MOHON MAAF APABILA SUSUNANYA ADA YANG BERANTAKAN , KARENA HASIL COPY PASTE DARI FILE WORD/EXEL KE POSTINGAN BLOG

Thursday, March 12, 2026

SOP REAKSI ANAFILAKTIK

 

95

 

 

 

 

 

Dinkes Kab Defgh

REAKSI ANAFILAKTIK

 

 

 

 

 

 

Puskesmas Abcde

 

SOP

Nomor

:

Terbit ke

: 01

No.Revisi

: 00

Tgl.Diberlakukan

: 2-01-2018

Halaman

: 1 / 2

Ditetapkan Kepala  Puskesmas Abcde

 

 

Kapus

NIP. nipkapus

 

A. Pengertian

Reaksi Anafilaktik adalah reaksi hipersensitifitas generalisata atau sistemik yang beronset cepat, serius, dan mengancam. Jika reaksi tersebut cukup hebat dapat menimbulkan syok yang disebut sebagai syok anafilaktik. Syok anafilaktik membutuhkan pertolongan cepat dan tepat. Untuk itu diperlukan pengetahuan serta keterampilan dalam pengelolaan syok anafilaktik.

Insidens syok anafilaktik 40–60% adalah akibat gigitan serangga, 20–40% akibat zat kontras radiografi, dan 10–20% akibat pemberian obat penisilin. Data yang akurat dalam insiden dan prevalensi terjadinya syok anafilaktik masih sangat kurang. Anafilaksis yang fatal hanya kira-kira 4 kasus kematian dari 10 juta masyarakat pertahun.

Sebagian besar kasus yang serius anafilaktik adalah akibat pemberian antibiotik seperti penisilin dan bahan zat radiologis.

Penisilin merupakan penyebab kematian 100 dari 500 kematian akibat reaksi anafilaksis.

B. Tujuan

Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk penatalaksanaan pasien dengan reaksi anafilaktik

C. Kebijakan

SK Kepala UPTD Puskesmas Abcde Nomor ... tentang Kebijakan Pelayanan Klinis UPTD Puskesmas Abcde

D. Referensi

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/Menkes/514/2015 tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama

E. Prosedur

Hasil Anamnesis (Subjective)

Keluhan.

Gejala respirasi dapat dimulai berupa bersin, hidung tersumbat atau batuk saja yang kemudian segera diikuti dengan sesak napas. Gejala pada kulit merupakan gejala klinik yang paling sering ditemukan pada reaksi anafilaktik. Walaupun gejala ini tidak mematikan namun gejala ini amat penting untuk diperhatikan sebab ini mungkin merupakan gejala prodromal untuk timbulnya gejala yang lebih berat berupa gangguan nafas dan gangguan sirkulasi. Olehkarena itu setiap gejala kulit berupa gatal, kulit kemerahan harus diwaspadai untuk kemungkinan timbulnya gejala yang lebih berat.

Manifestasi dari gangguan gastrointestinal berupa perut kram,mual,muntah sampai diare yang juga dapat merupakan gejalaprodromal untuk timbulnya gejala gangguan nafas dansirkulasi.

 

Faktor Risiko:Riwayat Alergi

 

Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)

Pemeriksaan Fisik

Pasien tampak sesak, frekuensi napas meningkat, sianosis karena edema laring dan bronkospasme. Hipotensi merupakan gejala yang menonjol pada syok anafilaktik. Adanya takikardia, edema periorbital, mata berair, hiperemi konjungtiva. Tanda prodromal pada kulit berupa urtikaria dan eritema.

 

Penegakan Diagnostik (Assessment)

Diagnosis Klinis

Untuk membantu menegakkan diagnosis maka World AllergyOrganization telah membuat beberapa kriteria di mana reaksi

anafilaktik dinyatakan sangat mungkin bila:

1. Onset gejala akut (beberapa menit hingga beberapa jam) yangmelibatkan kulit, jaringan mukosa, atau keduanya (misal:

urtikaria generalisata, pruritus dengan kemerahan, pembengkakan bibir/lidah/uvula) dan sedikitnya salah satu dari tanda berikut ini:

a. Gangguan respirasi (misal: sesak nafas, wheezing akibat

bronkospasme, stridor, penurunan arus puncakekspirasi/APE, hipoksemia).

b. Penurunan tekanan darah atau gejala yang berkaitan dengan kegagalan organ target (misal: hipotonia, kolaps vaskular,sinkop, inkontinensia).

