MOHON MAAF APABILA SUSUNANYA ADA YANG BERANTAKAN , KARENA HASIL COPY PASTE DARI FILE WORD/EXEL KE POSTINGAN BLOG

Thursday, March 12, 2026

SOP SKABIES

 

127

 

 

 

 

 

Dinkes Kab Defgh

SKABIES

 

 

 

 

 

 

Puskesmas Abcde

 

SOP

Nomor

:

Terbit ke

: 01

No.Revisi

: 00

Tgl.Diberlakukan

: 2-01-2018

Halaman

: 1 / 2

Ditetapkan Kepala  Puskesmas Abcde

 

 

Kapus

NIP. nipkapus

 

A. Pengertian

Skabies adalah penyakit yang disebabkan infestasi dan sensitisasi kulit oleh tungau Sarcoptes scabiei dan produknya. Penyakit ini berhubungan  erat  dengan  higiene  yang  buruk.  Prevalensi  skabies tinggi pada populasi yang padat. Dari hasil penelitian di Brazil, prevalensi skabies dua kali lebih tinggi di daerah kumuh perkotaan yang  padat  penduduk  daripada  di  masyarakat  nelayan  dimana mereka tinggal di tempat yang lebih luas.

 

Penularan dapat terjadi karena:

1. Kontak langsung kulit dengan kulit penderita skabies, seperti menjabat tangan, hubungan seksual, atau tidur bersama.

2. Kontak tidak langsung (melalui benda), seperti penggunaan perlengkapan           tidur  bersama  dan  saling  meminjam  pakaian, handuk dan alat-alat pribadi lainnya, tidak memiliki alat-alat pribadi sendiri sehingga harus berbagi dengan temannya.

Tungau hidup dalam epidermis, tahan terhadap air dan sabun dan tetap hidup bahkan setelah mandi dengan air panas setiap.

B. Tujuan

Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk penatalaksanaan pasien dengan skabies

C. Kebijakan

SK Kepala UPTD Puskesmas Abcde Nomor ... tentang Kebijakan Pelayanan Klinis UPTD Puskesmas Abcde

D. Referensi

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/Menkes/514/2015 tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama

E. Prosedur

Hasil Anamnesis (Subjective)

 

Gejala klinis:

1.  Pruritus nokturna, yaitu gatal yang hebat terutama pada malam hari atau saat penderita berkeringat.

2. Lesi timbul di stratum korneum yang tipis, seperti di sela jari, pergelangan tangan dan kaki, aksila, umbilikus, areola mammae dan di bawah payudara (pada wanita) serta genital eksterna (pria).

 

Faktor Risiko:

1.  Masyarakat yang hidup dalam kelompok yang padat seperti tinggal di asrama atau pesantren.

2.  Higiene yang buruk.

3.  Sosial ekonomi rendah seperti di panti asuhan, dan sebagainya.

4.  Hubungan seksual yang sifatnya promiskuitas.

 

Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)

 

Pemeriksaan Fisik

Lesi kulit berupa terowongan (kanalikuli) berwarna putih atau abu- abu  dengan  panjang  rata-rata  1  cm.  Ujung  terowongan  terdapat papul, vesikel, dan bila terjadi infeksi sekunder, maka akan terbentuk pustul, ekskoriasi, dan sebagainya.Pada anak-anak, lesi lebih seringberupa vesikel disertai infeksi sekunder akibat garukan sehingga lesi menjadi bernanah.

 

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan  mikroskopis  dari  kerokan  kulit  untuk  menemukan tungau.

 

Penegakan Diagnosis (Assessment)

 

Diagnosis Klinis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Terdapat 4 tanda kardinal untuk diagnosis skabies, yaitu:

1.  Pruritus nokturna.

2.  Penyakit menyerang manusia secara berkelompok.

3.  Adanya  terowongan  (kunikulus)  pada  tempat-tempat  predileksi yang berwarna putih atau keabu-abuan, berbentuk garis lurus atau                    berkelok-kelok,   rata-rata   panjang   1   cm,   pada   ujung terowongan ditemukan papul atau vesikel.

4.  Ditemukannya tungau dengan pemeriksaan mikroskopis.

 

Diagnosis ditegakkan dengan menemukan 2 dari 4 tanda tersebut.

 

Diagnosis Banding

Skabies adalah penyakit kulit yang disebut dengan the great imitator dari kelainan kulit dengan keluhan gatal. Diagnosis bandingnya adalah: Pioderma, Impetigo, Dermatitis, Pedikulosis korporis

 

Komplikasi

Infeksi kulit sekunder terutama oleh S. aureus sering terjadi, terutama pada anak. Komplikasi skabies dapat menurunkan kualitas hidup dan prestasi belajar.

 

Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

 

Penatalaksanaan

1.  Melakukan perbaikan higiene diri dan lingkungan, dengan:

a.Tidak menggunakan peralatan pribadi secara bersama-sama dan alas tidur diganti bila ternyata pernah digunakan oleh penderita skabies.

b.  Menghindari kontak langsung dengan penderita skabies.

2. Terapi tidak dapat dilakukan secara individual melainkan harus serentak dan menyeluruh pada seluruh kelompok orang yang ada di sekitar penderita skabies. Terapi diberikan dengan salah satu obat topikal (skabisid) di bawah ini:

a.Salep 2-4 dioleskan di seluruh tubuh, selama 3 hari berturut- turut, dipakai setiap habis mandi.

b.  Krim permetrin 5% di seluruh tubuh. Setelah 10 jam,   krim permetrin dibersihkan dengan sabun.

 

Terapi skabies ini tidak dianjurkan pada anak < 2 tahun.

 

Konseling dan Edukasi

Dibutuhkan pemahaman bersama agar upaya eradikasi skabies bisa melibatkan semua pihak. Bila infeksi menyebar di kalangan santri di sebuah pesantren, diperlukan keterbukaan dan kerjasama dari pengelola pesantren. Bila sebuah barak militer tersebar infeksi, mulai dari prajurit sampai komandan barak harus bahu membahu membersihkan semua benda yang berpotensi menjadi tempat penyebaran penyakit.

 

Kriteria Rujukan

Pasien skabies dirujuk apabila keluhan masih dirasakan setelah 1 bulan paska terapi.

 

Peralatan

1.  Lup

2. Peralatan laboratorium untuk pemeriksaan sediaan langsung kerokan kulit.

 

Prognosis

Prognosis umumnya bonam, namun tatalaksana harus dilakukan juga terhadap lingkungannya.

F. Diagram Alir

Memberikan tata laksana pada pasien sesuai hasil pemeriksaan

menulis hasil anamnesa, pemeriksaan dan diagnose ke rekam medic

 

menegakan diagnose berdasarkan hasil pemeriksaan

melakukan vital sign dan pemeriksaan fisik

Melakukan anamnesis pada pasien

 

 

 


menulis diagnose pasien ke buku register.

 

 

 


G. Unit Terkait

Ruang Pemeriksaan Umum

 

G. Rekaman Historis:

No

Halaman

Yang dirubah

Perubahan

Diberlakukan Tanggal

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

No comments:

Post a Comment