MOHON MAAF APABILA SUSUNANYA ADA YANG BERANTAKAN , KARENA HASIL COPY PASTE DARI FILE WORD/EXEL KE POSTINGAN BLOG

Thursday, March 12, 2026

SOP APENDISITIS AKUT

 

APENDISITIS AKUT

SOP

No. Dokumen :

No. Revisi       :

Tanggal Terbit:

Halaman         :


PUSKESMAS I ...............

 

 

 

..............

1. Pengertian

No. ICPC-2 : S87 (Appendicitis)

No. ICD-10 : K.35.9 (Acute appendicitis)

Tingkat Kemampuan 3B

 

Apendisitis akut adalah radang yang timbul secara mendadak pada apendik, merupakan salahsatu kasus akut abdomen yang paling sering ditemui, dan jika tidak ditangani segera dapat menyebabkan perforasi.

 

Penyebab:

1. Obstruksi lumen merupakan faktor penyebab dominan apendisitis akut

2. Erosi mukosa usus karena parasit Entamoeba hystolitica dan benda asing lainnya

2. Tujuan

Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk penatalaksanaan Apendisitis akut

3. Kebijakan

SK Nomor : ……………. Tentang

4. Referensi

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

NOMOR HK.02.02/MENKES/514/2015 TENTANG PANDUAN PRAKTIK KLINIS BAGI DOKTER DI FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN TINGKAT PERTAMA

5. Prosedur

Hasil Anamnesis (Subjective)

Keluhan

·       Nyeri perut kanan bawah, mula-mula daerah epigastrium kemudian menjalar ke Mc Burney. Apa bila telah terjadi inflamasi (>6 jam) penderita dapat menunjukkan letak nyeri karena bersifat somatik.

 

Gejala Klinis

1. Muntah (rangsangan viseral) akibat aktivasi nervus vagus.

2. Anoreksia, nausea dan vomitus yang timbul beberapa jam sesudahnya, merupakan kelanjutan dari rasa nyeri yang timbul saat permulaan.

3. Disuria juga timbul apabila peradangan apendiks dekat dengan vesika urinaria.

4. Obstipasi sebelum datangnya rasa nyeri dan beberapa penderita mengalami diare, timbul biasanya pada letak apendiks pelvikal yang merangsang daerah rektum.

5. Gejala lain adalah demam yang tidak terlalu tinggi, yaitu suhu antara 37,50C - 38,50C tetapi bila suhu lebih tinggi, diduga telah terjadi perforasi.

6. Variasi lokasi anatomi apendiks akan menjelaskan keluhan nyeri somatik yang beragam. Sebagai contoh apendiks yang panjang dengan ujung yang mengalami inflamasi di kuadran kiri bawah akan menyebabkan nyeri di daerah tersebut, apendiks retrosekal akan menyebabkan nyeri flank atau punggung, apendiks pelvikal akan menyebabkan nyeri pada supra pubik dan apendiks retroileal bisa menyebabkan nyeri testikuler, mungkin karena iritasi pada arteri spermatika dan ureter.

 

Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)

·       Pemeriksaan Fisik

1. Inspeksi

a. Penderita berjalan membungkuk sambil memegangi perutnya yang sakit

b. Kembung bila terjadi perforasi

c. Penonjolan perut kanan bawah terlihat pada appendikuler abses

 

2. Palpasi

Terdapat nyeri tekan McBurney

a.    Adanya rebound tenderness (nyeri lepas tekan)

b.    Adanya defans muscular

c.     Rovsing sign positif

d.    Psoas signpositif

e.    Obturator Signpositif

 

3. Perkusi

·       Nyeri ketok (+)

 

4. Auskultasi

·       Peristaltik normal, peristaltik tidak ada pada illeus paralitik karena peritonitis generalisata akibat appendisitis perforate

 

5. Colok dubur

·       Nyeri tekan pada jam 9-12

 

Tanda Peritonitis umum (perforasi) :

1. Nyeri seluruh abdomen

2. Pekak hati hilang

3. Bising usus hilang

 

