MOHON MAAF APABILA SUSUNANYA ADA YANG BERANTAKAN , KARENA HASIL COPY PASTE DARI FILE WORD/EXEL KE POSTINGAN BLOG

Tuesday, March 10, 2026

SOP SKISTOSOMIASIS

 

57

 

 

 

 

 

Dinkes Kab Defgh

SKISTOSOMIASIS

 

 

 

 

 

 

Puskesmas Abcde

 

SOP

Nomor

:

Terbit ke

: 01

No.Revisi

: 00

Tgl.Diberlakukan

: 2-01-2018

Halaman

: 1 / 2

Ditetapkan Kepala  Puskesmas Abcde

 

 

Kapus

NIP. nipkapus

 

A. Pengertian

Skistosomiasis   adalah   salah   satu   penyakit   infeksi   parasit   yang disebabkan  oleh  cacing  trematoda  dari  genus  schistosoma  (blood fluke).

Terdapat tiga spesies cacing trematoda utama yang menjadi penyebab skistosomiasis yaitu Schistosoma japonicum, Schistosoma haematobium dan Schistosoma mansoni. Spesies yang kurang dikenal yaitu   Schistosoma   mekongi   dan   Schistosoma   intercalatum.  

Di Indonesia spesies yang paling sering ditemukan adalah Schistosoma japonicum  khususnya  di  daerah  lembah  Napu  dan  sekitar  danau Lindu di Sulawesi Tengah.

Untuk menginfeksi manusia, Schistosoma memerlukan keong sebagai intermediate host. Penularan Schistosoma terjadi melalui serkaria yang berkembang dari host dan menembus kulit   pasien   dalam   air.  

Skistosomiasis   terjadi   karena   reaksi imunologis terhadap telur cacing yang terperangkap dalam jaringan. Prevalensi Schistosomiasis di lembah Napu dan danau Lindu berkisar17% hingga 37%.

B. Tujuan

Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk penatalaksanaan pasien dengan skistosomiasis

C. Kebijakan

SK Kepala UPTD Puskesmas Abcde Nomor ... tentang Kebijakan Pelayanan Klinis UPTD Puskesmas Abcde

D. Referensi

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/Menkes/514/2015 tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama

E. Prosedur

Hasil Anamnesis (Subjective)

 

Keluhan

1.    Pada fase akut : Demam, nyeri kepala, nyeri tungkai, urtikaria, bronkitis, nyeri abdominal. Biasanya terdapat riwayat terpapar dengan air misalnya danau atau sungai 4-8 minggu sebelumnya yang kemudian berkembang menjadi ruam kemerahan.

2.    Pada fase kronis :

a.    Buang air kecil darah (hematuria), rasa tidak nyaman hingga nyeri saat berkemih.

b.    Nyeri abdomen dan diare berdarah.

c.     Pembesaran perut, kuning pada kulit dan mata.

Faktor Risiko

Orang-orang yang tinggal atau datang berkunjung ke daerah endemik di sekitar lembah Napudan Lindu Sulawesi Tengah dan mempunyai kebiasaan terpajan dengan air baik di sawah maupun danau di wilayah tersebut.

 

Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)

Pemeriksaan Fisik

·       Pada skistosoma akut dapat ditemui :

-       Limfadenopati

-       Hepatosplenomegali

-       Gatal pada kulit

-       Demam

-       Urtikaria

-       Buang air besar berdarah

·       Pada skistosoma kronik bisa ditemukan :

-       Hipertensi portal de,ngan disertai distensi abdomen hepatosplenomegali

-       Gagal ginjal dengan anemia dan hipertensi

-       Gagal jantung dengan gagal jantung kanan

-       Intestinal polyposis

-       Ikterus

 

Pemeriksaan Penunjang

Penemuan telur cacing pada spesimen tinja dan pada spesimen urin.

 

Penegakan Diagnostik (Assessment)

Diagnosis Klinis

·       Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan ditemukannya telur cacing dalam tinja dan sedimen urin.

 

Diagnosis Banding : -

Komplikasi : Gagagl ginjal, gagal jantung

 

Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan

      Prazikuantel adalah obat pilihan yang diberikan karena dapat membunuh semua spesies Schistosoma.

 

Dosis prazikuantel

-       S.Mansoni, S.haematobium, S.intercalatum : 40 mg/kg BB perhari oral dan dibagi dalam dua dosis perhari.

-       S.japonicum, S.mekongi : 60 mg/kg BB perhari oral dan dibagi dalam tiga dosis perhari.

Rencana Tindak Lanjut :

1.    Setelah 4 minggu dapat dilakukan pengulangan pengobatan

2.    Pada pasien dengan telur cacing,, positif dapat dilakukan pemeriksaan ulang setelah satu bulan untuk memantau keberhasilan pengobatan.

 

Konseling dan Edukasi

1.    Hindari berenang atau menyelam di danau atau sungai di daerah endemik skistosoma.

2.    Minum air yang sudah dimasak untuk menghindari penularan lewat air yang terkontaminasi

 

Kriteria Rujukan : pasien yang didiagnosis dengan skistosomiasis (kronis) disertai komplikasi.

 

Peralatan

·       Peralatan laboratorium sederhana untuk pemeriksaan spesimen tinja dan sedimen urin.

 

Prognosis

·       Pada skistosomiasis akut, prognosis adalah dubia ad bonam sedangkan yang kronis,  prognosis menjadi dubia ad malam.

F. Diagram Alir

Memberikan tata laksana pada pasien sesuai hasil pemeriksaan

menulis hasil anamnesa, pemeriksaan dan diagnose ke rekam medic

 

menegakan diagnose berdasarkan hasil pemeriksaan

melakukan vital sign dan pemeriksaan fisik

Melakukan anamnesis pada pasien

 

 

 


menulis diagnose pasien ke buku register.

 

 

 


G. Unit Terkait

Ruang Pemeriksaan Umum

 

G. Rekaman Historis:

No

Halaman

Yang dirubah

Perubahan

Diberlakukan Tanggal

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

No comments:

Post a Comment