|
112 Dinkes Kab Defgh |
SIFILIS
STADIUM 1 DAN 2 |
Puskesmas Abcde |
|||
|
SOP |
Nomor |
: |
|||
|
Terbit ke |
: 01 |
||||
|
No.Revisi |
: 00 |
||||
|
Tgl.Diberlakukan |
: 2-01-2018 |
||||
|
Halaman |
: 1 / 2 |
||||
|
Ditetapkan
Kepala Puskesmas Abcde |
|
Kapus NIP. nipkapus |
|||
|
A. Pengertian |
Sifilis adalah penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh Treponema
pallidum dan bersifat sistemik. Istilah lain penyakit ini adalah lues veneria
atau lues. Di Indonesia disebut dengan raja singa karena keganasannya.
Sifilis dapat menyerupai banyak penyakit dan memiliki masa laten. |
||||||
|
B. Tujuan |
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk penatalaksanaan pasien
dengan sifilis stadium 1 dan 2 |
||||||
|
C. Kebijakan |
SK Kepala UPTD Puskesmas Abcde Nomor ... tentang Kebijakan Pelayanan
Klinis UPTD Puskesmas Abcde |
||||||
|
D. Referensi |
Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/Menkes/514/2015 tentang Panduan
Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama |
||||||
|
E. Prosedur |
Hasil Anamnesis (Subjective) Keluhan Pada afek primer,
keluhan hanya berupa lesi tanpa nyeri di bagian predileksi. Pada sifilis
sekunder, gejalanya antara lain:
Pada sifilis
lanjut, gejala terutama adalah guma. Guma dapat soliter atau multipel dapat
disertai keluhan demam. Pada tulang gejala berupa nyeri pada malam hari.
Stadium III lainnya adalah sifilis kardiovaskular, berupa aneurisma aorta dan
aortitis. Kondisi ini dapat tanpa gejala atau dengan gejala seperti angina
pektoris. Neurosifilis dapat
menunjukkan gejala-gejala kelainan sistem saraf (lihat klasifikasi). Faktor Risiko:
Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective) Pemeriksaan Fisik Stadium I (sifilis
primer) Diawali dengan
papul lentikuler yang permukaannya segera erosi dan menjadi ulkus berbentuk
bulat dan soliter, dindingnya tak bergaung dan berdasarkan eritem dan bersih,
di atasnya hanya serum.Ulkus khas indolen dan teraba indurasi yang disebut
dengan ulkus durum. Ulkus durum merupakan afek primer sifilis yang akan
sembuh sendiri dalam 3-10 minggu. Tempat predileksi
Seminggu setelah
afek primer, terdapat pembesaran kelenjar getah bening (KGB) regional yang
soliter, indolen, tidak lunak, besarnya lentikular, tidak supuratif dan tidak
terdapat periadenitis di ingunalis medialis. Ulkus durum dan
pembesaran KGB disebut dengan kompleks primer. Bila sifilis tidak memiliki
afek primer, disebut sebagai syphilis d’embiee. Stadium II
(sifilis sekunder) S II terjadi
setelah 6-8 minggu sejak S I terjadi. Stadium ini merupakan great imitator.
Kelainan dapat menyerang mukosa, KGB, mata, hepar, tulang dan saraf. Kelainan
dapat berbentuk eksudatif yang sangat menular maupun kering (kurang menular).
Perbedaan dengan penyakit lainnya yaitu lesi tidak gatal dan terdapat
limfadenitis generalisata. S II terdiri dari
SII dini dan lanjut, perbedaannya adalah: S II dini terlihat lesi kulit
generalisata, simetrik dan lebih cepat hilang (beberapa hari – beberapa
minggu), sedangkan S II lanjut tampak setempat, tidak simetrik dan lebih lama
bertahan (beberapa minggu – beberapa bulan). Bentuk lesi pada S
II yaitu: 1. Roseola sifilitika: eritema makular,
berbintik-bintik, atau berbercak-bercak, warna tembaga dengan bentuk bulat
atau lonjong. Jika terbentuk di kepala, dapat menimbulkan kerontokan rambut,
bersifat difus dan tidak khas, disebut alopesia difusa. Bila S II lanjut pada
rambut, kerontokan tampak setempat, membentuk bercak-bercak yang disebut
alopesia areolaris. Lesi menghilang dalam beberapa hari/minggu, bila residif
akan berkelompok dan bertahan lebih lama. Bekas lesi akan menghilang atau
meninggalkan hipopigmentasi (leukoderma sifilitikum). 2. 2. Papul : Bentuk ini paling sering terlihat pada S
II, kadang bersama-sama dengan roseola. Papul berbentuk lentikular, likenoid,
atau folikular, serta dapat berskuama (papulo-skuamosa) seperti psoriasis
(psoriasiformis) dan dapat meninggalkan bercak leukoderma sifilitikum. Pada S II dini, papul generalisata dan S II lanjut
menjadi setempat dan tersusun secara tertentu (susunan arsinar atau sirsinar
yang disebut dengan korona venerik, susunan polikistik dan korimbiformis).
