|
|
APENDISITIS
AKUT |
|
|
|
SOP |
No. Dokumen : |
||
|
No. Revisi : |
|||
|
Tanggal Terbit: |
|||
|
Halaman : |
|||
|
PUSKESMAS I ............... |
|
.............. |
||||||||
|
1. Pengertian |
No. ICPC-2 : S87 (Appendicitis) No. ICD-10 : K.35.9 (Acute appendicitis) Tingkat Kemampuan 3B Apendisitis akut adalah
radang yang timbul secara mendadak pada apendik, merupakan salahsatu kasus
akut abdomen yang paling sering ditemui, dan jika tidak ditangani segera
dapat menyebabkan perforasi. Penyebab: 1. Obstruksi lumen merupakan faktor penyebab dominan
apendisitis akut 2.
Erosi mukosa usus karena parasit Entamoeba hystolitica dan benda asing
lainnya |
|||||||||
|
2. Tujuan |
Sebagai acuan penerapan
langkah-langkah untuk penatalaksanaan Apendisitis akut |
|||||||||
|
3. Kebijakan |
SK Nomor : ……………. Tentang |
|||||||||
|
4. Referensi |
KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN
REPUBLIK INDONESIA NOMOR
HK.02.02/MENKES/514/2015 TENTANG
PANDUAN PRAKTIK KLINIS BAGI DOKTER DI FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN TINGKAT
PERTAMA |
|||||||||
|
5. Prosedur |
Hasil Anamnesis (Subjective) Keluhan · Nyeri perut kanan bawah,
mula-mula daerah epigastrium kemudian menjalar ke Mc Burney.
Apa bila telah terjadi inflamasi (>6 jam) penderita dapat menunjukkan
letak nyeri karena bersifat somatik. Gejala Klinis 1. Muntah
(rangsangan viseral) akibat aktivasi nervus vagus. 2.
Anoreksia, nausea dan vomitus yang timbul beberapa jam sesudahnya, merupakan
kelanjutan dari rasa nyeri yang timbul saat permulaan. 3.
Disuria juga timbul apabila peradangan apendiks dekat dengan vesika urinaria.
4.
Obstipasi sebelum datangnya rasa nyeri dan beberapa penderita mengalami
diare, timbul biasanya pada letak apendiks pelvikal yang merangsang daerah
rektum. 5.
Gejala lain adalah demam yang tidak terlalu tinggi, yaitu suhu antara 37,50C
- 38,50C tetapi bila suhu lebih tinggi, diduga telah terjadi perforasi. 6.
Variasi lokasi anatomi apendiks akan menjelaskan keluhan nyeri somatik yang
beragam. Sebagai contoh apendiks yang panjang dengan ujung yang mengalami
inflamasi di kuadran kiri bawah akan menyebabkan nyeri di daerah tersebut,
apendiks retrosekal akan menyebabkan nyeri flank atau punggung, apendiks
pelvikal akan menyebabkan nyeri pada supra pubik dan apendiks retroileal bisa
menyebabkan nyeri testikuler, mungkin karena iritasi pada arteri spermatika
dan ureter. Hasil Pemeriksaan Fisik dan
Penunjang Sederhana (Objective) · Pemeriksaan Fisik 1. Inspeksi a.
Penderita berjalan membungkuk sambil memegangi perutnya yang sakit b. Kembung bila
terjadi perforasi c.
Penonjolan perut kanan bawah terlihat pada appendikuler abses 2. Palpasi Terdapat nyeri
tekan McBurney a.
Adanya
rebound tenderness (nyeri lepas tekan) b.
Adanya
defans muscular c.
Rovsing
sign positif
d.
Psoas
signpositif
e.
Obturator
Signpositif
3. Perkusi · Nyeri ketok (+) 4. Auskultasi · Peristaltik normal,
peristaltik tidak ada pada illeus paralitik karena peritonitis generalisata
akibat appendisitis perforate 5. Colok dubur · Nyeri tekan pada jam 9-12 Tanda Peritonitis umum
(perforasi) : 1. Nyeri
seluruh abdomen 2. Pekak hati
hilang 3. Bising usus
hilang Apendiks yang mengalami
gangren atau perforasi lebih sering terjadi dengan gejala-gejala sebagai
berikut: 1. Gejala
progresif dengan durasi lebih dari 36 jam 2. Demam tinggi
lebih dari 38,5oC 3. Lekositosis
(AL lebih dari 14.000) 4. Dehidrasi
dan asidosis 5. Distensi 6.
