|
82 Dinkes Kab Defgh |
DIABETES
MELITUS TIPE 2 |
Puskesmas Abcde |
|||
|
SOP |
Nomor |
: |
|||
|
Terbit ke |
: 01 |
||||
|
No.Revisi |
: 00 |
||||
|
Tgl.Diberlakukan |
: 2-01-2018 |
||||
|
Halaman |
: 1 / 2 |
||||
|
Ditetapkan
Kepala Puskesmas Abcde |
|
Kapus NIP. nipkapus |
|||
|
A. Pengertian |
Diabetes Melitus (DM) tipe 2, menurut American Diabetes Association (ADA)
adalah kumpulan gejala yang ditandai oleh hiperglikemia akibat defek pada
kerja insulin (resistensi insulin) dan sekresi insulin atau kedua-duanya. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, terjadi peningkatan dari 1,1% (2007)
menjadi 2,1% (2013). Proporsi penduduk =15 tahun dengan diabetes mellitus (DM) adalah 6,9%.WHO
memprediksi kenaikan jumlah penyandang DM tipe 2 di Indonesia dari 8,4 juta
pada tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta pada tahun 2030. Senada dengan WHO,
International Diabetes Federation (IDF) pada tahun 2009, memprediksi kenaikan
jumlah penyandang DM dari 7,0 juta pada tahun 2009 menjadi 12,0 juta pada
tahun 2030. Meskipun terdapat perbedaan angka prevalensi, laporan keduanya
menunjukkan adanya peningkatan jumlah penyandang DM sebanyak 2-3 kali lipat
pada tahun 2030. |
||||||
|
B. Tujuan |
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk penatalaksanaan pasien
dengan Diabetes Melitus
(DM) tipe 2 |
||||||
|
C. Kebijakan |
SK Kepala UPTD Puskesmas Abcde Nomor ... tentang Kebijakan Pelayanan
Klinis UPTD Puskesmas Abcde |
||||||
|
D. Referensi |
Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/Menkes/514/2015 tentang Panduan
Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama |
||||||
|
E. Prosedur |
Anamnesis (Subjective)
Keluhan 1. Polifagia 2. Poliuri 3. Polidipsi 4. Penurunan berat badan yang tidak jelas sebabnya Keluhan tidak khas: 1. Lemah 2. Kesemutan (rasa baal di ujung-ujung ekstremitas) 3. Gatal 4. Mata kabur 5. Disfungsi ereksi pada pria 6. Pruritus vulvae pada wanita 7. Luka yang sulit sembuh Faktor risiko 1. Berat badan lebih dan obese (IMT ≥ 25 kg/m2) 2. Riwayat penyakit DM di keluarga 3. Mengalami hipertensi (TD ≥ 140/90 mmHg atau
sedang dalam terapi hipertensi) 4. Riwayat melahirkan bayi dengan BBL > 4000 gram
atau pernah didiagnosis DM Gestasional 5. Perempuan dengan riwayat PCOS (polycistic
ovary syndrome) 6. Riwayat GDPT (Glukosa Darah Puasa Terganggu) / TGT(Toleransi Glukosa
Terganggu) 7. Aktifitas jasmani yang kurang Pemeriksaan
Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective) Pemeriksaan Fisik 1. Penilaian berat badan 2. Mata : Penurunan visus, lensa mata buram 3. Extremitas : Uji sensibilitas kulit dengan
mikrofilamen Pemeriksaan Penunjang 1. Gula Darah Puasa 2. Gula Darah 2 jam Post Prandial 3. Urinalisis . Penegakan
Diagnostik (Assessment) Diagnosis Klinis Kriteria diagnostik DM dan gangguan toleransi
glukosa: 1. Gejala klasik DM (poliuria, polidipsia, polifagi)
+ glukosa plasma sewaktu ≥ 200 mg/dL (11,1 mmol/L). Glukosa plasma sewaktu
merupakan hasil pemeriksaan sesaat pada suatu hari tanpa memperhatikan waktu
makan terakhir ATAU 2. Gejala Klasik DM+ Kadar glukosa plasma puasa ≥
126 mg/dl. Puasa diartikan pasien tidak mendapat kalori tambahan sedikitnya 8
jam ATAU 3. Kadar glukosa plasma 2 jam pada tes toleransi
glukosa oral (TTGO)> 200 mg/dL (11,1 mmol/L) TTGO dilakukan dengan
standard WHO, menggunakan beban glukosa anhidrus 75 gram yang dilarutkan
dalam air. Apabila hasil
pemeriksaan tidak memenuhi kriteria normal atau DM, maka dapat digolongkan ke
dalam kelompok Toleransi Glukosa Terganggu (TGT) atau Gula Darah Puasa
Teranggu (GDPT) tergantung dari hasil yang diperoleh Kriteria gangguan toleransi glukosa: 1. GDPT
ditegakkan bila setelah pemeriksaan glukosa plasma puasa didapatkan antara
100–125 mg/dl (5,6–6,9 mmol/l) 2. TGT
ditegakkan bila setelah pemeriksaan TTGO kadar glukosa plasma 140–199 mg/dl
pada 2 jam sesudah beban glukosa 75 gram (7,8 -11,1 mmol/L) 3. HbA1C 5,7 -6,4% Komplikasi 1. Akut Ketoasidosis diabetik, Hiperosmolar non ketotik,
