MOHON MAAF APABILA SUSUNANYA ADA YANG BERANTAKAN , KARENA HASIL COPY PASTE DARI FILE WORD/EXEL KE POSTINGAN BLOG

Thursday, March 12, 2026

SOP KATARAK PADA PASIEN DEWASA

 


KATARAK PADA

PASIEN DEWASA

http://dinkes.ciamiskab.go.id/wp-content/uploads/2015/11/lambangbarupkm-324x235.jpg

SOP

No. Dokumen   :

SOP/VII/UKP/      /16

No. Revisi         :

Tanggal Terbit  :4 April 2016

Halaman           :1/3

Puskesmas

Banyumas

 

dr. Tri Feriana NIP.197602262007012008

1.      Pengertian

No. ICPC-2 : F92 Cataract

No. ICD-10 : H26.9 Cataract, unspecified

Tingkat Kemampuan 2

Masalah Kesehatan

Katarak adalah kekeruhan pada lensa yang menyebabkan penurunan tajam penglihatan (visus). Katarak paling sering berkaitan dengan proses degenerasi lensa pada pasien usia di atas 40 tahun (katarak senilis). Selain katarak senilis, katarak juga dapat terjadi akibat komplikasi glaukoma, uveitis, trauma mata, serta kelainan sistemik seperti diabetes mellitus, riwayat pemakaian obat steroid, dan lain-lain. Katarak biasanya terjadi bilateral, namun dapat juga pada satu mata (monokular).

2.      Tujuan

Semua pasien yang datang ke Puskesmas Banyumas mendapatkan pelayanan yang sesuai dengan prosedur

3.      Kebijakan

Keputusan Kepala Puskesmas Banyumas Nomor 068/C.VII/04/16/006 tentang Kebijakan Pelayanan Klinis Puskesmas Banyumas

4.      Referensi

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/MENKES/514/2015 Tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter Di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama

5.      Prosedur

Hasil Anamnesis (Subjective)

Keluhan

Pasien datang dengan keluhan penglihatan menurun secara perlahan seperti tertutup asap/kabut. Keluhan disertai ukuran kacamata semakin bertambah, silau, dan sulit membaca.

 

Faktor Risiko

  1. Usia lebih dari 40 tahun

2.    Riwayat penyakit sistemik, seperti diabetes mellitus

3.    Pemakaian tetes mata steroid secara rutin

4.    Kebiasaan merokok dan pajanan sinar matahari

 

 

Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)

Pemeriksaan Fisik

1.    Visus menurun yang tidak membaik dengan pemberian pinhole

2.    Pemeriksaan shadow test positif

3.    Terdapat kekeruhan lensa yang dapat dengan jelas dilihat dengan teknik pemeriksaan jauh (dari jarak 30 cm) menggunakan oftalmoskop sehingga didapatkan media yang keruh pada pupil. Teknik ini akan lebih mudah dilakukan setelah dilakukan dilatasi pupil dengan tetes mata Tropikamid 0.5% atau dengan cara memeriksa pasien pada ruang gelap.

 

Pemeriksaan Penunjang

Tidak diperlukan.

 

Penegakan Diagnostik (Assessment)

Diagnosis Klinis

Penegakan diagnosis dilakukan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan visus dan pemeriksaan lensa

 

Komplikasi

Glaukoma dan uveitis

 

Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan

Pasien dengan katarak yang telah menimbulkan gangguan penglihatan yang signifikan dirujuk ke layanan sekunder yang memiliki dokter spesialis mata untuk mendapatkan penatalaksanaan selanjutnya. Terapi definitif katarak adalah operasi katarak.

