KERANGKA
ACUAN
PROGAM
KONSELOR SEBAYA
I.
PENDAHULUAN
Siswa SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK sesuai
dengan usia perkembangannya berada pada masa remaja. Pada masa ini,
ketertarikan dan komitmen serta ikatan terhadap teman sebaya menjadi sangat
kuat. Hal ini antara lain karena remaja merasa bahwa orang dewasa tidak dapat
memahami mereka. Keadaan ini sering menjadikan remaja sebagai suatu kelompok
yang eksklusif karena hanya sesama merekalah dapat saling memahami. Sebagian
(besar) siswa lebih sering membicarakan masalah-masalah serius mereka dengan
teman sebaya, dibandingkan dengan orang tua dan guru pembimbing. Untuk masalah
yang sangat seriuspun (misalnya, hubungan seksual dan kehamilan di luar nikah,
dan keinginan melakukan aborsi) mereka bicarakan dengan teman, bukan dengan
orang tua atau guru mereka. Kalaupun terdapat beberapa siswa yang akhirnya
menceritakan kehamilan atau hubungan seksual mereka kepada orang tua atau guru
pembimbing, biasanya karena sudah terpaksa (pembicaraan dan upaya pemecahan
masalah bersama teman sebaya mengalami jalan buntu).
Dalam segala segi remaja mengalami
perubahan dan perubahan-perubahan yang sangat cepat sering menimbulkan
kegoncangan dan ketidak-pastian. Goncangan dan ketidak pastian juga muncul dari
lingkungan yang sedang dan akan terus cepat berubah. Dalam menghadapi badai
perkembangan ("storm and stress") banyak
remaja yang berhasil mengatasi berbagai rintangan. Mereka menjadikan rintangan
dan berbagai kegagalan sebagai peluang dan tantangan untuk tetap bangkit meraih
keberhasilan, membentuk kelompok sebaya untuk saling menguatkan, dan pada
akhirnya berhasil melaksanakan tugas-tugas perkembangan secara wajar. Salah
satu faktor yang berperan terhadap keberhasilan individu dalam menghadapi
berbagai kesulitan adalah daya lentur individu atau resilience. Di pihak lain,
banyak pula remaja yang gagal dan kandas terhempas ke dalam berbagai tingkah
laku menyimpang yang tidak sesuai dengan tugas-tugas perkembangan yang
dituntutkan kepadanya. Badai perkembangan dihayati sebagai suatu masalah yang
tidak dapat dipecahkan, dan mereka larut dalam kegagalan. Seringkali kelompok
individu ini juga larut dalam aktivitas kelompok sebaya yang kurang positif.
Keeratan, keterbukaan dan perasaan
senasib yang muncul diantara sesama remaja dapat menjadi peluang bagi upaya
fasilitasi perkembangan remaja. Pada sisi lain, beberapa karakteristik
psikologis remaja (antara lain emosional, labil) juga merupakan tantangan bagi
efektifitas layanan terhadap mereka. Pentingnya teman sebaya bagi remaja antara
lain tampak dalam konformitas remaja terhadap kelompok sebayanya. Konformitas
terhadap teman sebaya dapat berdampak positif dan negatif. Pertanyaan yang
muncul adalah bagaimana sebaiknya interaksi antar siswa (remaja) dikelola agar
berdampak positif dan dapat memberikan dukungan terhadap berkembangnya
resilience mereka? Apakah konseling teman sebaya dapat menjadi sarana
fasilitasi bagi berkembangnya resiliensi siswa?
II.
TUJUAN
tujuan konseling sebaya yakni:
1.
Memanfaatkan
proteksi kaum muda
2.
Sumber
daya manusia yang paling berharga
3.
Mempersiapkan
kaum muda menjadi pemimpin bangsanya dimasa depan
4.
Membantu
kaum muda mengembangkan kepribadian mereka
5.
Membantu
kaum muda mengembangkan kepribadian mereka
6.
Membantu
kaum muda menjernihkan dan membentuk nilai-nilai hiidup mereka, dan
7.
Meningkatkan
kemampuan kaum muda melakukan perubahan di tengah masyarakat mereka.
III.
MANFAAT DAN FUNGSI KONSELOR SEBAYA
Fungsi dari konseling sebaya
menurut beberapa ahli:
a.
Membantu
siswa lain memecahkan permasalahannya.
b.
Membantu
siswa lain yang mengalami penyimpangan fisik.
c.
Membantu
siswa-siswa baru dalam menjalani pekan orientasi siswa untuk mengenal sistim
dan suasana sekolah secara keseluruhan.
d.
