|
|
PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIS
(PPOK) |
|
|||||||||||||
|
SPO |
No. Dokumen : SPO/IX/KB-00/04/16 |
||||||||||||||
|
No. Revisi : 0 |
|||||||||||||||
|
Tanggal Terbit : 4 April 2016 |
|||||||||||||||
|
Halaman : 1/2 |
|||||||||||||||
|
. |
|
. |
|||||||||||||
|
1. Pengertian |
PPOK adalah penyakit paru kronik yang
dapat dicegah dan diobati, dikarakteristikkan dengan hambatan aliran udara
yang persisten, progresif dan berhubungan dengan peningkatan respons
inflamasi kronis di paru terhadap partikel dan gas berbahaya. |
||||||||||||||
|
2. Tujuan |
Supaya mampu memberikan tindakan dengan benar dan tepat. |
||||||||||||||
|
3. Kebijakan |
Surat Keputusan Kepala Puskesmas II Purwokerto Utara |
||||||||||||||
|
4. Referensi |
KMK RI Nomor HK.02.02/MENKES/514/2015 tentang Panduan Praktik
Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama |
||||||||||||||
|
5. Prosedur |
a.
Peralatan 1)
Spirometer
2)
Peak
flow meter 3)
Pulse
oxymeter 4)
Tabung
oksigen 5)
Kanul
hidung 6)
Sungkup
sederhana 7)
Sungkup
inhalasi 8)
Nebulizer
9)
Laboratorium
untuk pemeriksaan darah rutin b.
Langkah
– Langkah 1)
Melakukan
Anamesa terhadap Pasien 2)
Menanyakan
keluhan pasien (sesak nafas, Kadang-kadang disertai mengi, batuk kering atau
dengan dahak yang produktif, rasa berat di dada). 3)
Melakukan
inspeksi terhadap pasien a)
Sianosis
sentral pada membran mukosa mungkin ditemukan b)
Abnormalitas
dinding dada yang menunjukkan hiper inflasi paru termasuk iga yang tampak
horizontal, barrel chest (diameter antero - posterior dan transversal
sebanding) dan abdomen yang menonjol keluar c)
Hemidiafragma
mendatar d)
Laju
respirasi istirahat meningkat lebih dari 20 kali/menit dan pola napas lebih
dangkal e)
Pursed
- lips breathing
(mulut setengah terkatup mencucu), laju ekspirasi lebih lambat
memungkinkan pengosongan paru yang lebih efisien f)
Penggunaan
otot bantu napas adalah indikasi gangguan pernapasan g)
Bila
telah terjadi gagal jantung kanan terlihat denyut vena jugularis di leher dan
edema tungkai 4)
Mekukan
palpasi dan perkusi a)
Sering
tidak ditemukan kelainan pada PPOK b)
Irama
jantung di apeks mungkin sulit ditemukan karena hiperinflasi paru c)
Hiperinflasi
menyebabkan hati letak rendah dan mudah di palpasi 5)
Melakukan
Auskultasi a)
Pasien
dengan PPOK sering mengalami penurunan suara napas tapi tidak spesifik untuk
PPOK b)
Mengi
selama pernapasan biasa menunjukkan keterbatasan aliran udara. Tetapi mengi
yang hanya terdengar setelah ekspirasi paksa tidak spesifik untuk PPOK c)
Ronki
basah kasar saat inspirasi dapat ditemukan d)
Bunyi
jantung terdengar lebih keras di area xiphoideus e)
Melakukan
Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan penunjang yang dapat
dilakukan adalah uji jalan 6 menit yang dimodifikasi. Untuk di Puskesmas
dengan sarana terbatas, evaluasi yang dapat digunakan adalah keluhan lelah
yang timbul atau bertambah sesak. Pemeriksaan-pemeriksaan ini dapat dilakukan
bila fasilitas tersedia: Spirometri, Peak flow meter (arus puncak
respirasi), Pulse oxymetry, Analisis gas darah, Foto toraks ,
Pemeriksaan darah rutin (Hb, Ht, leukosit, trombosit). 6)
Melakukan
Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan penunjang yang dapat
