MOHON MAAF APABILA SUSUNANYA ADA YANG BERANTAKAN , KARENA HASIL COPY PASTE DARI FILE WORD/EXEL KE POSTINGAN BLOG

Thursday, March 12, 2026

SOP DERMATITIS ATOPIK (KECUALI RECALCITRANT)

 

130

 

 

 

 

 

Dinkes Kab Defgh

DERMATITIS ATOPIK

(KECUALI RECALCITRANT)

 

 

 

 

 

 

Puskesmas Abcde

 

SOP

Nomor

:

Terbit ke

: 01

No.Revisi

: 00

Tgl.Diberlakukan

: 2-01-2018

Halaman

: 1 / 2

Ditetapkan Kepala  Puskesmas Abcde

 

 

Kapus

NIP. nipkapus

 

A. Pengertian

Dermatitis Atopik (DA) adalah peradangan kulit berulang dan kronis dengan disertai gatal. Pada umumnya terjadi selama masa bayi dan anak-anak dan sering berhubungan dengan peningkatan kadar IgE dalam serum serta riwayat atopi pada keluarga atau penderita. Sinonim  dari  penyakit  ini  adalah  eczema  atopik,  eczema konstitusional, eczema fleksural,  neurodermatitis diseminata, prurigo Besnier.

B. Tujuan

Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk penatalaksanaan pasien dengan dermatitis atopik

C. Kebijakan

SK Kepala UPTD Puskesmas Abcde Nomor ... tentang Kebijakan Pelayanan Klinis UPTD Puskesmas Abcde

D. Referensi

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/Menkes/514/2015 tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama

E. Prosedur

Hasil Anamnesis (Subjective)

 

Keluhan

Pasien  datang  dengan  keluhan  gatal  yang  bervariasi  lokasinya tergantung pada jenis dermatitis atopik (lihat klasifikasi).

Gejala utama DA adalah pruritus, dapat hilang timbul sepanjang hari, tetapi umumnya lebih hebat pada malam hari. Akibatnya penderita akan menggaruk.

Pasien biasanya juga mempunyai riwayat sering merasa cemas, egois, frustasi, agresif, atau merasa tertekan.

 

Faktor Risiko

1.  Wanita lebih banyak menderita DA dibandingkan pria (rasio 1,3:1).

2. Riwayat atopi pada pasien dan atau keluarga (rhinitis alergi, konjungtivitis  alergi/vernalis,  asma  bronkial,  dermatitis  atopik, dan lain-lain).

3.  Faktor lingkungan: jumlah keluarga kecil, pendidikan ibu semakin tinggi, penghasilan meningkat, migrasi dari desa ke kota, dan meningkatnya penggunaan antibiotik.

4.  Riwayat sensitif terhadap wol, bulu kucing, anjing, ayam, burung, dan sejenisnya.

 

Faktor Pemicu

1.  Makanan: telur, susu, gandum, kedelai, dan kacang tanah.

2.  Tungau debu rumah

3.  Sering  mengalami  infeksi  di  saluran  napas  atas  (kolonisasi

Staphylococus aureus)

 

Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)

Pemeriksaan Fisik

Tanda patognomonis

Kulit penderita DA:

1.  Kering pada perabaan

2.  Pucat/redup

3.  Jari tangan teraba dingin

4.  Terdapat papul, likenifikasi, eritema, erosi, eksoriasi, eksudasi dan krusta pada lokasi predileksi

 

Lokasi predileksi:

1.  Tipe bayi (infantil)

a.Dahi, pipi, kulit kepala, leher, pergelangan tangan dan tungkai, serta lutut (pada anak yang mulai merangkak).

b.  Lesi berupa eritema, papul vesikel halus, eksudatif, krusta.

2.  Tipe anak

a.Lipat  siku,  lipat  lutut,  pergelangan  tangan  bagian  dalam, kelopak mata, leher, kadang-kadang di wajah.

b.  Lesi   berupa   papul,   sedikit   eksudatif,   sedikit   skuama, likenifikasi, erosi. Kadang-kadang disertai pustul.

