|
101 Dinkes Kab Defgh |
MORBILI
TANPA KOMPLIKASI |
Puskesmas Abcde |
|||
|
SOP |
Nomor |
: |
|||
|
Terbit ke |
: 01 |
||||
|
No.Revisi |
: 00 |
||||
|
Tgl.Diberlakukan |
: 2-01-2018 |
||||
|
Halaman |
: 1 / 2 |
||||
|
Ditetapkan
Kepala Puskesmas Abcde |
|
Kapus NIP. nipkapus |
|||
|
A. Pengertian |
Morbili adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus Measles. Nama
lain dari penyakit ini adalah rubeola atau campak. Morbili merupakan penyakit
yang sangat infeksius dan menular lewat udara melalui aktivitas bernafas,
batuk, atau bersin. Pada bayi dan balita, morbili dapat menimbulkan
komplikasi yang fatal, seperti pneumonia dan ensefalitis. Salah satu strategi menekan mortalitas dan morbiditas penyakit morbili
adalah dengan vaksinasi. Namun, berdasarkan data Survei Demografi dan
Kesehatan Indonesia tahun 2007, ternyata cakupan imunisasi campak
pada anak-anak usia
di bawah 6
tahun di Indonesia masih
relatif lebih rendah(72,8%) dibandingkan negara- negara lain di Asia Tenggara
yang sudah mencapai 84%. Pada tahun 2010, Indonesia merupakan negara dengan
tingkat insiden tertinggi ketiga di Asia Tenggara. World Health Organization
melaporkan sebanyak 6300 kasus terkonfirmasi Morbili di Indonesia sepanjang
tahun 2013. Dengan demikian, hingga kini, morbili masih menjadi masalah
kesehatan yang krusial
di Indonesia. Peran
dokter di fasilitas pelayanan kesehatan
tingkat pertama sangat
penting dalam mencegah, mendiagnosis,
menatalaksana, dan menekan mortalitas morbili. |
||||||
|
B. Tujuan |
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk penatalaksanaan pasien
dengan morbili |
||||||
|
C. Kebijakan |
SK Kepala UPTD Puskesmas Abcde Nomor ... tentang Kebijakan Pelayanan
Klinis UPTD Puskesmas Abcde |
||||||
|
D. Referensi |
Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/Menkes/514/2015 tentang Panduan
Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama |
||||||
|
E. Prosedur |
Hasil Anamnesis (Subjective) 1. Gejala
prodromal berupa demam,
malaise, gejala respirasi
atas (pilek, batuk), dan konjungtivitis. 2. Pada
demam hari keempat,
biasanya muncul lesi
makula dan papula eritem, yang
dimulai pada kepala daerah perbatasan dahi rambut, di belakang telinga, dan
menyebar secara sentrifugal ke bawah hingga muka, badan, ekstremitas, dan
mencapai kaki pada hari ketiga. 3. Masa inkubasi 10-15 hari. 4. Belum mendapat imunisasi campak Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana
(Objective) 1. Demam, konjungtivitis, limfadenopati general. 2. Pada
orofaring ditemukan koplik
spot sebelum munculnya eksantem. 3. Gejala eksantem berupa lesi makula dan papula
eritem, dimulai pada kepala pada daerah perbatasan dahi rambut, di belakang
telinga, dan menyebar
secara sentrifugal dan
ke bawah hingga muka, badan, ekstremitas, dan
mencapai kaki 4. Pada hari ketiga, lesi ini perlahan-lahan
menghilang dengan urutan sesuai urutan muncul, dengan warna sisa coklat
kekuningan atau deskuamasi ringan. Eksantem hilang dalam 4-6 hari. Pemeriksaan Penunjang Pada umumnya tidak diperlukan. Pada pemeriksaan
sitologi dapat ditemukan sel datia berinti banyak pada sekret. Pada kasus
tertentu, mungkin diperlukan pemeriksaan serologi IgM anti-Rubella untuk
mengkonfirmasi diagnosis. Penegakan Diagnosis (Assessment) 1. Diagnosis
umumnya dapat ditegakkan
dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik. 2. Diagnosis banding: a. Erupsi obat b. Eksantem virus yang lain (rubella, eksantem
subitum), c. Scarlet fever d. Mononukleosis infeksiosa e. Infeksi
Mycoplasma pneumoniae Komplikasi Komplikasi lebih umum terjadi pada anak dengan gizi
buruk, anak yang belum mendapat imunisasi, dan anak dengan imunodefisiensi
dan leukemia. Komplikasi berupa otitis media, pneumonia, ensefalitis,
trombositopenia. Pada anak HIV yang tidak diimunisasi, pneumonia yang fatal
dapat terjadi tanpa munculnya lesi kulit. Penatalaksanaan Komprehensif (Plan) Penatalaksanaan 1. Terapi suportif diberikan dengan menjaga cairan
tubuh dan mengganti cairan yang hilang dari diare dan emesis. 2. Obat diberikan
untuk gejala simptomatis, demam
dengan antipiretik. Jika terjadi infeksi bakteri sekunder, diberikan antibiotik. 3.
Suplementasi vitamin A diberikan pada: a. Bayi usia kurang dari 6 bulan 50.000 IU/hari PO
diberi 2 dosis. b. Usia 6-11 bulan 100.000 IU/hari PO 2 dosis. c. Usia di atas 1 tahun 200.000 IU/hari PO 2 dosis. d. Anak dengan tanda defisiensi vitamin A, 2 dosis
pertama sesuai usia, dilanjutkan dosis ketiga sesuai usia yang diberikan 2-4
minggu kemudian. Konseling dan Edukasi Edukasi keluarga dan pasien bahwa morbili merupakan
penyakit yang menular. Namun demikian, pada sebagian besar pasien infeksi
dapat sembuh sendiri, sehingga
pengobatan bersifat suportif.
Edukasi pentingnya memperhatikan cairan yang hilang dari diare/emesis.
Untuk anggota keluarga/kontak yang rentan, dapat diberikan vaksin campak atau
human immunoglobulin untuk
pencegahan. Vaksin efektif bila
diberikan dalam 3
hari terpapar dengan
penderita. Imunoglobulin dapat diberikan pada individu dengan gangguan
imun, bayi usia 6 bulan -1 tahun, bayi usia kurang dari 6 bulan yang lahir
dari ibu tanpa imunitas campak, dan wanita hamil. Kriteria Rujukan Perawatan
di rumah sakit
untuk campak dengan
komplikasi (superinfeksi bakteri, pneumonia, dehidrasi, croup,
ensefalitis) Peralatan Tidak
diperlukan peralatan khusus
untuk menegakkan diagnosis morbili. Prognosis Prognosis
pada umumnya baik
karena penyakit ini
merupakan penyakit self-limiting disease. |
||||||
|
F. Diagram Alir |
Memberikan
tata laksana pada pasien sesuai hasil pemeriksaan menulis hasil
anamnesa, pemeriksaan dan diagnose ke rekam medic menegakan
diagnose berdasarkan hasil pemeriksaan melakukan
vital sign dan pemeriksaan fisik Melakukan anamnesis pada pasien menulis
diagnose pasien ke buku register. |
||||||
G. Unit Terkait |
Ruang Pemeriksaan Umum |
G. Rekaman Historis:
|
No |
Halaman |
Yang dirubah |
Perubahan |
Diberlakukan Tanggal |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
No comments:
Post a Comment