dilakukan adalah uji jalan 6 menit yang dimodifikasi. Untuk di Puskesmas
dengan sarana terbatas, evaluasi yang dapat digunakan adalah keluhan lelah
yang timbul atau bertambah sesak. Pemeriksaan-pemeriksaan ini dapat dilakukan
bila fasilitas tersedia: a)
Spirometri
b)
Peak
flow meter (arus
puncak respirasi) c)
Pulse
oxymetry d)
Analisis
gas darah e)
Foto
toraks f)
Pemeriksaan
darah rutin (Hb, Ht, leukosit, trombosit) 7)
Melakukan
penegakan diagnositik Diagnosis Klinis Diagnosis ditegakkan berdasarkan
anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang
8)
Penatalaksanaan Tujuan penatalaksanaan di Fasilitas
Pelayanan Kesehatan Tingkat pertama : Mengurangi laju beratnya penyakit,
Mempertahankan PPOK yang stabil, Mengatasi eksaserbasi ringan, Merujuk ke
spesialis paru atau rumah sakit a) Penatalaksanaan PPOK stabil (1) Obat-obatan dengan tujuan
mengurangi laju beratnya penyakit dan mempertahankan keadaan stabil. (2) Bronkodilator dalam bentuk
oral, kombinasi golongan β2 agonis (salbutamol) dengan golongan xantin
(aminofilin dan teofilin). Masing-masing dalam dosis suboptimal, sesuai
dengan berat badan dan beratnya penyakit. Untuk dosis pemeliharaan,
aminofilin/teofilin 100-150 mg kombinasi dengn salbutamol 1 mg. (3) Kortikosteroid digunakan dalam
bentuk inhalasi, bila tersedia. (4) Ekspektoran dengan obat batuk
hitam (OBH) (5) Mukolitik (ambroxol) dapat
diberikan bila sputum mukoid. b) Penatalaksanaan PPOK
eksaserbasi akut ringan (1) Oksigen (bila tersedia) (2) Bronkodilator Pada kondisi eksaserbasi, dosis dan
atau frekuensi bronkodilator kerja pendek ditingkatkan dan dikombinasikan
dengan antikolinergik. Bronkodilator yang disarankan adalah dalam sediaan
inhalasi. Jika tidak tersedia, obat dapat diberikan secara injeksi, subkutan,
intravena atau perdrip, misalnya: Adrenalin 0,3 mg subkutan, digunakan dengan
hati-hati, Aminofilin bolus 5 mg/kgBB (dengan pengenceran) harus perlahan (10
menit) utk menghindari efek samping.dilanjutkan dengan perdrip 0,5-0,8
mg/kgBB/jam. (3) Kortikosteroid Diberikan dalam dosis 30 mg/hari
diberikan maksimal selama 2 minggu. Pemberian selama 2 minggu tidak perlu
tapering off. (4) Antibiotik yang tersedia di
Puskesmas (5) Pada kondisi telah terjadi kor
pulmonale, dapat diberikan diuretik dan perlu berhati-hati dalam pemberian
cairan. 9)
Melakukan
Konseling dan Edukasi a)
Edukasi
ditujukan untuk mencegah penyakit bertambah berat dengan cara menggunakan
obat-obatan yang tersedia dengan tepat, menyesuaikan keterbatasan aktivitas
serta mencegah eksaserbasi. b)
Pengurangan
pajanan faktor risiko c)
Berhenti
merokok d)
Keseimbangan
nutrisi antara protein lemak dan karbohidrat, dapat diberikan dalam porsi
kecil tetapi sering. e)
Rehabilitasi
(1) Latihan bernapas dengan pursed
lip breathing (2) Latihan ekspektorasi (3) Latihan otot pernapasan dan
ekstremitas f)
Terapi
oksigen jangka panjang 10) Melakukan Kriteria Rujukan: a)
Untuk
memastikan diagnosis dan menentukan derajat PPOK b)
PPOK
eksaserbasi sedang - berat c)
Rujukan
penatalaksanaan jangka panjang |
||||||||||||||
|
6. Diagram Alir (bila perlu) |
|
||||||||||||||
|
7. Unit terkait |
BP Umum |
||||||||||||||
|
8.Rekaman Historis Perubahan |
|
||||||||||||||

No comments:
Post a Comment