3.  Tipe remaja dan dewasa

a.Lipat  siku,  lipat  lutut,  samping  leher,  dahi,  sekitar  mata, tangan  dan  pergelangan  tangan,  kadang-kadang  ditemukan setempat  misalnya  bibir  mulut,  bibir kelamin, puting susu, atau kulit kepala.

b.  Lesi  berupa  plak  papular  eritematosa,  skuama,  likenifikasi, kadang-kadang erosi dan eksudasi, terjadi hiperpigmentasi.

 

Berdasarkan derajat keparahan terbagi menjadi:

1.  DA ringan : apabila mengenai < 10% luas permukaan kulit.

2.  DA sedang : apabila mengenai 10-50% luas permukaan kulit.

3.  DA berat   : apabila mengenai > 50% luas permukaan kulit. Tanpa penyulit (umumnya tidak diikuti oleh infeksi sekunder).

Dengan penyulit (disertai infeksi sekunder atau meluas dan menjadi rekalsitran (tidak membaik dengan pengobatan standar).

 

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan  IgE  serum  (bila  diperlukan  dan  dapat  dilakukan  di fasilitas pelayanan Tingkat Pertama)

 

Penegakan Diagnostik (Assessment)

 

Diagnosis Klinis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik harus terdiri dari 3 kriteria mayor dan 3 kriteria minor dari kriteria Williams (1994) di bawah ini.

 

Kriteria mayor:

1.  Pruritus

2.  Dermatitis di muka atau ekstensor pada bayi dan anak

3.  Dermatitis di fleksura pada dewasa

4.  Dermatitis kronis atau berulang

5.  Riwayat atopi pada penderita atau keluarganya

 

Kriteria minor:

1.  Xerosis

2.  Infeksi kulit (khususnya oleh S. aureus atau virus herpes simpleks)

3.  Iktiosis/ hiperliniar palmaris/ keratosis piliaris

4.  Pitriasis alba

5.  Dermatitis di papilla mamae

6.  White dermogrhapism dan delayed blanch response

7.  Kelilitis

8.  Lipatan infra orbital Dennie-Morgan

9.  Konjungtivitis berulang

10. Keratokonus

11. Katarak subskapsular anterior

12. Orbita menjadi gelap

13. Muka pucat atau eritem

14. Gatal bila berkeringat

15. Intolerans terhadap wol atau pelarut lemak

16. Aksentuasi perifolikular

17. Hipersensitif terhadap makanan

18. Perjalanan penyakit dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan atau emosi

19. Tes kulit alergi tipe dadakan positif

20. Kadar IgE dalam serum meningkat

21. Mulai muncul pada usia dini

 

Pada bayi, kriteria diagnosis dimodifikasi menjadi:

1.  Tiga kriteria mayor berupa:

a.  Riwayat atopi pada keluarga

b.  Dermatitis pada muka dan ekstensor c.  Pruritus

2.  Serta  tiga kriteria minor berupa:

a. Xerosis/iktiosis/hiperliniaris palmaris, aksentuasi perifolikular

b.  Fisura di belakang telinga

c.  Skuama di scalp kronis

 

Diagnosis banding

Dermatitis seboroik (terutama pada bayi), Dermatitis kontak, Dermatitis numularis, Skabies, Iktiosis , Psoriasis (terutama di daerah palmoplantar), Sindrom Sezary, Dermatitis herpetiformis

Pada   bayi,   diagnosis   banding,   yaitu   Sindrom   imunodefisiensi(misalnya sindrom Wiskott-Aldrich), Sindrom hiper IgE

 

Komplikasi

1.  Infeksi sekunder

2.  Perluasan penyakit (eritroderma)

 

Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

 

Penatalaksanaan

1.  Penatalaksanaan dilakukan dengan modifikasi gaya hidup, yaitu:

a. Menemukan faktor risiko.

b. Menghindari   bahan-bahan   yang   bersifat   iritan   termasuk pakaian seperti wol atau bahan sintetik.

c. Memakai sabun dengan pH netral dan mengandung pelembab. d. Menjaga kebersihan bahan pakaian.

e. Menghindari pemakaian bahan kimia tambahan.

f. Membilas   badan   segera   setelah   selesai   berenang   untuk menghindari kontak klorin yang terlalu lama.

g. Menghindari stress psikis.

h. Menghindari bahan pakaian terlalu tebal, ketat, kotor.

i. Pada  bayi,  menjaga  kebersihan  di  daerah popok, iritasi  oleh kencingatau feses, dan hindari pemakaian bahan-bahan medicatedbaby oil.

j. Menghindari pembersih yang mengandung antibakteri karena menginduksi resistensi.

