|
|
PNEUMOTORAKS |
|
|||||||||
|
SOP |
No. Dokumen : SOP/PU.VII/UKP/ /16 |
||||||||||
|
No. Revisi : |
|||||||||||
|
Tanggal Terbit :4 April 2016 |
|||||||||||
|
Halaman :1/4 |
|||||||||||
|
Puskesmas . |
|
. |
|||||||||
|
1.
Pengertian |
No. ICPC-2 : R99
Respiratory Disease Other No. ICD-10 : J93.9
Respiratory Disease other Tingkat Kemampuan 4A Masalah Kesehatan Pneumotoraks adalah kondisi
dimana terdapat udara bebas dalam rongga pleura. Insiden pneumotoraks sulit
diketahui karena episodenya banyak yang tidak diketahui. Umumnya pria lebih
banyak dari wanita. Terdapat 2 jenis
pneumotoraks, yaitu: 1.
Pneumotoraks
spontan primer adalah pneumotoraks yang terjadi tanpa riwayat penyakit paru
sebelumnya ataupun trauma, dan dapat terjadi pada individu yang sehat.
Terutama lebih sering pada laki, tinggi dan kurus, dan perokok. 2.
Pneumotoraks
spontan sekunder adalah pneumotoraks yang terjadi pada penderita yang
memiliki riwayat penyakit paru sebelumnya seperti PPOK, TB paru dan
lain-lain. |
||||||||||
|
2.
Tujuan |
Semua pasien yang datang ke Puskesmas Banyumas
mendapatkan pelayanan yang sesuai dengan prosedur |
||||||||||
|
3.
Kebijakan |
Keputusan
Kepala Puskesmas Banyumas Nomor 068/C.VII/04/16/006 tentang Kebijakan
Pelayanan Klinis Puskesmas Banyumas |
||||||||||
|
4.
Referensi |
Keputusan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor HK.02.02/MENKES/514/2015 Tentang Panduan Praktik
Klinis Bagi Dokter Di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama |
||||||||||
|
5.
Prosedur |
Petugas
Melakukan Anamnesis
(Subjective) Keluhan 1.
Pneumotoraks
dapat menimbulkan keluhan atau tidak. Keluhan yang dapat timbul adalah sesak
napas, yang dapat disertai nyeri dada pada sisi yang sakit. Nyeri dada tajam,
timbul secara tiba-tiba, dan semakin nyeri jika menarik napas dalam atau
terbatuk. Keluhan timbul mendadak ketika tidak sedang aktivitas. 2.
Faktor
risiko, di antaranya: 2.1.
Infeksi,
misalnya: tuberkulosis, pneumonia 2.2.
Trauma
2.3.
Merokok
Petugas
Melakukan Pemeriksaan
Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective) Pemeriksaan Fisik Gejala klinis : 1.
Hiperkapnia
2.
Hipotensi
3.
Takikardi
4.
Perubahan
status mental 5.
Pemeriksaan
fisik paru : 5.1.
Inspeksi
paru, tampak sisi yang sakit lebih menonjol dan tertinggal pada pernapasan 5.2.
Palpasi
paru, suara fremitus menurun di sisi yang sakit 5.3.
Perkusi
paru, ditemukan suara hipersonor dan pergeseran mediastinum ke arah yang
sehat 5.4.
Auskultasi
paru, didapatkan suara napas yang melemah dan jauh Pemeriksaan Penunjang: 1.
Foto
toraks, didapatkan garis penguncupan paru yang sangat halus (pleural line),
dan gambaran avaskuler di sisi yang sakit. Bila disertai darah atau cairan
lainnya, akan tampak garis mendatar yang merupakan batas udara dan cairan (air
fluid level). 2.
Pulse
oxymetry.
Pemeriksaan ini tidak untuk menegakkan diagnosis, namun untuk menilai apakah
telah terjadi gagal napas. Petugas
Melakukan Penegakan
Diagnostik (Assessment)
2/4 Diagnosis ditegakkan
berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan untuk diagnosis definitif
dengan pemeriksaan penunjang. Komplikasi 1.
Kegagalan
respirasi 2.
Kegagalan
sirkulasi 3.
Kematian
Petugas
Melakukan Penatalaksanaan
Komprehensif (Plan) 1.
Oksigen
2.
Jika
ada tanda kegagalan sirkulasi, dilakukan pemasangan IV line dengan
cairan kristaloid 3.
Rujuk
Konseling dan Edukasi Menjelaskan kepada pasien
dan keluarga mengenai: 1.
Bahaya
dan komplikasi pneumotoraks 2.
Pertolongan
kegawatdaruratan pada pneumotoraks 3.
Perlunya
rujukan segera ke RS Kriteria Rujukan Segera rujuk pasien yang
terdiagnosis pneumotoraks, setelah dilakukan penanggulangan awal. Peralatan · Infus set · Abbocath 14 · Tabung oksigen · Kanul hidung · Sungkup sederhana · Lidocaine 2% · Spuit 3 cc, 5 cc, 10 cc, 20
cc, 50 cc · Three-way · Botol bervolume 500 cc Prognosis ·
3/4 · Ad functionam : Dubia · Ad sanationam : Dubia |
||||||||||
|
6.
Unit Terkait |
Pemeriksaan Umum, R.Tindakan, KIA-KB-Imunisasi |
||||||||||
|
7.
Rekaman Historis Perubahan |
|
||||||||||
4/4


No comments:
Post a Comment