2. Atau, dua atau lebih tanda berikut yang muncul segera (beberapa menit hingga beberapa jam) setelah terpapar alergen yang mungkin (likely allergen), yaitu:

a. Keterlibatan jaringan mukosa dan kulit

b. Gangguan respirasi

c. Penurunan tekanan darah atau gejala yang berkaitan dengaN kegagalan organ target

d. Gejala gastrointestinal yang persisten (misal: nyeri kram

abdomen, muntah)

Atau, penurunan tekanan darah segera (beberapa menit atau jam)setelah terpapar alergen yang telah diketahui (known allergen),

sesuai kriteria berikut:

a. Bayi dan anak: Tekanan darah sistolik rendah (menurut umur) atau terjadi penurunan >30% dari tekanan darah sistoliksemula.

b. Dewasa: Tekanan darah sistolik <90 mmHg atau terjadi penurunan>30% dari tekanan darah sistolik semula.

 

Komplikasi

1. Koma

2. Kematian

 

Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan

1. Posisi trendelenburg atau berbaring dengan kedua tungkaidiangkat (diganjal dengan kursi) akan membantu menaikkan venous return sehingga tekanan darah ikut meningkat.

2. Pemberian Oksigen 3–5 liter/menit harus dilakukan, pada keadaanyang sangat ekstrim tindakan trakeostomi atau krikotiroidektomi perlu dipertimbangkan.

3. Pemasangan infus, cairan plasma expander (Dextran) merupakan pilihan utama guna dapat mengisi volume intravaskuler secepatnya. Jika cairan tersebut tak tersedia, Ringer Laktat atau NaCl fisiologis dapat dipakai sebagai cairan pengganti. Pemberian cairan infus sebaiknya dipertahankan sampai tekanan darah

kembali optimal dan stabil.

4. Adrenalin 0,3 – 0,5 ml dari larutan 1 : 1000 diberikan secara intramuskuler yang dapat diulangi 5–10 menit. Dosis ulangan umumnya diperlukan, mengingat lama kerja adrenalin cukup singkat. Jika respon pemberian secara intramuskuler kurangefektif, dapat diberi secara intravenous setelah 0,1 – 0,2 mladrenalin dilarutkan dalam spuit 10 ml dengan NaCl fisiologis,diberikan perlahan-lahan. Pemberian subkutan, sebaiknyadihindari pada syok anafilaktik karena efeknya lambat bahkan

mungkin tidak ada akibat vasokonstriksi pada kulit, sehinggaabsorbsi obat tidak terjadi.

5. Aminofilin, dapat diberikan dengan sangat hati-hati apabilabronkospasme belum hilang dengan pemberian adrenalin. 250 mg aminofilin diberikan perlahan-lahan selama 10 menit intravena.Dapat dilanjutkan 250 mg lagi melalui drips infus bila dianggapperlu.

6. Antihistamin dan kortikosteroid merupakan pilihan kedua setelaH adrenalin. Kedua obat tersebut kurang manfaatnya pada tingkatsyok anafilaktik, dapat diberikan setelah gejala klinik mulaimembaik guna mencegah komplikasi selanjutnya berupa serum sickness atau prolonged effect. Antihistamin yang biasa digunakanadalah difenhidramin HCl 5–20 mg IV dan untuk golongankortikosteroid dapat digunakan deksametason 5–10 mg IV atau hidrokortison 100–250 mg IV.

7. Resusitasi Kardio Pulmoner (RKP), seandainya terjadi henti jantung (cardiac arrest) maka prosedur resusitasi kardiopulmoner segeraharus dilakukan sesuai dengan falsafah ABC dan seterusnya.Mengingat kemungkinan terjadinya henti jantung pada suatu syokanafilaktik selalu ada, maka sewajarnya di setiap ruang praktekseorang dokter tersedia selain obat-obat emergency, perangkatinfus dan cairannya juga perangkat resusitasi (Resuscitation kit) untuk memudahkan tindakan secepatnya.

 

Peralatan

1. Infus set

2. Oksigen

3. Adrenalin ampul, aminofilin ampul, difenhidramin vial,deksametason ampul

4. NaCl 0,9%

 

Prognosis

Prognosis suatu syok anafilaktik amat tergantung dari kecepatan diagnosa dan pengelolaannya karena itu umumnya adalah dubia ad

F. Diagram Alir

Memberikan tata laksana pada pasien sesuai hasil pemeriksaan

menulis hasil anamnesa, pemeriksaan dan diagnose ke rekam medic

 

menegakan diagnose berdasarkan hasil pemeriksaan

melakukan vital sign dan pemeriksaan fisik

Melakukan anamnesis pada pasien

 

 


menulis diagnose pasien ke buku register.

 

 

 


G. Unit Terkait

Ruang Pemeriksaan Umum

 

G. Rekaman Historis:

No

Halaman

Yang dirubah

Perubahan

Diberlakukan Tanggal

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

No comments:

Post a Comment