|
57 Dinkes Kab Defgh |
SKISTOSOMIASIS |
Puskesmas Abcde |
|||
|
SOP |
Nomor |
: |
|||
|
Terbit ke |
: 01 |
||||
|
No.Revisi |
: 00 |
||||
|
Tgl.Diberlakukan |
: 2-01-2018 |
||||
|
Halaman |
: 1 / 2 |
||||
|
Ditetapkan
Kepala Puskesmas Abcde |
|
Kapus NIP. nipkapus |
|||
|
A. Pengertian |
Skistosomiasis
adalah salah satu
penyakit infeksi parasit
yang disebabkan oleh cacing
trematoda dari genus
schistosoma (blood fluke). Terdapat tiga spesies cacing trematoda utama yang menjadi penyebab
skistosomiasis yaitu Schistosoma japonicum, Schistosoma haematobium dan
Schistosoma mansoni. Spesies yang kurang dikenal yaitu Schistosoma mekongi
dan Schistosoma intercalatum. Di Indonesia spesies yang paling sering ditemukan adalah Schistosoma
japonicum khususnya di
daerah lembah Napu
dan sekitar danau Lindu di Sulawesi Tengah. Untuk menginfeksi manusia, Schistosoma memerlukan keong sebagai
intermediate host. Penularan Schistosoma terjadi melalui serkaria yang
berkembang dari host dan menembus kulit
pasien dalam air.
Skistosomiasis terjadi karena
reaksi imunologis terhadap telur cacing yang terperangkap dalam
jaringan. Prevalensi Schistosomiasis di lembah Napu dan danau Lindu
berkisar17% hingga 37%. |
||||||
|
B. Tujuan |
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk penatalaksanaan pasien
dengan skistosomiasis |
||||||
|
C. Kebijakan |
SK Kepala UPTD Puskesmas Abcde Nomor ... tentang Kebijakan Pelayanan
Klinis UPTD Puskesmas Abcde |
||||||
|
D. Referensi |
Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/Menkes/514/2015 tentang Panduan
Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama |
||||||
|
E. Prosedur |
Hasil Anamnesis (Subjective) Keluhan 1. Pada fase akut : Demam, nyeri kepala, nyeri tungkai,
urtikaria, bronkitis, nyeri abdominal. Biasanya terdapat riwayat terpapar
dengan air misalnya danau atau sungai 4-8 minggu sebelumnya yang kemudian
berkembang menjadi ruam kemerahan. 2. Pada fase kronis : a. Buang air kecil darah (hematuria), rasa tidak nyaman
hingga nyeri saat berkemih. b. Nyeri abdomen dan diare berdarah. c. Pembesaran perut, kuning pada kulit dan mata. Faktor Risiko Orang-orang yang tinggal atau
datang berkunjung ke daerah endemik di sekitar lembah Napudan Lindu Sulawesi
Tengah dan mempunyai kebiasaan terpajan dengan air baik di sawah maupun danau
di wilayah tersebut. Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)
Pemeriksaan Fisik ·
Pada skistosoma akut dapat
ditemui : - Limfadenopati - Hepatosplenomegali - Gatal pada kulit - Demam - Urtikaria - Buang air besar berdarah ·
Pada skistosoma kronik bisa
ditemukan : - Hipertensi portal de,ngan disertai distensi abdomen
hepatosplenomegali - Gagal ginjal dengan anemia dan hipertensi - Gagal jantung dengan gagal jantung kanan - Intestinal polyposis - Ikterus Pemeriksaan Penunjang Penemuan
telur cacing pada spesimen tinja dan pada spesimen urin. Penegakan Diagnostik (Assessment) Diagnosis Klinis ·
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan ditemukannya telur cacing
dalam tinja dan sedimen urin. Diagnosis Banding : - Komplikasi : Gagagl ginjal, gagal jantung Penatalaksanaan
Komprehensif (Plan) Penatalaksanaan
Prazikuantel adalah obat pilihan yang diberikan karena dapat membunuh
semua spesies Schistosoma. Dosis prazikuantel -
S.Mansoni, S.haematobium,
S.intercalatum : 40 mg/kg BB perhari oral dan dibagi dalam dua dosis perhari. -
S.japonicum, S.mekongi :
60 mg/kg BB perhari oral dan dibagi dalam tiga dosis perhari. Rencana Tindak Lanjut : 1.
Setelah 4 minggu dapat
dilakukan pengulangan pengobatan 2.
Pada pasien dengan telur
cacing,, positif dapat dilakukan pemeriksaan ulang setelah satu bulan untuk
memantau keberhasilan pengobatan. Konseling dan Edukasi 1.
Hindari berenang atau
menyelam di danau atau sungai di daerah endemik skistosoma. 2.
Minum air yang sudah
dimasak untuk menghindari penularan lewat air yang terkontaminasi Kriteria Rujukan : pasien
yang didiagnosis dengan skistosomiasis (kronis) disertai komplikasi. Peralatan · Peralatan laboratorium sederhana untuk pemeriksaan
spesimen tinja dan sedimen urin. Prognosis ·
Pada skistosomiasis akut,
prognosis adalah dubia ad bonam
sedangkan yang kronis, prognosis
menjadi dubia ad malam. |
||||||
|
F. Diagram Alir |
Memberikan
tata laksana pada pasien sesuai hasil pemeriksaan menulis hasil
anamnesa, pemeriksaan dan diagnose ke rekam medic menegakan
diagnose berdasarkan hasil pemeriksaan melakukan
vital sign dan pemeriksaan fisik Melakukan anamnesis pada pasien menulis
diagnose pasien ke buku register. |
||||||
G. Unit Terkait |
Ruang Pemeriksaan Umum |
G. Rekaman Historis:
|
No |
Halaman |
Yang dirubah |
Perubahan |
Diberlakukan Tanggal |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
No comments:
Post a Comment