.
Pengukuran ROM merupakan pemeriksaan untuk mengetahui derajat pergerakan sendi, baik melalui gerakan aktif yang dilakukan pasien maupun gerakan pasif yang dibantu oleh pemeriksa, dengan menggunakan teknik pemeriksaan yang sesuai dan, bila diperlukan, alat ukur seperti goniometer.
Hasil pengukuran ROM dapat digunakan sebagai data dasar untuk menilai fungsi gerak, memantau perubahan kondisi pasien, mengevaluasi perkembangan terapi, serta mendukung perencanaan tindak lanjut.
2. TUJUAN
2.1 Tujuan Umum
Memperoleh data lingkup gerak sendi yang objektif, konsisten, dan dapat digunakan untuk evaluasi kondisi serta fungsi muskuloskeletal pasien.
2.2 Tujuan Khusus
Mengetahui luas gerakan suatu sendi.
Menilai keterbatasan gerak sendi.
Membandingkan ROM antara sisi kanan dan kiri bila relevan.
Menilai perubahan ROM dari waktu ke waktu.
Mendukung evaluasi kondisi muskuloskeletal.
Membantu menentukan kebutuhan tindak lanjut atau rehabilitasi.
Menjadi data dokumentasi perkembangan pasien.
3. KEBIJAKAN
Pengukuran ROM dilakukan oleh petugas yang kompeten sesuai kewenangan.
Pemeriksaan dilakukan dengan memperhatikan keselamatan dan kenyamanan pasien.
Pengukuran dilakukan menggunakan teknik yang konsisten.
Goniometer atau alat ukur lain digunakan sesuai petunjuk penggunaannya.
Pemeriksaan dihentikan apabila pasien mengalami nyeri hebat, pusing, gangguan neurologis akut, atau keluhan lain yang mengharuskan pemeriksaan dihentikan.
ROM aktif dan pasif dibedakan dalam dokumentasi apabila keduanya diperiksa.
Hasil pemeriksaan dicatat dalam rekam medis.
Hasil ROM harus diinterpretasikan bersama keluhan, pemeriksaan fisik, dan kondisi klinis pasien.
4. PETUGAS
Pemeriksaan dapat dilakukan oleh:
Dokter;
Fisioterapis;
Perawat atau tenaga kesehatan lain sesuai kompetensi dan kewenangan fasilitas;
Petugas kesehatan yang telah mendapatkan pelatihan pemeriksaan muskuloskeletal sesuai kebijakan fasilitas.
5. INDIKASI
Pengukuran ROM dapat dilakukan pada pasien dengan:
Keluhan nyeri atau kekakuan sendi.
Keterbatasan gerak anggota gerak.
Cedera muskuloskeletal.
Kondisi setelah imobilisasi.
Gangguan fungsi sendi.
Kondisi pasca tindakan atau operasi sesuai indikasi klinis.
Gangguan neurologis yang memengaruhi gerakan.
Pemantauan rehabilitasi.
Evaluasi perkembangan kondisi pasien.
Pemeriksaan fungsional muskuloskeletal.
6. KONTRAINDIKASI DAN KEWASPADAAN
Pengukuran ROM harus dilakukan dengan hati-hati pada pasien dengan:
Kecurigaan fraktur yang belum mendapatkan penanganan.
Dislokasi atau instabilitas sendi.
Cedera akut dengan nyeri berat.
Luka terbuka di sekitar area yang akan diperiksa.
Kondisi pascaoperasi yang memiliki pembatasan gerak tertentu.
Inflamasi akut atau pembengkakan berat.
Gangguan neurologis akut.
Kondisi lain yang menurut pemeriksa berisiko memburuk apabila sendi digerakkan.
Pada kondisi yang dicurigai mengalami cedera struktural serius, jangan memaksakan gerakan sendi.
7. ALAT DAN BAHAN
Goniometer sesuai kebutuhan.
Tempat pemeriksaan atau bed pasien.
Formulir pemeriksaan/rekam medis.
Alat tulis.
Hand sanitizer atau sarana kebersihan tangan.
Alat pelindung diri sesuai risiko pelayanan.
8. PERSIAPAN PETUGAS
Melakukan kebersihan tangan.
Memastikan alat yang digunakan bersih dan dalam kondisi baik.
Memastikan goniometer dapat digunakan dengan baik.
