|
76 Dinkes Kab Defgh |
RUPTUR
PERINEUM TINGKAT
1 DAN 2 |
Puskesmas Abcde |
|||
|
SOP |
Nomor |
: |
|||
|
Terbit ke |
: 01 |
||||
|
No.Revisi |
: 00 |
||||
|
Tgl.Diberlakukan |
: 2-01-2018 |
||||
|
Halaman |
: 1 / 2 |
||||
|
Ditetapkan
Kepala Puskesmas Abcde |
|
Kapus NIP. nipkapus |
|||
|
A. Pengertian |
Ruptur perineum
adalah suatu kondisi
robeknya perineum yang terjadi pada persalinan pervaginam.
Diperkirakan lebih dari 85% wanita yang melahirkan pervaginam mengalami
ruptur perineum spontan, yang 60%-
70% di antaranya
membutuhkan penjahitan (Sleep
dkk, 1984; McCandlish dkk,1998). Angka
morbiditas meningkat seiring dengan peningkatan derajat ruptur. Klasifikasi
ruptur perineum dibagi menjadi 4 derajat: 1. Derajat I Robekan
terjadi hanya pada selaput lendir vagina
dengan atau tanpa mengenai kulit perineum. Biasa tidak perlu dilakukan
penjahitan. 2. Derajat II Robekan
mengenai selaput lender vagina dan otot perinea transversalis, tetapi tidak
melibatkan kerusakan otot sfingter ani. 3. Derajat III Robekan
mengenai perineum sampai dengan otot sfingter anidengan pembagian sebagai
berikut: IIIa.
Robekan < 50% sfingter ani eksterna IIIb.
Robekan > 50% sfingter ani ekterna IIIc.
Robekan juga meliputi sfingter ani interna |
||||||
|
B. Tujuan |
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk penatalaksanaan pasien
dengan ruptur perineum
tingkat 1 dan 2 |
||||||
|
C. Kebijakan |
SK Kepala UPTD Puskesmas Abcde Nomor ... tentang Kebijakan Pelayanan
Klinis UPTD Puskesmas Abcde |
||||||
|
D. Referensi |
Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/Menkes/514/2015 tentang Panduan
Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama |
||||||
|
E. Prosedur |
Hasil Anamnesis
(Subjective) Gejala Klinis Perdarahan
pervaginam Etiologi dan
Faktor Risiko Ruptur perineum umumnya terjadi pada persalinan,
dimana: 1. Kepala janin terlalu cepat lahir 2. Persalinan tidak dipimpin sebagaimana
mestinya 3. Sebelumnya pada perineum terdapat banyak
jaringan parut 4. Pada persalinan dengan distosia bahu 5. Partus pervaginam dengan tindakan Hasil Pemeriksaan
Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective) Pemeriksaan fisik Pada pemeriksaan
fisik dapat ditemukan adanya: 1. Robekan pada perineum, 2. Perdarahan yang bersifat arterial atau yang
bersifat merembes, 3. Pemeriksaan colok
dubur, untuk menilai
derajat robekan perineum Pemeriksaan
Penunjang: - Penegakan
Diagnostik (Assessment) Diagnosis Klinis Diagnosis dapat
ditegakkan berdasar anamnesis
dan pemeriksaan fisik yang
dapat dilakukan. Klasifikasi ruptur
perineum dibagi menjadi 4 derajat: 1. Derajat I Robekan terjadi
hanya pada selaput lendir vagina
dengan atau tanpa mengenai kulit perineum. Biasa tidak perlu dilakukan
penjahitan. 2. Derajat II Robekan mengenai
selaput lender vagina dan otot perinea transversalis, tetapi tidak melibatkan
kerusakan otot sfingter ani. 3. Derajat III Robekan mengenai
perineum sampai dengan otot sfingter anidengan pembagian sebagai berikut: IIIa. Robekan <
50% sfingter ani eksterna IIIb. Robekan >
50% sfingter ani ekterna IIIc. Robekan juga
meliputi sfingter ani interna 4. Derajat IV Robekan mengenai
perineum sampai dengan otot sfingter ani dan mukosa rektum Penatalaksanaan
Komprehensif (Plan) Penatalaksanaan Non Medikantosa 1. Menghindari
atau mengurangi dengan
menjaga jangan sampai dasarpanggul didahului oleh kepala
janin dengan cepat. 2. Kepala janin yang akan lahir jangan ditahan
terlampau kuat dan lama, karena akan menyebabkan asfiksia dan perdarahan
dalam tengkorak janin, dan melemahkan otot-otot dan fasia pada dasar panggul
karena diregangkan terlalu lama. Medikamentosa 1. Penatalaksanaan farmakologis Dosis tunggal
sefalosporin golongan II atau III dapat diberikan intravena sebelum perbaikan