Membantu
siswa baru membina dan mengembangkan hubungan baru dengan teman sebaya dan
personil sekolah.
e.
Melakukan
tutorial dan penyesuaian sosial bagi siswa-siswa asing (kalau ada).
Sedangkan manfaat konseling sebaya yakni:
1.
Siswa
memiliki Kemampuan melakukan pendekatan dan membina percakapan dengan baik
serta bermanfaat dengan orang lain.
2.
Siswa
memiliki Kemampuan mendengar, memahami dan merespon (3M), termasuk komunikasi
nonverbal (cara memandang, cara tersenyum, dan melakukan dorongan minimal).
3.
Siswa
memiliki Kemampuan mengamati dan menilai tingkah laku orang lain dalam rangka
menentukan apakah tingkah laku itu bermasalah atau normal.
4.
Siswa
memiliki Kemampuan untuk berbicara dengan orang lain tentang masalah dan
perasan pribadi.
5.
Siswa
memiliki Kemampuan untuk menggunakan keputusan yang dibuat dalam konseling
mengahadapi permasalahan-permasalahan pribadi, permasalahan kesehatan,
permasalahan sekolah, dan permasalahan perencanaan hubungan dengan teman sebay.
6.
Siswa
memiliki Kemampuan untuk mengembangkan tindakan alternatif sewaktu menghadapi
masalah.
7.
Siswa
memiliki Kemampuan menerapkan keterampilan interpersonal yang menarik untuk
mengusahakan terjadi pertemuan pertama dengan siswa yang minta tolong.
8.
Siswa
memiliki Kemampuan untuk mengembangkan keterampilan observasi atau pengamatan
agar dapat membedakan tingkah laku abnormal dengan normal; terutama mengidentifikasi
masalah dalam menggunakan minuman keras, masalah terisolasi, dan masalah
kecemasan.
9.
Siswa
memiliki Kemampuan mengalih tangankan konsli untuk menolongnya memecahkan
masalahnya jika dalam Konseling Sebaya tidak dapat menyelesaikan.
10. Siswa memiliki Kemampuan mendemontrasikan
kemampuan bertingkah laku yang beretika.
11.
Siswa
memiliki Kemampuan mendemontrasikan pelaksanaan strategi konseling
IV.
RUANG LINGKUP KASUS KESEHATAN REMAJA
1.
Abortus
2.
Pernikahan dini
3.
Anemia
4.
Obesitas
V.
RINCIAN KEGIATAN
1.
Konseling kesehatan reproduksi remaja
2.
Konseling gizi
3.
Konseling permasalahan remaja pada umumnya
VI.
TATA
NILAI PROGRAM
Tata
nilai yang diterapkan pada pembentukan Konselor sebaya adalah CERIA
1.
Cepat
2.
Efisien
3.
Responsif
4.
Inovatif
5.
Akurat
VII.
TATA
HUBUNGAN KERJA
1.
Penanggung jawab :
Kepala Puskesmas
Mempunyai tugas
untuk melakukan koordinasi dengan tim mutu untuk melaksanankan kegiatan sesuai
dengan Program kegiatan KIA mulai dari
perencanaan,pelaksanaan serta pengawasan/ monev
kegiatan
2. Sie penanggung jawab UKM
Membina system komunikasi dg sasaran ,antar lintas
program /sektoral , dan melakukan upaya pembinaan mulai dari pelayanan s/d pencatatan pelaporan
3. Pelaksana Kebidanan :
a.
Bidan Koordinator
Mempunyai tugas
untuk koordinasi tentang pencatatan ,pelaporan, serta
evaluasi program KIA / KB.
b.
Pengelola progam KRR
Sebagai pelaksana
dilapangan
A. LINTAS PROGRAM
1. Promosi
Kesehatan
Bekerjasama
dalam promosi kesehatan remaja kepada masyarakat
2. Gizi
Integrasi
peningkatan gizi untuk remaja ; konseling KEK,anemia ,obesitas, dll.
B. LINTAS
SEKTORAL
1. UPTD Pendidikan (SMP dan SMA/SMK)
a.
Membantu pengelola dalam mendata
jumlah remaja di wilayah binaan.
b.
Memberikan penyuluhan yang
berhubungan dengan kesehatan remaja konseling KEK, anemia
,obesitas, pernikahan dini, abortus, dll.
c.
Membantu pengelola dalam
memfasilitasi remaja untuk menindak lanjuti kegiatan konselor remaja
2.
Aparat desa, Toma, Karang Taruna
a.
