|
104 Dinkes Kab Defgh |
IMPETIGO |
Puskesmas Abcde |
|||
|
SOP |
Nomor |
: |
|||
|
Terbit ke |
: 01 |
||||
|
No.Revisi |
: 00 |
||||
|
Tgl.Diberlakukan |
: 2-01-2018 |
||||
|
Halaman |
: 1 / 2 |
||||
|
Ditetapkan
Kepala Puskesmas Abcde |
|
Kapus NIP. nipkapus |
|||
|
A. Pengertian |
Impetigo krustosa
(impetigo contagiosa) adalah peradangan yang memberikan gambaran vesikel yang
dengan cepat berubah menjadi pustul dan pecah sehingga menjadi krusta kering
kekuningan seperti madu. Predileksi spesifik lesi terdapat di sekitar lubang
hidung, mulut, telinga atau anus. Impetigo bulosa
adalah peradangan yang memberikan gambaran vesikobulosa dengan lesi bula
hipopion (bula berisi pus). Pioderma adalah
infeksi kulit (epidermis, dermis dan subkutis) yang disebabkan oleh bakteri
gram positif dari golongan Stafilokokus dan Streptokokus. Pioderma merupakan
penyakit yang sering dijumpai. Di Bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, insidennya menduduki peringkat
ketiga, dan berhubungan erat dengan
keadaaan sosial ekonomi. Penularannya melalui kontak langsung dengan agen
penyebab. Diagnosis Klinis Pioderma diantaranya: 1.
Folikulitis 2. Furunkel 3.
Furunkulosis 4. Karbunkel 5. Impetigo
bulosa dan krustosa 6. Ektima |
||||||
|
B. Tujuan |
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk penatalaksanaan pasien
dengan impetigo |
||||||
|
C. Kebijakan |
SK Kepala UPTD Puskesmas Abcde Nomor ... tentang Kebijakan Pelayanan
Klinis UPTD Puskesmas Abcde |
||||||
|
D. Referensi |
Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/Menkes/514/2015 tentang Panduan
Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama |
||||||
|
E. Prosedur |
Hasil Anamnesis (Subjective) Keluhan Pasien datang mengeluh adanya koreng atau luka di
kulit 1.
Awalnya berbentuk seperti
bintil kecil yang
gatal, dapat berisi cairanatau nanah dengan dasar dan
pinggiran sekitarnya kemerahan.
Keluhan ini dapat meluas menjadi bengkak disertai dengan rasa nyeri. 2. Bintil kemudian pecah dan menjadi keropeng/koreng
yang mengering, keras dan sangat lengket. Faktor risiko: 1. Higiene
yang kurang baik 2. Defisiensi
gizi 3.
Imunodefisiensi (CD4 dan CD8 yang rendah) Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana
(Objective) Impetigo krustosa (impetigo contagiosa) adalah
peradangan yang memberikan gambaran vesikel yang dengan cepat berubah menjadi
pustul dan pecah sehingga menjadi krusta kering kekuningan seperti madu.
Predileksi spesifik lesi terdapat di sekitar lubang hidung, mulut, telinga
atau anus. Impetigo bulosa adalah peradangan yang memberikan
gambaran vesikobulosa dengan lesi bula hipopion (bula berisi pus). Pemeriksaan Penunjang 1. Pemeriksaan dari apusan cairan sekret dari dasar
lesi dengan pewarnaan Gram 2.
Pemeriksaan darah rutin kadang-kadang ditemukan leukositosis. Penegakan diagnostik (Assessment) Diagnosis Klinis Impetigo bulosa dan krustosa Komplikasi 1. Erisipelas adalah peradangan epidermis dan dermis
yang ditandai dengan infiltrat eritema, edema, berbatas tegas, dan disertai
dengan rasa panas dan nyeri. Onset penyakit ini sering didahului dengan
gejala prodromal berupa menggigil, panas tinggi, sakit kepala, mual muntah,
dan nyeri sendi. Pada pemeriksaan darah rutin dapat dijumpai leukositosis
20.000/mm3 atau lebih. 2.Selulitis
adalah peradangan supuratif
yang menyerang subkutis, ditandai dengan peradangan lokal,
infiltrate eritema berbatas tidak tegas, disertai dengan rasa nyeri tekan dan
gejala prodromal tersebut di atas. 3. Ulkus 4.
Limfangitis 5.
Limfadenitis supuratif 6. Bakteremia
(sepsis) Penatalaksanaan Komprehensif (Plan) Penatalaksanaan 1. Terapi
suportif dengan menjaga higiene, nutrisi TKTP dan stamina tubuh. 2.
Farmakoterapi dilakukan dengan: a. Topikal: •Bila
banyak pus/krusta, dilakukan
kompres terbuka dengan
permanganas kalikus (PK) 1/5.000 atau yodium povidon 7,5% yang dilarutkan 10
kali. • Bila tidak tertutup pus atau krusta, diberikan
salep atau krim asam fusidat 2% atau mupirosin 2%, dioleskan 2-3 kali sehari
selama 7-10 hari. b.
Antibiotik oral dapat
diberikan dari salah
satu golongan di bawah ini: • Penisilin yang resisten terhadap penisilinase,
seperti:kloksasilin. -Dosis dewasa: 3 x 250-500 mg/hari, selama 5-7 hari,
selama 5-7 hari. -Dosis anak: 50 mg/kgBB/hari terbagi dalam 4 dosis,
selama 5-7 hari. •
Amoksisilin dengan asam klavulanat. - Dosis dewasa: 3 x 250-500 mg -Dosis anak: 25 mg/kgBB/hari terbagi dalam 3 dosis,
selama 5-7 hari •Klindamisin
4 x 150
mg per hari,
pada infeksi berat dosisnya 4 x 300-450 mg per hari. • Eritromisin: dosis dewasa: 4 x 250-500 mg/hari,
anak: 20-50 mg/kgBB/hari terbagi 4 dosis, selama 5-7 hari. •Sefalosporin, misalnya sefadroksil dengan dosis 2 x
500 mg atau 2 x 1000 mg per hari. Konseling dan Edukasi Edukasi
pasien dan keluarga
untuk pencegahan penyakit
dengan menjaga kebersihan diri dan stamina tubuh. Kriteria Rujukan Pasien dirujuk apabila terjadi: 1. Komplikasi
mulai dari selulitis. 2. Tidak
sembuh dengan pengobatan selama 5-7 hari. 3. Terdapat penyakit sistemik (gangguan metabolik
endokrin dan imunodefisiensi). Peralatan Peralatan
laboratorium untuk pemeriksaan darah
rutin dan pemeriksaan Gram Prognosis Apabila
penyakit tanpa disertai
komplikasi, prognosis umumnya bonam, bila dengan komplikasi, prognosis umumnya
dubia ad bonam. |
||||||
|
F. Diagram Alir |
menegakan
diagnose berdasarkan hasil pemeriksaan Memberikan
tata laksana pada pasien sesuai hasil pemeriksaan menulis hasil
anamnesa, pemeriksaan dan diagnose ke rekam medic melakukan
vital sign dan pemeriksaan fisik Melakukan anamnesis pada pasien menulis
diagnose pasien ke buku register. |
||||||
G. Unit Terkait |
Ruang Pemeriksaan Umum |
G. Rekaman Historis:
|
No |
Halaman |
Yang dirubah |
Perubahan |
Diberlakukan Tanggal |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
No comments:
Post a Comment