|
|
PERDARAHAN SALURAN CERNA
BAGIAN ATAS |
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
SOP |
No. Dokumen : SOP/VII/ UKP/ /16 |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
No. Revisi : - |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Tanggal Terbit : 4
April 2016 |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Halaman : 1/4 |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Puskesmas . |
|
. |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
1.
Pengertian |
Tingkat Kemampuan 3B Manifestasi perdarahan saluran cerna bervariasi mulai
dengan perdarahan masif yang mengancam jiwa hingga perdarahan samar yang
tidak dirasakan. Hematemesis menunjukkan perdarahan dari saluran cerna bagian
atas, proksimal dari ligamentum Treitz. Melena biasanya akibat perdarahan
saluran cerna bagian atas, meskipun demikian perdarahan dari usus halus atau
kolon bagian kanan, juga dapat menimbulkan melena. |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
2.
Tujuan |
Semua pasien yang datang ke Puskesmas Banyumas
mendapatkan pelayanan yang sesuai dengan prosedur |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
3.
Kebijakan |
Keputusan Kepala Puskesmas Banyumas Nomor
068/C.VII/01/16/006 tentang kebijakan pelayanan klinis Puskesmas Banyumas |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
4.
Referensi |
Keputusan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor HK.02.02/MENKES/514/2015 Tentang Panduan Praktik
Klinis Bagi Dokter Di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
5.
Prosedur |
Anamnesis (Subjective) Pasien dapat datang dengan keluhan muntah darah berwarna hitam
seperti bubuk kopi (hematemesis) atau buang air besar berwarna hitam seperti
ter atau aspal (melena). Gejala klinis lainya sesuai dengan komorbid, seperti penyakit
hati kronis, penyakit paru, penyakit jantung, penyakit ginjal dsb. Pada anamnesis yang perlu ditanyakan adalah riwayat penyakit
hati kronis, riwayat dispepsia, riwayat mengkonsumsi NSAID, obat rematik,
alkohol, jamu- jamuan, obat untuk penyakit jantung, obat stroke, riwayat
penyakit ginjal, riwayat penyakit paru dan adanya perdarahan ditempat
lainnya. Riwayat muntah-muntah
sebelum terjadinya hematemesis sangat mendukung kemungkinan adanya sindroma
Mallory Weiss. Faktor Risiko Konsumsi obat-obat NSAID Faktor Predisposisi Riwayat sirosis
hepatis Pemeriksaan Fisik dan
Penunjang Sederhana (Objective) Pemeriksaan Fisik 1. Penilaian hemodinamik (keadaan sirkulasi) 2. Evaluasi jumlah perdarahan. 3. Pemeriksaan fisik lainnyayaitu mencari stigmata penyakit hati
kronis (ikterus, spider nevi, asites, splenomegali, eritema palmaris, edema
tungkai), massa abdomen, nyeri abdomen, rangsangan peritoneum, penyakit paru,
penyakit jantung, penyakit rematik dll. 4. Rectal toucher 5. Dalam prosedur diagnosis ini penting melihat aspirat dari Naso
Gastric Tube (NGT). Aspirat berwarna putih keruh menandakan perdarahan
tidak aktif, aspirat berwarna merah marun menandakan perdarahan masif sangat
mungkin perdarahan arteri. Pemeriksaan Penunjang di puskesmas adalah laboratorium darah lengkap Penegakan diagnostik (Assessment) Diagnosis Klinis Diagnosis ditegakkan berdasar anamnesis, pemeriksaan fisik dan
penunjang. Diagnosis Banding Hemoptisis, Hematokezia Komplikasi
2/4 Penatalaksanaan komprehensif (Plan) Penatalaksanaan 1. Stabilkan hemodinamik. 1.1. Pemasangan IV line 1.2. Oksigen sungkup/kanula 1.3. Mencatat intake output, harus dipasang kateter urin 1.4. Memonitor tekanan darah, nadi, dan keadaan lainnya sesuai dengan
komorbid yang ada. 2. Pemasangan NGT (nasogatric tube) 3. Tirah baring 4. Puasa/diet hati/lambung 4.1. Injeksi antagonis reseptor H2 atau penghambat pompa proton (PPI)
4.2. Sitoprotektor: sukralfat 3-4 x1 gram 4.3. Antasida 4.4. Injeksi vitamin K untuk pasien dengan penyakit hati kronis Rencana Tindak Lanjut perlu dilakukan asesmen yang lebih akurat untuk memprediksi
perdarahan ulang dan mortalitas. Konseling dan Edukasi Keluarga ikut mendukung untuk menjaga diet dan pengobatan
pasien. Kriteria Rujukan 1. Terhadap pasien yang diduga kuat karena ruptura varises
esophagus di rujuk ke pelayanan kesehatan sekunder 2. Bila perdarahan tidak berhenti dengan penanganan awal di
puskesmas 3. Bila terjadi anemia berat Peralatan 1. Kanula satu sungkup oksigen 2. Naso Gastric Tube (NGT)
3/4 4. Laboratorium untuk pemeriksaan darah lengkap Prognosis dubia, bila tidak
sampai mengancam jiwa, namun ad fungsionam dan sanationam umumnya
dubia ad malam. |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
6.
Bagan Alir |
Objective Assessment |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
7.
Unit Terkait |
Pemeriksaan Umum, R.Tindakan, KIA-KB-Imunisasi |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
8.
Rekaman Historis Perubahan |
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
4/4

No comments:
Post a Comment