Oval: 2/3
 


Konseling dan Edukasi

1.    Memberitahu keluarga bahwa katarak adalah gangguan penglihatan yang dapat diperbaiki.

2.    Memberitahu keluarga untuk kontrol teratur jika sudah didiagnosis katarak agar tidak terjadi komplikasi.

 

Kriteria Rujukan

1.    Katarak matur

2.    Jika pasien telah mengalami gangguan penglihatan yang signifikan

3.    Jika timbul komplikasi

Peralatan

1.    Senter

2.    Snellen chart

3.    Tonometri Schiotz

4.    Oftalmoskop

 

Prognosis

1.    Ad vitam : Bonam

2.    Ad functionam : Dubia ad bonam

3.    Ad sanationam : Dubia ad bonam

 

6.      Bagan Alir

Oval: Plan
Oval: Subjective

 

 

 

 

 

 

 

 

 


7.      Unit Terkait

Pemeriksaan Umum, R.Tindakan, KIA-KB-Imunisasi

8.      Rekaman Historis Perubahan

No

3/3

 
Yang diubah

Isi Perubahan

Tanggal mulai diberlakukan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

FORM FAILURE MODE & EFFECT ANALYSIS KEFARMASIAN

 

FORM FAILURE MODE & EFFECT ANALYSIS

 

Unit Kerja

KEFARMASIAN

Proses yang dianalisis

SOP PENYEDIAAN STOK OBAT DI PUSKESMAS

Tim FMEA

Nama

Peran

Ketua

Dr. Bahagia

PJ UKP

Anggota

Ceria, AMF

Petugas Gudang Obat

 

Luar Biasa, AMF

Petugas Kamar Obat

 

 

 

Petugas pencatat (notulis)

Ibu Hore

TTK

 

I.                    Gambarkan alur proses yang akan dianalisis:

 

1.      Petugas obat melakukan kompilasi data pemakaian obat selama 1 bulan terakhir dan memasukkannya dalam format LPLPO

2.      Petugas obat membuat laporan pemakaian dan permintaan obat menggunakan format LPLPO dan dikirim ke DKK tembusan ke GFK.

3.      Petugas obat menerima obat dari GFK sesuai permintaan puskesmas melalui LPLPO  dengan mengikuti jadwal distribusi yang telah ditentukan oleh GFK.

4.      Petugas obat memeriksa obat yang diterima dari GFK, termasuk kesesuaian jenis, jumlah, tanggal kadaluarsa dan keadaan barang.

5.      Petugas obat menata dan menyimpan obat ke dalam gudang obat puskesmas.

6.      Petugas obat mencatat penerimaan obat ke dalam kartu stock gudang obat.

7.      Petugas obat mendistribusikan obat ke seluruh sub-sub unit, Pustu, PKD berdasarkan permintaan obat yang disampaikan melalui LPLPO sub unit.

 

 

II.                  Identifikasi failure modes:

No

Tahapan Proses

Failure Modes

1

Petugas obat melakukan kompilasi data pemakaian obat selama 1 bulan terakhir dan memasukkannya dalam format LPLPO

Laporan dari masing-masing unit pelayanan terlambat diserahkan

-TTK

2

Petugas obat membuat laporan pemakaian dan permintaan obat menggunakan format LPLPO dan dikirim ke DKK tembusan ke GFK

Laporan pemakaian dan permintaan obat jumlah tidak sesuai dengan kondisi lapangan

-belum dilakukan stok opname

-kurang teliti nya petugas

3

Petugas obat menerima obat dari GFK sesuai permintaan puskesmas melalui LPLPO  dengan mengikuti jadwal distribusi yang telah ditentukan oleh GFK

Keterlambatan distribusi obat dari GFK

-petugas tidak melakukan crosscek ulang obat yang diterima

4

Petugas obat memeriksa obat yang diterima dari GFK, termasuk kesesuaian jenis, jumlah, tanggal kadaluarsa dan keadaan barang

Terjadi ketidaksinkronan antara catatan pengiriman GFK dengan catatan petugas farmasi

