MOHON MAAF APABILA SUSUNANYA ADA YANG BERANTAKAN , KARENA HASIL COPY PASTE DARI FILE WORD/EXEL KE POSTINGAN BLOG

Thursday, March 12, 2026

SOP STROKE

 


STROKE


SOP

No. Dokumen  : SOP/VII/

                          UKP/     /16

No. Revisi        : -

Tanggal Terbit : 4 April 2016

Halaman          : 1/5

Puskesmas

.....

 

KAPUS

1.      Pengertian

No. ICPC-2 : K90 Stroke/cerebrovascular accident

No. ICD-10 : I63.9 Cerebral infarction, unspecified

Tingkat Kemampuan 3B

Masalah Kesehatan

Stroke adalah defisit neurologis fokal (atau global) yang terjadi mendadak, berlangsung lebih dari 24 jam dan disebabkan oleh faktor vaskuler. Secara global, saat ini stroke merupakan salah satu penyebab kematian utama, dan penyebab utama kecacatan pada orang dewasa. Dari laporan Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) Departemen Kesehatan Republik Indonesia tahun 2007, stroke merupakan penyebab kematian utama di Indonesia

2.      Tujuan

Semua pasien yang datang ke Puskesmas Banyumas mendapatkan pelayanan yang sesuai dengan prosedur

3.      Kebijakan

Keputusan Kepala Puskesmas Banyumas Nomor 068/C.VII/01/16/006 tentang kebijakan pelayanan klinis Puskesmas Banyumas

4.      Referensi

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/MENKES/514/2015 Tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter Di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama

5.      Prosedur

Petugas Melakukan Anamnesa (Subjective)

Keluhan

Gejala awal serangan stroke terjadi mendadak (tiba-tiba), yang sering dijumpai adalah

1.    Kelemahan atau kelumpuhan salah satu sisi wajah, lengan, dan tungkai (hemiparesis, hemiplegi)

2.    Gangguan sensorik pada salah satu sisi wajah, lengan, dan tungkai (hemihipestesi, hemianesthesi)

3.    Gangguan bicara (disartria)

4.    Gangguan berbahasa (afasia)

5.    Gejala neurologik lainnya seperti jalan sempoyongan (ataksia), rasa berputar (vertigo), kesulitan menelan (disfagia), melihat ganda (diplopia), penyempitan lapang penglihatan (hemianopsia, kwadran-anopsia)

 

Catatan:

Kebanyakan penderita stroke mengalami lebih dari satu macam gejala diatas. Pada beberapa penderita dapat pula dijumpai nyeri kepala, mual, muntah, penurunan kesadaran, dan kejang pada saat terjadi serangan stroke.

 

Untuk memudahkan pengenalan gejala stroke bagi masyarakat awam, digunakan istilah FAST (Facial movement, Arm Movement, Speech, Time: acute onset). Maksudnya, bila seseorang mengalami kelemahan otot wajah dan anggota gerak satu sisi, serta gangguan bicara, yang terjadi mendadak, patut diduga mengalami serangan stroke. pada stroke diperlukan anamnesis yang teliti tentang faktor risiko

 

Petugas Melakukan Pemeriksaan Fisik dan Pemeriksaan Penunjang Sederhana (Objective)

1. Pemeriksaan tanda vital: pernapasan, nadi, suhu, tekanan darah harus diukur kanan dan kiri

2. Pemeriksaaan jantung paru

3. Pemeriksaan bruit karotis dan subklavia

4. Pemeriksaan abdomen

5. Pemeriksaan ekstremitas

6. Pemeriksaan neurologis

a. Kesadaran: tingkat kesadaran diukur dengan menggunakan Glassgow Coma Scale (GCS)

b. Tanda rangsang meningeal: kaku kuduk, tanda Laseque, Kernig, dan Brudzinski

c. Saraf kranialis: terutama Nn. VII, XII, IX/X, dan saraf kranialis lainnya

d. Motorik: kekuatan, tonus, refleks fisiologis, refleks patologis

e. Sensorik

2/5

 
f. Tanda serebelar: dismetria, disdiadokokinesia, ataksi, nistagmus

g. Pemeriksaan fungsi luhur, terutama fungsi kognitif (bahasa, memori dll)

h. Pada pasien dengan kesadaran menurun, perlu dilakukan pemeriksaan refleks batang otak:

·       Pola pernafasan: Cheyne-Stokes, hiperventilasi neurogenik sentral, apneustik, ataksik

·       Refleks cahaya (pupil)

·       Refleks kornea

·       Refleks muntah

·       Refleks okulo-sefalik (doll’s eyes phenomenon)

Pemeriksaan Penunjang: Gula darah Sewaktu

 

3.  Petugas Melakukan Penegakan Diagnosa (Assessment)

Diagnosis klinis

Diagnosis awal ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik.

