|
94 Dinkes Kab Defgh |
LEPTOSPIROSIS
TANPA
KOMPLIKASI |
Puskesmas Abcde |
|||
|
SOP |
Nomor |
: |
|||
|
Terbit ke |
: 01 |
||||
|
No.Revisi |
: 00 |
||||
|
Tgl.Diberlakukan |
: 2-01-2018 |
||||
|
Halaman |
: 1 / 2 |
||||
|
Ditetapkan
Kepala Puskesmas Abcde |
|
Kapus NIP. nipkapus |
|||
|
A. Pengertian |
Leptospirosis
adalah penyakit infeksi yang menyerang manusia disebabkan oleh mikroorganisme
Leptospira interogans dan memiliki manifestasi klinis yang luas.
Spektrum klinis mulai dari infeksi yang tidak jelas sampai fulminan dan
fatal. Pada
jenis yang ringan, leptospirosis dapat muncul seperti influenzadengan sakit kepala dan myalgia. Tikus adalah reservoir yang utama dan kejadian leptospirosis lebih banyak
ditemukan pada musim hujan. |
||||||
|
B. Tujuan |
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk penatalaksanaan pasien
dengan leptospirosis tanpa komplikasi |
||||||
|
C. Kebijakan |
SK Kepala UPTD Puskesmas Abcde Nomor ... tentang Kebijakan Pelayanan
Klinis UPTD Puskesmas Abcde |
||||||
|
D. Referensi |
Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/Menkes/514/2015 tentang Panduan
Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama |
||||||
|
E. Prosedur |
Hasil
Anamnesis (Subjective) Keluhan: Demam
disertai menggigil, sakit kepala, anoreksia, mialgia yang hebat pada betis,
paha dan pinggang disertai nyeri tekan. Mual, muntah, diare dan nyeri
abdomen, fotofobia, penurunan kesadaran Hasil
pemeriksaan fisik dan penunjang sederhana (Objective) PemeriksaanFisik 1. Febris 2. Ikterus 3. Nyeri tekan pada otot 4. Ruam kulit 5. Limfadenopati 6. Hepatomegali dan splenomegali 7. Edema 8. Bradikardi relatif 9. Konjungtiva suffusion 10.
Gangguan perdarahan berupa
petekie, purpura, epistaksis
dan perdarahan gusi 11.
Kaku kuduk sebagai tanda meningitis Pemeriksaan
Penunjang Pemeriksaan
Laboratorium 1.
Darah rutin: jumlah leukosit antara 3000-26000/µL, dengan pergeseran ke kiri,
trombositopenia yang ringan terjadi pada 50% pasien dan dihubungkan dengan
gagal ginjal. 2.
Urin rutin: sedimen urin (leukosit, eritrosit, dan hyalin atau granular) dan proteinuria ringan,
jumlah sedimen eritrosit biasanya meningkat. Penegakan
Diagnostik (Assessment) Diagnosis
Klinis Diagnosis
dapat ditegakkan pada pasien dengan demam tiba-tiba, menggigil terdapat tanda
konjungtiva suffusion, sakit kepala, mialgia, ikterus dan nyeri tekan pada
otot. Kemungkinan tersebut meningkat jika ada riwayat bekerja atau terpapar
dengan lingkungan yang terkontaminasi dengan kencing tikus. Diagnosis
Banding 1. Demam dengue, 2. Malaria, 3. Hepatitis virus, 4. Penyakit rickettsia. Penatalaksanaan
komprehensif (Plan) Penatalaksanaan 1. Pengobatan suportif dengan observasi ketat
untuk mendeteksi dan mengatasi keadaan dehidrasi, hipotensi, perdarahan dan
gagal ginjal sangat penting pada leptospirosis. 2. Pemberian antibiotik harus dimulai secepat
mungkin.Pada kasus- kasus ringan dapat diberikan antibiotik oral seperti
doksisiklin, ampisilin, amoksisilin
atau eritromisin. Pada kasus leptospirosis berat diberikan dosis
tinggi penisilin injeksi. Komplikasi 1. Meningitis 2. Distress respirasi 3. Gagal ginjal karena renal interstitial
tubular necrosis 4. Gagal hati 5. Gagal jantung Konseling
dan Edukasi 1. Pencegahan leptospirosis khususnya didaerah
tropis sangat sulit, karena banyaknya hospes perantara dan jenis serotipe.
Bagi mereka yang mempunyai risiko tinggi untuk tertular leptospirosis harus
diberikan perlindungan berupa pakaian khusus yang dapat melindunginya dari
kontak dengan bahan-bahan
yang telah terkontaminasi dengan
kemih binatang reservoir. 2.
Keluarga harus melakukan pencegahan leptospirosis dengan menyimpan makanan
dan minuman dengan baik agar terhindar dari tikus, mencuci
tangan dengan sabun
sebelum makan, mencuci tangan,
kaki serta bagian tubuh lainnya dengan sabun setelah bekerja di sawah/ kebun/
sampah/ tanah/ selokan dan tempat tempat yang tercemar lainnya. Rencana
Tindak Lanjut Kasus
harus dilaporkan ke dinas kesehatan setempat. Kriteria Rujukan Pasien segera
dirujuk ke pelayanan
sekunder (spesialis penyakit dalam) yang
memiliki fasilitas hemodialisa setelah
penegakan diagnosis dan terapi awal. Peralatan Pemeriksaan
darah dan urin rutin Prognosis Prognosis
jika pasien tidak mengalami komplikasi umumnya adalahdubia ad bonam. |
||||||
|
F. Diagram Alir |
Memberikan
tata laksana pada pasien sesuai hasil pemeriksaan menulis hasil
anamnesa, pemeriksaan dan diagnose ke rekam medic menegakan
diagnose berdasarkan hasil pemeriksaan melakukan
vital sign dan pemeriksaan fisik Melakukan anamnesis pada pasien menulis
diagnose pasien ke buku register. |
||||||
G. Unit Terkait |
Ruang Pemeriksaan Umum |
G. Rekaman Historis:
|
No |
Halaman |
Yang dirubah |
Perubahan |
Diberlakukan Tanggal |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
No comments:
Post a Comment