|
56 Dinkes Kab Defgh |
ASKARIASIS |
Puskesmas Abcde |
|||
|
SOP |
Nomor |
: |
|||
|
Terbit ke |
: 01 |
||||
|
No.Revisi |
: 00 |
||||
|
Tgl.Diberlakukan |
: 2-01-2018 |
||||
|
Halaman |
: 1 / 2 |
||||
|
Ditetapkan
Kepala Puskesmas Abcde |
|
Kapus NIP. nipkapus |
|||
|
A. Pengertian |
Askariasis adalah suatu
penyakit yang disebabkan
oleh infestasi parasit Ascaris
lumbricoides. Di Indonesia prevalensi askariasis tinggi, terutama pada anak.
Frekuensinya antara 60-90%. Diperkirakan lebih dari 1 milyar orang di dunia
terinfeksi Ascaris lumbricoides. |
||||||
|
B. Tujuan |
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk penatalaksanaan pasien
dengan askariasis |
||||||
|
C. Kebijakan |
SK Kepala UPTD Puskesmas Abcde Nomor ... tentang Kebijakan Pelayanan
Klinis UPTD Puskesmas Abcde |
||||||
|
D. Referensi |
Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/Menkes/514/2015 tentang Panduan
Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama |
||||||
|
E. Prosedur |
Hasil Anamnesis(Subjective) Keluhan Nafsu makan menurun, perut membuncit, lemah, pucat,
berat badan menurun, mual, muntah. Gejala Klinis Gejala yang timbul pada penderita dapat disebabkan
oleh cacing dewasa dan migrasi larva. Gangguan
karena larva biasanya
terjadi pada saat
larva berada diparu. Pada orang
yang rentan, terjadi perdarahan kecil pada dinding alveolus dan timbul
gangguan pada paru yang disertai dengan batuk, demam, dan eosinofilia. Pada
foto thoraks tampak infiltrat yang menghilang dalam waktu 3 minggu. Keadaan
ini disebut sindroma Loeffler. Gangguan yang disebabkan cacing dewasa biasanya
ringan, dan sangat tergantung dari banyaknya cacing yang menginfeksi di usus.
Kadang-kadang penderita mengalami
gejala gangguan usus ringan seperti mual, nafsu makan berkurang,
diare, atau konstipasi. Pada infeksi berat, terutama pada anak dapat terjadi
malabsorpsi sehingga memperberat keadaan malnutrisi. Gejala klinis yang
paling menonjol adalah rasa tidak enak di perut, kolik akut pada daerah
epigastrium, gangguan selera makan, mencret.
Ini biasanya terjadi pada saat proses peradangan pada dinding usus.
Pada anak kejadian ini bisa diikuti demam. Komplikasi yang ditakuti
(berbahaya) adalah bila cacing dewasa menjalar ketempat lain (migrasi) dan menimbulkan
gejala akut. Pada keadaan infeksi yang
berat, paling ditakuti bila terjadi muntah cacing, yang akan dapat
menimbulkan komplikasi penyumbatan saluran nafas oleh cacing dewasa. Pada
keadaan lain dapat terjadi ileus
oleh karena sumbatan
pada usus oleh
massa cacing, ataupun apendisitis sebagai akibat masuknya cacing ke
dalam lumen apendiks. Bisa dijumpai penyumbatan ampulla Vateri ataupun
saluran empedu dan terkadang masuk ke jaringan hati. Gejala lain adalah sewaktu masa inkubasi dan pada
saat cacing menjadi dewasa di dalam usus halus, yang mana hasil metabolisme
cacing dapat menimbulkan fenomena sensitisasi seperti urtikaria, asma
bronkhial, konjungtivitis akut, fotofobia dan terkadang hematuria.
Eosinofilia 10% atau lebih sering pada infeksi dengan Ascaris lumbricoides,
tetapi hal ini tidak menggambarkan beratnya penyakit, tetapi lebih banyak
menggambarkan proses sensitisasi dan eosinofilia ini tidak patognomonis untuk
infeksi Ascaris lumbricoides. Faktor Risiko 1.
Kebiasaan tidak mencuci
tangan. 2.