Klasifikasi

Stroke dibedakan menjadi:

1.    Stroke hemoragik biasanya disertai dengan sakit kepala hebat, muntah, penurunan kesadaran, tekanan darah tinggi.

2.    Stroke iskemik biasanya tidak disertai dengan sakit kepala hebat, muntah, penurunan kesadaran dan tekanan darah tidak tinggi.

 

Diagnosis Banding

Membedakan stroke iskemik dan stroke hemoragik sangat penting untuk penatalaksanaan pasien.

Komplikasi

3/5

 
Komplikasi stroke yang harus diwaspadai karena dapat mengakibatkan kematian dan kecacatan adalah komplikasi medis, antara lain komplikasi pada jantung, paru (pneumonia), perdarahan saluran cerna, infeksi saluran kemih, dekubitus, trombosis vena dalam, dan sepsis. Sedangkan komplikasi neurologis terutama adalah edema otak dan peningkatan tekanan intrakranial, kejang, serta transformasi perdarahan pada infark.

 

 Petugas Melakukan Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Pertolongan pertama pada pasien stroke akut.

1. Menilai jalan nafas, pernafasan, dan sirkulasi

2. Menjaga jalan nafas agar tetap adekuat

3. Memberikan oksigen bila diperlukan

4. Memposisikan badan dan kepala lebih tinggi (head-and-trunk up) 20-30 derajat

5. Memantau irama jantung

6. Memasang cairan infus salin normal atau ringer laktat (500 ml/12 jam)

7. Mengukur kadar gula darah (finger stick)

8. Memberikan Dekstrose 50% 25 gram intravena (bila hipoglikemia berat)

9. Menilai perkembangan gejala stroke selama perjalanan ke rumah sakit layanan sekunder

10. Menenangkan penderita

 

Rencana Tindak Lanjut

1. Memodifikasi gaya hidup sehat

a. Memberi nasehat untuk tidak merokok atau menghindari lingkungan perokok

b. Menghentikan atau mengurangi konsumsi alkohol

c. Mengurangi berat badan pada penderita stroke yang obes

d. Melakukan aktivitas fisik sedang pada pasien stroke iskemik atau TIA. Intensitas sedang dapat didefinisikan sebagai aktivitas fisik yang cukup berarti hingga berkeringat atau meningkatkan denyut jantung 1-3 kali perminggu.

2. Mengontrol faktor risiko

a. Tekanan darah

b. Gula darah pada pasien DM

c. Kolesterol

d. Trigliserida

e. Jantung

4/5

 
3. Pada pasien stroke iskemik diberikan obat-obat antiplatelet: asetosal, klopidogrel

 

Konseling dan Edukasi

1. Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarganya agar tidak terjadi kekambuhan atau serangan stroke ulang

2. Jika terjadi serangan stroke ulang, harus segera mendapat pertolongan segera

3. Mengawasi agar pasien teratur minum obat.

4. Membantu pasien menghindari faktor risiko.

 

Kriteria Rujukan

Semua pasien stroke setelah ditegakkan diagnosis secara klinis dan diberikan penanganan awal, segera mungkin harus dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan sekunder yang memiliki dokter spesialis saraf, terkait dengan angka kecacatan dan kematian yang tinggi. Dalam hal ini, perhatian terhadap therapeutic window untuk penatalaksanaan stroke akut sangat diutamakan.

 

6.      Unit Terkait

Pemeriksaan Umum, R.Tindakan, KIA-KB-Imunisasi, R. Persalinan

7.      Rekaman Historis Perubahan

No

Yang diubah

Isi Perubahan

Tanggal mulai diberlakukan

 

 

 

 

 

No comments:

Post a Comment