Tempat predileksi papul: sudut mulut, ketiak, di bawah mammae, dan alat
genital. 3. Bentuk papul lainnya adalah kondiloma lata berupa
papul lentikular, permukaan datar, sebagian berkonfluensi, dapat erosif dan
eksudatif yang sangat menular akibat gesekan kulit. Tempat predileksi
kondiloma lata: lipat paha, skrotum, vulva, perianal, di bawah mammae dan
antar jari kaki. 4. Pustul : Bentuk ini jarang didapati, dan sering
diikuti demam intermiten. Kelainan ini disebut sifilis variseliformis. 5. Konfluensi papul, pustul dan krusta mirip dengan
impetigo atau disebut juga sifilis impetiginosa. Kelainan dapat membentuk
berbagai ulkus yang ditutupi krusta yang disebut dengan ektima sifilitikum.
Bila krusta tebal disebut rupia sifilitikum dan bila ulkus meluas ke perifer
membentuk kulit kerang disebut sifilis ostrasea. S II pada mukosa
(enantem) terutama pada mulut dan tenggorok. S II pada kuku disebut dengan
onikia sifilitikum yaitu terdapat perubahan warna kuku menjadi putih dan
kabur, kuku rapuh disertai adanya alur transversal dan longitudinal. Bagian
distal kuku menjadi hiperkeratotik sehingga kuku terangkat. Bila terjadi
kronis, akan membentuk paronikia sifilitikum. S II pada alat
lain yaitu pembesaran KGB, uveitis anterior dan koroidoretinitis pada mata,
hepatitis pada hepar, periostitis atau kerusakan korteks pada tulang, atau
sistem saraf (neurosifilis). Sifilis laten dini tidak ada gejala, sedangkan
stadium rekurens terjadi kelainan mirip S II. Sifilis laten lanjut biasanya
tidak menular, lamanya masa laten adalah beberapa tahun bahkan hingga seusia
hidup. Stadium III
(sifilis tersier) Lesi pertama
antara 3 – 10 tahun setelah S I. Bentuk lesi khas yaitu guma.Guma adalah
infiltrat sirkumskrip kronis, biasanya lunak dan destruktif, besarnya
lentikular hingga sebesar telur ayam. Awal lesi tidak menunjukkan tanda
radang akut dan dapat digerakkan, setelah beberapa bulan menjadi melunak
mulai dari tengah dan tanda-tanda radang mulai tampak. Kemudian terjadi
perforasi dan keluar cairan seropurulen, kadang-kadang sanguinolen atau
disertai jaringan nekrotik. Tempat perforasi menjadi ulkus. Guma umumnya
solitar, namun dapat multipel. Bentuk lain S III adalah nodus. Nodus terdapat
pada epidermis, lebih kecil (miliar hingga lentikular), cenderung
berkonfluensi dan tersebar dengan wana merah kecoklatan. Nodus memiliki
skuama seperti lilin (psoriasiformis). S III pada mukosa
biasanya pada mulut dan tenggorok atau septum nasi dalam bentuk guma. S III
pada tulang sering menyerang tibia, tengkorak, bahu, femur, fibula dan
humerus. S III pada organ dalam dapat menyerang hepar, esophagus dan lambung,
paru, ginjal, vesika urinaria, prostat serta ovarium dan testis. Pemeriksaan
penunjang Pemeriksaan
mikroskopis untuk menemukan T. pallidum pada sediaan serum dari lesi
kulit. Pemeriksaan dilakukan tiga hari berturut-turut jika pemeriksaan I dan
II negatif. Setelah diambil serum dari lesi, lesi dikompres dengan larutan
garam fisiologis. Pemeriksaan lain
yang dapat dirujuk, yaitu:
Penegakan Diagnosis (Assessment) Diagnosis Klinis Diagnosis
ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Bila diperlukan dapat
dilakukan pemeriksaan mikroskopis. Klasifikasi
a. Dini (prekoks): bentuk ini menular, berupa bula
bergerombol, simetris di tangan dan kaki atau di badan. Bentuk ini terjadi
sebelum 2 tahun dan disebut juga pemfigus sifilitika. Bentuk lain adalah
