SOP Glaukoma Kronis Terbaru 2026: Diagnosis, Tata Laksana, Monitoring, dan Kriteria Rujukan
Kata Kunci SEO Utama: SOP Glaukoma Kronis
Kata Kunci Turunan: SOP glaukoma sudut terbuka primer, SOP primary open-angle glaucoma, tata laksana glaukoma kronis, penanganan glaukoma di Puskesmas, tekanan intraokular tinggi, penyakit mata kronis, SOP oftalmologi.
SOP GLAUKOMA KRONIS (PRIMARY OPEN-ANGLE GLAUCOMA)
1. Pengertian
Glaukoma kronis atau Primary Open-Angle Glaucoma (POAG) adalah penyakit mata kronis yang ditandai dengan kerusakan progresif saraf optik yang umumnya berkaitan dengan peningkatan tekanan intraokular (TIO), meskipun dapat juga terjadi pada tekanan intraokular normal. Penyakit ini menyebabkan penyempitan lapang pandang secara bertahap dan dapat berakhir dengan kebutaan permanen apabila tidak didiagnosis dan ditangani secara tepat.
Glaukoma kronis berkembang perlahan dan pada tahap awal sering kali tidak menimbulkan gejala sehingga dikenal sebagai "silent thief of sight" (pencuri penglihatan yang diam-diam).
2. Tujuan
Tujuan Umum
Memberikan pelayanan yang sistematis, aman, dan sesuai standar dalam deteksi dini, tata laksana awal, pemantauan, serta rujukan pasien dengan glaukoma kronis.
Tujuan Khusus
- Mengidentifikasi faktor risiko dan gejala glaukoma kronis.
- Menegakkan diagnosis awal berdasarkan pemeriksaan klinis.
- Mengendalikan progresivitas kerusakan saraf optik.
- Mencegah kehilangan penglihatan permanen.
- Melakukan rujukan dan tindak lanjut yang tepat.
3. Kebijakan
Pelaksanaan pelayanan mengacu pada:
- Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran bidang Oftalmologi.
- Pedoman American Academy of Ophthalmology mengenai Primary Open-Angle Glaucoma.
- Pedoman European Glaucoma Society.
- Pedoman pelayanan kesehatan mata dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
4. Petugas Pelaksana
- Dokter
- Perawat
- Dokter Spesialis Mata (di fasilitas rujukan)
- Petugas Rekam Medis
5. Indikasi
SOP ini diterapkan pada pasien dengan:
- Dugaan glaukoma kronis berdasarkan pemeriksaan klinis.
- Riwayat tekanan intraokular tinggi.
- Riwayat keluarga dengan glaukoma.
- Penyempitan lapang pandang.
- Kelainan saraf optik yang mengarah ke glaukoma.
- Pasien yang memerlukan pemantauan glaukoma kronis.
6. Faktor Risiko
Faktor risiko yang perlu diidentifikasi meliputi:
- Usia lanjut.
- Riwayat keluarga dengan glaukoma.
- Hipertensi okular.
- Miopia derajat tinggi.
- Diabetes melitus.
- Penggunaan kortikosteroid jangka panjang.
- Riwayat trauma mata.
7. Alat dan Bahan
Alat
- Snellen chart.
- Oftalmoskop.
- Tonometer (bila tersedia).
- Lampu senter atau slit lamp (bila tersedia).
- Peralatan pemeriksaan tanda vital.
Bahan
- Sarung tangan.
- Formulir rekam medis.
- Obat antiglaukoma sesuai indikasi dan kewenangan.
8. Prosedur Pelaksanaan
A. Anamnesis
Menanyakan:
- Penurunan penglihatan yang berlangsung perlahan.
- Kesulitan melihat dari samping (lapang pandang menyempit).
- Riwayat glaukoma dalam keluarga.
- Riwayat penggunaan obat kortikosteroid.
- Riwayat trauma mata.
- Riwayat operasi mata.
- Penyakit sistemik seperti diabetes atau hipertensi.
B. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Umum
- Keadaan umum.
- Tanda vital.
Pemeriksaan Mata
Meliputi:
- Pemeriksaan tajam penglihatan.
- Pemeriksaan tekanan intraokular menggunakan tonometer (bila tersedia).
- Pemeriksaan pupil.
- Pemeriksaan segmen anterior.
- Evaluasi papil saraf optik dengan oftalmoskop, termasuk rasio cup-to-disc.
