|
60 Dinkes Kab Defgh |
DISENTRI
BASILER DAN DISENTRI
AMUBA |
Puskesmas Abcde |
|||
|
SOP |
Nomor |
: |
|||
|
Terbit ke |
: 01 |
||||
|
No.Revisi |
: 00 |
||||
|
Tgl.Diberlakukan |
: 2-01-2018 |
||||
|
Halaman |
: 1 / 2 |
||||
|
Ditetapkan
Kepala Puskesmas Abcde |
|
Kapus NIP. nipkapus |
|||
|
A. Pengertian |
Disentri merupakan tipe diare yang berbahaya dan seringkali menyebabkan
kematian dibandingkan dengan tipe diare akut yang lain. Penyakit ini dapat
disebabkan oleh bakteri
disentri basiler yang disebabkan oleh shigellosis dan amoeba
(disentri amoeba). |
||||||
|
B. Tujuan |
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk penatalaksanaan pasien
dengan disentri basiler dan disentri amuba |
||||||
|
C. Kebijakan |
SK Kepala UPTD Puskesmas Abcde Nomor ... tentang Kebijakan Pelayanan
Klinis UPTD Puskesmas Abcde |
||||||
|
D. Referensi |
Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/Menkes/514/2015 tentang Panduan
Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama |
||||||
|
E. Prosedur |
Anamnesis (Subjective)
Keluhan 1. Sakit perut terutama sebelah kiri dan buang air
besar encer secara terus menerus bercampur lendir dan darah 2. Muntah-muntah 3. Sakit kepala 4. Bentuk yang berat (fulminating cases)
biasanya disebabkan oleh S. dysentriae dengan gejalanya timbul
mendadak dan berat, dan dapat meninggal bila tidak cepat ditolong. Faktor Risiko Higiene pribadi dan sanitasi lingkungan yang kurang. Pemeriksaan
Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective) Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan: 1. Febris 2. Nyeri perut pada penekanan di bagian sebelah kiri
3. Terdapat tanda-tanda dehidrasi 4. Tenesmus Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan tinja secara langsung terhadap kuman
penyebab. Penegakan Diagnostik (Assessment) Diagnosis Klinis Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Diagnosis Banding 1. Infeksi Eschericiae coli 2. Infeksi Escherichia coli Enteroinvasive (EIEC)
3. Infeksi Escherichia coli Enterohemoragik (EHEC)
Komplikasi 1. Haemolytic uremic syndrome (HUS) 2. Hiponatremia berat 3. Hipoglikemia berat 4. Komplikasi intestinal seperti toksik megakolon,
prolaps rektal, peritonitis dan perforasi Penatalaksanaan komprehensif (Plan) Penatalaksanaan 1. Mencegah terjadinya dehidrasi 2. Tirah baring 3. Dehidrasi ringan sampai sedang dapat dikoreksi
dengan cairan rehidrasi oral 4. Bila rehidrasi oral tidak mencukupi dapat
diberikan cairan melalui infus 5. Diet, diberikan makanan lunak sampai frekuensi
BAB kurang dari 5 kali/hari, kemudian diberikan makanan ringan biasa bila ada
kemajuan. 6. Farmakologis: a. Menurut pedoman WHO, bila
telah terdiagnosis shigelosis pasien diobati dengan antibiotik. Jika setelah
2 hari pengobatan menunjukkan perbaikan, terapi diteruskan
selama 5 hari. Bila tidak ada perbaikan, antibiotik diganti dengan jenis yang
lain. b. Pemakaian jangka pendek dengan dosis tunggal
Fluorokuinolon seperti Siprofloksasin atau makrolid Azithromisin ternyata
berhasil baik untuk pengobatan disentri basiler. Dosis Siprofloksasin yang
dipakai adalah 2 x 500 mg/hari selama 3 hari sedangkan Azithromisin diberikan
1 gram dosis tunggal dan Sefiksim 400 mg/hari selama 5 hari. Pemberian
Siprofloksasin merupakan kontraindikasi terhadap anak-anak dan wanita hamil. c. Di negara-negara berkembang di mana terdapat
kuman S.dysentriae tipe 1 yang multiresisten terhadap obat-obat,
diberikan asam nalidiksik dengan dosis 3 x 1 gram/hari selama 5 hari. Tidak
ada antibiotik yang dianjurkan dalam pengobatan stadium karier
disentribasiler. d. Untuk disentri amuba diberikan antibiotik
Metronidazol 500mg 3x sehari selama 3-5 hari Rencana Tindak Lanjut Pasien perlu dilihat perkembangan penyakitnya karena
memerlukan waktu penyembuhan yang lama berdasarkan berat ringannya penyakit. Konseling dan Edukasi 1. Penularan disentri amuba dan basiler dapat
dicegah dan dikurangi dengan kondisi lingkungan dan diri yang bersih seperti
membersihkan tangan dengan sabun, suplai air yang tidak terkontaminasi serta
penggunaan jamban yang bersih. 2. Keluarga ikut berperan dalam mencegah penularan
dengan kondisi lingkungan dan diri yang bersih seperti membersihkan tangan
dengan sabun, suplai air yang tidak terkontaminasi, penggunaan jamban yang
bersih. 3. Keluarga ikut menjaga diet pasien diberikan
makanan lunak sampai frekuensi BAB kurang dari 5 kali/hari, kemudian
diberikan makanan ringan biasa bila ada kemajuan. Kriteria Rujukan Pada pasien dengan kasus berat perlu dirawat
intensif dan konsultasi ke pelayanan kesehatan sekunder (spesialis penyakit
dalam). Peralatan Laboratorium untuk pemeriksaan tinja Prognosis Prognosis sangat tergantung pada kondisi pasien saat
datang, ada/tidaknya komplikasi, dan pengobatannya. Pada umumnya prognosis dubia
ad bonam. |
||||||
|
F. Diagram Alir |
Memberikan
tata laksana pada pasien sesuai hasil pemeriksaan menulis hasil
anamnesa, pemeriksaan dan diagnose ke rekam medic menegakan
diagnose berdasarkan hasil pemeriksaan melakukan
vital sign dan pemeriksaan fisik Melakukan anamnesis pada pasien menulis
diagnose pasien ke buku register. |
||||||
G. Unit Terkait |
Ruang Pemeriksaan Umum |
G. Rekaman Historis:
|
No |
Halaman |
Yang dirubah |
Perubahan |
Diberlakukan Tanggal |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
No comments:
Post a Comment