MOHON MAAF APABILA SUSUNANYA ADA YANG BERANTAKAN , KARENA HASIL COPY PASTE DARI FILE WORD/EXEL KE POSTINGAN BLOG

Friday, March 13, 2026

SOP PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIS (PPOK)

 

 

   http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2015/02/logo-pemkab-banyumas.jpg

PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIS (PPOK)

PUSKESMAS.jpg

 

SPO

 

 

No. Dokumen : SPO/IX/KB-00/04/16

No. Revisi        : 0

Tanggal Terbit : 4 April 2016

Halaman         :  1/2

.

 

 

 

.

1. Pengertian

PPOK adalah penyakit paru kronik yang dapat dicegah dan diobati, dikarakteristikkan dengan hambatan aliran udara yang persisten, progresif dan berhubungan dengan peningkatan respons inflamasi kronis di paru terhadap partikel dan gas berbahaya.

2. Tujuan

Supaya mampu memberikan tindakan dengan benar dan tepat.

3. Kebijakan

Surat Keputusan Kepala Puskesmas II Purwokerto Utara

4. Referensi

KMK RI Nomor HK.02.02/MENKES/514/2015 tentang Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama

5. Prosedur

a.    Peralatan

1)    Spirometer

2)    Peak flow meter

3)    Pulse oxymeter

4)    Tabung oksigen

5)    Kanul hidung

6)    Sungkup sederhana

7)    Sungkup inhalasi

8)    Nebulizer

9)    Laboratorium untuk pemeriksaan darah rutin

b.    Langkah – Langkah

1)    Melakukan Anamesa terhadap Pasien

2)    Menanyakan keluhan pasien (sesak nafas, Kadang-kadang disertai mengi, batuk kering atau dengan dahak yang produktif, rasa berat di dada).

3)    Melakukan inspeksi terhadap pasien

a)    Sianosis sentral pada membran mukosa mungkin ditemukan

b)    Abnormalitas dinding dada yang menunjukkan hiper inflasi paru termasuk iga yang tampak horizontal, barrel chest (diameter antero - posterior dan transversal sebanding) dan abdomen yang menonjol keluar

c)    Hemidiafragma mendatar

d)    Laju respirasi istirahat meningkat lebih dari 20 kali/menit dan pola napas lebih dangkal

e)    Pursed - lips breathing (mulut setengah terkatup mencucu), laju ekspirasi lebih lambat memungkinkan pengosongan paru yang lebih efisien

f)      Penggunaan otot bantu napas adalah indikasi gangguan pernapasan

g)    Bila telah terjadi gagal jantung kanan terlihat denyut vena jugularis di leher dan edema tungkai

4)    Mekukan palpasi dan perkusi

a)    Sering tidak ditemukan kelainan pada PPOK

b)    Irama jantung di apeks mungkin sulit ditemukan karena hiperinflasi paru

c)    Hiperinflasi menyebabkan hati letak rendah dan mudah di palpasi

5)    Melakukan Auskultasi

a)    Pasien dengan PPOK sering mengalami penurunan suara napas tapi tidak spesifik untuk PPOK

b)    Mengi selama pernapasan biasa menunjukkan keterbatasan aliran udara. Tetapi mengi yang hanya terdengar setelah ekspirasi paksa tidak spesifik untuk PPOK

c)    Ronki basah kasar saat inspirasi dapat ditemukan

d)    Bunyi jantung terdengar lebih keras di area xiphoideus

e)    Melakukan Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah uji jalan 6 menit yang dimodifikasi. Untuk di Puskesmas dengan sarana terbatas, evaluasi yang dapat digunakan adalah keluhan lelah yang timbul atau bertambah sesak. Pemeriksaan-pemeriksaan ini dapat dilakukan bila fasilitas tersedia: Spirometri, Peak flow meter (arus puncak respirasi), Pulse oxymetry, Analisis gas darah, Foto toraks , Pemeriksaan darah rutin (Hb, Ht, leukosit, trombosit).

