MOHON MAAF APABILA SUSUNANYA ADA YANG BERANTAKAN , KARENA HASIL COPY PASTE DARI FILE WORD/EXEL KE POSTINGAN BLOG

Thursday, March 12, 2026

SOP DERMATITIS SEBOROIK

 

133

 

 

 

 

 

Dinkes Kab Defgh

DERMATITIS SEBOROIK

 

 

 

 

 

 

Puskesmas Abcde

 

SOP

Nomor

:

Terbit ke

: 01

No.Revisi

: 00

Tgl.Diberlakukan

: 2-01-2018

Halaman

: 1 / 2

Ditetapkan Kepala  Puskesmas Abcde

 

 

Kapus

NIP. nipkapus

 

A. Pengertian

Dermatitis seboroik (DS) merupakan istilah yang digunakan untuk segolongan kelainan kulit yang didasari oleh faktor konstitusi (predileksi di tempat-tempat kelenjar sebum). Dermatitis seboroik berhubungan erat dengan keaktifan glandula sebasea.

B. Tujuan

Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk penatalaksanaan pasien dengan dermatitis seboroik

C. Kebijakan

SK Kepala UPTD Puskesmas Abcde Nomor ... tentang Kebijakan Pelayanan Klinis UPTD Puskesmas Abcde

D. Referensi

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/Menkes/514/2015 tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama

E. Prosedur

Hasil Anamnesis (Subjective)

 

Keluhan

Pasien datang dengan keluhan munculnya bercak merah dan kulit kasar. Kelainan awal hanya berupa ketombe ringan pada kulit kepala (pitiriasis sika) sampai keluhan lanjut berupa keropeng yang berbau tidak sedap dan terasa gatal.

 

Faktor Risiko

Genetik, faktor kelelahan, stres emosional , infeksi, defisiensi imun, jenis kelamin pria lebih sering daripada wanita, usia bayi bulan 1 dan usia 18-40 tahun, kurang tidur

 

 

Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)

 

Pemeriksaan Fisik

Tanda patognomonis

1.  Papul sampai plak eritema

2.  Skuama berminyak agak kekuningan

3.  Berbatas tidak tegas

 

Lokasi predileksi

Kulit kepala, glabela, belakang telinga, belakang leher, alis mata, kelopak mata, liang telinga luar, lipat naso labial, sternal, areola mammae, lipatan bawah mammae pada wanita, interskapular, umbilikus, lipat paha, daerah angogenital

 

Bentuk klinis lain

Lesi berat: seluruh kepala tertutup oleh krusta, kotor, dan berbau

(cradle cap).

 

Pemeriksaan Penunjang

Pada umumnya tidak diperlukan pemeriksaan penunjang.

 

Penegakan Diagnostik (Assessment)

 

Diagnosis Klinis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Diagnosis Banding

Psoriasis (skuamanya berlapis-lapis, tanda Auspitz, skuama tebal seperti mika), Kandidosis (pada lipat paha dan perineal, eritema bewarna merah cerah berbatas tegas dengan lesi satelit disekitarnya), Otomikosis, Otitis eksterna.

 

Komplikasi

Pada anak, lesi bisa meluas menjadi penyakit Leiner atau eritroderma.

 

Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

 

Penatalaksanaan

1. Pasien  diminta  untuk  memperhatikan  faktor  predisposisi terjadinya keluhan, misalnya stres emosional dan kurang tidur. Diet juga disarankan untuk mengkonsumsi makanan rendah lemak.

2.  Farmakoterapi dilakukan dengan:

a.  Topikal

Bayi:

   Pada lesi di kulit kepala bayi diberikan asam salisilat 3%

dalam minyak kelapa atau vehikulum yang larut air atau kompres  minyak  kelapa  hangat  1  kali  sehari  selama beberapa hari.

• Dilanjutkan  dengan  krim  hidrokortison  1%  atau  lotion selama beberapa hari.

• Selama pengobatan, rambut tetap dicuci.

Dewasa:

•Pada  lesi  di  kulit  kepala,  diberikan  shampo  selenium sulfida 1,8 atau shampo ketokonazol 2%, zink pirition (shampo anti ketombe), atau pemakaian preparat ter (liquor carbonis detergent) 2-5 % dalam bentuk salep dengan frekuensi 2-3 kali seminggu selama 5-15 menit per hari.

•Pada lesi di badan diberikan kortikosteroid topikal: Desonid krim 0,05% (catatan: bila tidak tersedia dapat digunakan fluosinolon asetonid krim 0,025%) selama maksimal 2 minggu.

•Pada kasus dengan manifestasi dengan inflamasi yang lebih berat diberikan kortikosteroid kuat misalnya betametason valerat krim 0,1%.

• Pada kasus dengan infeksi jamur, perlu dipertimbangkan pemberian ketokonazol krim 2%.

b.  Oral sistemik

• Antihistamin sedatif yaitu: klorfeniramin maleat 3 x 4 mg per hari selama 2 minggu,   setirizin 1 x 10 mg per hari selama 2 minggu.

• Antihistamin non sedatif yaitu: loratadin 1x10 mgselama maksimal 2 minggu.

 

Konseling dan Edukasi

1.  Memberitahukan  kepada  orang  tua  untuk  menjaga  kebersihan bayi dan rajin merawat kulit kepala bayi.

2.  Memberitahukan kepada orang tua bahwa kelainan ini umumnya munculpada  bulan-bulan  pertama  kehidupan  dan  membaik seiring dengan pertambahan usia.

3.  Memberikan  informasi  bahwa  penyakit  ini  sukar  disembuhkan tetapi dapat terkontrol dengan mengontrol emosi dan psikisnya.

 

Kriteria Rujukan

Pasien  dirujuk  apabila  tidak  ada  perbaikan  dengan  pengobatan standar.

 

Peralatan: -

 

Prognosis

Prognosis pada umumnya bonam, sembuh tanpa komplikasi.

F. Diagram Alir

Memberikan tata laksana pada pasien sesuai hasil pemeriksaan

menulis hasil anamnesa, pemeriksaan dan diagnose ke rekam medic

 

menegakan diagnose berdasarkan hasil pemeriksaan

melakukan vital sign dan pemeriksaan fisik

Melakukan anamnesis pada pasien

 

 

 


menulis diagnose pasien ke buku register.

 

 

 


G. Unit Terkait

Ruang Pemeriksaan Umum

 

G. Rekaman Historis:

No

Halaman

Yang dirubah

Perubahan

Diberlakukan Tanggal

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

No comments:

Post a Comment