|
103 Dinkes Kab Defgh |
HERPES
SIMPLEKS TANPA
KOMPLIKASI |
Puskesmas Abcde |
|||
|
SOP |
Nomor |
: |
|||
|
Terbit ke |
: 01 |
||||
|
No.Revisi |
: 00 |
||||
|
Tgl.Diberlakukan |
: 2-01-2018 |
||||
|
Halaman |
: 1 / 2 |
||||
|
Ditetapkan
Kepala Puskesmas Abcde |
|
Kapus NIP. nipkapus |
|||
|
A. Pengertian |
Herpes simpleks merupakan infeksi akut yang disebabkan oleh Virus Herpes
Simpleks tipe 1 atau tipe 2, yang ditandai oleh adanya vesikel yang
berkelompok di atas kulit yang sembab dan eritematosa pada daerah mukokutan.
Penularan melalui kontak langsung dengan agen penyebab. Infeksi primer oleh
Virus Herpes Simpleks (HSV) tipe 1 biasanya dimulai pada usia anak-anak,
sedangkan HSV tipe 2 biasanya terjadi pada dekade II atau III, dan
berhubungan dengan peningkatan aktivitas seksual. Diperkiraan ada 536 juta orang yang berusia 15-49 tahun yang terinfeksi
HSV-2 di seluruh dunia pada tahun 2003 atau sekitar16% dari populasi dunia
pada rentang usia tersebut. Prevalensi penyakit ini lebih tinggi pada wanita
dibandingkan pada pria dan umumnya lebih tinggi di negara berkembang daripada
di negara maju. |
||||||
|
B. Tujuan |
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk penatalaksanaan pasien
dengan Herpes simpleks
tanpa komplikasi |
||||||
|
C. Kebijakan |
SK Kepala UPTD Puskesmas Abcde Nomor ... tentang Kebijakan Pelayanan
Klinis UPTD Puskesmas Abcde |
||||||
|
D. Referensi |
Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/Menkes/514/2015 tentang Panduan
Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama |
||||||
|
E. Prosedur |
Hasil Anamnesis (Subjective) Keluhan Infeksi primer HSV-1 biasanya terjadi pada anak dan
subklinis pada 90% kasus, biasanya ditemukan perioral. Pada 10%
sisanya, dapat terjadi gingivostomatitis akut. Infeksi primer HSV-2 terjadi setelah kontak seksual
pada remaja dan dewasa, menyebabkan vulvovaginitis akut dan atau peradangan pada kulit batang penis. Infeksi
primer biasanya disertai dengan gejala sistemik seperti demam, malaise,
mialgia, nyeri kepala, dan adenopati regional. Infeksi HSV-2 dapat juga
mengenai bibir. Infeksi rekuren biasanya didahului gatal atau
sensasi terbakar setempat pada lokasi
yang sama dengan
lokasi sebelumnya. Prodromal
ini biasanya terjadi mulai dari 24 jam sebelum timbulnya erupsi. Faktor Risiko 1. Individu
yang aktif secara seksual. 2.
Imunodefisiensi. Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana
(Objective) Pemeriksaan Fisik Papul eritema yang diikuti oleh munculnya vesikel
berkelompok dengan dasar eritem. Vesikel ini dapat cepat menjadi keruh, yang
kemudian pecah, membasah, dan berkrusta. Kadang-kadang timbul erosi/ulkus. Tempat predileksi adalah di daerah pinggang ke atas
terutama daerah mulut dan hidung untuk HSV-1, dan daerah pinggang ke bawah
terutama daerah genital untuk HSV-2. Untuk infeksi sekunder, lesi dapat
timbul pada tempat yang sama dengan lokasi sebelumnya. Pemeriksaan Penunjang Pada umumnya tidak diperlukan pemeriksaan penunjang. Penegakan Diagnosis (Assessment) Diagnosis Klinis Herpes simpleks tipe 1 Herpes simpleks tipe 2 Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan
pemeriksaan fisik. Catatan untuk diperhatikan: 1. Infeksi primer. 2. Fase
laten: tidak terdapat
gejala klinis, tetapi
HSV dapat ditemukan dalam
keadaan tidak aktif pada ganglion dorsalis. 3. Infeksi rekurens. Diagnosis Banding 1. Impetigo
vesikobulosa. 2. Ulkus
genitalis pada penyakit menular seksual. Komplikasi dapat terjadi pada individu dengan
gangguan imun, berupa: 1. Herpes
simpleks ulserativa kronik. 2. Herpes
simpleks mukokutaneus akut generalisata. 3. Infeksi
sistemik pada hepar, paru, kelenjar adrenal, dan sistem saraf pusat. 4. Pada ibu
hamil, infeksi dapat
menular pada janin,
dan menyebabkan neonatal herpes yang sangat berbahaya. Penatalaksana Komprehensif (Plan) Penatalaksanaan 1. Terapi
diberikan dengan antiviral, antara lain: a.Asiklovir, dosis 5 x 200 mg/hari selama 5 hari,
atau b. Valasiklovir, dosis 2 x 500
mg/hari selama 7-10 hari. 2. Pada herpes genitalis: edukasi tentang pentingnya
abstinensia pasien harus tidak melakukan hubungan seksual ketika masih ada
lesi atau ada gejala prodromal. 3. Gejala
prodromal diatasi sesuai dengan indikasi. Aspirin dihindari oleh karena dapat
menyebabkan Reye’s syndrome. Konseling dan Edukasi Edukasi untuk infeksi herpes simpleks merupakan infeksi swasirna
pada populasi imunokompeten. Edukasi untuk herpes genitalis ditujukan
terutama terhadap pasien dan pasangannya, yaitu berupa: 1.
Informasi perjalanan alami
penyakit ini, termasuk
informasi bahwa penyakit ini menimbulkan rekurensi. 2. Tidak
melakukan hubungan seksual ketika masih ada lesi atau gejala prodromal. 3. Pasien
sebaiknya memberi informasi kepada pasangannya bahwa ia memiliki infeksi HSV. 4. Transmisi
seksual dapat terjadi pada masa asimtomatik. 5. Kondom
yang menutupi daerah
yang terinfeksi, dapat menurunkan risiko transmisi dan
sebaiknya digunakan dengan konsisten. Kriteria Rujukan Pasien dirujuk apabila: 1. Penyakit
tidak sembuh pada 7-10 hari setelah terapi. 2. Terjadi
pada pasien bayi dan geriatrik (imunokompromais). 3. Terjadi
komplikasi. 4. Terdapat
penyakit penyerta yang menggunakan multifarmaka. Peralatan Tidak diperlukan peralatan khusus untuk mendiagnosis
penyakit herpes simpleks. Prognosis Prognosis umumnya bonam, namun quo ad sanationam
adalah dubia ad malam karena terdapat risiko berulangnya keluhan serupa. |
||||||
|
F. Diagram Alir |
menegakan
diagnose berdasarkan hasil pemeriksaan Memberikan
tata laksana pada pasien sesuai hasil pemeriksaan menulis hasil
anamnesa, pemeriksaan dan diagnose ke rekam medic melakukan
vital sign dan pemeriksaan fisik Melakukan anamnesis pada pasien menulis
diagnose pasien ke buku register. |
||||||
G. Unit Terkait |
Ruang Pemeriksaan Umum |
G. Rekaman Historis:
|
No |
Halaman |
Yang dirubah |
Perubahan |
Diberlakukan Tanggal |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
No comments:
Post a Comment