|
58 Dinkes Kab Defgh |
TAENIASIS |
Puskesmas Abcde |
|||
|
SOP |
Nomor |
: |
|||
|
Terbit ke |
: 01 |
||||
|
No.Revisi |
: 00 |
||||
|
Tgl.Diberlakukan |
: 2-01-2018 |
||||
|
Halaman |
: 1 / 2 |
||||
|
Ditetapkan
Kepala Puskesmas Abcde |
|
Kapus NIP. nipkapus |
|||
|
A. Pengertian |
Taeniasis adalah penyakit zoonosis parasiter yang disebabkan oleh
cacing pita yang
tergolong dalam genus
Taenia (Taenia saginata, Taenia solium, dan Taenia
asiatica) pada manusia. Taenia saginata adalah cacing yang sering ditemukan di negara yang
penduduknya banyak makan
daging sapi/kerbau. Infeksi
lebih mudah terjadi bila cara memasak daging setengah matang. Taenia solium adalah cacing pita yang ditemukan di daging babi. Penyakit
ini ditemukan pada orang yang biasa memakan daging babi khususnya yang diolah
tidak matang. Ternak babi yang tidak dipelihara kebersihannya, dapat berperan
penting dalam penularan cacing Taenia solium. Untuk T. solium terdapat
komplikasi berbahaya yakni sistiserkosis. Sistiserkosis adalah kista T.solium
yang bisa ditemukan di seluruh
organ, namun yang
paling berbahaya jika terjadi di otak. |
||||||
|
B. Tujuan |
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk penatalaksanaan pasien
dengan taeniasis |
||||||
|
C. Kebijakan |
SK Kepala UPTD Puskesmas Abcde Nomor ... tentang Kebijakan Pelayanan
Klinis UPTD Puskesmas Abcde |
||||||
|
D. Referensi |
Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/Menkes/514/2015 tentang Panduan
Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama |
||||||
|
E. Prosedur |
Hasil Anamnesis (Subjective) Keluhan 1. Rasa tidak enak pada lambung 2. Mual 3. Nafsu makan dan berat badan turun 4. Sakit kepala 5. Konstipasi 6. Pruritus ani 7. Diare Faktor Risiko 1. Mengkonsumsi daging yang dimasak setengah
matang/mentah dan mengandung larva sistiserkosis. 2. Higiene yang rendah dalam pengolahan makanan
bersumber daging. 3. Ternak yang tidak dijaga kebersihan kandang dan
makannya Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)
Pemeriksaan Fisik ·
Pemeriksaan tanda vital ·
Pemeriksaan generalis : nyeri
ulu hati, ileus juga dapat terjadi jika cacing membuat obstruksi usus Pemeriksaan Penunjang 1.
Pemeriksaan laboratorium
mikroskopik dengan menemukan telur dalam spesimen tinja segar. 2.
Secara makroskopik dengan
menemukan proglotid pada tinja 3.
Pemeriksaan laboratorium darah
tepi : dapat ditemukan eosinofilia, leukositosis, LED meningkat. Penegakan Diagnostik (Assessment) Diagnosis Klinis ·
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Diagnosis Banding : - Komplikasi : Sistiserkosis Penatalaksanaan
Komprehensif (Plan) Penatalaksanaan 1.
Menjaga kebersihan diri
dan lingkungan antara lain : a.
Mengolah daging sampai
matang dan menjaga kebersihan hewan ternak b.
Menggunakan jamban
keluarga 2.
Farmakologi a.
Pemberian albendazol
menjadi terapi pilihan saat ini dengan dosis 400 mg 1 X sehari, selama 3 hari
berturut-turut atau, b.
Mebendazol 100 mg 3 X
sehari, selama 2 atau 4 minggu. Konseling dan Edukasi 1.
Mengolah daging sampai
matang dan menjaga kebersihan hewan ternak. 2.
Sebaiknya setiap keluarga
memiliki jamban. Kriteria Rujukan : bila
ditemukan tanda-tanda yang mengarah pada sisterkosis. Peralatan Peralatan laboratorium
sederhana untuk pemeriksaan darah dan feses. Prognosis Prognosis pada umumnya
bonam kecuali jika terdapat komplikasi berupa sisterkosis |
||||||
|
F. Diagram Alir |
menegakan
diagnose berdasarkan hasil pemeriksaan Memberikan
tata laksana pada pasien sesuai hasil pemeriksaan menulis hasil
anamnesa, pemeriksaan dan diagnose ke rekam medic melakukan
vital sign dan pemeriksaan fisik Melakukan anamnesis pada pasien menulis
diagnose pasien ke buku register. |
||||||
G. Unit Terkait |
Ruang Pemeriksaan Umum |
G. Rekaman Historis:
|
No |
Halaman |
Yang dirubah |
Perubahan |
Diberlakukan Tanggal |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
No comments:
Post a Comment