Mengetahui sendi dan gerakan yang akan dinilai.
Menjelaskan pemeriksaan kepada pasien.
Memastikan privasi pasien.
9. PERSIAPAN PASIEN
Identifikasi pasien sesuai prosedur.
Jelaskan tujuan dan proses pemeriksaan.
Minta persetujuan pasien sesuai ketentuan fasilitas.
Posisikan pasien sesuai sendi yang akan diperiksa.
Area yang diperiksa harus dapat diamati dengan baik.
Pastikan pasien dalam posisi nyaman dan aman.
Tanyakan lokasi dan tingkat nyeri sebelum pemeriksaan.
10. ANAMNESIS SINGKAT
Sebelum melakukan pengukuran, petugas menilai:
Keluhan utama.
Lokasi keluhan.
Awal munculnya keluhan.
Riwayat cedera atau trauma.
Riwayat operasi.
Riwayat penyakit sendi atau muskuloskeletal.
Nyeri saat bergerak.
Gerakan yang dirasakan terbatas.
Aktivitas yang terganggu akibat keterbatasan gerak.
Riwayat terapi atau rehabilitasi sebelumnya.
11. PEMERIKSAAN AWAL
Petugas melakukan pemeriksaan sesuai indikasi, antara lain:
Inspeksi bentuk dan posisi sendi.
Penilaian pembengkakan.
Penilaian kemerahan atau perubahan kulit.
Penilaian nyeri.
Penilaian kekuatan otot bila diperlukan.
Penilaian fungsi gerak.
Pemeriksaan neurologis dan vaskular bila terdapat indikasi.
12. PROSEDUR PENGUKURAN ROM
12.1 Menentukan Sendi dan Gerakan
Tentukan sendi yang akan diperiksa.
Tentukan jenis gerakan yang akan diukur.
Tentukan posisi pemeriksaan yang sesuai.
Bila diperlukan, periksa sisi tubuh yang berlawanan sebagai pembanding.
12.2 ROM Aktif
Jelaskan gerakan yang akan dilakukan kepada pasien.
Minta pasien melakukan gerakan secara aktif.
Amati kelancaran dan luas gerakan.
Perhatikan munculnya nyeri atau keterbatasan.
Ukur dengan goniometer apabila diperlukan.
Catat hasil pengukuran.
Jangan memaksa pasien mencapai gerakan yang menimbulkan nyeri berat.
12.3 ROM Pasif
ROM pasif dilakukan oleh pemeriksa dengan menggerakkan sendi pasien secara hati-hati.
Posisikan pasien dengan benar.
Stabilkan bagian tubuh yang diperlukan.
Pegang anggota gerak dengan teknik yang sesuai.
Gerakkan sendi secara perlahan dan terkendali.
Amati respons pasien.
Hentikan gerakan apabila terdapat nyeri bermakna atau tanda bahaya.
Ukur sudut gerak dengan goniometer bila diperlukan.
Catat hasil ROM pasif secara terpisah dari ROM aktif.
13. PENGGUNAAN GONIOMETER
Secara umum:
Posisikan sendi sesuai teknik pemeriksaan.
Tentukan titik acuan anatomi.
Tempatkan titik poros goniometer pada area poros gerakan sendi.
Sejajarkan salah satu lengan goniometer dengan segmen tubuh yang relatif tetap.
Sejajarkan lengan lainnya dengan segmen tubuh yang bergerak.
Lakukan gerakan sesuai jenis ROM yang dinilai.
Baca nilai sudut pada skala goniometer.
Catat hasil dalam satuan derajat (°).
Teknik penempatan goniometer harus disesuaikan dengan sendi dan jenis gerakan yang diperiksa.
14. JENIS GERAKAN SENDI
Gerakan yang dapat dinilai antara lain:
14.1 Fleksi
Gerakan yang mengurangi sudut antara dua bagian tubuh.
14.2 Ekstensi
Gerakan yang meningkatkan sudut antara dua bagian tubuh.
14.3 Abduksi
Gerakan anggota gerak menjauhi garis tengah tubuh.
14.4 Adduksi
Gerakan anggota gerak mendekati garis tengah tubuh.
14.5 Rotasi Internal
Gerakan memutar anggota gerak menuju arah garis tengah tubuh.
14.6 Rotasi Eksternal
Gerakan memutar anggota gerak menjauhi garis tengah tubuh.