papulo-skuamosa. Wajah bayi tampak seperti orang tua, berat badan turun dan
kulit keriput. Keluhan di organ lainnya dapat terjadi. b. Lanjut (tarda): bentuk ini tidak menular, terjadi
sesudah 2 tahun dengan bentuk guma di berbagai organ. c. Stigmata: bentuk ini berupa deformitas dan jaringan
parut. Pada lesi dini dapat: • Pada wajah: hidung membentuk saddle nose (depresi
pada jembatan hidung) dan bulldog jaw (maksila lebih kecil daripada
mandibula). • Pada gigi membentuk gigi Hutchinson (pada gigi
insisi permanen berupa sisi gigi konveks dan bagian menggigit konkaf). Gigi
molar pertama permulaannya berbintil-bintil (mulberry molar). • Jaringan parut pada sudut mulut yang disebut
regades. • Kelainan permanen lainnya di fundus okuli akibat
koroidoretinitis dan pada kuku akibat onikia. Pada lesi lanjut: • Kornea keruh, perforasi palatum dan septum nasi,
serta sikatriks kulit seperti kertas perkamen, osteoporosis gumatosa, atrofi
optikus dan trias Hutchinson yaitu keratitis interstisial, gigi Hutchinson,
dan tuli N. VIII.
Klinis Terdiri dari 2 stadium: • Stadium I (S I) dalam 2-4 minggu sejak infeksi. • Stadium II (S II) dalam 6-8 minggu sejak S I. • Stadium III (S III) terjadi setelah 1 tahun sejak
infeksi. Epidemiologis
• Stadium dini menular (dalam 1 tahun sejak infeksi),
terdiri dari S I, S II, stadium rekuren dan stadium laten dini. • Stadium tidak menular (setelah 1 tahun sejak
infeksi), terdiri dari stadium laten lanjut dan S III. Klasifikasi untuk
neurosifilis:
Bentuk ini terjadi beberapa bulan sampai 5 tahun
sejak S I. Gejala tergantung letak lesi, antara lain berupa nyeri kepala,
konvulsi fokal atau umum, papil nervus optikus sembab, gangguan mental,
kelumpuhan nervus kranialis dan seterusnya.
Guma umumnya terdapat pada meningen akibat perluasan
dari tulang tengkorak. Keluhan berupa nyeri kepala, muntah dan dapat terjadi
konvulsi serta gangguan visus. Pada pemeriksaan terdapat edema papil karena
peningkatan tekanan intrakranial, paralisis nervus kranialis atau hemiplegi. Diagnosis Banding Diagnosis banding
bergantung pada stadium apa pasien tersebut terdiagnosis.
Komplikasi:
Eritroderma Penatalaksanaan Komprehensif (Plan) Penatalaksanaan
Pada sifilis
dengan kehamilan untuk wanita berisiko tinggi, uji serologis rutin harus
dilakukan sebelum trimester pertama dan awal trimester ketiga serta pada
persalinan. Bila tanda-tanda
klinis atau serologis memberi kesan infeksi aktif atau diagnosis sifilis
aktif tidak dapat dengan pasti disingkirkan, maka indikasiuntuk pengobatan. Pemeriksaan
Penunjang Lanjutan Dilakukan di
fasilitas pelayanan kesehatan sekunder Konseling dan
Edukasi
Kriteria Rujukan Semua stadium dan
klasifikasi sifilis harus dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan yang
memiliki dokter spesialis kulit dan kelamin. Prognosis Prognosis umumnya dubia
ad bonam. |
||||||
|
F. Diagram Alir |
menegakan
diagnose berdasarkan hasil pemeriksaan Memberikan
tata laksana pada pasien sesuai hasil pemeriksaan menulis hasil
anamnesa, pemeriksaan dan diagnose ke rekam medic melakukan
vital sign dan pemeriksaan fisik Melakukan anamnesis pada pasien menulis
diagnose pasien ke buku register. |
||||||
G. Unit Terkait |
Ruang Pemeriksaan Umum |
G. Rekaman Historis:
|
No |
Halaman |
Yang dirubah |
Perubahan |
Diberlakukan Tanggal |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
No comments:
Post a Comment