-kurang teliti TTK puskesmas dan ifk dalam cek penerimaan obat

5

Petugas obat menata dan menyimpan obat ke dalam gudang obat puskesmas

Penyimpanan obat ditempatkan di  lantai

-penataan tidak FEFO,FIFO, alfabet

-tidak menandai yang akan ED/ed dekat

6

Petugas obat mencatat penerimaan obat ke dalam kartu stock gudang obat

Terjadi kesalahan penulisan dalam pengisian kartu stok

-

7

Petugas obat mendistribusikan obat ke seluruh sub-sub unit, Pustu, PKD berdasarkan permintaan obat yang disampaikan melalui LPLPO sub unit

-salah penyediaan obat sesuai LPLPO unit

-salah jumlah penyediaan obat sesuai LPLPO unit

 

 

 

 

 

 

III.                Tujuan melakukan analisis FMEA:

Mengurangi risiko keridaksinkronan pencatatan jumlah stok obat dan kekosongan stok obat

 

IV.               Identifikasi akibat jika terjadi failure mode untuk tiap-tiap failure mode:

No

Tahapan Proses

Failure Modes

Akibat

1

Petugas obat melakukan kompilasi data pemakaian obat selama 1 bulan terakhir dan memasukkannya dalam format LPLPO

Laporan dari masing-masing unit pelayanan terlambat diserahkan

Kompilasi data yang disusun tidak sesuai dengan stok riil di lapangan

2

Petugas obat membuat laporan pemakaian dan permintaan obat menggunakan format LPLPO dan dikirim ke DKK tembusan ke GFK

Laporan pemakaian dan permintaan obat jumlah tidak sesuai dengan kondisi lapangan

LPLPO yang disampaikan ke GFK tidak sesuai dengan jumlah riil di lapangan

3

Petugas obat menerima obat dari GFK sesuai permintaan puskesmas melalui LPLPO  dengan mengikuti jadwal distribusi yang telah ditentukan oleh GFK

Keterlambatan distribusi obat dari GFK

Hambatan dalam proses pelayanan karena obat yang diperlukan belum tersedia

4

Petugas obat memeriksa obat yang diterima dari GFK, termasuk kesesuaian jenis, jumlah, tanggal kadaluarsa dan keadaan barang

Terjadi ketidaksinkronan antara catatan pengiriman GFK dengan catatan petugas farmasi

Catatan obat yang dikirim GFK tidak sesuai dengan kondisi di lapangan

5

Petugas obat menata dan menyimpan obat ke dalam gudang obat puskesmas

Penyimpanan obat ditempatkan di lokasi yang mudah terkena air hujan

Obat rusak karena lembab terkena air hujan

6

Petugas obat mencatat penerimaan obat ke dalam kartu stock gudang obat

Terjadi kesalahan penulisan dalam pengisian kartu stok

Ketidaksinkronan antara catatan petugas dengan jumlah riil di lapangan

7

Petugas obat mendistribusikan obat ke seluruh sub-sub unit, Pustu, PKD berdasarkan permintaan obat yang disampaikan melalui LPLPO sub unit

Tidak semua permintaan obat didistribusikan

Hambatan pelayanan di pustu/pkd karena obat yang dibutuhkan tidak tersedia

V.                 Identifikasi kemungkinan penyebab dari tiap failure mode, dan deskripsikan upaya-upaya yang sudah dilakukan (kalau ada) untuk mengatasi failure mode:

No

Tahapan Proses

Failure Modes

Akibat

Penyebab

Upaya yang telah dilakukan

1

Petugas obat melakukan kompilasi data pemakaian obat selama 1 bulan terakhir dan memasukkannya dalam format LPLPO

Laporan dari masing-masing unit pelayanan terlambat diserahkan

Kompilasi data yang disusun tidak sesuai dengan stok riil di lapangan

Tidak tertibnya petugas di masing-masing unit pelayanan untuk melaporkan pemakaian obat tepat waktu (maksimal tanggal 3 tiap bulan)

Melakukan koordinasi lewat apel pagi dan WA grup tentang deadline pelaporan obat

2

Petugas obat membuat laporan pemakaian dan permintaan obat menggunakan format LPLPO dan dikirim ke DKK tembusan ke GFK

