|
|
PIODERMA |
|
||||||||||||||||||||||||
|
SOP |
No. Dokumen : SOP/VII/UKP/ /16 |
|||||||||||||||||||||||||
|
No. Revisi : |
||||||||||||||||||||||||||
|
Tanggal Terbit :4 April 2016 |
||||||||||||||||||||||||||
|
Halaman :1/4 |
||||||||||||||||||||||||||
|
Puskesmas . |
|
. |
||||||||||||||||||||||||
|
1.
Pengertian |
No. ICPC-2 : S84 Impetigo
S76 Skin infection other No. ICD-10 : L01 Impetigo
L02 Cutaneous abscess,
furuncle and carbuncle
L08.0 Pyoderma Tingkat Kemampuan : Folikulitis superfisialis 4A Furunkel, Furunkulosis dan Karbunkel 4A Impetigo krustosa (impetigo
contagiosa) dan Impetigo bulosa 4A Ektima
(impetigo ulseratif) 4A Pioderma
adalah infeksi kulit (epidermis, dermis dan subkutis) yang disebabkan oleh
bakteri gram positif dari golongan Stafilokokus dan Streptokokus. |
|||||||||||||||||||||||||
|
2.
Tujuan |
Semua pasien yang datang ke Puskesmas Banyumas
mendapatkan pelayanan yang sesuai dengan prosedur |
|||||||||||||||||||||||||
|
3.
Kebijakan |
Keputusan
Kepala Puskesmas Banyumas Nomor 068/C.VII/04/16/006 tentang Kebijakan
Pelayanan Klinis Puskesmas Banyumas |
|||||||||||||||||||||||||
|
4.
Referensi |
Keputusan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor HK.02.02/MENKES/514/2015 Tentang Panduan Praktik
Klinis Bagi Dokter Di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama |
|||||||||||||||||||||||||
|
5.
Prosedur |
Hasil Anamnesis (Subjective) Keluhan Pasien datang mengeluh adanya koreng atau luka di kulit 1. Awalnya
berbentuk seperti bintil kecil yang gatal, dapat berisi cairan atau nanah
dengan dasar dan pinggiran sekitarnya kemerahan. Keluhan ini dapat meluas
menjadi bengkak disertai dengan rasa nyeri. 2. Bintil
kemudian pecah dan menjadi keropeng/koreng yang mengering, keras dan sangat
lengket. Faktor risiko: 1. Higiene
yang kurang baik 2. Defisiensi
gizi 3. Imunodefisiensi
(CD4 dan CD8 yang rendah) Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)
Folikulitis adalah peradangan folikel rambut yang
ditandai dengan papul eritema perifolikuler dan rasa gatal atau perih. Furunkel adalah peradangan folikel rambut dan jaringan
sekitarnya berupa papul, vesikel atau pustul perifolikuler dengan eritema di
sekitarnya dan disertai rasa nyeri. Furunkulosis adalah beberapa furunkel yang tersebar. Karbunkel adalah kumpulan dari beberapa furunkel,
ditandai dengan beberapa furunkel yang berkonfluensi membentuk nodus
bersupurasi di beberapa puncak. Impetigo krustosa (impetigo contagiosa) adalah
peradangan yang memberikan gambaran vesikel yang dengan cepat berubah menjadi
pustul dan pecah sehingga menjadi krusta kering kekuningan seperti madu.
Predileksi spesifik lesi terdapat di sekitar lubang hidung, mulut, telinga
atau anus. Impetigo bulosa adalah peradangan yang memberikan
gambaran vesikobulosa dengan lesi bula hipopion (bula berisi pus). Ektima adalah peradangan yang menimbulkan kehilangan
jaringan dermis bagian atas (ulkus dangkal). Pemeriksaan Penunjang 1. Pemeriksaan
dari apusan cairan sekret dari dasar lesi dengan pewarnaan Gram 2. Pemeriksaan
darah rutin kadang-kadang ditemukan leukositosis. Penegakan diagnostik (Assessment) Diagnosis Klinis 1. Folikulitis 2. Furunkel
2/4 4. Karbunkel 5. Impetigo bulosa dan krustosa 6. Ektima Komplikasi 1.Erisipelas 2.Selulitis 3. Ulkus 4. Limfangitis 5. Limfadenitis supuratif 6. Bakteremia (sepsis) Penatalaksanaan Komprehensif (Plan) Penatalaksanaan 1. Terapi
suportif dengan menjaga higiene, nutrisi TKTP dan stamina tubuh. 2. Farmakoterapi
dilakukan dengan: 2.1. Topikal:
2.1.1. Bila
banyak pus/krusta, dilakukan kompres terbuka dengan permanganas kalikus (PK)
1/5.000 atau yodium povidon 7,5% yang dilarutkan 10 kali. 2.1.2. Bila
tidak tertutup pus atau krusta, diberikan salep atau krim asam fusidat 2%
atau mupirosin 2%, dioleskan 2-3 kali sehari selama 7-10 hari. 2.2. Antibiotik
oral dapat diberikan dari salah satu golongan di bawah ini: 2.2.1. Penisilin
yang resisten terhadap penisilinase, seperti: kloksasilin. - Dosis dewasa: 3
x 250-500 mg/hari, selama 5-7 hari, selama 5-7 hari. Dosis anak: 50 mg/kgBB/hari terbagi dalam 4
dosis, selama 5-7 hari. 2.2.2. Amoksisilin
dengan asam klavulanat. - Dosis dewasa: 3 x 250-500 mg Dosis anak: 25 mg/kgBB/hari terbagi dalam 3
dosis, selama 5-7 hari 2.2.3.
3/4 2.2.4. Eritromisin:
dosis dewasa: 4 x 250-500 mg/hari, anak: 20- 50 mg/kgBB/hari terbagi 4 dosis,
selama 5-7 hari. 2.2.5. Sefalosporin,
misalnya sefadroksil dengan dosis 2 x 500 mg atau 2 x 1000 mg per hari. c.
Insisi untuk karbunkel yang menjadi abses untuk membersihkan eksudat dan
jaringan nekrotik. Konseling dan Edukasi Edukasi pasien dan keluarga untuk pencegahan penyakit
dengan menjaga kebersihan diri dan stamina tubuh. Kriteria Rujukan Pasien dirujuk apabila terjadi: 1. Komplikasi
mulai dari selulitis. 2. Tidak
sembuh dengan pengobatan selama 5-7 hari. 3. Terdapat
penyakit sistemik (gangguan metabolik endokrin dan imunodefisiensi). Prognosis Apabila penyakit tanpa disertai komplikasi, prognosis
umumnya bonam, bila dengan komplikasi, prognosis umumnya dubia ad
bonam. |
|||||||||||||||||||||||||
|
6.
Bagan Alir |
|
|||||||||||||||||||||||||
7.
Unit Terkait |
Pemeriksaan Umum, R.Tindakan, KIA-KB-Imunisasi |
|||||||||||||||||||||||||
|
8.
Rekaman Historis Perubahan |
|
|||||||||||||||||||||||||
4/4


No comments:
Post a Comment