MOHON MAAF APABILA SUSUNANYA ADA YANG BERANTAKAN , KARENA HASIL COPY PASTE DARI FILE WORD/EXEL KE POSTINGAN BLOG

Tuesday, March 10, 2026

SOP ASKARIASIS

 

56

 

 

 

 

 

Dinkes Kab Defgh

ASKARIASIS

 

 

 

 

 

 

Puskesmas Abcde

 

SOP

Nomor

:

Terbit ke

: 01

No.Revisi

: 00

Tgl.Diberlakukan

: 2-01-2018

Halaman

: 1 / 2

Ditetapkan Kepala  Puskesmas Abcde

 

 

Kapus

NIP. nipkapus

 

A. Pengertian

Askariasis  adalah  suatu  penyakit  yang  disebabkan  oleh  infestasi parasit Ascaris lumbricoides.

Di Indonesia prevalensi askariasis tinggi, terutama pada anak. Frekuensinya antara 60-90%. Diperkirakan lebih dari 1 milyar orang di dunia terinfeksi Ascaris lumbricoides.

B. Tujuan

Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk penatalaksanaan pasien dengan askariasis

C. Kebijakan

SK Kepala UPTD Puskesmas Abcde Nomor ... tentang Kebijakan Pelayanan Klinis UPTD Puskesmas Abcde

D. Referensi

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/Menkes/514/2015 tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama

E. Prosedur

Hasil Anamnesis(Subjective)

 

Keluhan

Nafsu makan menurun, perut membuncit, lemah, pucat, berat badan menurun, mual, muntah.

 

Gejala Klinis

Gejala yang timbul pada penderita dapat disebabkan oleh cacing dewasa dan migrasi larva.

 

Gangguan  karena  larva  biasanya  terjadi  pada  saat  larva  berada diparu. Pada orang yang rentan, terjadi perdarahan kecil pada dinding alveolus dan timbul gangguan pada paru yang disertai dengan batuk, demam, dan eosinofilia. Pada foto thoraks tampak infiltrat yang menghilang dalam waktu 3 minggu. Keadaan ini disebut sindroma Loeffler.

 

Gangguan yang disebabkan cacing dewasa biasanya ringan, dan sangat tergantung dari banyaknya cacing yang menginfeksi di usus. Kadang-kadang  penderita  mengalami  gejala gangguan usus ringan seperti mual, nafsu makan berkurang, diare, atau konstipasi.

 

Pada infeksi berat, terutama pada anak dapat terjadi malabsorpsi sehingga memperberat keadaan malnutrisi. Gejala klinis yang paling menonjol adalah rasa tidak enak di perut, kolik akut pada daerah epigastrium, gangguan selera makan, mencret.   Ini biasanya terjadi pada saat proses peradangan pada dinding usus. Pada anak kejadian ini bisa diikuti demam. Komplikasi yang ditakuti (berbahaya) adalah bila cacing dewasa menjalar ketempat lain (migrasi) dan menimbulkan gejala akut. Pada  keadaan infeksi yang berat, paling ditakuti bila terjadi muntah cacing, yang akan dapat menimbulkan komplikasi penyumbatan saluran nafas oleh cacing dewasa. Pada keadaan lain dapat  terjadi  ileus  oleh  karena  sumbatan  pada  usus  oleh  massa cacing, ataupun apendisitis sebagai akibat masuknya cacing ke dalam lumen apendiks. Bisa dijumpai penyumbatan ampulla Vateri ataupun saluran empedu dan terkadang masuk ke jaringan hati.

 

Gejala lain adalah sewaktu masa inkubasi dan pada saat cacing menjadi dewasa di dalam usus halus, yang mana hasil metabolisme cacing dapat menimbulkan fenomena sensitisasi seperti urtikaria, asma bronkhial, konjungtivitis akut, fotofobia dan terkadang hematuria. Eosinofilia 10% atau lebih sering pada infeksi dengan Ascaris lumbricoides, tetapi hal ini tidak menggambarkan beratnya penyakit, tetapi lebih banyak menggambarkan proses sensitisasi dan eosinofilia ini tidak patognomonis untuk infeksi Ascaris lumbricoides.