Apendiks yang mengalami gangren atau perforasi lebih sering terjadi dengan gejala-gejala sebagai berikut:

1. Gejala progresif dengan durasi lebih dari 36 jam

2. Demam tinggi lebih dari 38,5oC

3. Lekositosis (AL lebih dari 14.000)

4. Dehidrasi dan asidosis

5. Distensi

6. Menghilangnya bising usus

7. Nyeri tekan kuadran kanan bawah

8. Rebound tenderness sign

9. Rovsing sign

10. Nyeri tekan seluruh lapangan abdominal

 

Pemeriksaan Penunjang

1. Laboratorium darah perifer lengkap

a. Pada apendisitis akut, 70-90% hasil laboratorium nilai leukosit dan neutrofil akan meningkat.

b. Pada anak ditemuka lekositosis 11.000-14.000/mm3, dengan pemeriksaan hitung jenis menunjukkan pergeseran ke kiri hampir 75%.

c. Jika jumlah lekosit lebih dari 18.000/mm3 maka umumnya sudah terjadi perforasi dan peritonitis.

d. Pemeriksaan urinalisa dapat digunakan sebagai konfirmasi dan menyingkirkan kelainan urologi yang menyebabkan nyeri abdomen.

e. Pengukuran kadar HCG bila dicurigai kehamilan ektopik pada wanita usia subur.

 

2. Foto polos abdomen

a. Pada apendisitis akut, pemeriksaan foto polos abdomen tidak banyak membantu..

b. Pada peradangan lebih luas dan membentuk infiltrat maka usus pada bagian kanan bawah akan kolaps.

c. Dinding usus edematosa, keadaan seperti ini akan tampak pada daerah kanan bawah abdomen kosong dari udara.

d. Gambaran udara seakan-akan terdorong ke pihak lain.

e. Proses peradangan pada fossa iliaka kanan akan menyebabkan kontraksi otot sehingga timbul skoliosis ke kanan.

f. Bila sudah terjadi perforasi, maka pada foto abdomen tegak akan tampak udara bebas di bawah diafragma.

g. Foto polos abdomen supine pada abses appendik kadang-kadang memberi pola bercak udara dan air fluid level pada posisi berdiri/LLD (dekubitus), kalsifikasi bercak rim-like (melingkar) sekitar perifer mukokel yang asalnya dari appendik.

 

Penegakan Diagnostik (Assessment)

·       Diagnosis Klinis

Riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik masih merupakan dasar diagnosis apendisitis akut.

 

·       Diagnosis Banding

1. Kolesistitis akut

2. Divertikel Mackelli

3. Enteritis regional

4. Pankreatitis

5. Batu ureter

6. Cystitis

7. Kehamilan Ektopik Terganggu (KET)

8. Salpingitis akut

 

Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Pasien yang telah terdiagnosis apendisitis akut harus segera dirujuk ke layanan sekunder untuk dilakukan operasi cito.

 

·       Penatalaksanaan di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama sebelum dirujuk:

1. Bed rest total posisi fowler (anti Trandelenburg)

2. Pasien dengan dugaan apendisitis sebaiknya tidak diberikan apapun melalui mulut.

3. Penderita perlu cairan intravena untuk mengoreksi jika ada dehidrasi.

4. Pipa nasogastrik dipasang untuk mengosongkan lambung agar mengurangi distensi abdomen dan mencegah muntah.

 

·       Komplikasi

1. Perforasi apendiks

2. Peritonitis umum

3. Sepsis

 

·       Kriteria Rujukan

Pasien yang telah terdiagnosis harus dirujuk ke layanan sekunder untuk dilakukan operasi cito.

 

Peralatan

·       Labotorium untuk pemeriksaan darah perifer lengkap

 

Prognosis

·       Prognosis pada umumnya bonam tetapi bergantung tatalaksana dan kondisi pasien

6. Diagram Alur

-

7. Unit terkait

Balai Pengobatan

 

 

8.Rekaman Historis Perubahan

 

No

Yang diubah

Isi Perubahan

Tanggal mulai diberlakukan

 

 

 

 

 

 


No comments:

Post a Comment