|
Puskesmas Cangkringan |
SPO |
NO DOKUMEN : SPO-BPU-28 |
|
|
TANGGAL TERBIT
: 01-04-2014 |
|||
|
EPISTAKSIS |
NOMOR
REVISI : 00 |
||
|
HALAMAN : 1/2 |
|||
|
Dibuat oleh Koordinator BP. Umum dr. Fuad Sri N NIP. 19800921 201001 1 014 |
Disetujui Oleh Management Representative dr. Dyah Arum R NIP. 19860512 201101 2
002 |
Disahkan Oleh Ka. Pusk Cangkringan Maryadi, SKM NIP. 19640209 198511 1
001 |
|
|
RUANG LINGKUP |
Protap ini mencakup diagnosis dan Tata laksana
epistaksis. |
||
|
TUJUAN |
Memberikan terapi rasional pada pasien epistaksis. |
||
|
KEBIJAKAN |
Berlaku untuk semua
pasien epistaksis. |
||
|
PETUGAS |
Dokter |
||
PERALATAN
|
1. Stetoskop 2.
Tensimeter 3.
Senter 4.
Spekulum hidung |
||
|
PROSEDUR |
1.
Definisi Merupakan perdarahan
dari hidung yang dapat terjadi akibat sebab lokal atau umum (kelainan
sistemik). Epistaksis bukan suatu penyakit tp gejala suatu kelainan. Penyebab
lokal misalnya trauma, infeksi hidung dan sinus, tumor, benda asing, udara
sangat dingin, penerbangan, atau idiopatik. Penyebab sistemik misalnya
penyakit jantung, leukimia hemofilia, trombositopenia, dbd, influenza,
morbili, demam thifoid, kehamilan, menopause, dan kelainan kongenital. 2.
Gejala Klinis 2.1. Epistaksis anterior ñ
Sering terjadi pada
anak-anak. ñ
Biasanya perdarahan tidak
begitu hebat dan bila pasien duduk darah akan keluar melalui lubang hidung. ñ
Sering dapat berhenti
spontan dan mudah diatasi. ñ
Terjadi karena keaadaan
mukosa yang hiperemis atau kebiasaan mengorek hidung. 2.2. Epistaksis posterior ñ Sering
terjadi pada usia lanjut yang menderita hipertensi, aterosklerosis, atau
penyakit kardiovaskuler. ñ Perdarahan
lebih hebat dan jarang berhenti sendiri. |
||
|
Puskesmas Cangkringan |
SPO |
NO DOKUMEN : SPO-BPU-28 |
|
|
TANGGAL TERBIT : 01-04-2014 |
|||
|
EPISTAKSIS |
NOMOR REVISI
: 00 |
||
|
HALAMAN : 2/2 |
|||
|
|
3. Penatalaksanaan 3.1. Memposisikan setengah duduk atau berbaring dengan kepala
ditinggikan, jangan sampai darah mengalir ke saluran nafas bawah. 3.2. Pasang tampon sementara yaitu kapas yang telah dibasahi adrenalin
1/5000-1/10.000 dan pantocain atau lidocain 2% dimasukkan ke dalam rongga
hidung selama 10-15 menit dan tentukan apakah sumber perdarahan di bagian
anterior atau posterior. 3.3. Jika perdarahan hebat (apistaksis posterior) rujuk Rs. |
||
|
REFERENSI |
Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga hidung Tenggorok Kepala Dan Leher, Edisi keenam, hal 155
– 159, FKUI, 2007. Kapita Selekta, Edisi Ketiga, Jilid 1, hal 96-99, FKUI, 2000. |
||
No comments:
Post a Comment