Laporan pemakaian dan permintaan obat jumlah tidak sesuai dengan kondisi lapangan

LPLPO yang disampaikan ke GFK tidak sesuai dengan jumlah riil di lapangan

Kompilasi data yang disusun tidak sesuai dengan stok riil di lapangan

-stok opname tiap akhir bulan

3

Petugas obat menerima obat dari GFK sesuai permintaan puskesmas melalui LPLPO  dengan mengikuti jadwal distribusi yang telah ditentukan oleh GFK

Keterlambatan distribusi obat dari GFK

Hambatan dalam proses pelayanan karena obat yang diperlukan belum tersedia

Keterlambatan GFK dalam menindaklanjuti laporan bulanan puskesmas

Melakukan follow up stok ketersediaan obat ke GFK

4

Petugas obat memeriksa obat yang diterima dari GFK, termasuk kesesuaian jenis, jumlah, tanggal kadaluarsa dan keadaan barang

Terjadi ketidaksinkronan antara catatan pengiriman GFK dengan catatan petugas farmasi

Catatan obat yang dikirim GFK tidak sesuai dengan kondisi di lapangan

Petugas tidak melakukan check list dalam memeriksa obat yang diterima dari GFK

Dibuat lembar check list penerimaan obat dari GFK

5

Petugas obat menata dan menyimpan obat ke dalam gudang obat puskesmas

Penyimpanan obat ditempatkan di lokasi yang mudah terkena air hujan

Obat rusak karena lembab terkena air hujan

Gudang obat terdapat titik yang rawan bocor saat hujan

Melaporkan kebutuhan pemeliharaan gedung ke manajemen

6

Petugas obat mencatat penerimaan obat ke dalam kartu stock gudang obat

Terjadi kesalahan penulisan dalam pengisian kartu stok

Ketidaksinkronan antara catatan petugas dengan jumlah riil di lapangan

Ketidaktelitian petugas dalam mengisi kartu stok

-cek hasil stok opname dg kartu stok

7

Petugas obat mendistribusikan obat ke seluruh sub-sub unit, Pustu, PKD berdasarkan permintaan obat yang disampaikan melalui LPLPO sub unit

Tidak semua permintaan obat didistribusikan

Hambatan pelayanan di pustu/pkd karena obat yang dibutuhkan tidak tersedia

Ketidakcocokan antara laporan pustu/pkd dengan catatan petugas farmasi

-cross cek fisik

 

VI.               Lakukan penghitungan RPN (Risk Priority Number), dengan menggunakan matriks sebagai berikut:

Tahapan Proses

Failure Modes

Akibat

S (Severty)

Kemungkinan sebab

O (Occurrence)

Upaya kendali yg sdh dilakukan

D (Detectability)

RPN (Risk Priority Number)

Petugas obat melakukan kompilasi data pemakaian obat selama 1 bulan terakhir dan memasukkannya dalam format LPLPO

Laporan dari masing-masing unit pelayanan terlambat diserahkan

Kompilasi data yang disusun tidak sesuai dengan stok riil di lapangan

4

Tidak tertibnya petugas di masing-masing unit pelayanan untuk melaporkan pemakaian obat tepat waktu (maksimal tanggal 3 tiap bulan)

6

Melakukan koordinasi lewat apel pagi dan WA grup tentang deadline pelaporan obat

4

96

Petugas obat membuat laporan pemakaian dan permintaan obat menggunakan format LPLPO dan dikirim ke DKK tembusan ke GFK

Laporan pemakaian dan permintaan obat jumlah tidak sesuai dengan kondisi lapangan

LPLPO yang disampaikan ke GFK tidak sesuai dengan jumlah riil di lapangan

5

Kompilasi data yang disusun tidak sesuai dengan stok riil di lapangan

3

-

5

75

Petugas obat menerima obat dari GFK sesuai permintaan puskesmas melalui LPLPO  dengan mengikuti jadwal distribusi yang telah ditentukan oleh GFK

