PELATIHAN
AUDIT INTERNAL DAN PERTEMUAN TINJAUAN MANAJEMEN
MODUL
MATERI
INTI 3
TEHNIK
AUDIT INTERNAL
I.
DESKRIPSI SINGKAT:
Modul ini
membahas tentang tehnik-tehnik audit yang harus dikuasai oleh auditor internal
dalam melaksanakan audit, yaitu: tehnik wawancara, tehnik observasi (mengamati)
proses pelaksanaan kegiatan, tehnik meminta penjelasan kepada auditee, tehnik
meminta peragaan, menelaah dokumen,
penggunaan daftar tilik, mencari bukti, melakukan pemeriksaan silang,
mencari informasi dari sumber luar, dan menganalisis data dan informasi, sampai
kepada menarik kesimpulan.
II.
TUJUAN PEMBELAJARAN:
A.
Tujuan
Pembelajaran Umum;
Setelah
mengikuti materi ini peserta mampu menerapkan tehnik audit internal.
B.
Tujuan
Pembelajran Khusus;
1.
Peserta
mampu menjelaskan tehnik yang digunakan dalam pelaksanaan audit
2.
Peserta
mampu melakukan simulasi audit internal.
III.
POKOK BAHASAN:
Tehnik Audit
Internal
IV.
BAHAN AJAR:
Buku Pedoman
Audit Internal dan Pertemuan Tinjauan Manajemen Bab II. C. Tehnik Audit dan
Pengumpulan data.
V.
LANGKAH PEMBELAJARAN:
Langkah 1. Pengkondisian peserta.
a.
Fasilitator
menyapa peserta dengan ramah dan hangat. Perkenalkan diri dengan nama lengkap,
instansi tempat bekerja dan materi yang akan disampaikan.
b.
Sampaikan
tujuan pembelajaran materi ini dan pokok bahasan yang akan disampaikan,
sebaiknya dengan menggunakan bahan tayang.
Langkah 2. Penyampaian materi.
Fasilitator
menyampaikan paparan seluruh materi meliputi: tehnik audit internal sesuai
urutan pokok bahasan dan sub pokok bahasan dengan menggunakan bahan tayang.
Fasilitator menyampaikan materi dengan metode ceramah dan tanya jawab.
Langkah 3. Penugasan;
Fasilitator
menugaskan peserta dalam diskusi kelompok untuk menyusun scenario audit
internal dan instrument audit berdasar rencana audit yang disusun pada materi
sebelumnya
Langkah 4. Simulasi audit internal
Peserta
melakukan simulasi pelaksanaan audit internal.
Fasilitator
memimpin presentasi hasil diskusi dan memberikan komentar terhadap hasil
diskusi
Langkah 5: Rangkuman dan
Kesimpulan.
a.
Fasilitator
melakukan evaluasi untuk mengetahui penyerapan peserta terhadap materi yang
disampaikan dan pencapaian tujuan pembelajaran.
b.
Fasilitator
merangkum butir-butir penting dari materi yang disampaikan.
c.
Fasilitator
membuat kesimpulan.
VI.
URAIAN MATERI:
TEHNIK
AUDIT DAN PENGUMPULAN DATA
Pengumpulan
data pada pelaksanakan audit dilakukan dengan berbagai metoda, antara lain
adalah:
1.
Mewawancarai auditee.
Awal kegiatan audit dimulai dengan
pertemuan awal antara auditor dan auditee.
Auditor perlu menjelaskan peran auditor, tujuan audit, lingkup audit,
meminta pendapat pihak yang diaudit tentang permasalahan utama yang mereka
hadapi, wktu pelaksanaan audit, siapa saja yang akan ditemui selama proses
audit, dan bagaimana menyampaikan hasil temuan dan mendiskusikan temuan dan
tindak lanjut, serta pelaporan audit.
Pada akhir
kegiatan audit, auditor juga harus menjelaskan hasil-hasil temuan, dan
rekomendasi untuk ditindak lanjuti, dan membahas bersama dengan auditee tindak
lanjut yang akan dilakukan untuk perbaikan.
Audit
merupakan proses yang memerlukan interaksi antara auditor dan auditee. Komunikasi antara auditor dan auditee perlu
dibina sehingga proses audit dapat berjalan dengan lancer. Wawancara merupakan salah satu metoda penting
dalam pelaksanaan kegiatan audit dalam upaya memperoleh informasi dan melakukan
konfirmasi.
