|
127 Dinkes Kab Defgh |
SKABIES |
Puskesmas Abcde |
|||
|
SOP |
Nomor |
: |
|||
|
Terbit ke |
: 01 |
||||
|
No.Revisi |
: 00 |
||||
|
Tgl.Diberlakukan |
: 2-01-2018 |
||||
|
Halaman |
: 1 / 2 |
||||
|
Ditetapkan
Kepala Puskesmas Abcde |
|
Kapus NIP. nipkapus |
|||
|
A. Pengertian |
Skabies adalah penyakit yang disebabkan infestasi dan sensitisasi kulit
oleh tungau Sarcoptes scabiei dan produknya. Penyakit ini berhubungan erat
dengan higiene yang
buruk. Prevalensi skabies tinggi pada populasi yang padat.
Dari hasil penelitian di Brazil, prevalensi skabies dua kali lebih tinggi di
daerah kumuh perkotaan yang padat penduduk
daripada di masyarakat
nelayan dimana mereka tinggal
di tempat yang lebih luas. Penularan dapat terjadi karena: 1. Kontak langsung kulit dengan kulit penderita skabies, seperti menjabat
tangan, hubungan seksual, atau tidur bersama. 2. Kontak tidak langsung (melalui benda), seperti penggunaan perlengkapan tidur bersama
dan saling meminjam
pakaian, handuk dan alat-alat pribadi lainnya, tidak memiliki
alat-alat pribadi sendiri sehingga harus berbagi dengan temannya. Tungau hidup dalam epidermis, tahan terhadap air dan sabun dan tetap
hidup bahkan setelah mandi dengan air panas setiap. |
||||||
|
B. Tujuan |
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk penatalaksanaan pasien
dengan skabies |
||||||
|
C. Kebijakan |
SK Kepala UPTD Puskesmas Abcde Nomor ... tentang Kebijakan Pelayanan
Klinis UPTD Puskesmas Abcde |
||||||
|
D. Referensi |
Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/Menkes/514/2015 tentang Panduan
Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama |
||||||
|
E. Prosedur |
Hasil Anamnesis (Subjective) Gejala klinis: 1. Pruritus
nokturna, yaitu gatal yang hebat terutama pada malam hari atau saat penderita
berkeringat. 2. Lesi timbul di stratum korneum yang tipis,
seperti di sela jari, pergelangan tangan dan kaki, aksila, umbilikus, areola
mammae dan di bawah payudara (pada wanita) serta genital eksterna (pria). Faktor Risiko: 1. Masyarakat
yang hidup dalam kelompok yang padat seperti tinggal di asrama atau
pesantren. 2. Higiene
yang buruk. 3. Sosial
ekonomi rendah seperti di panti asuhan, dan sebagainya. 4. Hubungan
seksual yang sifatnya promiskuitas. Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana
(Objective) Pemeriksaan Fisik Lesi kulit berupa terowongan (kanalikuli) berwarna
putih atau abu- abu dengan panjang
rata-rata 1 cm.
Ujung terowongan terdapat papul, vesikel, dan bila terjadi
infeksi sekunder, maka akan terbentuk pustul, ekskoriasi, dan sebagainya.Pada
anak-anak, lesi lebih seringberupa vesikel disertai infeksi sekunder akibat
garukan sehingga lesi menjadi bernanah. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan
mikroskopis dari kerokan
kulit untuk menemukan tungau. Penegakan Diagnosis (Assessment) Diagnosis Klinis Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan
pemeriksaan fisik. Terdapat 4 tanda kardinal untuk diagnosis skabies, yaitu: 1. Pruritus
nokturna. 2. Penyakit
menyerang manusia secara berkelompok. 3.
Adanya terowongan (kunikulus)
pada tempat-tempat predileksi yang berwarna putih atau
keabu-abuan, berbentuk garis lurus atau berkelok-kelok, rata-rata
panjang 1 cm,
pada ujung terowongan
ditemukan papul atau vesikel. 4.
Ditemukannya tungau dengan pemeriksaan mikroskopis. Diagnosis ditegakkan dengan menemukan 2 dari 4 tanda
tersebut. Diagnosis Banding Skabies adalah penyakit kulit yang disebut dengan
the great imitator dari kelainan kulit dengan keluhan gatal. Diagnosis
bandingnya adalah: Pioderma, Impetigo, Dermatitis, Pedikulosis korporis Komplikasi Infeksi kulit sekunder terutama oleh S. aureus
sering terjadi, terutama pada anak. Komplikasi skabies dapat menurunkan
kualitas hidup dan prestasi belajar. Penatalaksanaan Komprehensif (Plan) Penatalaksanaan 1. Melakukan
perbaikan higiene diri dan lingkungan, dengan: a.Tidak menggunakan peralatan pribadi secara
bersama-sama dan alas tidur diganti bila ternyata pernah digunakan oleh
penderita skabies. b.
Menghindari kontak langsung dengan penderita skabies. 2. Terapi tidak dapat dilakukan secara individual
melainkan harus serentak dan menyeluruh pada seluruh kelompok orang yang ada
di sekitar penderita skabies. Terapi diberikan dengan salah satu obat topikal
(skabisid) di bawah ini: a.Salep 2-4 dioleskan di seluruh tubuh, selama 3
hari berturut- turut, dipakai setiap habis mandi. b. Krim
permetrin 5% di seluruh tubuh. Setelah 10 jam, krim permetrin dibersihkan dengan sabun. Terapi skabies ini tidak dianjurkan pada anak < 2
tahun. Konseling dan Edukasi Dibutuhkan pemahaman bersama agar upaya eradikasi
skabies bisa melibatkan semua pihak. Bila infeksi menyebar di kalangan santri
di sebuah pesantren, diperlukan keterbukaan dan kerjasama dari pengelola
pesantren. Bila sebuah barak militer tersebar infeksi, mulai dari prajurit
sampai komandan barak harus bahu membahu membersihkan semua benda yang
berpotensi menjadi tempat penyebaran penyakit. Kriteria Rujukan Pasien skabies dirujuk apabila keluhan masih
dirasakan setelah 1 bulan paska terapi. Peralatan 1. Lup 2. Peralatan laboratorium untuk pemeriksaan sediaan
langsung kerokan kulit. Prognosis Prognosis umumnya bonam, namun tatalaksana harus
dilakukan juga terhadap lingkungannya. |
||||||
|
F. Diagram Alir |
Memberikan
tata laksana pada pasien sesuai hasil pemeriksaan menulis hasil
anamnesa, pemeriksaan dan diagnose ke rekam medic menegakan
diagnose berdasarkan hasil pemeriksaan melakukan
vital sign dan pemeriksaan fisik Melakukan anamnesis pada pasien menulis
diagnose pasien ke buku register. |
||||||
G. Unit Terkait |
Ruang Pemeriksaan Umum |
G. Rekaman Historis:
|
No |
Halaman |
Yang dirubah |
Perubahan |
Diberlakukan Tanggal |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
No comments:
Post a Comment