- Penilaian lapang pandang secara konfrontasi sebagai skrining bila pemeriksaan perimetri tidak tersedia.
9. Pemeriksaan Penunjang
Bila tersedia atau di fasilitas rujukan:
- Tonometri untuk mengukur tekanan intraokular.
- Perimetri untuk evaluasi lapang pandang.
- Optical Coherence Tomography (OCT) untuk menilai lapisan serabut saraf retina.
- Gonioskopi untuk menilai sudut bilik mata depan.
- Foto fundus untuk dokumentasi papil saraf optik.
10. Penegakan Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan kombinasi:
Anamnesis
- Riwayat penurunan lapang pandang atau faktor risiko.
Pemeriksaan Klinis
- Tekanan intraokular meningkat atau normal dengan kerusakan saraf optik khas.
- Kelainan papil saraf optik.
- Defek lapang pandang yang konsisten.
11. Tata Laksana
A. Edukasi
Memberikan edukasi kepada pasien mengenai:
- Glaukoma merupakan penyakit kronis yang memerlukan pengobatan jangka panjang.
- Pengobatan bertujuan memperlambat progresivitas penyakit, bukan mengembalikan penglihatan yang telah hilang.
- Pentingnya kepatuhan menggunakan obat dan kontrol rutin.
B. Terapi Farmakologis
Pemberian obat penurun tekanan intraokular dilakukan sesuai indikasi klinis, kewenangan tenaga kesehatan, dan pedoman nasional. Pemilihan obat mempertimbangkan kondisi pasien, kontraindikasi, efek samping, dan ketersediaan.
C. Terapi Definitif
Bila diperlukan, dokter spesialis mata dapat mempertimbangkan tindakan seperti:
- Laser trabekuloplasti.
- Trabekulektomi.
- Operasi atau prosedur lain sesuai indikasi klinis.
12. Monitoring dan Evaluasi
Pemantauan dilakukan secara berkala terhadap:
- Tekanan intraokular.
- Tajam penglihatan.
- Lapang pandang.
- Kondisi papil saraf optik.
- Kepatuhan terhadap pengobatan.
- Efek samping terapi.
13. Kriteria Rujukan
Pasien dirujuk ke dokter spesialis mata apabila:
- Diduga glaukoma kronis berdasarkan pemeriksaan awal.
- Tekanan intraokular meningkat.
- Ditemukan kelainan papil saraf optik.
- Terjadi penurunan lapang pandang.
- Pengobatan awal tidak memberikan respons yang memadai.
- Diperlukan pemeriksaan lanjutan (perimetri, OCT, atau gonioskopi).
- Diperlukan tindakan laser atau operasi.
14. Komplikasi
- Penyempitan lapang pandang progresif.
- Kerusakan permanen saraf optik.
- Penurunan tajam penglihatan.
- Kebutaan permanen.
- Penurunan kualitas hidup.
15. Dokumentasi
Petugas wajib mencatat:
- Identitas pasien.
- Keluhan utama.
- Riwayat penyakit.
- Faktor risiko.
- Hasil pemeriksaan mata.
- Tekanan intraokular (bila diukur).
- Diagnosis kerja.
- Terapi yang diberikan.
- Edukasi kepada pasien.
- Jadwal kontrol.
- Keputusan rujukan.
Indikator Mutu Pelayanan
- Skrining faktor risiko glaukoma pada 100% pasien yang memenuhi kriteria.
- Pemeriksaan tajam penglihatan terdokumentasi pada ≥ 95% pasien.
- Pengukuran tekanan intraokular dilakukan atau dirujuk sesuai indikasi pada ≥ 95% pasien.
- Edukasi mengenai kepatuhan terapi diberikan pada 100% pasien.
- Kelengkapan dokumentasi rekam medis ≥ 100%.
Referensi
- American Academy of Ophthalmology. Primary Open-Angle Glaucoma. Edisi terbaru.
- European Glaucoma Society. Terminology and Guidelines for Glaucoma.
- World Health Organization. World Report on Vision.
- Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia. Pedoman Diagnosis dan Tata Laksana Glaukoma.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pelayanan Kesehatan Mata.
Meta Description SEO:
SOP Glaukoma Kronis terbaru 2026 lengkap dengan pengertian, faktor risiko, diagnosis, pemeriksaan, tata laksana, monitoring, komplikasi, indikator mutu, dan kriteria rujukan sesuai pedoman AAO, European Glaucoma Society, PERDAMI, dan Kementerian Kesehatan RI.

No comments:
Post a Comment