Pada proses
pelaksanaan audit, akan terjadi interaksi antara auditor dengan auditee. Auditor perlu mempersiapkan kegiatan
wawancara dengan auditee. Dalam
melakukan wawancara perlu diperhatikan: apa tujuan dilakukan wawancara,
informasi apa yang ingin diperoleh dari wawancara, lakukan wawancara di tempat
kerja, jika diperlukan dapat disampaikan awal tentang topik yang akan dibahas
dalam wawancara, dan siapkan instrumen wawancara.
Dalam
melakukan wawancara, auditor dapat langsung menanyakan pada pokok permasalahan,
tetapi juga bisa mengembangkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak langsung pada
permasalahan untuk memperluas diskusi agar dapat melakukan eksplorasi.
Pada
saat melakukan wawancara, auditor perlu memperhatikan auditee yang diwawancara,
informasi yang ingin didapatkan, ketersediaan waktu, dan maksud dan tujuan
audit.
Wawancara
perlu direncanakan dengan matang.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam merencanakan wawancara
adalah:
a.
Kejelasan
tujuan dari kegiatan wawancara
b.
Informasi
apa saja yang ingin diperoleh
c.
Saat
yang tepat untuk melakukan wawancara, antara lain ketika kegiatan pelayanan
tidak terlalu sibuk
d.
Tujuan
wawancara/audit harus disampaikan pada auditee
e.
Pemberitahuan
jadual kegiatan wawancara dalam proses audit
f.
Siapkan
instumen untuk melakukan wawancara
g.
Siapkan
alat untuk mencatat/merekam kegiatan wawancara
Lakukan bina
suasana sebelum melakukan wawancara, ciptakan suasana yang informal dan relaks,
diskusikan juga lama waktu yang disepakati bersama untuk melakukan
wawancara.
Auditor
memulai dengan menanyakan hal-hal yang umum tidak langsung pada pokok
permasalahan yang ingin digali. Auditor
perlu menunjukkan sikap yang ramah, tidak terkesan sebagai investigator, dan
perlu memperhatikan kondisi emosi dari auditee. Upayakan agar kegiatan
wawancara tidak kaku, cukup santai, tidak formal, dan alamiah. Perhatikan juga kesibukan dari auditee
sehingga awal membina hubungan tidak terlalu lama, dan dapat mulai untuk
melakukan wawancara pada pokok permasalahan.
Dalam proses
wawancara, auditor tidak boleh memandang rendah auditee, misalnya auditee
adalah staf baru, auditor harus menunjukkan perhatian pada auditee,
mengupayakan kontak mata, mampu mendengarkan dengan efektif, tidak menyela
pembicaraan auditee, kecuali jika auditee berbicara di luar topik. Pada proses wawancara, tujuan auditor mencari
fakta, maka jangan beradu argumentasi, menyatakan tidak setuju, atau tidak
mempercayai apa yang dikatakan oleh auditee.
Jika auditee tidak yakin dengan apa yang dikatakan, pertimbangkan untuk
melakukan uji silang dengan karyawan lain, atau lakukan penelusuran pada
dokumen atau rekaman. Auditor juga harus mampu mengarahkan wawancara pada arah
yang benar.
Beberapa
hal yang perlu diperhatikan oleh auditor ketika melakukan wawancara:
a.
Tidak
memandang rendah auditee
b.
Menunjukkan
sikap ramah, kepedulian
c.
Mengupayakan
kontak mata
d.
Berikan
senyuman, dan kalau perlu anggukkan kepala sebagai tanda bahwa auditor memahami
apa yang dikatakan oleh auditee
e.
Menghindari
kata-kata yang akan menyakiti hati auditee
f.
Tidak
terpancing untuk berargumentasi dengan auditee
g.
Jika
auditee tampak tidak paham dengan pertanyaan yang diajukan, jelaskan ulang apa
yang ditanyakan
h.
Bersikap
sabar
i.
Auditor
harus bisa membedakan antara fakta dan pendapat dari auditee
j.
Auditor
perlu menghindari sikap atau komentar yang menunjukkan ketidak setujuan, atau
ketidak percayaan terhadap apa yang dikatakan oleh auditee.
k.
