|
|
PENANGANAN KEJADIAN PENANGANAN PASCA
IMUNISASI (KIPI)
|
|
|||||||||||
|
SPO |
No.
Dokumen |
: 440/290/SPO/UKM/2019 |
|||||||||||
|
No.
Revisi |
: 00 |
||||||||||||
|
Tanggal
Terbit |
: 07/03/2019 |
||||||||||||
|
Halaman |
: 1/4 |
||||||||||||
|
UPT PUSKESMAS GULUK GULUK |
|
dr. As’ad
Zainudin NIP. 19790213 200901 1 008 |
|||||||||||
|
1.
Pengertian |
Semua kejadian sakit dan kematian yang terjadi dalam masa 1 bulan
setelah imunisasi. Pada kejadian tertentu lama pengamatan KIPI dapat mencapai
masa 42 hari (arthritis kronik pasca imunisasi rubella), atau sampai 6 bulan
(infeksi virus campak vaccine-strain
pada resipien non imunodefisiensi atau resipien imunodefisiensi pasca
vaksinasi polio). |
||||||||||||
|
2.
Tujuan |
Mendeteksi dini, merespon kasus KIPI dengan cepat dan tepat,
mengurangi dampak negatif imunisasi untuk kesehatan individu dan pada program
imunisasi dan merupakan indikator kualitas program |
||||||||||||
|
3.
Kebijakan |
Surat Keputusan Kepala Puskesmas Guluk-Guluk Nomer
440/014/435.102.112/2019 tentang Jenis-Jenis Pelayanan. |
||||||||||||
|
4.
Referensi |
Petunjeuk teknis
pencatatan dan pelaporan upaya penguatan surveilans KIPI, Direktorat Jenderal
PP & PL Kementrian Kesehatan RI,2014. |
||||||||||||
|
5. Alat dan bahan |
1.
Jenis vaksin yang diberikan, dosis, nomor
batch 2.
Pemberi imunisasi dan dokter yang
bertanggung jawab 3.
Blangko/format KIPI |
||||||||||||
|
6. Langkah-langkah |
1.
Survailans KIPI : a.
Mendeteksi,
memperbaiki, dan mencegah kesalahan program b.
Mengidentifikasi
peningkatan resiko KIPI yang tidak wajar pada batch vaksin atau merk vaksin
tertentu c.
Memastikan bahwa
suatu kejadian yang diduga KIPI merupakan koinsidens (suatu kebetulan) d.
Menimbulkan
kepercayaan masyarakat pada program imunisasi dan memberikan respons yang
tepat terhadap perhatian orang tua/masyarakat tentang keamanan imunisasi di
tengah kepedulian (masyarakat dan professional) tentang adanya risiko
imunisasi e.
Memperkirakan angka
kejadian KIPI (rasio KIPI) pada suatu populasi 2.
Pelaporan KIPI : a.
Identitas : nama anak, tanggal dan tahun
lahir (umur), jenis kelamin, nama orang tua dan alamat b.
Jenis vaksin yang diberikan, dosis, nomor
batch, siapa yang memberikan c.
Nama dokter yang bertanggung jawab d.
Riwayat KIPI terdahulu e.
Gejala klinis yang timbul, pengobatan yang
diberikan dan perjalanan penyakit, hasil laboratorium yang pernah dilakukan.
Serta jika ada penyakit lain yang menyertai. f.
Waktu pemberian imunisasi (tanggal, jam) g.
Berapa lama interval
waktu antara pemberian imunisasi dengan terjadinya KIPI h.
Apakah terdapat gejala
sisa, setelah dirawat dan sembuh i.
Cara menyelesaikan masalah KIPI (kronologis) j.
Adakah tuntutan dari keluarga 3.
Tatalaksana Kasus KIPI : a.
Vaksin Reaksi local ringan: kompres hangat, jika
nyeri mengganggu dapat diberikan parasetamol, -1 tablet.Pengobatan dapat
dilakukan oleh guru UKS/orangtua b.
Timbul <48 jam
setelah imunisasi : kompres hangat, parasetamol -1 tablet, jika tidak ada
perubahan hubungi Puskesmas terdekat c.
Reaksi Arthus :
kompres, parasetamol, -1 tablet, dirujuk dan dirawat RS d.
Reaksi umum (sismetik),
kolaps/keadaan seperti syok : memberi minum hangat dan selimut, rangsang
dengan wangian atau bahan yang merangsang, parasetamol, -1 tablet. Bila belum
dapat diatasi dalam waktu 30 menit segera rujuk ke Puskesmas terdekat e.
Sindrom Gullain-Barre
(jarang terjadi) : rujuk segera ke RS untuk perawatan dan pemeriksaan lebih
lanjut, perlu untuk survey AFP f.
Neuritis brakial : parasetamol,-1 tablet,
bila gejala menetap rujuk ke RS untuk fisioterapi g.
Syok anafilaksis : suntikan adrenalin
1:1.000, dosis 1-0,3 ml. Jika pasien membaik dan stabil dilanjutkan dengan
suntikan deksametason (1amp) secara IV/IM, segera pasang infuse NaCl 0,9% 12
tetes/menit. Rujuk ke RS terdekat 4.
Tatalaksana Program
a. Abses dingin : kompres hangat, parasetamol,-1
tablet, jika tidak ada perubahan hubungi Puskesmas terdekat
b. Pembengkakan : kompres hangat, jika tidak ada
perubahan, hubungi Puskesmas terdekat
c. Sepsis : kompres hangat, parasetamol,-1 tablet,
rujuk ke RS terdekat
d. Tetanus : Rujuk ke RS terdekat
e. Kelumpuhan/kelemahan otot : Rujuk ke RS
terdekat untuk fisioterapi 5.
Faktor penerima pejamu
a. Alergi : suntikan deksametason 1 amp im/iv.
Jika berlanjut pasang infuse NaCl 0,9% 12 tetes/menit, tanyakan pada orangtua
adakah penyakit alergi
b. Faktor psikologis : tenangkan penderita,
member minum air hangat, memberi wewangian/alcohol, setelah sadar beri minum
the manis hangat
c. Koinsidens (faktor kebetulan) : tangani
penderita sesuai gejala, cari informasi apakah ada kasus lain di sekitarnya
pada anak yang tidak diimunisasi. Kirim ke RS untuk
pemeriksaan lebih lanjut. |
||||||||||||
|
7. Bagan Alir |
Survailans KIPI Melaporan kasus KIPI Melakukan tatalaksana kasus KIPI Melakukan tatalaksana
program Faktor penerima jamu |
||||||||||||
8.
Unit
terkait |
Poli Anak |
||||||||||||
|
9. Dokumen
terkait |
Format pelaporan KIPI |
||||||||||||
|
10. Rekaman
historis |
|
||||||||||||
No comments:
Post a Comment