|
108 Dinkes Kab Defgh |
ERITRASMA |
Puskesmas Abcde |
|||
|
SOP |
Nomor |
: |
|||
|
Terbit ke |
: 01 |
||||
|
No.Revisi |
: 00 |
||||
|
Tgl.Diberlakukan |
: 2-01-2018 |
||||
|
Halaman |
: 1 / 2 |
||||
|
Ditetapkan
Kepala Puskesmas Abcde |
|
Kapus NIP. nipkapus |
|||
|
A. Pengertian |
Eritrasma adalah penyakit bakteri kronik pada stratum korneumyang
disebabkan oleh Corynebacterium minutissimum. Eritrasma terutama terjadi pada
orang dewasa, penderita diabetes, dan banyak ditemukan di daerah tropis.
Eritrasma dianggap tidak begitu menular karena didapatkan bahwa pasangan
suami istri tidak mendapatkan penyakit tersebut secara
bersama-sama. Secara global,
insidens eritrasmadilaporkan 4%
dan lebih banyak ditemukan di daerah iklim tropis dan subtropis. Selain itu
insidensnya lebih banyak ditemukan pada ras kulit hitam. Eritrasma terjadi
baik pria maupun wanita, pada pria lebih banyak ditemukan eritrasma pada
daerah kruris, sedangkan pada wanita di daerah interdigital. Berdasarkan
usia, insidens eritrasma bertambah seiring dengan pertambahan usia dengan
pasien termuda yang pernah ditemukan yaitu usia 1 tahun. |
||||||
|
B. Tujuan |
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk penatalaksanaan pasien
dengan eritrasma |
||||||
|
C. Kebijakan |
SK Kepala UPTD Puskesmas Abcde Nomor ... tentang Kebijakan Pelayanan
Klinis UPTD Puskesmas Abcde |
||||||
|
D. Referensi |
Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/Menkes/514/2015 tentang Panduan
Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama |
||||||
|
E. Prosedur |
Hasil Anamnesis (Subjective) Keluhan Eritrasma kadang tidak menimbulkan keluhan
subyektif, tetapi ada juga pasien datang dengan keluhan gatal dengan durasi
dari bulan sampai tahun. Faktor Risiko: Penderita Diabetes Mellitus, iklim sedang dan panas,
maserasi pada kulit, banyak berkeringat, kegemukan, higiene buruk, peminum
alkohol Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana
(Objective) Pemeriksaan Fisik Lokasi : lipat paha bagian dalam, sampai skrotum,
aksilla, dan intergluteal Efloresensi :
eritema luas berbatas tegas, dengan skuama halus dan kadang erosif.
Kadang juga didapatkan likenifikasi dan hiperpigmentasi. Pemeriksaan Penunjang 1.
Pemeriksaan dengan lampu Wood 2. Sediaan
langsung kerokan kulit dengan pewarnaan gram Penegakan Diagnostik (Assessment) Diagnosis Klinis Penegakan diagnosis melalui hasil anamnesis dan
pemeriksaan fisik. Pada pemeriksaan dengan lampu Wood didapatkan fluoresensi
merah bata (coral pink). Diagnosis Banding Pitiriasis versikolor, Tinea kruris, Dermatitis
seboroik, Kandidiasis Komplikasi: - Penatalaksanaan Komprehensif (Plan) Penatalaksanaan 1. Pengobatan
topikal: salep Tetrasiklin 3% 2. Pengobatan
sistemik: Eritromisin 1 g sehari (4 x 250mg) untuk 2-3 minggu. Rencana Tindak Lanjut: - Konseling dan Edukasi 1. Bagi
penderita diabetes, tetap mengontrol gula darah 2. Menjaga
kebersihan badan 3. Menjaga
agar kulit tetap kering 4.
Menggunakan pakaian yang bersih dengan bahan yang menyerap keringat. 5.
Menghindari panas atau kelembaban yang berlebih Kriteria Rujukan: - Peralatan 1. Lampu Wood 2.
Laboratorium sederhana untuk pemeriksaan KOH dan pewarnaan gram Prognosis Bonam |
||||||
|
F. Diagram Alir |
menegakan
diagnose berdasarkan hasil pemeriksaan Memberikan
tata laksana pada pasien sesuai hasil pemeriksaan menulis hasil
anamnesa, pemeriksaan dan diagnose ke rekam medic melakukan
vital sign dan pemeriksaan fisik Melakukan anamnesis pada pasien menulis
diagnose pasien ke buku register. |
||||||
G. Unit Terkait |
Ruang Pemeriksaan Umum |
G. Rekaman Historis:
|
No |
Halaman |
Yang dirubah |
Perubahan |
Diberlakukan Tanggal |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
No comments:
Post a Comment