Mengarahkan
pembicaraan untuk tidak lepas dari tujuan wawancara, jangan sampai auditor
tergiring oleh suasana atau jawaban auditee yang keluar dari konteks
permasalahan, dengan cara mengarahkan kembali kepada pokok permasalahan tanpa
menyinggung perasaan dari auditee.
l.
Pada
saat pelaksanaan wawancara hindari sikap menginterogasi, berikan kesempatan
pada auditee untuk berbicara, upayakan auditor tidak lebih banyak berbicara,
tetapi lebih banyak mendengarkan.
Auditor
harus mampu mendengarkan dengan efektif.
Kemampuan mendengarkan secara efektif terbatas. Manusia mampu berkonsentrasi untuk
mendengarkan sekitar 30 menit, maka perlu ada jeda waktu. Perlu diperhatikan
hal-hal yang mungkin mengalihkan perhatian selama proses wawancara. Kondisi ruangan yang nyaman, temperatur yang
sejuk akan membantu proses wawancara.
Agar dapat mendengarkan dengan efektif, auditor perlu memelihara kontak
mata dengan auditee, upayakan duduk dengan tegak, berupaya untuk berkonsentrasi
mendengarkan apa yang disampaikan auditee, dan berupaya untuk tidak menyela
pembicaraan.
Pada akhir
wawancara, auditor perlu menyampaikan ucapan terimakasih atas waktu yang
disediakan oleh auditee, menanyakan apakah masih ada hal-hal penting yang perlu
dibahas, memastikan kegiatan tindak lanjut yang disepakati bersama, dan
menyampaikan juga jika masih ada informasi yang diperlukan, akan meminta untuk
dapat melakukan wawancara lagi. Auditor
harus mencatat seluruh yang diperoleh pada kegiatan wawancara.
Ketika
informasi yang ingin diperoleh telah didapatkan, auditor perlu melakukan
inisiatif untuk mengakhiri wawancara.
Jika auditee masih ingin meneruskan pembicaraan, auditor perlu bersabat
sebelum mengakhiri wawancara, karena ada kemungkinan masih ada informasi
tambahan yang diperlukan.
Pada
saat mengakhiri proses wawancara, perlu diperhatikan:
a.
Ucapan
terimakasih kepada auditee
b.
Menyampaikan
pada auditee tentang kesediaan auditee untuk diwawancara lagi jika masih ada
yang belum jelas dan perlu ditanyakan di kemudian hari.
c.
Buat
simpulan tentang hasil wawancara yang disetujui bersama
2.
Mengamati proses pelaksanakan kegiatan.
Pada saat
melakukan audit di suatu unit kerja, auditor melakukan pengamatan terhadap
proses pelaksanaan kegiatan pelayanan dengan menggunakan instrumen yang telah
disusun. Untuk mengamati proses kegiatan dapat diawali dengan menanyakan pada
auditee bagaimana proses kegiatan pelayanan di unit kerja tersebut, dan
dilanjutkan dengan pengamatan terhadap proses pelaksanaan kegiatan. Jika suatu prosedur akan diamati, auditor
dapat menyiapkan instrumen audit berupa daftar tilik untuk mengamati suatu
proses kegiatan. Sebagai contoh, ketika auditor internal mengaduit proses
triase, dapat diawali dengan menanyakan bagaimana prosedur triase dilaksanakan
dan dilanjutkan dengan melakukan pengamatan pelaksanaan proses triase dalam
pelayanan gawat darurat.
3.
Meminta penjelasan kepada auditee
Jika dalam
wawancara ada hal-hal yang perlu penjelasan lebih lanjut, auditor dapat meminta
kepada auditee untuk menjelaskan secara lebih rinci dari apa yang ingin
diketahui lebih lanjut oleh auditor.
Upayakan untuk mendengarkan dengan sabar untuk memperoleh
informasi-informasi yang dibutuhkan.
4.
Meminta peragaan oleh auditee.
Auditor
dapat meminta auditee untuk memperagaan sesuatu kegiatan yang semestinya bisa
dilakukan oleh auditee, misalnya untuk memperagakan cuci tangan dengan benar,
memperagakan cara pengambilan sampah medis, memperagakan cara memberikan
bantuan hidup dasar, memperagakan penggunaan alat pemadam api ringan. Auditor juga dapat menggunakan suatu skenario
kasus untuk meminta diperagakan oleh auditee, seandainya terjadi suatu kasus di
tempat kerja.
