MOHON MAAF APABILA SUSUNANYA ADA YANG BERANTAKAN , KARENA HASIL COPY PASTE DARI FILE WORD/EXEL KE POSTINGAN BLOG

Thursday, March 12, 2026

SOP DERMATOFITOSIS

 

 

DERMATOFITOSIS

PUSKESMAS.jpg

 

SOP

 

 

No. Dokumen :

No. Revisi       :

Tanggal Terbit:

Halaman         :

Puskesmas

 


 

 

 

 

 

Nama Kepala Puskesmas

 


PENGERTIAN

Dermatofitosis adalah infeksi jamur dermatofita yang memiliki sifat  mencernakan keratin di  jaringan yang mengandung zat tanduk, misalnya stratum korneum pada epidermis, rambut, dan kuku.

Penularan terjadi melalui kontak langsung dengan agen penyebab. Sumber penularan dapat berasal dari manusia (jamur antropofilik), binatang (jamur zoofilik) atau dari tanah (jamur geofilik).

Klasifikasi  dermatofitosis

1. Tinea kapitis, dermatofitosis pada kulit dan rambut kepala. 

2. Tinea barbae, dermatofitosis pada dagu dan jenggot.

3. Tinea kruris, pada daerah genitokrural, sekitar anus, bokong,

    dan perut bagian bawah.

4. Tinea pedis et manum, pada kaki dan tangan.

5.  Tinea unguium, pada kuku jari tangan dan kaki.

6.  Tinea korporis, pada bagian lain yang tidak termasuk bentuk

     5 tinea di atas. Bila terjadi di seluruh tubuh disebut dengan

     tinea imbrikata.

Faktor Risiko

1.  Lingkungan yang lembab dan panas

2.  Imunodefisiensi

3.  Obesitas

4.  Diabetes Melitus

TUJUAN

Memberikan tata laksana yang tepat pada pasien dermatofitosis.

 

KEBIJAKAN

 

REFERENSI

1. Djuanda, A., Hamzah, M., Aisah, S. 2013. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi keenam. Jakarta. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 

2. James, W.D., Berger, T.G., Elston, D.M. 2000. Andrew’s Diseases of the Skin: Clinical Dermatology. 10th Ed. Canada. Saunders Elsevier. 

3.Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin.2011. Pedoman Pelayanan Medik. Jakarta.

PROSEDUR

 Anamnesis (Subjective)

Keluhan 

Pada sebagian besar pasien datang dengan bercak  merah bersisik yang gatal. Adanya riwayat kontak dengan orang yang mengalami dermatofitosis.

Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)

Pemeriksaan Fisik

Gambaran umum:

Lesi  berbentuk infiltrat eritematosa, berbatas tegas, dengan bagian tepi yang lebih aktif daripada bagian tengah, dan konfigurasi polisiklik.

Lesi dapat dijumpai di daerah kulit berambut terminal, berambut velus (glabrosa) dan kuku. 

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan mikroskopis dengan KOH, akan ditemukan hifa panjang dan artrospora. 

Diagnosis (Assessment)

Dermatofitosis

 

 

 

Diagnosis Banding

Tinea Korporis:

Dermatitis  numularis,  Pytiriasis rosea, Erythema annulare centrificum, Granuloma annulare

Tinea Kruris:

Kandidiasis, Dermatitis intertrigo, Eritrasma

Tinea Pedis:

Hiperhidrosis, Dermatitis kontak, Dyshidrotic eczema

Tinea Manum:

Dermatitis kontak iritan, Psoriasis

Tinea Fasialis:

Dermatitis seboroik, Dermatitis kontak

Komplikasi

Jarang ditemukan, dapat berupa infeksi bakterial sekunder.

 Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan

1.  Higiene diri harus terjaga, dan pemakaian handuk/pakaian secara bersamaan harus dihindari.

2.  Untuk lesi terbatas, diberikan pengobatan topikal, yaitu dengan:

antifungal topikal seperti krim klotrimazol, mikonazol, atau  terbinafin yang diberikan hingga lesi hilang dan dilanjutkan 1-2 minggu kemudian untuk mencegah rekurensi.

3.  Untuk penyakit yang tersebar luas atau resisten terhadap terapi topikal, dilakukan pengobatan sistemik dengan: 

a. Griseofulvin dapat diberikan dengan dosis 0,5-1 g  per hari

untuk orang dewasa dan 0,25    0,5 g  per hari  untuk anak-

anak atau 10-25 mg/kgBB/hari, terbagi dalam 2 dosis.

b.  Golongan azol, seperti Ketokonazol: 200 mg/hari;

 Itrakonazol:100 mg/hari atau Terbinafin: 250 mg/hari Pengobatan diberikan selama 10-14 hari pada pagi hari setelah

makan. 

Konseling dan Edukasi

·       Edukasi mengenai penyebab dan cara penularan penyakit.

·       Edukasi pasien dan keluarga  juga  untuk menjaga higiene  tubuh, namun penyakit ini bukan merupakan penyakit yang berbahaya.

Kriteria rujukan 

Pasien dirujuk apabila:

1.  Penyakit tidak sembuh dalam 10-14 hari setelah terapi.

2.  Terdapat imunodefisiensi. 

3.  Terdapat penyakit penyerta yang menggunakan multifarmaka.

Prognosis

Pasien dengan imunokompeten, prognosis umumnya  bonam, sedangkan pasien dengan imunokompromais, quo ad sanationamnya menjadi dubia ad bonam.

UNIT TERKAIT

Ruang pengobatan umum

 

 

 

 

No comments:

Post a Comment