|
54 Dinkes Kab Defgh |
ANKILOSTOMIASIS (INFEKSI CACING TAMBANG) |
Puskesmas Abcde |
|||
|
SOP |
Nomor |
: |
|||
|
Terbit ke |
: 01 |
||||
|
No.Revisi |
: 00 |
||||
|
Tgl.Diberlakukan |
: 2-01-2018 |
||||
|
Halaman |
: 1 / 2 |
||||
|
Ditetapkan
Kepala Puskesmas Abcde |
|
Kapus NIP. nipkapus |
|||
|
A. Pengertian |
Ankilostomiasis atau penyakit cacing tambang adalah suatu penyakit
yang disebabkan oleh infestasi parasit Necator americanus dan Ancylostoma
duodenale. Di Indonesia infeksi oleh N. americanus lebih sering dijumpai
dibandingkan infeksi oleh A.duodenale. Hospes parasit ini adalah manusia,
cacing ini menyebabkan nekatoriasis dan ankilostomiasis. Diperkirakan sekitar
576 – 740 juta orang di dunia terinfeksi dengan cacing tambang. Di Indonesia
insiden tertinggi ditemukan terutama didaerah pedesaan khususnya perkebunan.
Seringkali golongan pekerja perkebunan yang langsung berhubungan dengan
tanah, mendapat infeksi lebih
dari 70%. Dari
suatu penelitian diperoleh bahwa separuh dari anak-anak yang
telah terinfeksi sebelum usia 5 tahun, 90% terinfeksi pada usia 9 tahun.
Intensitas infeksi meningkat sampai usia 6-7 tahun dan kemudian stabil. |
||||||
|
B. Tujuan |
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk penatalaksanaan pasien
dengan ankilostomiasis
atau penyakit cacing
tambang |
||||||
|
C. Kebijakan |
SK Kepala UPTD Puskesmas Abcde Nomor ... tentang Kebijakan Pelayanan
Klinis UPTD Puskesmas Abcde |
||||||
|
D. Referensi |
Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/Menkes/514/2015 tentang Panduan
Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama |
||||||
|
E. Prosedur |
Hasil Anamnesis (Subjective) Keluhan Migrasi larva 1.
Sewaktu menembus kulit,
bakteri piogenik dapat terikut masuk pada saat larva menembus kulit,
menimbulkan rasa gatal pada kulit (ground
itch). Creeping eruption
(cutaneous larva migrans), umumnya disebabkan larva cacing
tambang yang berasal dari hewan seperti kucing ataupun anjing, tetapi
kadang-kadang dapat disebabkan oleh larva Necator americanus ataupun
Ancylostoma duodenale. 2.
Sewaktu larva melewati
paru, dapat terjadi pneumonitis, tetapi tidak sesering oleh larva Ascaris
lumbricoides. Cacing dewasa Cacing dewasa umumnya hidup di sepertiga
bagian atas usus halus dan melekat pada mukosa usus. Gejala klinis yang
sering terjadi tergantung pada berat ringannya infeksi; makin berat infeksi
manifestasi klinis yang terjadi semakin mencolok seperti : 1.
Gangguan
gastro-intestinal yaitu anoreksia, mual, muntah, diare, penurunan berat
badan, nyeri pada
daerah sekitar duodenum, jejunum dan ileum. 2.
Pada pemeriksaan
laboratorium, umumnya dijumpai anemia hipokromik mikrositik. 3.
Pada anak, dijumpai
adanya korelasi positif antara infeksi sedang dan berat dengan tingkat
kecerdasan anak. Bila penyakit berlangsung kronis, akan timbul
gejala anemia, hipoalbuminemiadan edema. Hemoglobin kurang dari 5 g/dL
dihubungkan dengan gagal jantung dan kematian yang tiba-tiba. Patogenesis
anemia pada infeksi cacaing tambang tergantung pada 3 faktor yaitu: 1.
Kandungan besi dalam makanan 2.
Status cadangan besi dalam tubuh pasien 3.
Intensitas dan lamanya infeksi Faktor Risiko 1.
