|
128 Dinkes Kab Defgh |
REAKSI
GIGITAN SERANGGA |
Puskesmas Abcde |
|||
|
SOP |
Nomor |
: |
|||
|
Terbit ke |
: 01 |
||||
|
No.Revisi |
: 00 |
||||
|
Tgl.Diberlakukan |
: 2-01-2018 |
||||
|
Halaman |
: 1 / 2 |
||||
|
Ditetapkan
Kepala Puskesmas Abcde |
|
Kapus NIP. nipkapus |
|||
|
A. Pengertian |
Reaksi gigitan serangga (insect bite reaction) adalah reaksi
hipersensitivitas atau alergi pada kulit akibat gigitan (bukan terhadap
sengatan/stings) dan kontak dengan serangga. Gigitan hewan serangga, misalnya
oleh nyamuk, lalat, bugs, dan kutu, yang dapat menimbulkan reaksi peradangan
yang bersifat lokal sampai sistemik. |
||||||
|
B. Tujuan |
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk penatalaksanaan pasien
dengan gigitan serangga |
||||||
|
C. Kebijakan |
SK Kepala UPTD Puskesmas Abcde Nomor ... tentang Kebijakan Pelayanan
Klinis UPTD Puskesmas Abcde |
||||||
|
D. Referensi |
Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/Menkes/514/2015 tentang Panduan
Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama |
||||||
|
E. Prosedur |
Hasil Anamnesis (Subjective) Keluhan Pasien datang dengan keluhan gatal, rasa tidak
nyaman, nyeri, kemerahan, nyeri tekan, hangat atau bengkak pada daerah tubuh
yang digigit, umumnya tidak tertutup pakaian. Kebanyakan penderita datang sesaat setelah merasa
digigit serangga, namun ada pula yang datang dengan delayed reaction,
misalnya 10- 14 hari setelah gigitan berlangsung. Keluhan
kadang-kadang diikuti dengan reaksi sistemik gatal seluruh tubuh,
urtikaria, dan angioedema, serta dapat berkembang menjadi suatu ansietas,
disorientasi, kelemahan, GI upset (cramping, diarrhea, vomiting), dizziness,
sinkop bahkan hipotensi dan sesak napas. Gejala dari delayed reaction mirip
seperti serum sickness, yang meliputi demam, malaise, sakit kepala,
urtikaria, limfadenopati dan poliartritis. Faktor Risiko 1. Lingkungan
tempat tinggal yang banyak serangga. 2. Riwayat
atopi pada diri dan keluarga. 3. Riwayat
alergi. 4. Riwayat
alergi makanan. Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana
(Objective) Pemeriksaan Fisik Tanda Patognomonis 1.
Urtika dan papul
timbul secara simultan
di tempat gigitan, dikelilingi zona eritematosa. 2. Di bagian
tengah tampak titik (punctum) bekas tusukan/gigitan, kadang hemoragik, atau
menjadi krusta kehitaman. 3. Bekas
garukan karena gatal. Dapat timbul gejala sistemik seperti takipneu,
stridor, wheezing, bronkospasme, hiperaktif peristaltic, dapat disertai
tanda-tanda hipotensi orthostatik Pada reaksi lokal yang parah dapat timbul eritema
generalisata, urtikaria, atau edema
pruritus, sedangkan bila
terdapat reaksi sistemik
menyeluruh dapat diikuti dengan reaksi anafilaksis. Pemeriksaan Penunjang Pada umumnya tidak diperlukan pemeriksaan penunjang. Penegakan Diagnosis (Assessment) Diagnosis Klinis Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan
pemeriksaan fisik. Klasifikasi berdasarkan waktu terjadinya: 1. Reaksi
tipe cepat. Terjadi segera hingga 20 menit setelah gigitan,
bertahan sampai 1- 3 jam. 2. Reaksi
tipe lambat. Pada anak terjadi lebih dari 20 menit sampai
beberapa jam setelah gigitan serangga. Pada orang dewasa dapat muncul 3-5 hari setelah
gigitan. 3. Reaksi
tidak biasa. Sangat segera, mirip anafilaktik. Klasifikasi berdasarkan bentuk klinis: 1. Urtikaria
iregular. 2. Urtikaria
papular. 3.
Papulo-vesikular, misalnya pada prurigo. 4. Punctum (titik gigitan), misalnya pada
pedikulosis kapitis atau phtirus pubis. Diagnosis Banding Prurigo Komplikasi 1. Infeksi
sekunder akibat garukan. 2. Bila disertai
keluhan sistemik, dapat
terjadi syok anafilaktik hingga kematian. Penatalaksanaan Komprehensif (Plan) Tatalaksana 1. Prinsip
penanganan kasus ini adalah dengan mengatasi respon peradangan baik yang
bersifat lokal maupun sistemik. Reaksi peradangan lokal dapat dikurangi
dengan sesegera mungkin mencuci daerah gigitan dengan air
dan sabun, serta kompres es. 2. Atasi keadaan
akut terutama pada
angioedema karena dapat terjadiobstruksi saluran
napas. Penanganan pasien
dapat dilakukan di Unit Gawat Darurat. Bila disertai obstruksi saluran
napas diindikasikan pemberian epinefrin sub kutan. Dilanjutkan dengan
pemberian kortikosteroid prednison 60-80 mg/hari selama 3 hari, dosis diturunkan 5-10 mg/hari. Dalam kondisi stabil, terapi yang dapat diberikan
yaitu: a. Sistemik •
Antihistamin sedatif: klorfeniramin maleat
3 x 4
mg per hari selama 7 hari atau
setirizin 1 x 10 mg per hari selama 7 hari. •
Antihistamin non sedatif: loratadin 1 x 10 mg per hari selama 7 hari. b. Topikal Kortikosteroid topikal potensi sedang-kuat: misalnya
krim mometason furoat 0,1% atau krim betametason valerat 0,5% diberikan
selama 2 kali sehari selama 7 hari. Konseling dan Edukasi Keluarga diberikan penjelasan mengenai: 1. Minum obat
secara teratur. 2. Menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal,
memakai baju berlengan panjang dan
celana panjang, pada beberapa kasus boleh memakai mosquito
repellent jika diperlukan, dan lain-lain agar terhindar dari gigitan
serangga. Kriteria rujukan Jika kondisi memburuk, yaitu dengan makin
bertambahnya patch eritema, timbul bula, atau disertai gejala sistemik atau
komplikasi. Peralatan 1. Alat
resusitasi 2. Tabung dan
masker oksigen Prognosis Prognosis umumnya bonam. Quo ad sanationam untuk
reaksi tipe cepat dan reaksi
tidak biasa adalah
dubia ad malam,
sedangkan reaksi tipe lambat adalah bonam. |
||||||
|
F. Diagram Alir |
menegakan
diagnose berdasarkan hasil pemeriksaan Memberikan
tata laksana pada pasien sesuai hasil pemeriksaan menulis hasil
anamnesa, pemeriksaan dan diagnose ke rekam medic melakukan
vital sign dan pemeriksaan fisik Melakukan anamnesis pada pasien menulis
diagnose pasien ke buku register. |
||||||
G. Unit Terkait |
Ruang Pemeriksaan Umum |
G. Rekaman Historis:
|
No |
Halaman |
Yang dirubah |
Perubahan |
Diberlakukan Tanggal |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
No comments:
Post a Comment