Membantu pengelola dalam mendata
jumlah remaja di wilayah binaan.
b.
Memberikan penyuluhan yang
berhubungan dengan kesehatan remaja konseling KEK, anemia
,obesitas, pernikahan dini, abortus, dll.
c.
Membantu pengelola dalam
memfasilitasi remaja untuk menindak lanjuti kegiatan konselor remaja
VIII. LANGKAH-LANGKAH MEMBANGUN KONSELING SEBAYA
“Konselor” sebaya terlatih yang direkrut dari jaringan kerja sosial
memungkinkan terjadinya sejumlah kontak
yang spontan dan informal. Kontak-kontak yang demikian memiliki multiplying impact pada berbagai aspek
dari remaja lainnya. Kontak-kontak tersebut juga dapat memperbaiki atau
meningkatkan iklim sosial dan dapat menjadi jembatan penghubung antara konselor
profesional dengan para siswa (remaja) yang tidak sempat atau tidak bersedia
berjumpa dengan konselor.
A. Langkah-langkah dalam membangun konseling sebaya :
1. Pemilihan calon ”konselor” teman sebaya. Meskipun keterampilan
pemberian bantuan dapat dikuasai oleh siapa saja, faktor kesukarelaan dan
faktor kepribadian pemberi bantuan (“konselor” sebaya) ternyata sangat
menentukan keberhasilan pemberian bantuan. Oleh karena itu perlu dilakukan
pemilihan calon “konselor” sebaya. Pemilihan didasarkan pada
karakteristik-karakteristik hangat, memiliki minat untuk membantu dapat
diterima orang lain, toleran terhadap perbedaan sistem nilai, energik, secara
sukarela bersedia membantu orang lain, memiliki emosi yang stabil, dan memiliki
prestasi belajar yang cukup baik atau minimal rerata, serta mampu menjaga
rahasia. Dalam setiap kelas dapat dipilih 3 atau 4 siswa yang memenuhi kriteria
tersebut untuk dilatih selama beberapa minggu.
2. Pelatihan calon ”konselor” teman sebaya. Tujuan utama pelatihan
“konselor” sebaya adalah untuk meningkatkan jumlah remaja yang memiliki dan
mampu menggunakan keterampilan-keterampilan pemberian bantuan. Pelatihan ini
tidak dimaksudkan untuk menghasilkan personal yang menggantikan fungsi dan peran konselor.
Materi-materi pelatihan yang meliputi keterampilan konseling dan keterampilan
resiliensi dikemas dalam modul-modul yang disajikan secara berurutan. Calon
”konselor” teman sebaya dibekali kemampuan untuk membangun komunikasi
interpersonal secara baik. Sikap dan keterampilan dasar konseling yang meliputi
kemampuan berempati, kemampuan melakukan attending, keterampilan bertanya,
keterampilan merangkum pembicaraan, asertifitas, genuineness, konfrontasi, dan
keterampilan pemecahan masalah, merupakan kemampuan-kemampuan yang dibekalkan
dalam pelatihan konseling teman sebaya. Penguasaan terhadap kemampuan membantu
diri sendiri dan kemampuan untuk membangun komunikasi interpersonal secara baik
akan memungkinkan seorang remaja memiliki sahabat yang cukup.
3. Pelaksanaan dan pengorganisasian konseling teman sebaya. Dalam
praktiknya, interaksi ”konseling” teman sebaya lebih banyak bersifat spontan
dan informal. Spontan dalam arti interaksi tersebut dapat terjadi kapan saja
dan dimana saja, tidak perlu menunda. Meskipun demikian prinsip-prinsip
kerahasiaan tetap ditegakkan. Interaksi triadik terjadi antara ”konselor”
sebaya dengan ”konseli” sebaya, konselor dengan ”konselor” sebaya, dan konselor
dengan konseling
B. pemilihan calon pembimbing sebaya dengan karakteristik sebagai berikut
:
1. Memiliki minat, kemauan, dan perhatian untuk membantu teman secara
sukarela,
2. Terbuka dan mampu berempati,
3. Memiliki disiplin yang baik
4. Memiliki prestasi akademik tinggi atau minimal rerata,
5. Memiliki self regulated learning atau pengelolaan diri yang
baik,
6. Memiliki kontrol diri dan akhlak yang baik,
7. Mampu menjaga rahasia,
8. Mampu bersosialisasi dan menjadi model yang baik bagi teman-temannya,
9. Memahami norma sosial, hukum dan agama.
C. Keterampilan Konselor Sebaya:
1. Membina suasana yang aman, nyaman, dan menimbulkan rasa percaya klien
terhadap konselor.