5.
Memeriksa dan menelaah dokumen.
Ada dua
jenis dokumen yang perlu diperiksa oleh auditor, yaitu dokumen regulasi berupa
kebijakan, pedoman, panduan, dan SOP,
dan dokumen yang berupa rekam pelaksanaan kegiatan. Berdasarkan dokumen regulasi dapat ditelusur
pelaksanaan kegiatan dengan melihat langsung pelaksanaan kegiatan, atau dengan
melihat dokumen yang merupakan rekam kegiatan.
Auditor meminta kepada auditee untuk dapat mengakses dokumen-dokumen
tersebut.
6.
Memeriksa dengan menggunakan instrumen daftar tilik.
Untuk
mengukur tingkat kepatuhan dalam pelaksanaan kegiatan pelayanan, auditor dapat
menyiapkan daftar tilik mengacu pada SOP yang digunakan untuk kemudian
menghitung tingkat kepatuhan terhadap SOP tersebut.
7.
Mencari bukti-bukti.
Bukti-bukti
diperoleh oleh auditor baik dari hasil wawancara, pengamatan, peragaan, telusur
kegiatan, maupun telusur dokumen/rekam kegiatan. Bukti-bukti tersebut harus diyakini
kebenarannya.
8.
Melakukan pemeriksaan silang.
Untuk
melakukan verifikasi atas fakta-fakta yang dikumpulkan, auditor dapat melakukan
pemeriksaan silang, dapat berupa wawancara dengan pihak atau unit terkait,
melakukan telusur dokumen dengan pihak atau unit terkait.
9.
Mencari informasi dari sumber luar.
Jika
diperlukan untuk melakukan verifikasi maupun validasi, dapat dilakukan upaya
untuk memperoleh informasi dari sumber luar, misalnya dari lintas sektor, dari
kader, bahkan dari pasien atau sasaran program UKM.
10.
Menganalisis data dan informasi.
Semua data
dan informasi yang dikumpulkan dianalisis dengan dibandingkan dengan
standar/kriteria yang digunakan.
11.
Menarik Kesimpulan.
Proses audit
diakhir dengan menarik kesimpulan, yaitu menyatakan kesesuaian atau ketidak
sesuaian dengan standar/kriteria yang digunakan untuk audit.
Agar proses pengumpulan data dapat dilakukan dengan sistematis, maka
auditor perlu menyusun perangkat audit, antara lain: daftar pertanyaan untuk
wawancara, daftar tilik atau pedoman untuk pengamatan/observasi, pedoman untuk
telusur dokumen atau rekaman.
a. Contoh instrument audit menggunakan kriteria
audit: standar akreditasi
Nama unit yang diaudit : Unit pelayanan
laboratorium Puskesmas ABCD
Auditor :
1. Ridwan, 2. Andre, 3. Joni
Waktu pelaksanaan : 12 – 14 Mei 2015
Instrumen Audit:
|
No |
Kriteria audit |
Daftar Pertanyaan |
Observasi |
Telusur dokumen |
Fakta lapangan |
Temuan audit |
Rekomendasi audit |
|
1 |
Standar akreditasi Puskesmas 8.1.1. 8.1.2 |
Apakah jenis-jenis pelayanan yang tersedia di
laboratorium sesuai dengan yang ditetapkan |
|
|
|
|
|
|
|
|
Apakah tenaga yang memberikan pelayanan sesuai dengan
standar kompetensi |
|
|
|
|
|
|
|
|
Apakah pelaksanaan interpertasi dilakukan oleh petugas
yang terlatih |
|
|
|
|
|
|
|
|
Apakah petugas tertib menggunakan APD |
|
|
|
|
|
|
2 |
8.1.3. 8.1.4 |
Apakah penyerahan hasil lab sesuai dengan ketentuan
yang berlaku |
|
|
|
|
|
|
|
|
Apakah pelaporan hasil lab yang kritis dilakukan sesuai
dengan prosedur yang ditetapkan |
|
|
|
|
|
|
3 |
8.1.5 |
Apakah penyimpanan reagensia memenuhi ketentuan yang
ditetapkan |
|
|
|
|
|
|
|
|
Apakah semua reagensia diberi label |
|
|
|
|
|
b. Contoh lain instrumen audit adalah check