Keterlambatan distribusi obat dari GFK

Hambatan dalam proses pelayanan karena obat yang diperlukan belum tersedia

6

Keterlambatan GFK dalam menindaklanjuti laporan bulanan puskesmas

2

Melakukan follow up stok ketersediaan obat ke GFK

3

36

Petugas obat memeriksa obat yang diterima dari GFK, termasuk kesesuaian jenis, jumlah, tanggal kadaluarsa dan keadaan barang

Terjadi ketidaksinkronan antara catatan pengiriman GFK dengan catatan petugas farmasi

Catatan obat yang dikirim GFK tidak sesuai dengan kondisi di lapangan

6

Petugas tidak melakukan check list dalam memeriksa obat yang diterima dari GFK

4

Dibuat lembar check list penerimaan obat dari GFK

6

144

Petugas obat menata dan menyimpan obat ke dalam gudang obat puskesmas

Penyimpanan obat ditempatkan di lokasi yang mudah terkena air hujan

Obat rusak karena lembab diletakkan dilantai

7

Gudang obat terdapat titik yang rawan bocor saat hujan

4

Melaporkan kebutuhan pemeliharaan gedung ke manajemen, menyediakan pallet

8

224

Petugas obat mencatat penerimaan obat ke dalam kartu stock gudang obat

Terjadi kesalahan penulisan dalam pengisian kartu stok

Ketidaksinkronan antara catatan petugas dengan jumlah riil di lapangan

4

Ketidaktelitian petugas dalam mengisi kartu stok

2

-

6

48

Petugas obat mendistribusikan obat ke seluruh sub-sub unit, Pustu, PKD berdasarkan permintaan obat yang disampaikan melalui LPLPO sub unit

Tidak semua permintaan obat didistribusikan

Hambatan pelayanan di pustu/pkd karena obat yang dibutuhkan tidak tersedia

5

Ketidakcocokan antara laporan pustu/pkd dengan catatan petugas farmasi

2

-

4

40

VII.             Tetapkan threshold untuk memilih failure mode yang akan diselesaikan dan, tetapkan failure mode apa saja yang akan diselesaikan. (Gunakan Diagram Pareto)

No

Failure modes:

(urutkan dari RPN tertinggi ke terendah)

RPN

KumulatiF

Persentase kumulatif

Keterangan

1

Penyimpanan obat ditempatkan di lokasi yang mudah terkena air hujan

224

224

33.8%

 

2

Terjadi ketidaksinkronan antara catatan pengiriman GFK dengan catatan petugas farmasi

144

368

55.5%

 

3

Laporan dari masing-masing unit pelayanan terlambat diserahkan

96

464

69.9%

 

4

Laporan pemakaian dan permintaan obat jumlah tidak sesuai dengan kondisi lapangan

75

539

81.3%

Titik potong pada persentase kumulatif 80 %

5

Terjadi kesalahan penulisan dalam pengisian kartu stok

48

587

88.5%

 

6

Tidak semua permintaan obat didistribusikan

40

627

94.6%

Yg utama

7

Keterlambatan distribusi obat dari GFK

36

663

100%

 

 

 

 

 

VIII.           Diskusikan dan rencanakan kegiatan/tindakan yang perlu dilakukan untuk mengatasi failure modes tersebut, tetapkan penanggungjawab dan kapan akan dilakukan:

Tahapan Proses

Failure Modes

Akibat

S

Kemungkinan sebab

O

Upaya kendali yg sdh dilakukan

D

RPN

Kegiatan yang direkomendasikan

Penanggung jawab

Waktu

 

Petugas obat menata dan menyimpan obat ke dalam gudang obat puskesmas

Penyimpanan obat ditempatkan di lokasi yang mudah terkena air hujan

Obat rusak karena lembab terkena air hujan

7

Gudang obat terdapat titik yang rawan bocor saat hujan

4

Melaporkan kebutuhan pemeliharaan gedung ke manajemen

8

224

Petugas obat menata dan menyimpan obat dalam rak penyimpanan obat yang terlindung