2. Melakukan komunikasi interpersonal, yaitu hubungan timbal balik yang
bercirikan :
a.
Komunikasi dua arah
b.
Perhatian pada aspek verbal dan
non verbal
c.
Penggunaan pertanyaan untuk
menggali informasi, perasaan dan pikiran
d.
Kemampuan melakukan 3 M (Mendengar
yang aktif, memahami secara positif, dan merespon secara tepat), seperti :
1)
Jaga kontak mata dengan lawan
bicara/klien (sesuaikan dengan budaya setempat) tunjukkan minat mendengar
2)
Jangan memotong pembicaraan klien,
atau melakukan kegiatan lain.
3)
Ajukan pertanyaan yang relevan.
4)
Tunjukkan empati.
5)
Lakukan refleksi dengan cara
mengulang kata-kata klien dengan menggunakan kata-kata sendiri.
6)
Mendorong klien untuk terus bicara
dengan memberikan dorongan minimal, seperti ungkapan (oh ya.., ehm..., bagus),
dan anggukan kepala, acungan jempol, dan lain-lain.
D.
Program yang perlu dilakukan dalam
penerapan dan pelaksaaan konselor sebaya adalah:
1. Desain program “konseling sebaya”.
Perencanaan program konseling sebaya dilakukan dengan melibatkan
berbagai pihak terutama konselor, kepala Sekolah, persetujuan dan dukungan para
guru dan administrasi. Perencanaan meliputi: pemilihan ”konselor sebaya” dan
pelatihan bagi konselor sebaya, bentuk pelatihan, personil yang akan melatih
dan kriterianya, biaya pelatihan, tempat pelatihan, lama pelatihan akan
dilakukan, pihak-pihak yang dimintai dukungan untuk pelatihan, keterampilan
dasar konseling yang akan dilatihkan bagi konselor sebaya.
2. Pelaksanaan pelatihan konselor sebaya.
Pelatihan dilaksanakan sesuai rencana, dan menggunakan salah satu
pendekatan,. Pelatihan keterampilan dasar konseling akan berguna untuk
berkomunikasi dalam konseling, sesuai tahap-tahap konseling. Pelatihan
konseling dilakukan berupa latihan melaksanakan konseling individual maupun
konseling kelompok.
3. Pengawasan. Bekerjanya konselor sebaya dalam melayani konseli sebaya
pada counseling individual ataupun
konseling kelompok perlu pengawasan konselor professional.
4. Membahas berbagai kesulitan yang mungkin ditemui konselor sebaya, dan
menindaklanjuti proses konseling jika perlu.
5. Melakukan evaluasi terhadap hasil kerja konselor sebaya, untuk
peningkatan kemampuan konselor sebaya, dan mengkaji berbagai kekuatan dan
kelemahan yang terjadi.
6. Mengkaji dampak program konseling sebaya pada konselor sebaya dan pada
konseli sebaya
IX.
SASARAN
Remaja usia 10 tahun – 19 tahun dan belum menikah (
Definisi WHO )
Sasaran dibagi dalam 2 kategori :
1. Remaja di sekolah
2. Remaja di luar sekolah
X.
JADWAL
KEGIATAN
1. Konselor
sebaya tingkat SMP, SMA/SMK dibentuk 2 tahun sekali dimulai bulan agustus 2016
2. Konselor
sebaya di tingkat desa dibentuk 2 tahun sekali dibentuk bulan september 2016
XI.
EVALUASI
PELAKSANAAN KEGIATAN DAN PELAPORAN
Setiap
setahun sekali dievaluasi pada masing-masing kelompok konselor sebaya,
dianalisa, dikaji kendala yang ada dan ditindak lanjuti
XII.
PENCATATAN
PELAPORAN DAN EVALUASI KEGIATAN
1.
pencatatan
di buat dlam bentuk format laporan yang
telah terlampir secara tertulis dalam bentuk table data pencapaian , data kujungan , table analisa masalah dan rencana tindak lanjut , membuat data dinding berupa
grafik grafik, kantong persalinan , peta sasaran remaja, dll agar
mudah di baca dan di evaluasi.
2.
Pelaporan
setiap setahun sekali
Pelaporan sesuai
: jenjang dari
pengelola progam ke koordinator wilayah puskesmas , kemudian ke dinas
kesehatan Kabupaten berlanjut ke propinsi dan Pusat sesuai tanggal yg
ditentukan.
No comments:
Post a Comment