list untuk menghitung compliance rate suatu prosedur
|
No |
Kegiatan (diisi sesuai kegiatan dalam SOP) |
Ya |
Tidak |
Tidak berlaku |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Total |
|
|
|
|
|
Tingkat Kepatuhan (compliance rate) |
Jumlah Ya dibagi dengan jumlah (Ya+Tidak) x 100 % |
|
|
c. Contoh lain instrumen audit UKM KIA:
|
No |
Kriteria audit |
Daftar Pertanyaan |
Observasi |
Dokumen/rekam
kegiatan |
Fakta lapangan |
Temuan audit |
Rekomendasi audit |
|
1 |
Capaian indikator UKM KIA |
Bagaimana cakupan K1, K4, Pertolongan Nakes, Kunjungan
Neonatal |
|
Lihat
rekam hasil evaluasi kinerja |
|
|
|
|
|
|
Indikator kinerja yang tidak tercapai yang mana |
|
|
|
|
|
|
|
|
Mengapa indikator tersebut tidak tercapai |
|
Lihat
kalau ada upaya perbaikan melalui proses PDCA |
|
|
|
|
|
|
Adakah upaya yang dilakukan untuk mengupayakan
pencapaian indikator kinerja tersebut |
|
|
|
|
|
|
2 |
Prosedur pelaksanaan ANC ibu hami |
Berapa compliance rate ANC ibu hamil (gunakan check
list) |
Amati
12 pasien yang diperiksa ANC |
|
|
|
|
|
|
|
Tahapan prosedur yang mana yang sering tidak dikerjakan
? |
|
|
|
|
|
|
|
|
Mengapa tahapan tersebut tidak dikerjakan? |
|
|
|
|
|
d. Contoh lain instrumen audit gawat darurat:
|
No |
Kriteria audit |
Daftar Pertanyaan |
Fakta lapangan |
Temuan audit |
Rekomendasi audit |
|
1 |
Pelaksanaan triase gawat darurat |
Adakah ada prosedur triase ? |
|
|
|
|
|
|
Bagaimana pelaksanaan triase gawat darurat (lakukan
pengamatan terhadap penanganan pasien gawat darurat) |
|
|
|
|
|
|
Jika tidak dilakukan sesuai prosedur, mengapa ? |
|
|
|
|
|
|
Adakah upaya yang dilakukan untuk mengupayakan
pelaksanaan triase sesuai dengan prosedur ? |
|
|
|
|
2 |
Response time gawat darurat |
Bagaimana capaian response time gawat darurat |
|
|
|
|
|
|
Jika tidak tercapai mengapa ? |
|
|
|
|
|
|
Adakah upaya yang sudah dilakukan untuk mengupayakan
response time </= 5 menit ? |
|
|
|
e. Contoh lain instrumen untuk audit sasaran keselamatan pasien
|
No |
Kriteria audit |
Daftar Pertanyaan |
Fakta lapangan |
Temuan audit |
Rekomendasi audit |
|
1 |
Capaian SASARAN KESELAMATAN PASIEN: Kepatuhan cuci tangan |
Bagaimana capaian kepatuhan cuci tangan di ruang rawat |
|
|
|
|
|
|
Mengapa indikator tersebut tidak tercapai |
|
|
|
|
|
|
Adakah upaya yang dilakukan untuk mengupayakan
pencapaian indikator tersebut |
|
|
|
|
2 |
Capaian sasaran keselamatan pasien: identifikasi pasien |
Bagaimana capaian kepatuhan identifikasi pasien pada
pelayanan obat rawat jalan |
|
|
|
|
|
|
Jika tidak tercapai, mengapa |
|
|
|
|
|
|
Upaya apa yang sudah dilakukan |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Lampiran 6: Form Monitoring Tindak Lanjut Audit
Internal
CONTOH FORM MONITORING TINDAK LANJUT AUDIT
INTERNAL
Status tindak lanjut pertanggal:……………………………….
|
No |
Uraian Ketidak Sesuaian/Masalah |
Analisis ketidak sesuaian/masaah |
Rencana tindak lanjut |
Target waktu penyelesaian |
Penanggung jawab |
Waktu Pelaksanaan tindak lanjut |
Status penyelesaian |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Auditor Auditee
………………………………….
……………………………
VII.
BAHAN BACAAN:
Buku Pedoman Audit
Internal dan Pertemuan Tinjauan Manajemen
No comments:
Post a Comment