Kurangnya penggunaan jamban keluarga 2.
Kebiasaan menggunakan tinja sebagai pupuk 3.
Tidak menggunakan alas kaki saat bersentuhan dengan tanah 4.
Perilaku hidup bersih dan sehat yang kurang. Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang
Sederhana (Objective) Gejala dan tanda klinis infestasi cacing
tambang bergantung pada jenis spesies cacing, jumlah cacing, dan keadaan gizi
penderita. Pemeriksaan Fisik 1.
Konjungtiva pucat 2.
Perubahan pada kulit
(telapak kaki) bila
banyak larva yang menembus kulit, disebut sebagai ground
itch. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan mikroskopik pada tinja segar
ditemukan telur atau larva atau cacing dewasa. Penegakan Diagnostik (Assessment) Diagnosis Klinis Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Klasifikasi: 1.
Nekatoriasis 2.
Ankilostomiasis Diagnosis Banding: - Komplikasi: anemia, jika menimbulkan
perdarahan. Penatalaksanaan Komprehensif (Plan) Penatalaksanaan 1.
Memberi pengetahuan kepada
masyarakat akan pentingnya kebersihan diri dan lingkungan,
antara lain: a. Masing-masing keluarga memiliki jamban
keluarga. b. Tidak menggunakan tinja sebagai pupuk c. Menggunakan
alas kaki, terutama
saat berkontak dengan tanah. 2.
Farmakologis a.
Pemberian Pirantel pamoat dosis tunggal 10 mg/kgBB, atau b.
Mebendazole 100 mg, 2 x sehari, selama 3 hari berturut-turut, atau c. Albendazole untuk anak di atas 2 tahun 400
mg, dosis tunggal, sedangkan pada anak yang lebih kecil diberikan dengan
dosis separuhnya. Tidak diberikan pada wanita hamil. Creeping eruption: tiabendazol topikal
selama 1 minggu.
Untuk cutaneous laeva migrans pengobatan dengan Albendazol 400 mg
selama 5 hari berturut-turut. d.
Sulfasferosus Konseling dan Edukasi Memberikan
informasi kepada pasien
dan keluarga mengenai pentingnya menjaga kebersihan
diri dan lingkungan, yaitu antara lain: 1.
Sebaiknya masing-masing keluarga
memiliki jamban keluarga. 2.
Sehingga kotoran manusia
tidak menimbulkan pencemaran pada tanah disekitar lingkungan tempat tinggal
kita. 3.
Tidak menggunakan tinja
sebagai pupuk. 4.
Menghindari kontak
dengan tanah yang
tercemar oleh tinja manusia. 5.
Menggunakan sarung tangan
jika ingin mengelola limbah/sampah. 6.
Mencuci tangan sebelum
dan setelah melakukkan aktifitas dengan menggunakan sabun dan air mengalir. 7.
Menggunakan alas kaki
saat berkontak dengan tanah. Kriteria Rujukan: - Peralatan 1.
Peralatan laboratorium
mikroskopis sederhana untuk pemeriksaan spesimen tinja. 2.
Peralatan laboratorium
sederhana untuk pemeriksaan darah rutin. Prognosis Penyakit
ini umumnya memiliki
prognosis bonam, jarang menimbulkan kondisi klinis yang
berat, kecuali terjadi perdarahan dalam waktu yang lama sehingga terjadi
anemia. |
||||||
|
F. Diagram Alir |
Memberikan
tata laksana pada pasien sesuai hasil pemeriksaan menulis hasil
anamnesa, pemeriksaan dan diagnose ke rekam medic menegakan
diagnose berdasarkan hasil pemeriksaan melakukan
vital sign dan pemeriksaan fisik Melakukan anamnesis pada pasien menulis
diagnose pasien ke buku register. |
||||||
G. Unit Terkait |
Ruang Pemeriksaan Umum |
G. Rekaman Historis:
|
No |
Halaman |
Yang dirubah |
Perubahan |
Diberlakukan Tanggal |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
No comments:
Post a Comment