|
52 Dinkes Kab Defgh |
ALERGI
MAKANAN |
Puskesmas Abcde |
|||
|
SOP |
Nomor |
: |
|||
|
Terbit ke |
: 01 |
||||
|
No.Revisi |
: 00 |
||||
|
Tgl.Diberlakukan |
: 2-01-2018 |
||||
|
Halaman |
: 1 / 2 |
||||
|
Ditetapkan
Kepala Puskesmas Abcde |
|
Kapus NIP. nipkapus |
|||
|
A. Pengertian |
Alergi makanan adalah reaksi alergi akibat
makanan yang mengandung
alergen makanan menembus sawar gastro intestinal yang memacu reaksi IgE. Makanan dapat menimbulkan
beraneka ragam gejala
yang ditimbulkan reaksi imun terhadap alergen asal makanan. Reaksi
tersebut dapat disebabkan oleh reaksi alergi atau non alergi. Reaksi alergi
makanan terjadi bila alergen makanan menembus sawar gastro intestinal yang
memacu reaksi IgE. Gejala dapat timbul dalam beberapa menit sampai beberapa
jam, dapat terbatas pada satu atau beberapa organ, kulit, saluran napas dan
cerna, lokal dan sistemik. Alergen makanan yang sering menimbulkan alergi pada anak adalah
susu,telur, kacang tanah, soya, terigu, dan ikan laut. Sedangkan yang sering
menimbulkan alergi pada orang dewasa adalah kacang tanah, ikan laut, udang,
kepiting, kerang, dan telur. Alergi makanan tidak berlangsung seumur hidup terutama pada anak. Gejala
dapat hilang, namun dapat kambuh pada keadaan tertentu seperti infeksi
virus, nutrisi yang
tidak seimbang atau
cedera muskulus gastrointestinal. |
||||||
|
B. Tujuan |
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk penatalaksanaan pasien
dengan alergi makanan |
||||||
|
C. Kebijakan |
SK Kepala UPTD Puskesmas Abcde Nomor ... tentang Kebijakan Pelayanan
Klinis UPTD Puskesmas Abcde |
||||||
|
D. Referensi |
Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/Menkes/514/2015 tentang Panduan
Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama |
||||||
|
E. Prosedur |
Anamnesis (Subjective)
Keluhan 1. Pada kulit:
eksim dan urtikaria. 2. Pada
saluran pernapasan: rinitis dan asma. 3. Keluhan
pada saluran pencernaan: gejala gastrointestinal non spesifik dan berkisar
dari edema, pruritus bibir, mukosa pipi, mukosa faring, muntah, kram,
distensi,dan diare. 4. Diare
kronis dan malabsorbsi terjadi akibat reaksi hipersensitivitas lambat non Ig-E-mediated
seperti pada enteropati protein makanan dan penyakit seliak 5.
Hipersensitivitas susu sapi pada bayi menyebabkan occult bleeding atau
frank colitis. Hasil
Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective) Pemeriksaan
Fisik Pemeriksaan
fisik pada kulit dan mukosa serta paru. Pemeriksaan
Penunjang: - Penegakan
Diagnostik (Assessment) Diagnosis
Klinis Diagnosis
ditegakkan berdasar anamnesis dan pemeriksaan fisik Penatalaksanaan
Komprehensif (Plan) Penatalaksanaan
Medika mentosa
Riwayat reaksi
alergi berat atau anafilaksis: 1. Hindari
makanan penyebab 2. Jangan
lakukan uji kulit atau uji provokasi makanan Rencana Tindak
Lanjut 1. Edukasi
pasien untuk kepatuhan diet pasien 2. Menghindari
makanan yang bersifat alergen secara sengaja mapun tidak sengaja (perlu
konsultasi dengan ahli gizi) 3. Perhatikan
label makanan 4. Menyusui
bayi sampai usia 6 bulan menimbulkan efek protektif terhadap alergi makanan Kriteria
Rujukan Pasien dirujuk
apabila pemeriksaan uji kulit, uji provokasi dan eliminasi makanan terjadi
reaksi anafilaksis. Prognosis Umumnya prognosis
adalah dubia ad bonam bila medikamentosa disertai dengan perubahan
gaya hidup. |
||||||
|
F. Diagram Alir |
Memberikan
tata laksana pada pasien sesuai hasil pemeriksaan menulis hasil
anamnesa, pemeriksaan dan diagnose ke rekam medic menegakan
diagnose berdasarkan hasil pemeriksaan melakukan
vital sign dan pemeriksaan fisik Melakukan anamnesis pada pasien menulis
diagnose pasien ke buku register. |
||||||
G. Unit Terkait |
Ruang Pemeriksaan Umum |
G. Rekaman Historis:
|
No |
Halaman |
Yang dirubah |
Perubahan |
Diberlakukan Tanggal |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
No comments:
Post a Comment