dilakukan (untuk ruptur perineum yang berat). 2. Manajemen Ruptur Perineum: a. Alat-alat yang
dibutuhkan untuk melakukan perbaikan jalan lahir • Retractor Weislander’s • Forceps gigi (fine & strong) • Needle holder (small and large) • Forceps Allis (4) • Forceps arteri (6) • Gunting Mitzembaum • Gunting pemotong jahitan • Spekulum Sims • Retraktor dinding samping dalam vagina • Forceps pemegang kasa b. bahan-bahan
yang diperlukan untuk perbaikan jalan lahir. • Tampon • Kapas besar • Povidon Iodine • Lidocain 1% (untuk ruptur perineumderajat
I-II) • Benang catgut / Asam poliglikolik (Dexon,
David&Geck Ltd, UK) / Poliglaktin 910
(Vicryl, Ethicon Ltd, Edinburgh, UK) Ruptur perineum
harus segera diperbaiki untuk meminimalisir risiko perdarahan, edema, dan
infeksi. Manajemen ruptur perineum untuk masing-masing derajatnya, antara
lain sebagai berikut : Robekan perineum
derajat 1 Robekan tingkat I
mengenai mukosa vagina dan jaringan ikat, tidak perlu dilakukan penjahitan. Penjahitan robekan
perineum derajat 2 1. Siapkan alat dan bahan. 2. Pastikan
pasien tidak memiliki
alergi terhadap Lignokain
atau obat-obatan sejenis 3. Suntikan
10 ml Lignokain
0.5% di bawah
mukosa vagina, di bawah kulit perineum dan pada otot-otot
perineum. Masukan jarum pada
ujung laserasi dorong
masuk sepanjang luka mengikuti garis tempat jarum jahitnya
akan masuk atau keluar. 4. Tunggu 2 menit. Kemudian area dengan forsep
hingga pasien tidak merasakan nyeri. 5. Jahit mukosa vagina secara jelujur dengan
benang 2-0, lihat ke dalam luka
untuk mengetahui letak
ototnya (penting untuk menjahit otot ke otot agar tidak ada
rongga di dalamnya). 6. Carilah lapisan subkutis persis dibawah
lapisan kulit, lanjutkan dengan jahitan subkutikuler kembali keatas vagina,
akhiri dengan simpul mati pada bagian dalam vagina. 7. Potong kedua ujung benang dan hanya sisakan
masing-masing 1 cm. 8. Jika robekan cukup luas dan dalam, lakukan
colok dubur dan pastikan tidak ada bagian rektum terjahit. CATATAN: Aspirasi
penting untuk meyakinkan suntikan lignokain tidak masuk dalam pembuluh darah.
Jika ada darah pada aspirasi, pindahkan
jarum ke tempat
lain. Aspirasi kembali.
Kejang dan kematian dapat
terjadi jika lignokain diberikan lewat pembuluh darah (intravena) Konseling dan
Edukasi Memberikan
informasi kepada pasien dan suami, mengenai, cara menjaga kebersihan daerah
vagina dan sekitarnya setelah dilakukannya penjahitan di daerah perineum,
yaitu antara lain: 1. Menjaga perineum selalu bersih dan kering. 2. Hindari penggunaan obat-obatan tradisional
pada perineum. 3. Cuci perineumnya dengan sabun dan air
bersih yang mengalir 3 sampai 4 kali perhari. 4. Kembali
dalam seminggu untuk
memeriksa penyembuhan lukanya.
Ibu harus kembali lebih awal jika ia mengalami demam atau mengeluarkan cairan
yang berbau busuk dari daerah lukanya atau jika daerah tersebut menjadi lebih
nyeri. Kriteria Rujukan Kriteria tindakan
pada Fasilitas Pelayanan tingkat pertama hanya untuk Luka Perineum Tingkat 1
dan 2. Untuk luka perineum tingkat 3 dan 4 dirujuk ke fasilitas pelayanan
kesehatan sekunder. Peralatan 1. Lampu 2. Kassa steril 3. Sarung tangan steril 4. Hecting set 5. Benang jahit catgut 6. Laboratorium sederhana pemeriksaan darah
rutin dan golongan darah. Prognosis Prognosis umumnya
bonam. |
||||||
|
F. Diagram Alir |
Memberikan
tata laksana pada pasien sesuai hasil pemeriksaan menulis hasil
anamnesa, pemeriksaan dan diagnose ke rekam medic menegakan
diagnose berdasarkan hasil pemeriksaan melakukan
vital sign dan pemeriksaan fisik Melakukan anamnesis pada pasien menulis
diagnose pasien ke buku register. |
||||||
G. Unit Terkait |
Ruang Pemeriksaan Umum |
G. Rekaman Historis:
|
No |
Halaman |
Yang dirubah |
Perubahan |
Diberlakukan Tanggal |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
No comments:
Post a Comment