MOHON MAAF APABILA SUSUNANYA ADA YANG BERANTAKAN , KARENA HASIL COPY PASTE DARI FILE WORD/EXEL KE POSTINGAN BLOG

Tuesday, March 10, 2026

SOP STRONGILOIDIASIS

 

55

 

 

 

 

 

Dinkes Kab Defgh

STRONGILOIDIASIS

 

 

 

 

 

 

Puskesmas Abcde

 

SOP

Nomor

:

Terbit ke

: 01

No.Revisi

: 00

Tgl.Diberlakukan

: 2-01-2018

Halaman

: 1 / 2

Ditetapkan Kepala  Puskesmas Abcde

 

 

Kapus

NIP. nipkapus

 

A. Pengertian

Strongiloidiasis adalah penyakit kecacingan yang disebabkan oleh Strongyloides  stercoralis,  cacing  yang  biasanya  hidup  di  kawasan tropik dan subtropik. Sekitar 100 juta orang diperkirakan terkena penyakit ini di seluruh dunia. Infeksi cacing ini bisa menjadi sangat berat dan berbahaya pada mereka yang dengan status imun menurun seperti pada pasien HIV/AIDS, transplantasi organ serta pada pasien yang mendapatkan pengobatan kortikosteroid jangka panjang.

B. Tujuan

Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk penatalaksanaan pasien dengan strongiloidiasis

C. Kebijakan

SK Kepala UPTD Puskesmas Abcde Nomor ... tentang Kebijakan Pelayanan Klinis UPTD Puskesmas Abcde

D. Referensi

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/Menkes/514/2015 tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama

E. Prosedur

Hasil Anamnesis (Subjective)

 

Keluhan

 

Pada infestasi ringan Strongyloides pada umumnya tidak menimbulkan gejala khas.

 

Gejala klinis :

1.    Rasa gatal pada kulit

2.    Pada infeksi sedang dapat menimbulkan gejala seperti ditusuk-tusuk di daerah epigastrium dan tidak menjalar.

3.    Mual, muntah

4.    Diare dan konstipasi saling bergantian.

 

Faktor Risiko

1.    Kurangnya penggunaan jamban

2.    Tanah yang terkontaminasi dengan tinja yang mengandung larva Strongyloides stercoralis.

3.    Penggunaan tinja sebagai pupuk.

4.    Tidak menggunakan alas kaki saat bersentuhan dengan tanah.

 

Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)

Pemeriksaan Fisik

·       Timbul kelainan pada kulit “creeping eruption” berupa papul eritema yang menjalar dan tersusun linear atau berkelok-kelok menyerupai benang dengan kecepatan 2 cm perhari. Predileksi penyakit ini terutama pada daerah telapak kaki, bokong, genital dan tangan.

·       Pemeriksaan generalis : nyeri epigastrium.

 

 

Pemeriksaan Penunjang

1.    Pemeriksaan laboratorium mikroskopik dengan menemukan larva rabditiform dalam tinja segar, atau menemukan cacing dewas Strongyloides stercoralis.

2.    Pemeriksaan laboratorium darah : dapat ditemukan eosinofilia atau hipereosinofilia, walaupun pada banyak kasus jumlah sel eosinofilia normal

 

Penegakan Diagnostik (Assessment)

 

Diagnosis Klinis

·       Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan ditemukannya larva cacing dalam tinja.

 

Diagnosis Banding : -

 

Komplikasi : -

 

Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

 

Penatalaksanaan

1.    Menjaga kebersihan diri dan lingkungan antara lain :

a.    Menggunakan jamban keluarga

b.    Mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan aktifitas.

c.     Menggunakan alas kaki.

d.    Hindari penggunaan pupuk dengan tinja.

 

2.    Farmakologi

a.    Pemberian albendazol menjadi terapi pilihan saat ini dengan dosis 400 mg 1-2 X sehari, selama 3 hari berturut-turut atau,

b.    Mebendazol 100 mg 3 X sehari, selama 2 atau 4 minggu.

 

Konseling dan Edukasi

1.    Sebaiknya setiap keluarga memiliki jamban keluarga

2.    Menghindari kontak dengan tanah yang tercemar oleh tinja manusia.

3.    Menggunakan sarung tangan jika ingin mengelola limbah/sampah.

4.    Mencuci tangan sebelum dan setelah melakukan aktifitas dengan menggunakan sabun.

5.    Menggunakan alas kaki.

 

Kriteria Rujukan : -

 

Peralatan

Peralatan laboratorium sederhana untuk pemeriksaan darah dan feses.

 

Prognosis

Prognosis pada umumnya bonam karena jarang menimbulkan kondisi klinis yang berat.

 

F. Diagram Alir

Memberikan tata laksana pada pasien sesuai hasil pemeriksaan

menulis hasil anamnesa, pemeriksaan dan diagnose ke rekam medic

 

menegakan diagnose berdasarkan hasil pemeriksaan

melakukan vital sign dan pemeriksaan fisik

Melakukan anamnesis pada pasien

 

 

 


menulis diagnose pasien ke buku register.

 

 

 


G. Unit Terkait

Ruang Pemeriksaan Umum

 

G. Rekaman Historis:

No

Halaman

Yang dirubah

Perubahan

Diberlakukan Tanggal

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

No comments:

Post a Comment