 

Faktor Risiko

1.    Kebiasaan tidak mencuci tangan.

2.    Kurangnya penggunaan jamban.

3.    Kebiasaan menggunakan tinja sebagai pupuk.

4.    Kebiasaan tidak menutup makanan sehingga dihinggapi lalat yang membawa telur cacing

 

Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)

Pemeriksaan Fisik

1.  Pemeriksaan tanda vital

2.  Pemeriksaan generalis tubuh: konjungtiva anemis, terdapat tanda- tanda malnutrisi, nyeri abdomen jika terjadi obstruksi.

 

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang untuk penyakit ini adalah dengan melakukan pemeriksaan tinja secara langsung. Adanya telur dalam tinja memastikan diagnosis Askariasis.

 

Penegakan Diagnostik (Assessment)

Diagnosis Klinis

Penegakan diagnosis dilakukan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik dan ditemukannya larva atau cacing dalam tinja.

 

Diagnosis Banding: jenis kecacingan lainnya

 

Komplikasi: anemia defisiensi besi

 

Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan

1.  Memberi   pengetahuan   kepada   masyarakat   akan   pentingnya kebersihan diri dan lingkungan, antara lain:

a. Kebiasaan mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir

b.  Menutup makanan

c. Masing-masing keluarga memiliki jamban keluarga

d. Tidak menggunakan tinja sebagai pupuk

e.Kondisi rumah dan lingkungan dijaga agar tetap bersih dan tidak lembab.

2.  Farmakologis

a.  Pirantel pamoat 10 mg/kg BB/hari, dosis tunggal, atau

b.  Mebendazol, dosis 100 mg, dua kali sehari, diberikan selama tiga hari berturut-turut, atau

c. Albendazol, pada anak di atas 2 tahun dapat diberikan 2 tablet (400 mg) atau 20 ml suspensi, dosis tunggal. Tidak boleh diberikan pada ibu hamil

Pengobatan dapat dilakukan secara perorangan atau secara masal pada masyarakat. Syarat untuk pengobatan massal antara lain:

5.    Obat mudah diterima dimasyarakat

6.    Aturan pemakaian sederhana

7.    Mempunyai efek samping yang minimal

8.    Bersifat polivalen, sehingga dapat berkhasiat terhadap beberapa jenis cacing

9.    Harga mudah dijangkau

 

Konseling dan Edukasi

Memberikan informasi kepada pasien dan keluarga mengenai pentingnya  menjaga  kebersihan  diri  dan  lingkungan,  yaitu  antara lain:

10. Masing-masing keluarga memiliki jamban keluarga. Sehingga kotoran manusia tidak menimbulkan pencemaran pada tanah disekitar lingkungan tempat tinggal kita.

11. Tidak menggunakan tinja sebagai pupuk.

12. Menghindari  kontak  dengan  tanah  yang  tercemar  oleh  tinja manusia.

13. Menggunakan sarung tangan jika ingin mengelola limbah/sampah.

2.    Mencuci tangan sebelum dan setelah melakukan aktifitas dengan menggunakan sabun dan air mengalir.

3.    Kondisi rumah dan lingkungan dijaga agar tetap bersih dan tidak lembab.

 

Kriteria Rujukan: -

 

Peralatan

Peralatan  laboratorium  mikroskopik  sederhana untuk pemeriksaan spesimen tinja.

 

Prognosis

Pada umumnya prognosis adalah bonam, karena jarang menimbulkan kondisi yang berat secara klinis.

F. Diagram Alir

Memberikan tata laksana pada pasien sesuai hasil pemeriksaan

menulis hasil anamnesa, pemeriksaan dan diagnose ke rekam medic

 

menegakan diagnose berdasarkan hasil pemeriksaan

melakukan vital sign dan pemeriksaan fisik

Melakukan anamnesis pada pasien

 

 

 


menulis diagnose pasien ke buku register.

 

 

 


G. Unit Terkait

Ruang Pemeriksaan Umum

 

G. Rekaman Historis:

No

Halaman

Yang dirubah

Perubahan

Diberlakukan Tanggal

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

No comments:

Post a Comment