|
100 Dinkes Kab Defgh |
HERPES
ZOSTER TANPA
KOMPLIKASI |
Puskesmas Abcde |
|||
|
SOP |
Nomor |
: |
|||
|
Terbit ke |
: 01 |
||||
|
No.Revisi |
: 00 |
||||
|
Tgl.Diberlakukan |
: 2-01-2018 |
||||
|
Halaman |
: 1 / 2 |
||||
|
Ditetapkan
Kepala Puskesmas Abcde |
|
Kapus NIP. nipkapus |
|||
|
A. Pengertian |
Herpes Zoster adalah infeksi kulit dan mukosa yang disebabkan oleh virus
Varisela-zoster. Infeksi ini merupakan reaktivasi virus yang terjadi setelah
infeksi primer. Herpes Zoster jarang terjadi pada anak- anak dan dewasa muda,
kecuali pada pasien muda dengan AIDS, limfoma, keganasan, penyakit
imunodefisiensi dan pada pasien yang menerima
transplantasi sumsum tulang
atau ginjal. Penyakit
ini terjadi kurang dari
10% pada pasien
yang berusia kurangdari 20 tahun dan hanya 5% terjadi pada pasien yang
berusia kurang dari 15 tahun.Insiden herpes zoster meningkat seiring dengan
pertambahan usia. Prevalensi penyakit ini pada pria dan wanita sama. |
||||||
|
B. Tujuan |
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk penatalaksanaan pasien
dengan Herpes Zoster
tanpa komplikasi |
||||||
|
C. Kebijakan |
SK Kepala UPTD Puskesmas Abcde Nomor ... tentang Kebijakan Pelayanan
Klinis UPTD Puskesmas Abcde |
||||||
|
D. Referensi |
Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/Menkes/514/2015 tentang Panduan
Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama |
||||||
|
E. Prosedur |
Hasil Anamnesis (Subjective) Keluhan Nyeri radikular dan gatal terjadi sebelum
erupsi. Keluhan dapat disertai dengan gejala prodromal sistemik berupa demam,
pusing, dan malaise. Setelah itu timbul gejala kulit kemerahan yang dalam
waktu singkat menjadi vesikel berkelompok dengan dasar eritem dan edema. Faktor Risiko 1.
Umumnya terjadi pada orang dewasa, terutama orang tua. 2.
Imunodefisiensi Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang
Sederhana (Objective) Pemeriksaan Fisik Sekelompok vesikel dengan dasar eritem yang
terletak unilateral sepanjang distribusi saraf spinal atau kranial. Lesi
bilateral jarang ditemui, namun seringkali, erupsi juga terjadi pada dermatom
di dekatnya. Pemeriksaan Penunjang Pada umumnya tidak diperlukan pemeriksaan
penunjang. Penegakan Diagnosis (Assessment) Diagnosis Klinis Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan
pemeriksaan fisik. Catatan untuk diperhatikan: 1. Herpes zoster hemoragik, yaitu jika vesikel
mengandung darah. 2. Herpes
zoster generalisata, yaitu
kelainan kulit unilateral
dan segmental ditambah kelainan kulit generalisata berupa vesikel
soliter yang berumbilikasi. Keduanya merupakan tanda
bahwa pasien mengalami imunokompromais. 3. Herpes
zoster oftalmikus, yaitu
infeksi cabang pertama
nervus trigeminus sehingga menimbulkan kelainan
pada mata, di samping itu juga cabang kedua dan
ketiga menyebabkan kelainan kulit pada daerah persarafannya. 4. Herpes
zoster abortif, yaitu
penyakit yang hanya
berlangsung dalam waktu singkat dan kelainan kulit hanya berupa
beberapa vesikel dan eritem. Diagnosis Banding 1.
Herpes simpleks 2.
Dermatitis venenata 3. Pada
saat nyeri prodromal, diagnosis dapat menyerupai migrain, nyeri pleuritik,
infark miokard, atau apendisitis. Komplikasi 1.
Neuralgia pasca-herpetik 2.
Ramsay Hunt Syndrome:
herpes pada ganglion
genikulatum, ditandai dengan gangguan
pendengaran, keseimbangan dan paralisis parsial. 3. Pada
penderita dengan imunodefisiensi (HIV, keganasan, atau usia lanjut), vesikel
sering menjadi ulkus
dengan jaringan nekrotik dapat terjadi infeksi sistemik. 4.
Pada herpes zoster
oftalmikus dapat terjadi
ptosis paralitik, keratitis,
skleritis, uveitis, korioretinitis, serta neuritis optik. 5.
Paralisis motorik. Penatalaksanaan komprehensif (Plan) Penatalaksanaan 1.
Terapi suportif dilakukan dengan menghindari gesekan kulit yang
mengakibatkan pecahnya vesikel,
pemberian nutrisi TKTP, istirahat dan mencegah kontak dengan
orang lain. 2.
Gejala prodromal diatasi sesuai dengan indikasi. Aspirin dihindari
oleh karena dapat menyebabkan Reye’s syndrome. 3.
Pengobatan topikal: Stadium vesikel: bedak salisil 2% atau bedak
kocok kalamin agar vesikel tidak pecah. Apabila erosif, diberikan kompres terbuka.
Apabila terjadi ulserasi, dapat dipertimbangkan pemberian salep antibiotik. 4.
Pengobatan antivirus oral, antara lain dengan: a. Asiklovir: dewasa 5 x 800 mg/hari,
anak-anak 4 x 20 mg/kgBB (dosis maksimal 800 mg), selama 7 hari, atau b.
Valasiklovir: dewasa 3 x 1000 mg/hari. Pemberian obat tersebut selama 7-10 hari dan
efektif diberikan pada 24 jam pertama setelah timbul lesi. Konseling dan Edukasi Konseling dan edukasi dilakukan kepada pasien
mengenai: 1.
Edukasi tentang perjalanan penyakit Herpes Zoster. 2.
Edukasi bahwa lesi biasanya membaik dalam 2-3 minggu pada individu
imunokompeten. 3.
Edukasi mengenai seringnya komplikasi neuralgia pasca-herpetik. Kriteria Rujukan Pasien dirujuk apabila: 1.
Penyakit tidak sembuh pada 7-10 hari setelah terapi. 2.
Terjadi pada pasien bayi, anak
dan geriatri (imunokompromais). 3.
Terjadi komplikasi. 4.
Terdapat penyakit penyerta yang menggunakan multifarmaka. Peralatan Tidak
diperlukan peralatan khusus
untuk mendiagnosis penyakit Herpes Zoster. Prognosis Pasien dengan imunokompeten, prognosis umumnya
adalah bonam, sedangkan pasien dengan
imunokompromais, prognosis menjadi dubia ad bonam. |
||||||
|
F. Diagram Alir |
menegakan
diagnose berdasarkan hasil pemeriksaan Memberikan
tata laksana pada pasien sesuai hasil pemeriksaan menulis hasil
anamnesa, pemeriksaan dan diagnose ke rekam medic melakukan
vital sign dan pemeriksaan fisik Melakukan anamnesis pada pasien menulis
diagnose pasien ke buku register. |
||||||
G. Unit Terkait |
Ruang Pemeriksaan Umum |
G. Rekaman Historis:
|
No |
Halaman |
Yang dirubah |
Perubahan |
Diberlakukan Tanggal |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
No comments:
Post a Comment