14.7 Gerakan Khusus
Pada sendi tertentu dapat dilakukan pemeriksaan gerakan lain, seperti:
pronasi;
supinasi;
dorsifleksi;
plantarfleksi;
inversi;
eversi;
sesuai sendi dan kebutuhan pemeriksaan.
15. PENILAIAN HASIL
Hasil ROM dinilai berdasarkan:
Jenis sendi.
Jenis gerakan.
Nilai ROM yang diperoleh.
ROM aktif dan pasif.
Perbandingan sisi kanan dan kiri bila relevan.
Keluhan nyeri.
Kualitas gerakan.
Kondisi klinis pasien.
Fungsi anggota gerak.
Nilai ROM tidak boleh dinilai hanya berdasarkan satu angka tanpa mempertimbangkan variasi individu, posisi pemeriksaan, teknik pemeriksaan, serta kondisi klinis.
16. CONTOH FORMAT PENCATATAN
| Sendi | Gerakan | ROM Aktif | ROM Pasif | Nyeri | Keterangan |
|---|---|---|---|---|---|
| Bahu kanan | Fleksi | .....° | .....° | Ya/Tidak | ........ |
| Bahu kiri | Fleksi | .....° | .....° | Ya/Tidak | ........ |
| Siku kanan | Fleksi | .....° | .....° | Ya/Tidak | ........ |
| Siku kiri | Fleksi | .....° | .....° | Ya/Tidak | ........ |
| Lutut kanan | Fleksi | .....° | .....° | Ya/Tidak | ........ |
| Lutut kiri | Fleksi | .....° | .....° | Ya/Tidak | ........ |
Format dapat disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan.
17. INTERPRETASI
Secara umum:
ROM normal/baik: gerakan sesuai fungsi sendi dan tidak ditemukan keterbatasan bermakna.
ROM terbatas: luas gerakan berkurang dibandingkan kondisi yang diharapkan atau sisi pembanding.
Nyeri saat ROM: perlu dikaitkan dengan lokasi, jenis gerakan, dan kondisi klinis.
Perbedaan ROM aktif dan pasif: dapat memberikan informasi tambahan mengenai kemungkinan faktor nyeri, kelemahan, kekakuan, atau keterbatasan mekanis.
Interpretasi akhir dilakukan oleh tenaga kesehatan yang berwenang berdasarkan keseluruhan pemeriksaan pasien.
18. MONITORING DAN EVALUASI
Pengukuran ROM dapat diulang untuk memantau:
Perubahan luas gerak sendi.
Perubahan nyeri.
Perkembangan fungsi anggota gerak.
Respons terhadap terapi atau rehabilitasi.
Perkembangan setelah cedera atau tindakan medis.
Pengukuran lanjutan sebaiknya menggunakan posisi dan teknik yang konsisten agar hasil dapat dibandingkan.
19. KRITERIA RUJUKAN/TINDAK LANJUT
Pertimbangkan evaluasi atau rujukan lebih lanjut apabila ditemukan:
Keterbatasan ROM yang signifikan.
Nyeri berat atau semakin memburuk.
Deformitas atau perubahan bentuk sendi.
Kecurigaan fraktur atau dislokasi.
Pembengkakan berat.
Gangguan fungsi yang bermakna.
Gangguan sensorik atau motorik.
Gangguan sirkulasi pada anggota gerak.
Keterbatasan yang tidak membaik sesuai pemantauan.
Kondisi yang memerlukan pemeriksaan spesialistik atau rehabilitasi medik.
20. EDUKASI PASIEN
Petugas menjelaskan:
Tujuan pemeriksaan ROM.
Hasil pemeriksaan secara sederhana.
Pentingnya mengikuti anjuran terapi atau latihan apabila diberikan oleh tenaga kesehatan.
Pasien tidak dianjurkan memaksakan gerakan yang menimbulkan nyeri berat.
Pasien perlu kembali apabila keluhan bertambah atau muncul tanda bahaya.
Jadwal evaluasi berikutnya bila diperlukan.
21. RISIKO/KOMPLIKASI
Pemeriksaan ROM umumnya aman apabila dilakukan dengan teknik yang benar. Risiko dapat meningkat apabila sendi digerakkan secara berlebihan atau pada kondisi yang memiliki kontraindikasi.