Hipoglikemia 2. Kronik Makroangiopati, Pembuluh darah jantung, Pembuluh
darah perifer, Pembuluh darah otak 3. Mikroangiopati: Pembuluh darah kapiler retina, pembuluh darah kapiler renal 4. Neuropati 5. Gabungan: Kardiomiopati, rentan infeksi, kaki diabetik,
disfungsi ereksi Penatalaksanaan
Komprehensif (Plan) Catatan: Pemilihan jenis Obat Hipoglikemik oral
(OHO) dan insulin bersifat individual tergantung kondisi pasien dan sebaiknya
mengkombinasi obat dengan cara kerja yang berbeda. Cara Pemberian OHO, terdiri dari: 1. OHO dimulai dengan dosis kecil dan ditingkatkan
secara bertahapsesuai respons kadar glukosa darah, dapat diberikansampai
dosis optimal. 2. Sulfonilurea: 15 –30 menit sebelum makan. 3. Metformin : sebelum/pada saat/sesudah makan. 4. Penghambat glukosidase (Acarbose): bersama
makan suapanpertama. Penunjang Penunjang 1. Urinalisis 2. Funduskopi 3. Pemeriksaan fungsi ginjal 4. EKG 5. Xray thoraks Rencana Tindak Lanjut: Keterangan: Angka-angka laboratorium di atas adalah hasil
pemeriksaan plasma vena. Perlu konversi nilai kadar glukosa darah dari darah
kapiler darah utuh dan plasma vena Konseling dan Edukasi Edukasi meliputi pemahaman tentang: 1. Penyakit DM tipe 2 tidak dapat sembuh tetapi
dapat dikontrol 2. Gaya hidup sehat harus diterapkan pada penderita
misalnya olahraga, menghindari rokok, dan menjaga pola makan. 3. Pemberian obat jangka panjang dengan kontrol
teratur setiap 2 minggu Perencanaan Makan Standar yang dianjurkan adalah makanan dengan
komposisi: 1. Karbohidrat 45 – 65 % 2. Protein 15 – 20 % 3. Lemak 20 – 25 % Jumlah kandungan kolesterol disarankan < 300
mg/hari. Diusahakan lemak berasal dari sumber asam lemak tidak jenuh (MUFA = Mono
Unsaturated Fatty Acid), dan membatasi PUFA (Poly Unsaturated Fatty
Acid) dan asam lemak jenuh. Jumlah kandungan serat + 25 g/hr, diutamakan
serat larut. Jumlah kalori basal per hari: 1. Laki-laki: 30 kal/kg BB idaman 2. Wanita: 25 kal/kg BB idaman Rumus Broca:* Berat badan idaman = ( TB – 100 ) – 10 % *Pria < 160 cm dan wanita < 150 cm, tidak
dikurangi 10 % lagi. BB kurang : < 90 % BB idaman BB normal : 90 – 110 % BB idaman BB lebih : 110 – 120 % BB idaman Gemuk : >120 % BB idaman Penyesuaian (terhadap kalori basal/hari): 1. Status gizi: a. BB gemuk - 20 % b. BB lebih - 10 % c. BB kurang + 20 % 2. Umur > 40 tahun : - 5 % 3. Stres metabolik (infeksi, operasi,dll): + (10 s/d
30 %) 4. Aktifitas: a. Ringan + 10 % b. Sedang + 20 % c. Berat + 30 % 5. Hamil: a. trimester I, II + 300 kal b. trimester III / laktasi + 500 kal Latihan Jasmani Kegiatan jasmani sehari-hari dan latihan teratur
(3-5 kali seminggu selama kurang lebih 30-60 menit minimal 150 menit/minggu
intensitas sedang). Kegiatan sehari-hari seperti berjalan kaki ke pasar,
menggunakan tangga, berkebun, harus tetap dilakukan. Kriteria
Rujukan Untuk penanganan tindak lanjut pada kondisi berikut:
1. DM tipe 2 dengan komplikasi 2. DM tipe 2 dengan kontrol gula buruk 3. DM tipe 2 dengan infeksi berat Peralatan 1. Laboratorium untuk pemeriksaan gula darah, darah
rutin, urin rutin, ureum, kreatinin 2. Alat Pengukur berat dan tinggi badan anak serta
dewasa 3. Monofilamen test Prognosis Prognosis umumnya adalah dubia. Karena
penyakit ini adalah penyakit kronis, quo ad vitam umumnya adalah dubia
ad bonam, namun quo ad fungsionam dan sanationamnya adalah dubia
ad malam. |
||||||
|
F. Diagram Alir |
Memberikan
tata laksana pada pasien sesuai hasil pemeriksaan menulis hasil
anamnesa, pemeriksaan dan diagnose ke rekam medic menegakan
diagnose berdasarkan hasil pemeriksaan melakukan
vital sign dan pemeriksaan fisik Melakukan anamnesis pada pasien menulis
diagnose pasien ke buku register. |
||||||
G. Unit Terkait |
Ruang Pemeriksaan Umum |
G. Rekaman Historis:
|
No |
Halaman |
Yang dirubah |
Perubahan |
Diberlakukan Tanggal |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
No comments:
Post a Comment