MOHON MAAF APABILA SUSUNANYA ADA YANG BERANTAKAN , KARENA HASIL COPY PASTE DARI FILE WORD/EXEL KE POSTINGAN BLOG

Tuesday, March 10, 2026

SOP ANKILOSTOMIASIS (INFEKSI CACING TAMBANG)

 

54

 

 

 

 

 

Dinkes Kab Defgh

ANKILOSTOMIASIS

(INFEKSI CACING TAMBANG)

 

 

 

 

 

 

Puskesmas Abcde

 

SOP

Nomor

:

Terbit ke

: 01

No.Revisi

: 00

Tgl.Diberlakukan

: 2-01-2018

Halaman

: 1 / 2

Ditetapkan Kepala  Puskesmas Abcde

 

 

Kapus

NIP. nipkapus

 

A. Pengertian

Ankilostomiasis atau penyakit cacing tambang adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh infestasi parasit Necator americanus dan Ancylostoma duodenale. Di Indonesia infeksi oleh N. americanus lebih sering dijumpai dibandingkan infeksi oleh A.duodenale. Hospes parasit ini adalah manusia, cacing ini menyebabkan nekatoriasis dan ankilostomiasis. Diperkirakan sekitar 576 – 740 juta orang di dunia terinfeksi dengan cacing tambang. Di Indonesia insiden tertinggi ditemukan terutama didaerah pedesaan khususnya perkebunan. Seringkali golongan pekerja perkebunan yang langsung berhubungan dengan tanah, mendapat  infeksi  lebih  dari  70%.  Dari  suatu  penelitian  diperoleh bahwa separuh dari anak-anak yang telah terinfeksi sebelum usia 5 tahun, 90% terinfeksi pada usia 9 tahun. Intensitas infeksi meningkat sampai usia 6-7 tahun dan kemudian stabil.

B. Tujuan

Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk penatalaksanaan pasien dengan ankilostomiasis atau penyakit cacing tambang

C. Kebijakan

SK Kepala UPTD Puskesmas Abcde Nomor ... tentang Kebijakan Pelayanan Klinis UPTD Puskesmas Abcde

D. Referensi

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/Menkes/514/2015 tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama

E. Prosedur

Hasil Anamnesis (Subjective)

 

Keluhan

Migrasi larva

1.    Sewaktu menembus kulit, bakteri piogenik dapat terikut masuk pada saat larva menembus kulit, menimbulkan rasa gatal pada kulit (ground  itch).  Creeping  eruption  (cutaneous  larva  migrans), umumnya disebabkan larva cacing tambang yang berasal dari hewan seperti kucing ataupun anjing, tetapi kadang-kadang dapat disebabkan oleh larva Necator americanus ataupun Ancylostoma duodenale.

2.    Sewaktu larva melewati paru, dapat terjadi pneumonitis, tetapi tidak sesering oleh larva Ascaris lumbricoides.

 

Cacing dewasa

Cacing dewasa umumnya hidup di sepertiga bagian atas usus halus dan melekat pada mukosa usus. Gejala klinis yang sering terjadi tergantung pada berat ringannya infeksi; makin berat infeksi manifestasi klinis yang terjadi semakin mencolok seperti :

1.    Gangguan gastro-intestinal yaitu anoreksia, mual, muntah, diare, penurunan  berat  badan,  nyeri  pada  daerah sekitar duodenum, jejunum dan ileum.

2.    Pada pemeriksaan laboratorium, umumnya dijumpai anemia hipokromik mikrositik.

3.    Pada anak, dijumpai adanya korelasi positif antara infeksi sedang dan berat dengan tingkat kecerdasan anak.

 

Bila penyakit berlangsung kronis, akan timbul gejala anemia, hipoalbuminemiadan edema. Hemoglobin kurang dari 5 g/dL dihubungkan dengan gagal jantung dan kematian yang tiba-tiba. Patogenesis anemia pada infeksi cacaing tambang tergantung pada 3 faktor yaitu:

1.  Kandungan besi dalam makanan

2.  Status cadangan besi dalam tubuh pasien

3.  Intensitas dan lamanya infeksi

 

Faktor Risiko

1.  Kurangnya penggunaan jamban keluarga

2.  Kebiasaan menggunakan tinja sebagai pupuk

3.  Tidak menggunakan alas kaki saat bersentuhan dengan tanah

4.  Perilaku hidup bersih dan sehat yang kurang.

 

Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)

Gejala dan tanda klinis infestasi cacing tambang bergantung pada jenis spesies cacing, jumlah cacing, dan keadaan gizi penderita.