Menghilangnya bising usus 7. Nyeri tekan
kuadran kanan bawah 8. Rebound
tenderness sign 9. Rovsing
sign 10. Nyeri tekan
seluruh lapangan abdominal Pemeriksaan Penunjang 1. Laboratorium
darah perifer lengkap a.
Pada apendisitis akut, 70-90% hasil laboratorium nilai leukosit dan neutrofil
akan meningkat. b.
Pada anak ditemuka lekositosis 11.000-14.000/mm3, dengan pemeriksaan hitung
jenis menunjukkan pergeseran ke kiri hampir 75%. c.
Jika jumlah lekosit lebih dari 18.000/mm3 maka umumnya sudah terjadi
perforasi dan peritonitis. d.
Pemeriksaan urinalisa dapat digunakan sebagai konfirmasi dan menyingkirkan
kelainan urologi yang menyebabkan nyeri abdomen. e.
Pengukuran kadar HCG bila dicurigai kehamilan ektopik pada wanita usia subur.
2. Foto polos
abdomen a.
Pada apendisitis akut, pemeriksaan foto polos abdomen tidak banyak membantu..
b.
Pada peradangan lebih luas dan membentuk infiltrat maka usus pada bagian
kanan bawah akan kolaps. c.
Dinding usus edematosa, keadaan seperti ini akan tampak pada daerah kanan
bawah abdomen kosong dari udara. d. Gambaran
udara seakan-akan terdorong ke pihak lain. e.
Proses peradangan pada fossa iliaka kanan akan menyebabkan kontraksi otot
sehingga timbul skoliosis ke kanan. f.
Bila sudah terjadi perforasi, maka pada foto abdomen tegak akan tampak udara
bebas di bawah diafragma. g.
Foto polos abdomen supine pada abses appendik kadang-kadang memberi pola
bercak udara dan air fluid level pada posisi berdiri/LLD (dekubitus),
kalsifikasi bercak rim-like (melingkar) sekitar perifer mukokel yang asalnya
dari appendik. Penegakan Diagnostik (Assessment)
· Diagnosis Klinis Riwayat
penyakit dan pemeriksaan fisik masih merupakan dasar diagnosis apendisitis
akut. · Diagnosis Banding 1. Kolesistitis
akut 2. Divertikel
Mackelli 3. Enteritis
regional 4. Pankreatitis
5. Batu ureter 6. Cystitis 7. Kehamilan
Ektopik Terganggu (KET) 8. Salpingitis
akut Penatalaksanaan Komprehensif
(Plan) Pasien yang telah
terdiagnosis apendisitis akut harus segera dirujuk ke layanan sekunder untuk
dilakukan operasi cito. · Penatalaksanaan di
fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama sebelum dirujuk: 1. Bed rest total
posisi fowler (anti Trandelenburg) 2.
Pasien dengan dugaan apendisitis sebaiknya tidak diberikan apapun melalui
mulut. 3.
Penderita perlu cairan intravena untuk mengoreksi jika ada dehidrasi. 4.
Pipa nasogastrik dipasang untuk mengosongkan lambung agar mengurangi distensi
abdomen dan mencegah muntah. · Komplikasi 1. Perforasi
apendiks 2. Peritonitis
umum 3. Sepsis · Kriteria Rujukan Pasien yang
telah terdiagnosis harus dirujuk ke layanan sekunder untuk dilakukan operasi
cito. Peralatan · Labotorium untuk
pemeriksaan darah perifer lengkap Prognosis ·
Prognosis pada umumnya bonam
tetapi bergantung tatalaksana dan kondisi pasien |
|||||||||
|
6. Diagram Alur
|
- |
|||||||||
|
7. Unit terkait |
Balai Pengobatan |
|||||||||
|
8.Rekaman Historis
Perubahan |
|
|||||||||


No comments:
Post a Comment