|
|
PENYIAPAN PELAYANAN IMUNISASI |
||||
|
SOP |
No. Dokumen |
: |
|
Ditetapkan oleh Kepala Puskesmas Larangan Utara Dr. Hj. Any Ernawati NIP. 19680221200212 2 004 |
|
|
Terbitan |
: |
01 |
|||
|
Revisi |
: |
00 |
|||
|
Tgl. Mulai berlaku |
: |
|
|||
|
Halaman |
: |
1/2 |
|||
|
1. |
Pengertian |
Keberhasilan program imunisasi sangat ditentukan oleh kualitas
pelayanan imunisasi oleh petugas imunisasi di Puskesmas, mulai dari persiapan
pelayanan imunisasi. |
|
2. |
Tujuan |
Sebagai Acuan penerapan langkah-langkah
untuk melaksanakan Penyiapan Pelayanan Imunisasi |
|
3. |
Kebijakan |
SK Kepala Puskesmas Larangan Utara No. _________________________ tentang Standar Pelayanan Publik Puskesmas Larangan
Utara. |
|
4. |
Referensi |
Permenkes RI No. 42 Tahun 2013 tentang
Penyelenggaraan Imunisasi. Modul
Penyelenggaraan Imunisasi Kemenkes RI
tahun 2012. |
|
5. |
Prosedur
/ Langkah-langkah |
1. Logistik Jenis peralatan yang diperlukan
untuk pelayanan imunisasi : a.
Vaksin carrier b.
Cool pack / kotak dingin cair c.
Vaksin, pelarut dan penetes
(dropper) d.
Alat suntik e.
Safety box f.
Pemotong / kikir ampul pelarut g.
Formulir KIPI h.
Kapas dan wadah i.
Bahan penyuluhan (poster, leaflet,
dll) j.
Alat tulis (kertas, pensil, dan
pena) k.
Catatan imunisasi (buku KIA, KMS,
kartu TT) l.
Buku register (kohort) bayi dan
ibu m. Tempat
samah n.
Sabun dan wadah air mengalir untuk
cuci tangan o.
Anafilaktik kit p.
Pingset 2. Mengeluarkan vaksin dan pelarut
dari lemari es a.
Sebelum membuka pintu lemari es,
tentukan berapa banyak vial vaksin yang dibutuhkan untuk pelayanan. b.
Buku lemari es, periksa freeze tag
atau fridge tag dan termometer untuk mengetahui keadaan vaksin sebelumnya. c.
Pilih dan keluarkan vaksin sesuai
kondisi VVM, tanggal kadaluarsa/early expired first out (EEFO), yang masuk
duluan dikeluarkan lebih dulu/first in first out (FIFO). Prioritas dalam
mengeluarkan mengacu kepada kondisi VVM. 3. Memeriksa apakah vaksin aman
diberikan Sebelum memberikan vaksin, harus
dipastikan bahwa vaksin yang akan diberikan masih baik, dengan melakukan
langkah-langkah berikut : a.
Periksa label vaksin dan pelarut.
Jika label tidak ada, jangan gunakan vaksin atau pelarut tersebut. b.
Periksa alat pemantau vaksin
(VVM). c.
Periksa tanggal kadaluarsa, jangan
gunakan vaksin dan pelarut jika telah melewati tanggal kadaluarsa. d.
Periksa alat pemantau suhu beku
(freeze tag) dalam lemari es. Jika freeze tag menunjukkan tanda silang,
berarti pernah terjadi penyimpangan suhu (dibawah 2o C) selama
lebih dari 60 menit. |
|
5. |
Prosedur
/ Langkah-langkah |
e. Pada
kondisi tersebut, diduga pernah terjadi pembekuan pada vaksin yang sensitif
beku seperti DT, TT, Td, Hepatitis B, DPT/HB, DPT/HB/Hib dan IPV. Untuk
memastikan vaksin dalam kondisi baik atau rusak, maka sebaiknya dilakukan
shake test (uji kocok). Langkah-langkah uji kocok : a) Pilih satu
dari tiap tipe dan batch vaksin yang dicurigai pernah beku, utamakan yang
dekat dengan evaporator atau bagian lemari es yang paling dingin. Beri label
“Tersangka Beku”. Bandingkan dengan vaksin dari tipe dan batch yang sama yang
sengaja dibekukan hingga beku padat seluruhnya dan beri label “Dibekukan”. b) Biarkan
contoh vaksin “Dibekukan” dan vaksin “Tersangka beku” sampai mencair
seluruhnya. c) Kocok
contoh vaksin “Dibekukan” dan vaksin “Tersangka Beku” secara bersamaan. d) Kemudian
taruh berdekatan, dan diamkan. e) Amati
contoh vaksin “Dibekukan” dan vaksin “Tersangka Beku”, utk membandingkan
lamanya waktu pengendapan (5 – 30 mnt). f) Jika : · Pengendapan vaksin “Tersangka
Beku” lebih lambat dari contoh
vaksin “Dibekukan”, maka vaksin boleh
digunakan. · Pengendapan vaksin “Tersangka
Beku” sama atau lebih cepat dari pada contoh vaksin
“Dibekukan”, maka vaksin tidak boleh
digunakan (vaksin sudah rusak). g) Harus
melakukan uji kocok untuk tiap vaksin yang berbeda batch dan jenis vaksinnya
dengan kontrol “Dibekukan” yang sesuai. 4.
Pemeliharaan
vaksin & rantai vaksin selama pelaksanaan imunisasi a. Hindari
vaccine carrier yang berisi vaksin dari sinar matahari langsung. b. Sebelum
sasaran datang, vaksin dan pelarut harus disimpan dalam vaccine carrier yang
tertutup rapat. c. Jika
sasaran imunisasi sudah datang, maka vaksin dilarutkan dengan jenis pelarut
yang sesuai. d. Pada saat
melarutkan vaksin, suhu vaksin dan pelarut harus sama. e. Vaksin
yang sudah dilarutkan diberi label yang berisikan waktu pelarutan. Setelah
dilarutkan, vaksin BCG hanya boleh digunakan selama 3 jam, dan vaksin campak
selama 6 jam. f. Vaksin
yang lainnya, setelah dibuka harus diberi label yang ditulis tanggal dan
waktu vaksin dibuka. Penggunaannya mengikuti standar penggunaan vaksin
multidose. g. Selama
pelayanan imunisasi, vaksin dan pelarut harus disimpan dalam vaccine carrier
dengan menggunakan cool pack, agar suhu vaksin dan pelarut tetap terjaga. h. Tidak
diperkenankan membuka vial baru sebelum vial yang sudah dibuka habis. i. Apabila
sasaran selanjutnya belum datang, vaksin yg sudah dilarutkan harus diletakkan
di lubang busa yang terdapat di bagian atas vaccine carrier, dan dilindungi
agar tidak terkena sinar matahari langsung. j. Setiap
vaccine carrier sebaiknya dilengkapi dgn empat buah cool pack k. Apabila
vaksin yang sudah dilarutkan habis, pelarutan selanjutnya dilakukan jika
sasaran berikutnya telah datang. |
|
6. |
Unit
Terkait |
Puskesmas, Posyandu |
No comments:
Post a Comment