|
65 Dinkes Kab Defgh |
FIMOSIS |
Puskesmas Abcde |
|||
|
SOP |
Nomor |
: |
|||
|
Terbit ke |
: 01 |
||||
|
No.Revisi |
: 00 |
||||
|
Tgl.Diberlakukan |
: 2-01-2018 |
||||
|
Halaman |
: 1 / 2 |
||||
|
Ditetapkan
Kepala Puskesmas Abcde |
|
Kapus NIP. nipkapus |
|||
|
A. Pengertian |
Fimosis adalah kondisi dimana preputium tidak dapat diretraksi melewati
glans penis. Fimosis dapat bersifat fisiologis ataupun patalogis. Umumnya
fimosis fisiologis terdapat pada bayi dan anak-anak. Pada anak usia 3 tahun
90% preputium telah dapat diretraksi tetapi pada sebagian anak preputium
tetap lengket pada glans penis sehingga ujung preputium mengalami penyempitan
dan mengganggu proses berkemih. Fimosis patologis terjadi akibat peradangan
atau cedera pada preputium yang menimbulkan parut kaku sehingga menghalangi
retraksi. |
||||||
|
B. Tujuan |
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk penatalaksanaan pasien
dengan fimosis |
||||||
|
C. Kebijakan |
SK Kepala UPTD Puskesmas Abcde Nomor ... tentang Kebijakan Pelayanan
Klinis UPTD Puskesmas Abcde |
||||||
|
D. Referensi |
Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/Menkes/514/2015 tentang Panduan
Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama |
||||||
|
E. Prosedur |
Hasil Anamnesis (Subjective) Keluhan Keluhan umumnya berupa gangguan aliran urin seperti: 1. Nyeri saat buang air kecil 2. Mengejan saat buang air kecil 3. Pancaran urin mengecil 4. Benjolan lunak di ujung penis akibat penumpukan smegma. Faktor Risiko 1. Hygiene yang buruk 2. Episode berulang balanitis atau balanoposthitis menyebabkan skar pada
preputium yang menyebabkan terjadinya fimosis patalogis 3. Fimosis dapat terjadi pada 1% pria yang tidak menjalani sirkumsisi Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective) Pemeriksaan Fisik 1. Preputium tidak dapat diretraksi keproksimal hingga ke korona glandis 2. Pancaran urin mengecil 3. Menggelembungnya ujung preputium saat berkemih 4. Eritema dan udem pada preputium dan glans penis 5. Pada fimosis fisiologis, preputium tidak memiliki skar dan tampak
sehat 6. Pada fimosis patalogis pada sekeliling preputium terdapat lingkaran
fibrotik 7. Timbunan smegma pada sakus preputium Penegakan Diagnosis (Assessment) Diagnosis Klinis Diagnosis klinis ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan
fisik Diagnosis Banding Parafimosis, Balanitis, Angioedema Komplikasi Dapat terjadi infeksi berulang karena penumpukan smegma. Penatalaksanaan Komprehensif (Plan) Penatalaksanaan 1. Pemberian salep kortikosteroid (0,05% betametason) 2 kali perhari
selama 2-8 minggu pada daerah preputium. 2. Sirkumsisi Rencana Tindak Lanjut Apabila fimosis bersifat fisiologis seiring dengan perkembangan maka
kondisi akan membaik dengan sendirinya Konseling dan Edukasi Pemberian penjelasan terhadap orang tua atau pasien agar tidak melakukan
penarikan preputium secara berlebihan ketika membersihkan penis karena dapat
menimbulkan parut. Kriteria Rujukan Bila terdapat komplikasi dan penyulit untuk tindakan sirkumsisi maka
dirujuk ke layanan sekunder. Peralatan Set bedah minor Prognosis Prognosis bonam bila penanganan sesuai |
||||||
|
F. Diagram Alir |
Memberikan
tata laksana pada pasien sesuai hasil pemeriksaan menulis hasil
anamnesa, pemeriksaan dan diagnose ke rekam medic menegakan
diagnose berdasarkan hasil pemeriksaan melakukan
vital sign dan pemeriksaan fisik Melakukan anamnesis pada pasien menulis
diagnose pasien ke buku register. |
||||||
G. Unit Terkait |
Ruang Pemeriksaan Umum |
G. Rekaman Historis:
|
No |
Halaman |
Yang dirubah |
Perubahan |
Diberlakukan Tanggal |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
No comments:
Post a Comment