|
59 Dinkes Kab Defgh |
HEPATITIS
A |
Puskesmas Abcde |
|||
|
SOP |
Nomor |
: |
|||
|
Terbit ke |
: 01 |
||||
|
No.Revisi |
: 00 |
||||
|
Tgl.Diberlakukan |
: 2-01-2018 |
||||
|
Halaman |
: 1 / 2 |
||||
|
Ditetapkan
Kepala Puskesmas Abcde |
|
Kapus NIP. nipkapus |
|||
|
A. Pengertian |
Hepatitis A adalah infeksi akut di
liver yang disebabkan oleh hepatitis A virus (HAV), sebuah virus RNA yang
disebarkan melalui rute fekal oral. Lebih dari 75% orang dewasa simtomatik,
sedangkan pada anak<6 tahun 70% asimtomatik. Kurang dari 1% penderita
hepatitis Adewasa berkembang menjadi hepatitis A fulminan. |
||||||
|
B. Tujuan |
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk penatalaksanaan pasien
dengan Hepatitis A |
||||||
|
C. Kebijakan |
SK Kepala UPTD Puskesmas Abcde Nomor ... tentang Kebijakan Pelayanan
Klinis UPTD Puskesmas Abcde |
||||||
|
D. Referensi |
Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/Menkes/514/2015 tentang Panduan
Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama |
||||||
|
E. Prosedur |
Anamnesis (Subjective) Keluhan 1. Demam 2. Mata dan kulit kuning 3. Penurunan nafsu makan 4. Nyeri otot dan sendi 5. Lemah, letih, dan lesu. 6. Mual dan muntah 7. Warna urine seperti teh 8. Tinja seperti dempul Faktor Risiko 1. Sering mengkonsumsi makanan atau minuman yang tidak
terjaga sanitasinya. 2. Menggunakan alat makan dan minum dari penderita
hepatitis. Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)
Pemeriksaan Fisik 1. Febris 2. Sklera ikterik 3. Hepatomegali 4. Warna urin seperti teh Pemeriksaan Penunjang 1. Tes laboratorium urin (bilirubin di dalam urin) 2. Pemeriksaan darah : peningkatan kadar bilirubin
dalam darah, kadar SGOT dan SGPT ≥ 2x nilai normal tertinggi, dilakukan pada
fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama yang lebih lengkap. 3. IgM anti HAV (di layanan tingkat lanjutan) Penegakan diagnostik (Assessment) Diagnosis Klinis Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Diagnosis Banding Ikterus obstruktif, Hepatitis B dan C akut, Sirosis
hepatis Komplikasi Hepatitis A fulminan, Ensefalopati hepatikum,
Koagulopati Penatalaksanaan komprehensif (Plan) Penatalaksanaan 1. Asupan kalori dan cairan yang adekuat 2. Tirah baring 3. Pengobatan simptomatik a. Demam: Ibuprofen 2 x 400 mg/hari. b. Mual:
antiemetik seperti Metoklopramid 3 x 10 mg/hari atau Domperidon 3 x
10mg/hari. c. Perut perih dan kembung: H2 Bloker (Simetidin 3 x
200 mg/hari atau Ranitidin 2 x 150 mg/hari) atau Proton Pump Inhibitor (Omeprazol
1 x 20 mg/hari). Rencana Tindak Lanjut Kontrol secara berkala untuk menilai hasil
pengobatan. Konseling dan Edukasi 1. Sanitasi dan higiene mampu mencegah penularan virus.
2. Vaksinasi Hepatitis A diberikan kepada orang-orang
yang berisiko tinggi terinfeksi. 3. Keluarga ikut menjaga asupan kalori dan cairan yang
adekuat, dan membatasi aktivitas fisik pasien selama fase akut. Kriteria Rujukan 1. Penegakan diagnosis dengan pemeriksaan penunjang
laboratorium 2. Penderita Hepatitis A dengan keluhan ikterik yang
menetap disertai keluhan yang lain. 3. Penderita Hepatitis A dengan penurunan kesadaran
dengan kemungkinan ke arah ensefalopati hepatik. Peralatan Laboratorium darah rutin, urin rutin dan pemeriksaan
fungsi hati Prognosis Prognosis pada umumnya bonam |
||||||
|
F. Diagram Alir |
Memberikan
tata laksana pada pasien sesuai hasil pemeriksaan menulis hasil
anamnesa, pemeriksaan dan diagnose ke rekam medic menegakan
diagnose berdasarkan hasil pemeriksaan melakukan
vital sign dan pemeriksaan fisik Melakukan anamnesis pada pasien menulis
diagnose pasien ke buku register. |
||||||
G. Unit Terkait |
Ruang Pemeriksaan Umum |
G. Rekaman Historis:
|
No |
Halaman |
Yang dirubah |
Perubahan |
Diberlakukan Tanggal |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
No comments:
Post a Comment