Koordinator Farmasi

Mei 2018

 

Petugas obat memeriksa obat yang diterima dari GFK, termasuk kesesuaian jenis, jumlah, tanggal kadaluarsa dan keadaan barang

Terjadi ketidaksinkronan antara catatan pengiriman GFK dengan catatan petugas farmasi

Catatan obat yang dikirim GFK tidak sesuai dengan kondisi di lapangan

6

Petugas tidak melakukan check list dalam memeriksa obat yang diterima dari GFK

4

Dibuat lembar check list penerimaan obat dari GFK

6

144

Petugas obat memeriksa obat yang diterima dari GFK, termasuk kesesuaian jenis, jumlah, tanggal kadaluarsa dan keadaan barang sesuai check list

Koordinator Farmasi

Mei 2018

 

Petugas obat melakukan kompilasi data pemakaian obat selama 1 bulan terakhir dan memasukkannya dalam format LPLPO

Laporan dari masing-masing unit pelayanan terlambat diserahkan

Kompilasi data yang disusun tidak sesuai dengan stok riil di lapangan

4

Tidak tertibnya petugas di masing-masing unit pelayanan untuk melaporkan pemakaian obat tepat waktu (maksimal tanggal 3 tiap bulan)

6

Melakukan koordinasi lewat apel pagi dan WA grup tentang deadline pelaporan obat

4

96

Pelaporan penggunaan obat dari masing-masing pelayanan diserahkan maksimal tanggal 3 setiap bulannya.

Koordinator Farmasi

Mei 2018

 

Petugas obat membuat laporan pemakaian dan permintaan obat menggunakan format LPLPO dan dikirim ke DKK tembusan ke GFK

Laporan pemakaian dan permintaan obat jumlah tidak sesuai dengan kondisi lapangan

LPLPO yang disampaikan ke GFK tidak sesuai dengan jumlah riil di lapangan

5

Kompilasi data yang disusun tidak sesuai dengan stok riil di lapangan

3

-

5

75

Pelaporan penggunaan obat dari masing-masing pelayanan diserahkan maksimal tanggal 3 setiap bulannya.

Koordinator Farmasi

Mei 2018

 

 

 

 

IX.                Pelaksanaan kegiatan dan evaluasi:

Laksanakan kegiatan, dan lakukan evaluasi dengan menghitung ulang RPN

Tahapan Proses

Failure Modes

Akibat

S

Kemungkinan sebab

O

Upaya kendali

Yang

sudah dilakukan

D

RPN

Kegiatan yang direkomendasikan

Penanggung jawab

Kegiatan yang dilakukan

S

O

D

RPN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

X.                  Susun SOP baru sesuai dengan hasil analisis dan pelaksanaan FMEA:

1.   Petugas melaporkan penggunaan obat dari masing-masing pelayanan maksimal tanggal 3 setiap bulannya.

2.    Petugas obat melakukan kompilasi data pemakaian obat selama 1 bulan terakhir dan memasukkannya dalam format LPLPO

3.      Petugas obat membuat laporan pemakaian dan permintaan obat menggunakan format LPLPO dan dikirim ke DKK tembusan ke GFK.

4.      Petugas obat menerima obat dari GFK sesuai permintaan puskesmas melalui LPLPO  dengan mengikuti jadwal distribusi yang telah ditentukan oleh GFK.

5.      Petugas obat memeriksa obat yang diterima dari GFK, termasuk kesesuaian jenis, jumlah, tanggal kadaluarsa dan keadaan barang sesuai check list.

6.      Petugas obat menata dan menyimpan obat ke dalam rak penyimpanan obat yang terlindung di gudang obat puskesmas.

7.      Petugas obat mencatat penerimaan obat ke dalam kartu stock gudang obat.

8.      Petugas obat mendistribusikan obat ke seluruh sub-sub unit, Pustu, PKD berdasarkan permintaan obat yang disampaikan melalui LPLPO sub unit.