|
|
REFLUKSGASTROESOFAGEAL |
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
SOP |
No. Dokumen : SOP/VII/ UKP/ /16 |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
No. Revisi : - |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Tanggal Terbit : 4
April 2016 |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Halaman : 1/4 |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Puskesmas . |
|
. |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
1.
Pengertian |
No ICPC-2 : D84 Oesphagus
disease No ICD-10 : K21.9Gastro-oesophageal
reflux disease without oesophagitis Tingkat Kemampuan 4A Masalah Kesehatan Gastroesophageal Reflux
Disease (GERD) adalah mekanisme refluks melalui sfingter esofagus. |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
2.
Tujuan |
Semua pasien yang datang ke Puskesmas Banyumas
mendapatkan pelayanan yang sesuai dengan prosedur |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
3.
Kebijakan |
Keputusan Kepala Puskesmas Banyumas Nomor
068/C.VII/01/16/006 tentang kebijakan pelayanan klinis Puskesmas Banyumas |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
4.
Referensi |
Keputusan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor HK.02.02/MENKES/514/2015 Tentang Panduan Praktik
Klinis Bagi Dokter Di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
5.
Prosedur |
Hasil Anamnesis (Subjective) Keluhan Rasa panas dan terbakar di
retrosternal atau epigastrik dan dapat menjalar ke leher disertai muntah,
atau timbul rasa asam di mulut. Hal ini terjadi terutama
setelah makan dengan volume besar dan berlemak. Keluhan ini diperberat dengan
posisi berbaring terlentang. Keluhan ini juga dapat timbul oleh karena
makanan berupa saos tomat, peppermint, coklat, kopi, dan alkohol. Keluhan
sering muncul pada malam hari. Faktor risiko Usia > 40 tahun,
obesitas, kehamilan, merokok, konsumsi kopi, alkohol, coklat, makan berlemak,
beberapa obat di antaranya nitrat, teofilin dan verapamil, pakaian yang
ketat, atau pekerja yang sering mengangkat beban berat Hasil Pemeriksaan Fisik dan
penunjang sederhana (Objective) Pemeriksaan Fisik Tidak terdapat tanda
spesifik untuk GERD. Tindakan untuk pemeriksaan adalah dengan pengisian
kuesioner GERD. Bila hasilnya positif, maka dilakukan tes dengan pengobatan
PPI (Proton Pump Inhibitor). Penegakan Diagnostik (Assessment) Diagnosis Klinis Diagnosis ditegakkan
berdasarkan anamnesis yang cermat. Kemudian untuk di fasilitas pelayanan
tingkat pertama, pasien diterapi dengan PPI test, bila memberikan
respon positif terhadap terapi, maka diagnosis definitif GERD dapat
disimpulkan. Standar baku untuk
diagnosis definitif GERD adalah dengan endoskopi saluran cerna bagian atas
yaitu ditemukannya mucosal break di esophagus namun tindakan ini hanya
dapat dilakukan oleh dokter spesialis yang memiliki kompetensi tersebut. Diagnosis Banding Angina pektoris, Akhalasia,
Dispepsia, Ulkus peptik, Ulkus duodenum, Pankreatitis Komplikasi Esofagitis, Ulkus
esophagus, Perdarahan esofagus, Striktur esophagus, Barret’s esophagus,
Adenokarsinoma, Batuk dan asma, Inflamasi faring dan laring, Aspirasi paru. Penatalaksanaan
komprehensif (Plan) Penatalaksanaan 1.
Terapi
dengan medikamentosa dengan cara memberikan Proton Pump Inhibitor (PPI) dosis
tinggi selama 7-14 hari.Bila terdapat perbaikan gejala yang signifikan
(50-75%) maka diagnosis dapat ditegakkan sebagai GERD. PPI dosis tinggi
berupa omeprazol 2 x 20 mg/hari dan lansoprazol 2 x 30 mg/hari. 2.
3.
Pada
kondisi tidak tersedianya PPI, maka penggunaan H2 Blocker 2 x / hari:
simetidin 400-800 mg atau ranitidin 150 mg atau famotidin 20 mg. ALGORITME TATA LAKSANA GERD
PADA PELAYANAN KESEHATAN LINI PERTAMA GEJALA KHAS GERD Gambar Algoritme
tatalaksana GERD (Refluks esofageal) Pemeriksaan penunjang
dilakukan pada fasilitas layanan sekunder (rujukan) untuk endoskopi dan bila
perlu biopsy Konseling dan Edukasi Edukasi untuk melakukan
modifikasi gaya hidup yaitu dengan mengurangi berat badan, berhenti merokok,
tidak mengkonsumsi zat yang mengiritasi lambung seperti kafein, aspirin, dan
alkohol. Posisi tidur sebaiknya dengan kepala yang lebih tinggi. Tidur minimal
setelah 2 sampai 4 jam setelah makanan, makan dengan porsi kecil dan kurangi
makanan yang berlemak. Kriteria Rujukan 1.
Pengobatan
empirik tidak menunjukkan hasil 2.
Pengobatan
empirik menunjukkan hasil namun kambuh kembali 3.
Adanya
alarm symptom: 3.1.
Berat
badan menurun 3.2.
Hematemesis
melena 3.3.
3.4.
Odinofagia
(sakit menelan) 3.5.
Anemia Peralatan Kuesioner GERD Prognosis Prognosis umumnya bonam tetapi
sangat tergantung dari kondisi pasien saat datang dan pengobatannya. |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
6.
Bagan Alir |
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
7.
Unit Terkait |
Pemeriksaan Umum, R.Tindakan, KIA-KB-Imunisasi |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
8.
Rekaman Historis Perubahan |
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
4/4


No comments:
Post a Comment