MOHON MAAF APABILA SUSUNANYA ADA YANG BERANTAKAN , KARENA HASIL COPY PASTE DARI FILE WORD/EXEL KE POSTINGAN BLOG

Friday, March 13, 2026

SOP PERDARAHAN SALURAN CERNA BAGIAN ATAS

 


PERDARAHAN SALURAN CERNA BAGIAN ATAS

http://dinkes.ciamiskab.go.id/wp-content/uploads/2015/11/lambangbarupkm-324x235.jpg

SOP

No. Dokumen  : SOP/VII/

                          UKP/     /16

No. Revisi        : -

Tanggal Terbit : 4 April 2016

Halaman          : 1/4

Puskesmas

.

 

.

1.      Pengertian

Tingkat Kemampuan 3B

Manifestasi perdarahan saluran cerna bervariasi mulai dengan perdarahan masif yang mengancam jiwa hingga perdarahan samar yang tidak dirasakan. Hematemesis menunjukkan perdarahan dari saluran cerna bagian atas, proksimal dari ligamentum Treitz. Melena biasanya akibat perdarahan saluran cerna bagian atas, meskipun demikian perdarahan dari usus halus atau kolon bagian kanan, juga dapat menimbulkan melena.

2.      Tujuan

Semua pasien yang datang ke Puskesmas Banyumas mendapatkan pelayanan yang sesuai dengan prosedur

3.      Kebijakan

Keputusan Kepala Puskesmas Banyumas Nomor 068/C.VII/01/16/006 tentang kebijakan pelayanan klinis Puskesmas Banyumas

4.      Referensi

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/MENKES/514/2015 Tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter Di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama

5.      Prosedur

Anamnesis (Subjective)

Pasien dapat datang dengan keluhan muntah darah berwarna hitam seperti bubuk kopi (hematemesis) atau buang air besar berwarna hitam seperti ter atau aspal (melena).

 

Gejala klinis lainya sesuai dengan komorbid, seperti penyakit hati kronis, penyakit paru, penyakit jantung, penyakit ginjal dsb.

 

Pada anamnesis yang perlu ditanyakan adalah riwayat penyakit hati kronis, riwayat dispepsia, riwayat mengkonsumsi NSAID, obat rematik, alkohol, jamu- jamuan, obat untuk penyakit jantung, obat stroke, riwayat penyakit ginjal, riwayat penyakit paru dan adanya perdarahan ditempat lainnya.

 

 Riwayat muntah-muntah sebelum terjadinya hematemesis sangat mendukung kemungkinan adanya sindroma Mallory Weiss.

Faktor Risiko

Konsumsi obat-obat NSAID

Faktor Predisposisi

Riwayat sirosis hepatis

Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)

 

Pemeriksaan Fisik

1.    Penilaian hemodinamik (keadaan sirkulasi)

2.    Evaluasi jumlah perdarahan.

3.    Pemeriksaan fisik lainnyayaitu mencari stigmata penyakit hati kronis (ikterus, spider nevi, asites, splenomegali, eritema palmaris, edema tungkai), massa abdomen, nyeri abdomen, rangsangan peritoneum, penyakit paru, penyakit jantung, penyakit rematik dll.

4.    Rectal toucher

5.    Dalam prosedur diagnosis ini penting melihat aspirat dari Naso Gastric Tube (NGT). Aspirat berwarna putih keruh menandakan perdarahan tidak aktif, aspirat berwarna merah marun menandakan perdarahan masif sangat mungkin perdarahan arteri.

 

Pemeriksaan Penunjang di puskesmas adalah  laboratorium darah lengkap

 

Penegakan diagnostik (Assessment)

Diagnosis Klinis

Diagnosis ditegakkan berdasar anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang.

 

Diagnosis Banding

Hemoptisis, Hematokezia

Komplikasi

2/4

 
Syok hipovolemia, Aspirasi pneumonia, Gagal ginjal akut, Anemia karena perdarahan

 

Penatalaksanaan komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan

1.    Stabilkan hemodinamik.

1.1. Pemasangan IV line

1.2. Oksigen sungkup/kanula

1.3. Mencatat intake output, harus dipasang kateter urin

1.4. Memonitor tekanan darah, nadi, dan keadaan lainnya sesuai dengan komorbid yang ada.

2.    Pemasangan NGT (nasogatric tube)

3.    Tirah baring

4.    Puasa/diet hati/lambung

4.1. Injeksi antagonis reseptor H2 atau penghambat pompa proton (PPI)

4.2. Sitoprotektor: sukralfat 3-4 x1 gram

4.3. Antasida

4.4. Injeksi vitamin K untuk pasien dengan penyakit hati kronis

 

Rencana Tindak Lanjut

perlu dilakukan asesmen yang lebih akurat untuk memprediksi perdarahan ulang dan mortalitas.

 

Konseling dan Edukasi

Keluarga ikut mendukung untuk menjaga diet dan pengobatan pasien.

Kriteria Rujukan

1.    Terhadap pasien yang diduga kuat karena ruptura varises esophagus di rujuk ke pelayanan kesehatan sekunder

2.    Bila perdarahan tidak berhenti dengan penanganan awal di puskesmas

3.    Bila terjadi anemia berat

 

Peralatan

1. Kanula satu sungkup oksigen

2. Naso Gastric Tube (NGT)

3/4

 
3. Sarung tangan

4. Laboratorium untuk pemeriksaan darah lengkap

 

Prognosis

dubia, bila tidak sampai mengancam jiwa, namun ad fungsionam dan sanationam umumnya dubia ad malam.

6.      Bagan Alir

Objective

 

Assessment

 

 
Oval: Plan
Oval: Subjective

 

 

 

 

 

 

 

 

 


7.      Unit Terkait

Pemeriksaan Umum, R.Tindakan, KIA-KB-Imunisasi

8.      Rekaman Historis Perubahan

No

Yang diubah

Isi Perubahan

Tanggal mulai diberlakukan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4/4

 

 

 

 

 

 

 

 

No comments:

Post a Comment

Popular Posts