SOP Hiperemesis Gravidarum (HEG) Terbaru 2026: Diagnosis, Tata Laksana, Monitoring, dan Kriteria Rujukan
Kata Kunci SEO Utama: SOP Hiperemesis Gravidarum (HEG)
Kata Kunci Turunan: SOP HEG, SOP hiperemesis gravidarum, muntah berlebihan pada kehamilan, tata laksana hiperemesis gravidarum, mual muntah pada ibu hamil, pelayanan obstetri di Puskesmas, SOP kegawatdaruratan kebidanan.
SOP HIPEREMESIS GRAVIDARUM (HEG)
1. Pengertian
Hiperemesis Gravidarum (HEG) adalah kondisi mual dan muntah yang berat pada kehamilan, terutama pada trimester pertama, sehingga menyebabkan gangguan asupan nutrisi dan cairan, penurunan berat badan, dehidrasi, ketidakseimbangan elektrolit, serta dapat mengganggu kondisi ibu dan janin apabila tidak ditangani secara tepat.
HEG berbeda dengan morning sickness karena gejalanya lebih berat dan dapat memerlukan terapi medis maupun perawatan di rumah sakit.
2. Tujuan
Tujuan Umum
Memberikan pelayanan yang cepat, tepat, aman, dan sesuai standar dalam diagnosis, tata laksana, pemantauan, serta rujukan ibu hamil dengan hiperemesis gravidarum.
Tujuan Khusus
- Mengidentifikasi hiperemesis gravidarum secara dini.
- Menilai derajat dehidrasi dan kondisi umum ibu.
- Mengatasi dehidrasi dan gangguan nutrisi.
- Mengurangi frekuensi mual dan muntah.
- Mencegah komplikasi maternal dan janin.
- Menentukan kebutuhan rujukan secara tepat.
3. Kebijakan
Pelaksanaan pelayanan mengacu pada:
- Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran bidang Obstetri dan Ginekologi.
- Pedoman Antenatal Care dari World Health Organization.
- Pedoman praktik klinis dari Royal College of Obstetricians and Gynaecologists tentang mual dan muntah pada kehamilan serta hiperemesis gravidarum.
- Pedoman pelayanan kesehatan ibu hamil dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
4. Petugas Pelaksana
- Dokter
- Bidan
- Perawat
- Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi (di fasilitas rujukan)
- Ahli Gizi (bila tersedia)
5. Indikasi
SOP ini diterapkan pada ibu hamil dengan:
- Mual dan muntah berlebihan.
- Sulit makan atau minum.
- Penurunan berat badan.
- Tanda dehidrasi.
- Dugaan hiperemesis gravidarum berdasarkan evaluasi klinis.
6. Alat dan Bahan
Alat
- Tensimeter.
- Stetoskop.
- Termometer.
- Timbangan berat badan.
- Pulse oximeter.
- Alat pemeriksaan denyut jantung janin (sesuai usia kehamilan dan ketersediaan).
Bahan
- Cairan infus sesuai indikasi.
- Obat antiemetik sesuai pedoman klinis.
- Vitamin dan suplemen sesuai indikasi.
- Formulir rekam medis.
7. Prosedur Pelaksanaan
A. Anamnesis
Menanyakan:
- Usia kehamilan.
- Frekuensi dan lama mual muntah.
- Kemampuan makan dan minum.
- Penurunan berat badan.
- Jumlah urin.
- Riwayat hiperemesis pada kehamilan sebelumnya.
- Riwayat kehamilan ganda atau penyakit trofoblastik.
- Riwayat penyakit lain seperti gangguan tiroid atau saluran cerna.
- Obat yang sedang digunakan.
B. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Umum
- Keadaan umum.
- Tingkat kesadaran.
- Tekanan darah.
- Nadi.
- Frekuensi napas.
- Suhu tubuh.
- Berat badan.
Penilaian Dehidrasi
Menilai adanya:
- Mukosa mulut kering.
- Turgor kulit menurun.
- Mata cekung.
- Takikardia.
- Hipotensi ortostatik.
- Produksi urin menurun.
Pemeriksaan Obstetri
- Tinggi fundus uteri sesuai usia kehamilan.
- Denyut jantung janin bila memungkinkan.
- Tanda komplikasi obstetri lainnya.
8. Pemeriksaan Penunjang
Dilakukan sesuai indikasi dan fasilitas yang tersedia:
- Urinalisis (termasuk keton urin).
- Darah lengkap.
- Elektrolit serum.
- Fungsi ginjal.
- Fungsi hati bila diperlukan.
- Pemeriksaan glukosa darah.
