|
53 Dinkes Kab Defgh |
KERACUNAN
MAKANAN |
Puskesmas Abcde |
|||
|
SOP |
Nomor |
: |
|||
|
Terbit ke |
: 01 |
||||
|
No.Revisi |
: 00 |
||||
|
Tgl.Diberlakukan |
: 2-01-2018 |
||||
|
Halaman |
: 1 / 2 |
||||
|
Ditetapkan
Kepala Puskesmas Abcde |
|
Kapus NIP. nipkapus |
|||
|
A. Pengertian |
Keracunan makanan
merupakan suatu kondisi gangguan pencernaan yang disebabkan oleh konsumsi
makanan atau air yang terkontaminasi dengan zat patogen dan atau bahan kimia,
misalnya Norovirus, Salmonella, Clostridium perfringens, Campylobacter, dan
Staphylococcus aureus. |
||||||
|
B. Tujuan |
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk penatalaksanaan pasien
dengan keracunan makanan |
||||||
|
C. Kebijakan |
SK Kepala UPTD Puskesmas Abcde Nomor ... tentang Kebijakan Pelayanan
Klinis UPTD Puskesmas Abcde |
||||||
|
D. Referensi |
Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/Menkes/514/2015 tentang Panduan
Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama |
||||||
|
E. Prosedur |
Anamnesis (Subjective)
Keluhan 1. Diare akut.
Pada keracunan
makanan biasanya berlangsung kurang dari 2 minggu. Darah atau
lendir pada tinja; menunjukkan invasi mukosa usus atau kolon. 2. Nyeri
perut. 3. Nyeri kram
otot perut; menunjukkan hilangnya elektrolit yang mendasari, seperti pada
kolera yang berat. 4. Kembung. Faktor Risiko 1. Riwayat
makan/minum di tempat yang tidak higienis 2. Konsumsi
daging/unggas yang kurang matang dapat dicurigai untuk Salmonella spp,
Campylobacter spp, toksin Shiga E coli, dan Clostridium
perfringens. 3. Konsumsi
makanan laut mentah dapat dicurigai untuk Norwalk-like virus, Vibrio spp,
atau hepatitis A. Pemeriksaan
Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective ) Pemeriksaan
Fisik Patognomonis 1. Diare,
dehidrasi, dengan tanda–tanda tekanan darah turun, nadi cepat, mulut kering,
penurunan keringat, dan penurunan output urin (menilai keparahan dehidrasi). 2. Nyeri tekan
perut, bising usus meningkat atau melemah. Pemeriksaan
Penunjang 1. Lakukan
pemeriksaan mikroskopis dari feses untuk telur cacing dan parasit. 2. Pewarnaan
Gram, Koch dan metilen biru Loeffler untuk membantu membedakan penyakit
invasifdari penyakitnon-invasif. Penegakan
Diagnostik (Assessment) Diagnosis
Klinis Diagnosis
ditegakkan berdasar anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang. Diagnosis
Banding 1. Intoleransi
2. Diare
spesifik seperti disentri, kolera dan lain-lain. Komplikasi Dehidrasi
berat Penatalaksanaan
Komprehensif (Plan) Penatalaksanaan 1.Tujuan
utamanya adalah rehidrasi yang cukup dan suplemen elektrolit. - Pemberian
cairan rehidrasi oral (oralit) atau larutan intravena (misalnya, larutan
natrium klorida isotonik, larutan Ringer Laktat). - Obat
absorben (misalnya, kaopectate, aluminium hidroksida) membantu memadatkan
feses diberikan bila diare tidak segera berhenti. 2. Jika
gejalanya menetap setelah 3-4 hari, etiologi spesifik harus ditentukan dengan
melakukan kultur tinja. Untuk itu harus segera dirujuk. 3. Modifikasi
gaya hidup dan edukasi untuk menjaga kebersihan diri. Konseling dan
Edukasi Edukasi kepada
keluarga untuk turut menjaga higiene keluarga dan pasien. Kriteria
Rujukan 1. Gejala
keracunan tidak berhenti setelah 3 hari ditangani dengan adekuat. 2. Pasien
mengalami perburukan. Dirujuk ke
pelayanan kesehatan sekunder dengan spesialis penyakit dalam atau spesialis
anak. Prognosis Prognosis umumnya
bila pasien tidak mengalami komplikasi adalah bonam. |
||||||
|
F. Diagram Alir |
Memberikan
tata laksana pada pasien sesuai hasil pemeriksaan menulis hasil
anamnesa, pemeriksaan dan diagnose ke rekam medic menegakan
diagnose berdasarkan hasil pemeriksaan melakukan
vital sign dan pemeriksaan fisik Melakukan anamnesis pada pasien menulis
diagnose pasien ke buku register. |
||||||
G. Unit Terkait |
Ruang Pemeriksaan Umum |
G. Rekaman Historis:
|
No |
Halaman |
Yang dirubah |
Perubahan |
Diberlakukan Tanggal |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
No comments:
Post a Comment