Kurangnya penggunaan
jamban. 3.
Kebiasaan menggunakan
tinja sebagai pupuk. 4.
Kebiasaan tidak menutup
makanan sehingga dihinggapi lalat yang membawa telur cacing Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana
(Objective) Pemeriksaan Fisik 1.
Pemeriksaan tanda vital 2.
Pemeriksaan generalis tubuh: konjungtiva anemis, terdapat tanda- tanda
malnutrisi, nyeri abdomen jika terjadi obstruksi. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan penunjang untuk penyakit ini adalah
dengan melakukan pemeriksaan tinja secara langsung. Adanya telur dalam tinja
memastikan diagnosis Askariasis. Penegakan Diagnostik (Assessment) Diagnosis Klinis Penegakan diagnosis dilakukan dengan anamnesis,
pemeriksaan fisik dan ditemukannya larva atau cacing dalam tinja. Diagnosis Banding: jenis kecacingan lainnya Komplikasi: anemia defisiensi besi Penatalaksanaan Komprehensif (Plan) Penatalaksanaan 1.
Memberi pengetahuan kepada
masyarakat akan pentingnya kebersihan diri dan lingkungan,
antara lain: a. Kebiasaan mencuci tangan dengan sabun dan air
mengalir b. Menutup
makanan c. Masing-masing keluarga memiliki jamban keluarga d. Tidak menggunakan tinja sebagai pupuk e.Kondisi rumah dan lingkungan dijaga agar tetap
bersih dan tidak lembab. 2.
Farmakologis a. Pirantel
pamoat 10 mg/kg BB/hari, dosis tunggal, atau b.
Mebendazol, dosis 100 mg, dua kali sehari, diberikan selama tiga hari
berturut-turut, atau c. Albendazol, pada anak di atas 2 tahun dapat
diberikan 2 tablet (400 mg) atau 20 ml suspensi, dosis tunggal. Tidak boleh
diberikan pada ibu hamil Pengobatan dapat dilakukan secara perorangan atau
secara masal pada masyarakat. Syarat untuk pengobatan massal antara lain: 5.
Obat mudah diterima
dimasyarakat 6.
Aturan pemakaian
sederhana 7.
Mempunyai efek samping
yang minimal 8.
Bersifat polivalen,
sehingga dapat berkhasiat terhadap beberapa jenis cacing 9.
Harga mudah dijangkau Konseling dan Edukasi Memberikan informasi kepada pasien dan keluarga
mengenai pentingnya menjaga kebersihan
diri dan lingkungan,
yaitu antara lain: 10.
Masing-masing keluarga
memiliki jamban keluarga. Sehingga kotoran manusia tidak menimbulkan
pencemaran pada tanah disekitar lingkungan tempat tinggal kita. 11.
Tidak menggunakan tinja
sebagai pupuk. 12.
Menghindari kontak
dengan tanah yang
tercemar oleh tinja manusia. 13.
Menggunakan sarung tangan
jika ingin mengelola limbah/sampah. 2.
Mencuci tangan sebelum
dan setelah melakukan aktifitas dengan menggunakan sabun dan air mengalir. 3.
Kondisi rumah dan
lingkungan dijaga agar tetap bersih dan tidak lembab. Kriteria Rujukan: - Peralatan Peralatan
laboratorium mikroskopik sederhana untuk pemeriksaan spesimen tinja.
Prognosis Pada umumnya prognosis adalah bonam, karena jarang
menimbulkan kondisi yang berat secara klinis. |
||||||
|
F. Diagram Alir |
Memberikan
tata laksana pada pasien sesuai hasil pemeriksaan menulis hasil
anamnesa, pemeriksaan dan diagnose ke rekam medic menegakan
diagnose berdasarkan hasil pemeriksaan melakukan
vital sign dan pemeriksaan fisik Melakukan anamnesis pada pasien menulis
diagnose pasien ke buku register. |
||||||
G. Unit Terkait |
Ruang Pemeriksaan Umum |
G. Rekaman Historis:
|
No |
Halaman |
Yang dirubah |
Perubahan |
Diberlakukan Tanggal |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
No comments:
Post a Comment