 

Pemeriksaan Fisik

1.  Konjungtiva pucat

2.  Perubahan  pada  kulit  (telapak  kaki)  bila  banyak  larva  yang menembus kulit, disebut sebagai ground itch.

 

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan mikroskopik pada tinja segar ditemukan telur atau larva atau cacing dewasa.

 

Penegakan Diagnostik (Assessment)

 

Diagnosis Klinis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.

 

Klasifikasi:

1.  Nekatoriasis

2.  Ankilostomiasis

 

Diagnosis Banding: -

 

Komplikasi: anemia, jika menimbulkan perdarahan.

 

Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan

1.  Memberi   pengetahuan   kepada   masyarakat   akan   pentingnya kebersihan diri dan lingkungan, antara lain:

a. Masing-masing keluarga memiliki jamban keluarga.

b. Tidak menggunakan tinja sebagai pupuk

c. Menggunakan  alas  kaki,  terutama  saat  berkontak  dengan tanah.

 

2.  Farmakologis

a.  Pemberian Pirantel pamoat dosis tunggal 10 mg/kgBB, atau

b.  Mebendazole 100 mg, 2 x sehari, selama 3 hari berturut-turut, atau

c. Albendazole untuk anak di atas 2 tahun 400 mg, dosis tunggal, sedangkan pada anak yang lebih kecil diberikan dengan dosis separuhnya. Tidak diberikan pada wanita hamil. Creeping eruption:   tiabendazol   topikal   selama   1   minggu.   Untuk cutaneous laeva migrans pengobatan dengan Albendazol 400 mg selama 5 hari berturut-turut.

d.  Sulfasferosus

 

Konseling dan Edukasi

Memberikan   informasi   kepada   pasien   dan   keluarga   mengenai pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan, yaitu antara lain:

 

1.    Sebaiknya  masing-masing  keluarga  memiliki  jamban  keluarga.

2.    Sehingga kotoran manusia tidak menimbulkan pencemaran pada tanah disekitar lingkungan tempat tinggal kita.

3.    Tidak menggunakan tinja sebagai pupuk.

4.    Menghindari  kontak  dengan  tanah  yang  tercemar  oleh  tinja manusia.

5.    Menggunakan sarung tangan jika ingin mengelola limbah/sampah.

6.    Mencuci tangan sebelum dan setelah melakukkan aktifitas dengan menggunakan sabun dan air mengalir.

7.    Menggunakan alas kaki saat berkontak dengan tanah. Kriteria

 

Rujukan: -

 

Peralatan

1.    Peralatan laboratorium mikroskopis sederhana untuk pemeriksaan spesimen tinja.

2.    Peralatan laboratorium sederhana untuk pemeriksaan darah rutin.

 

 

Prognosis

Penyakit  ini  umumnya  memiliki  prognosis  bonam,  jarang menimbulkan kondisi klinis yang berat, kecuali terjadi perdarahan dalam waktu yang lama sehingga terjadi anemia.

F. Diagram Alir

Memberikan tata laksana pada pasien sesuai hasil pemeriksaan

menulis hasil anamnesa, pemeriksaan dan diagnose ke rekam medic

 

menegakan diagnose berdasarkan hasil pemeriksaan

melakukan vital sign dan pemeriksaan fisik

Melakukan anamnesis pada pasien

 

 

 


menulis diagnose pasien ke buku register.

 

 

 


G. Unit Terkait

Ruang Pemeriksaan Umum

 

G. Rekaman Historis:

No

Halaman

Yang dirubah

Perubahan

Diberlakukan Tanggal

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

No comments:

Post a Comment