2.  Untuk mengatasi keluhan, farmakoterapi diberikan dengan:

a. Topikal (2 kali sehari)

• Pada lesi di kulit kepala, diberikan kortikosteroid topikal, seperti:  Desonid  krim  0,05%  (catatan:  bila  tidak  tersedia dapat digunakan fluosinolon asetonid krim 0,025%) selama maksimal 2 minggu.

• Pada kasus dengan manifestasi klinis likenifikasi dan hiperpigmentasi,dapat diberikan golongan betametason valerat krim 0,1% atau mometason furoat krim 0,1%.

  Pada   kasus   infeksi   sekunder,   perlu   dipertimbangkan pemberian antibiotik topikal atau sistemik bila lesi meluas.

b. Oral sistemik

  Antihistamin sedatif: klorfeniramin maleat 3 x 4 mg per hari selama maksimal 2 minggu atau  setirizin 1 x 10 mg per hari selama maksimal 2 minggu.

  Antihistamin non sedatif: loratadin 1x10 mg per hari selama maksimal 2 minggu.

 

Pemeriksaan Penunjang Lanjutan (bila diperlukan)

Pemeriksaan untuk menegakkan atopi, misalnya skin prick test/tes uji tusuk pada kasus dewasa.

 

Konseling dan Edukasi

1. Penyakit bersifat kronis dan berulang sehingga perlu diberi pengertian kepada seluruh anggota keluarga untuk menghindari faktor risiko dan melakukan perawatan kulit secara benar.

2.  Memberikan informasi kepada keluarga bahwa prinsip pengobatan adalahmenghindari  gatal,  menekan  proses  peradangan,  dan menjaga hidrasi kulit.

3.  Menekankan kepada seluruh anggota keluarga bahwa modifikasi gaya hidup tidak hanya berlaku pada pasien, juga harus menjadi kebiasaan keluarga secara keseluruhan.

 

Rencana tindak lanjut

1.  Diperlukan pengobatan pemeliharaan setelah fase akut teratasi.

Pengobatan pemeliharaan dengan kortikosteroid topikal jangka panjang  (1  kali  sehari)  dan  penggunaan krim pelembab  2 kali sehari sepanjang waktu.

2. Pengobatan pemeliharaan dapat diberikan selama maksimal 4 minggu.

3. Pemantauan efek samping kortikosteroid. Bila terdapat efek samping, kortikosteroid dihentikan.

 

Kriteria Rujukan

1.  Dermatitis atopik luas dan berat

2.  Dermatitis atopik rekalsitran atau dependent steroid

3.  Bila diperlukan skin prick test/tes uji tusuk

4.  Bila gejala tidak membaik dengan pengobatan standar selama 4 minggu

5.  Bila kelainan rekalsitran atau meluas sampai eritroderma

 

Peralatan

Tidak diperlukan peralatan khusus untuk mendiagnosis penyakit ini.

 

Prognosis

 Prognosis    pada    umumnya    bonam,    dapat    terkendali    dengan pengobatan pemeliharaan.

F. Diagram Alir

menegakan diagnose berdasarkan hasil pemeriksaan

Memberikan tata laksana pada pasien sesuai hasil pemeriksaan

menulis hasil anamnesa, pemeriksaan dan diagnose ke rekam medic

 

melakukan vital sign dan pemeriksaan fisik

Melakukan anamnesis pada pasien

 

 

 


menulis diagnose pasien ke buku register.

 

 

 


G. Unit Terkait

Ruang Pemeriksaan Umum

 

G. Rekaman Historis:

No

Halaman

Yang dirubah

Perubahan

Diberlakukan Tanggal

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

No comments:

Post a Comment