- Ultrasonografi (USG) obstetri untuk menilai usia kehamilan, jumlah janin, dan menyingkirkan kehamilan mola atau penyebab lain.
9. Penegakan Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan:
Anamnesis
- Mual dan muntah berat yang mengganggu aktivitas.
- Sulit mempertahankan asupan makanan dan cairan.
- Penurunan berat badan.
Pemeriksaan Fisik
- Tanda dehidrasi.
- Penurunan berat badan.
- Gangguan kondisi umum.
Pemeriksaan Penunjang
- Ketonuria.
- Gangguan elektrolit atau hasil lain yang mendukung bila tersedia.
10. Tata Laksana
A. Terapi Nonfarmakologis
- Edukasi makan dalam porsi kecil tetapi sering.
- Memilih makanan yang mudah dicerna.
- Menghindari makanan berlemak, pedas, atau berbau menyengat bila memicu mual.
- Istirahat yang cukup.
- Menjaga asupan cairan sesuai toleransi.
B. Terapi Farmakologis
Terapi diberikan sesuai kondisi klinis, usia kehamilan, dan pedoman nasional, yang dapat meliputi:
- Antiemetik.
- Vitamin (misalnya vitamin B6) sesuai indikasi.
- Terapi cairan intravena untuk mengatasi dehidrasi.
- Koreksi gangguan elektrolit bila ditemukan.
Pemilihan obat harus mempertimbangkan keamanan bagi ibu dan janin.
C. Pemantauan
Selama observasi atau perawatan, pantau:
- Tanda vital.
- Frekuensi muntah.
- Berat badan.
- Asupan cairan dan makanan.
- Produksi urin.
- Kondisi janin sesuai usia kehamilan.
11. Kriteria Rujukan
Pasien dirujuk ke rumah sakit atau dokter spesialis obstetri dan ginekologi apabila:
- Dehidrasi sedang hingga berat.
- Tidak mampu mempertahankan asupan oral.
- Gangguan elektrolit atau metabolik.
- Penurunan berat badan yang bermakna.
- Ketonuria persisten.
- Tidak membaik dengan terapi awal.
- Dicurigai komplikasi kehamilan (misalnya kehamilan mola, kehamilan ganda dengan komplikasi, atau kondisi lain yang memerlukan evaluasi lanjutan).
- Kondisi ibu atau janin memburuk.
12. Komplikasi
Pada Ibu
- Dehidrasi.
- Ketidakseimbangan elektrolit.
- Malnutrisi.
- Gangguan fungsi hati.
- Gangguan fungsi ginjal.
- Defisiensi vitamin (termasuk risiko Wernicke encephalopathy pada kondisi tertentu).
- Penurunan kualitas hidup.
Pada Janin
- Pertumbuhan janin terhambat bila kondisi berat dan berkepanjangan.
- Berat badan lahir rendah.
- Persalinan prematur pada sebagian kasus.
13. Dokumentasi
Petugas wajib mencatat:
- Identitas pasien.
- Usia kehamilan.
- Keluhan utama.
- Riwayat penyakit.
- Hasil anamnesis.
- Hasil pemeriksaan fisik.
- Berat badan.
- Hasil pemeriksaan penunjang.
- Diagnosis.
- Terapi yang diberikan.
- Edukasi kepada pasien.
- Hasil monitoring.
- Keputusan rujukan.
Indikator Mutu Pelayanan
- Penilaian status hidrasi dilakukan pada 100% pasien.
- Pemeriksaan tanda vital terdokumentasi pada 100% pasien.
- Edukasi nutrisi dan hidrasi diberikan pada 100% pasien.
- Ketepatan rujukan pada kasus sedang hingga berat ≥ 95%.
- Kelengkapan dokumentasi rekam medis ≥ 100%.
Referensi
- World Health Organization. WHO Recommendations on Antenatal Care for a Positive Pregnancy Experience.
- Royal College of Obstetricians and Gynaecologists. The Management of Nausea and Vomiting of Pregnancy and Hyperemesis Gravidarum. Green-top Guideline.
- American College of Obstetricians and Gynecologists. Practice Bulletin: Nausea and Vomiting of Pregnancy.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pelayanan Antenatal Terpadu.
- Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia. Rekomendasi Tata Laksana Mual dan Muntah pada Kehamilan.
Meta Description SEO:
SOP Hiperemesis Gravidarum (HEG) terbaru 2026 lengkap dengan pengertian, diagnosis, pemeriksaan, tata laksana, monitoring, komplikasi, indikator mutu, dan kriteria rujukan sesuai pedoman WHO, RCOG, ACOG, POGI, dan Kementerian Kesehatan RI.
.png)
No comments:
Post a Comment