MOHON MAAF APABILA SUSUNANYA ADA YANG BERANTAKAN , KARENA HASIL COPY PASTE DARI FILE WORD/EXEL KE POSTINGAN BLOG

Wednesday, March 25, 2026

SOP EPISTAKSIS

 

 

Puskesmas

Cangkringan

SPO

NO DOKUMEN         : SPO-BPU-28

TANGGAL TERBIT   : 01-04-2014

EPISTAKSIS

NOMOR REVISI       : 00

HALAMAN                : 1/2

Dibuat oleh

Koordinator

BP. Umum

 

 

 

dr. Fuad Sri N

 NIP. 19800921 201001 1 014

Disetujui Oleh

Management Representative

 

 

 

dr. Dyah Arum R

NIP. 19860512 201101 2 002

Disahkan Oleh

Ka. Pusk Cangkringan

 

 

 

 

Maryadi, SKM

NIP. 19640209 198511 1 001

 

RUANG LINGKUP

Protap ini mencakup diagnosis dan Tata laksana epistaksis.

TUJUAN

Memberikan terapi rasional pada pasien epistaksis.

KEBIJAKAN

Berlaku untuk semua pasien epistaksis.

PETUGAS

Dokter

PERALATAN

 

1.    Stetoskop

2.    Tensimeter

3.    Senter

4.    Spekulum hidung

PROSEDUR

1.    Definisi

      Merupakan perdarahan dari hidung yang dapat terjadi akibat sebab lokal atau umum (kelainan sistemik). Epistaksis bukan suatu penyakit tp gejala suatu kelainan. Penyebab lokal misalnya trauma, infeksi hidung dan sinus, tumor, benda asing, udara sangat dingin, penerbangan, atau idiopatik. Penyebab sistemik misalnya penyakit jantung, leukimia hemofilia, trombositopenia, dbd, influenza, morbili, demam thifoid, kehamilan, menopause, dan kelainan kongenital.

2.    Gejala Klinis

2.1. Epistaksis anterior

ñ  Sering terjadi pada anak-anak.

ñ  Biasanya perdarahan tidak begitu hebat dan bila pasien duduk darah akan keluar melalui lubang hidung.

ñ  Sering dapat berhenti spontan dan mudah diatasi.

ñ  Terjadi karena keaadaan mukosa yang hiperemis atau kebiasaan mengorek hidung.

2.2. Epistaksis posterior

ñ  Sering terjadi pada usia lanjut yang menderita hipertensi, aterosklerosis, atau penyakit kardiovaskuler.

ñ  Perdarahan lebih hebat dan jarang berhenti sendiri.

 

 

 

 

 

 

Puskesmas

Cangkringan

SPO

NO DOKUMEN         : SPO-BPU-28

TANGGAL TERBIT   : 01-04-2014

EPISTAKSIS

NOMOR REVISI       : 00

HALAMAN                : 2/2

 

3.    Penatalaksanaan

3.1. Memposisikan setengah duduk atau berbaring dengan kepala ditinggikan, jangan sampai darah mengalir ke saluran nafas bawah.

3.2. Pasang tampon sementara yaitu kapas yang telah dibasahi adrenalin 1/5000-1/10.000 dan pantocain atau lidocain 2% dimasukkan ke dalam rongga hidung selama 10-15 menit dan tentukan apakah sumber perdarahan di bagian anterior atau posterior.

3.3. Jika perdarahan hebat (apistaksis posterior) rujuk Rs.

REFERENSI

Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga hidung Tenggorok Kepala Dan Leher,  Edisi keenam, hal 155 – 159, FKUI, 2007.

Kapita Selekta, Edisi Ketiga, Jilid 1, hal 96-99, FKUI, 2000.

 

No comments:

Post a Comment

POSTINGAN POPULER