Kemungkinan yang dapat terjadi:
nyeri sementara;
ketidaknyamanan;
spasme otot;
perburukan keluhan pada cedera tertentu apabila pemeriksaan dilakukan tanpa memperhatikan kondisi klinis.
Karena itu, pemeriksaan harus dilakukan secara hati-hati dan sesuai kompetensi petugas.
22. DOKUMENTASI
Dokumentasi minimal mencakup:
Identitas pasien.
Sendi yang diperiksa.
Jenis gerakan.
ROM aktif.
ROM pasif bila dilakukan.
Nilai dalam derajat.
Nyeri atau keluhan selama pemeriksaan.
Temuan penting lainnya.
Rencana tindak lanjut.
Nama/inisial petugas.
23. INDIKATOR MUTU
| Indikator | Target |
|---|---|
| Pemeriksaan ROM terdokumentasi | ≥ 95% |
| Hasil pengukuran dicatat dalam derajat | ≥ 95% |
| Identitas sendi dan jenis gerakan tercatat | ≥ 95% |
| Pemeriksaan dilakukan sesuai kompetensi petugas | 100% |
| Temuan yang membutuhkan tindak lanjut ditindaklanjuti | ≥ 95% |
Target dapat disesuaikan dengan indikator mutu internal fasilitas.
24. UNIT TERKAIT
Poli umum
Poli KIA/anak bila diperlukan
Fisioterapi
Rehabilitasi medik
Unit gawat darurat
Rekam medis
Unit rujukan/spesialistik sesuai kebutuhan
25. DOKUMEN TERKAIT
Rekam medis pasien.
Formulir pemeriksaan muskuloskeletal.
Formulir pengukuran ROM.
SOP pemeriksaan fisik.
SOP kebersihan tangan.
SOP rujukan pasien.
Pedoman pelayanan rehabilitasi medik/fisioterapi yang berlaku.
26. DIAGRAM ALIR SOP
Identifikasi pasien
↓
Jelaskan prosedur
↓
Anamnesis dan pemeriksaan awal
↓
Tentukan sendi dan gerakan yang akan diperiksa
↓
Pastikan tidak terdapat kondisi yang mengharuskan pemeriksaan ditunda/dihentikan
↓
Posisikan pasien
↓
Ukur ROM aktif
↓
Ukur ROM pasif bila diperlukan
↓
Gunakan goniometer bila diperlukan
↓
Catat hasil dalam derajat
↓
Nilai nyeri dan keterbatasan gerak
↓
Interpretasi hasil
↓
Tentukan tindak lanjut/rujukan bila diperlukan
↓
Edukasi pasien
↓
Dokumentasi
27. CATATAN KESELAMATAN
Jangan memaksakan gerakan sendi.
Hentikan pemeriksaan apabila muncul nyeri berat atau tanda bahaya.
Hindari pemeriksaan ROM yang tidak sesuai pada kecurigaan fraktur atau dislokasi sebelum evaluasi yang tepat.
Stabilkan bagian tubuh sesuai teknik pemeriksaan.
Jaga privasi pasien.
Gunakan alat yang bersih dan layak.
Hasil ROM harus dibandingkan menggunakan teknik yang konsisten.
Pemeriksaan harus dilakukan sesuai kompetensi dan kewenangan petugas.
28. REKAMAN HISTORIS PERUBAHAN
| No | Yang Diubah | Isi Perubahan | Tanggal Mulai Berlaku |
|---|---|---|---|
| 1 | - | Dokumen baru | ................ |
| 2 | - | - | ................ |
29. SEO SIAP PAKAI
Judul SEO
SOP Pengukuran ROM Sendi: Cara Pemeriksaan Range of Motion Aktif dan Pasif
Meta Description
SOP pengukuran ROM sendi lengkap untuk Puskesmas dan FKTP, meliputi persiapan, pemeriksaan ROM aktif dan pasif, penggunaan goniometer, pencatatan, interpretasi, dan tindak lanjut.
Slug
sop-pengukuran-rom-sendi
Keyword Utama
SOP pengukuran ROM sendi
Keyword Pendukung
pengukuran Range of Motion, pemeriksaan lingkup gerak sendi, cara mengukur ROM, ROM aktif dan pasif, goniometer, pemeriksaan sendi, pemeriksaan muskuloskeletal, SOP fisioterapi, pengukuran rentang gerak sendi.