6)    Melakukan Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah uji jalan 6 menit yang dimodifikasi. Untuk di Puskesmas dengan sarana terbatas, evaluasi yang dapat digunakan adalah keluhan lelah yang timbul atau bertambah sesak. Pemeriksaan-pemeriksaan ini dapat dilakukan bila fasilitas tersedia:

a)    Spirometri

b)    Peak flow meter (arus puncak respirasi)

c)    Pulse oxymetry

d)    Analisis gas darah

e)    Foto toraks

f)      Pemeriksaan darah rutin (Hb, Ht, leukosit, trombosit)

7)    Melakukan penegakan diagnositik

Diagnosis Klinis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang

 

Gejala

Keterangan

Sesak

Progresif (sesak bertambah berat seiring berjalannya waktu)

Bertambah berat dengan aktivitas

Persisten (menetap sepanjang hari)

Pasien mengeluh, “Perlu usaha untuk bernapas”

Berat, sukar bernapas, terengah-engah

Batuk Kronik

Hilang timbul dan mungkin tidak berdahak

Batuk kronik berdahak

Setiap batuk kronik berdahak dapat mengindikasikan PPOK

 

Riwayat terpajan faktor resiko

Asap, debu, bahan kimia di tempat kerja, asap dapur

Riwayat keluarga

 

 

8)    Penatalaksanaan

Tujuan penatalaksanaan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat pertama : Mengurangi laju beratnya penyakit, Mempertahankan PPOK yang stabil, Mengatasi eksaserbasi ringan, Merujuk ke spesialis paru atau rumah sakit

a)     Penatalaksanaan PPOK stabil

(1)  Obat-obatan dengan tujuan mengurangi laju beratnya penyakit dan mempertahankan keadaan stabil.

(2)  Bronkodilator dalam bentuk oral, kombinasi golongan β2 agonis (salbutamol) dengan golongan xantin (aminofilin dan teofilin). Masing-masing dalam dosis suboptimal, sesuai dengan berat badan dan beratnya penyakit. Untuk dosis pemeliharaan, aminofilin/teofilin 100-150 mg kombinasi dengn salbutamol 1 mg.

(3)  Kortikosteroid digunakan dalam bentuk inhalasi, bila tersedia.

(4)  Ekspektoran dengan obat batuk hitam (OBH)

(5)  Mukolitik (ambroxol) dapat diberikan bila sputum mukoid.

b)   Penatalaksanaan PPOK eksaserbasi akut ringan

(1)  Oksigen (bila tersedia)

(2)  Bronkodilator

Pada kondisi eksaserbasi, dosis dan atau frekuensi bronkodilator kerja pendek ditingkatkan dan dikombinasikan dengan antikolinergik. Bronkodilator yang disarankan adalah dalam sediaan inhalasi. Jika tidak tersedia, obat dapat diberikan secara injeksi, subkutan, intravena atau perdrip, misalnya: Adrenalin 0,3 mg subkutan, digunakan dengan hati-hati, Aminofilin bolus 5 mg/kgBB (dengan pengenceran) harus perlahan (10 menit) utk menghindari efek samping.dilanjutkan dengan perdrip 0,5-0,8 mg/kgBB/jam.

(3)  Kortikosteroid

Diberikan dalam dosis 30 mg/hari diberikan maksimal selama 2 minggu. Pemberian selama 2 minggu tidak perlu tapering off.

(4)  Antibiotik yang tersedia di Puskesmas

(5)  Pada kondisi telah terjadi kor pulmonale, dapat diberikan diuretik dan perlu berhati-hati dalam pemberian cairan.

9)    Melakukan Konseling dan Edukasi

a)    Edukasi ditujukan untuk mencegah penyakit bertambah berat dengan cara menggunakan obat-obatan yang tersedia dengan tepat, menyesuaikan keterbatasan aktivitas serta mencegah eksaserbasi.

b)    Pengurangan pajanan faktor risiko

c)    Berhenti merokok

d)    Keseimbangan nutrisi antara protein lemak dan karbohidrat, dapat diberikan dalam porsi kecil tetapi sering.

e)    Rehabilitasi

(1)  Latihan bernapas dengan pursed lip breathing

(2)  Latihan ekspektorasi

(3)  Latihan otot pernapasan dan ekstremitas

f)      Terapi oksigen jangka panjang

10) Melakukan Kriteria Rujukan:

a)    Untuk memastikan diagnosis dan menentukan derajat PPOK

b)    PPOK eksaserbasi sedang - berat

c)    Rujukan penatalaksanaan jangka panjang

 

 

 

 

 

6. Diagram Alir

    (bila perlu)

 

 

 

7. Unit terkait

BP Umum

 

8.Rekaman Historis Perubahan

No

Yang diubah

Isi Perubahan

Tanggal mulai diberlakukan

 

 

 

 

 

 

No comments:

Post a Comment

POSTINGAN POPULER