|
130 Dinkes Kab Defgh |
DERMATITIS
ATOPIK (KECUALI
RECALCITRANT) |
Puskesmas Abcde |
|||
|
SOP |
Nomor |
: |
|||
|
Terbit ke |
: 01 |
||||
|
No.Revisi |
: 00 |
||||
|
Tgl.Diberlakukan |
: 2-01-2018 |
||||
|
Halaman |
: 1 / 2 |
||||
|
Ditetapkan
Kepala Puskesmas Abcde |
|
Kapus NIP. nipkapus |
|||
|
A. Pengertian |
Dermatitis Atopik (DA) adalah peradangan kulit berulang dan kronis dengan
disertai gatal. Pada umumnya terjadi selama masa bayi dan anak-anak dan
sering berhubungan dengan peningkatan kadar IgE dalam serum serta riwayat
atopi pada keluarga atau penderita. Sinonim
dari penyakit ini
adalah eczema atopik,
eczema konstitusional, eczema fleksural, neurodermatitis diseminata, prurigo
Besnier. |
||||||
|
B. Tujuan |
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk penatalaksanaan pasien
dengan dermatitis atopik |
||||||
|
C. Kebijakan |
SK Kepala UPTD Puskesmas Abcde Nomor ... tentang Kebijakan Pelayanan
Klinis UPTD Puskesmas Abcde |
||||||
|
D. Referensi |
Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/Menkes/514/2015 tentang Panduan
Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama |
||||||
|
E. Prosedur |
Hasil Anamnesis (Subjective) Keluhan Pasien
datang dengan keluhan
gatal yang bervariasi
lokasinya tergantung pada jenis dermatitis atopik (lihat klasifikasi). Gejala utama DA adalah pruritus, dapat hilang timbul
sepanjang hari, tetapi umumnya lebih hebat pada malam hari. Akibatnya
penderita akan menggaruk. Pasien biasanya juga mempunyai riwayat sering merasa
cemas, egois, frustasi, agresif, atau merasa tertekan. Faktor Risiko 1. Wanita
lebih banyak menderita DA dibandingkan pria (rasio 1,3:1). 2. Riwayat atopi pada pasien dan atau keluarga
(rhinitis alergi, konjungtivitis
alergi/vernalis, asma bronkial,
dermatitis atopik, dan
lain-lain). 3. Faktor
lingkungan: jumlah keluarga kecil, pendidikan ibu semakin tinggi, penghasilan
meningkat, migrasi dari desa ke kota, dan meningkatnya penggunaan antibiotik. 4. Riwayat
sensitif terhadap wol, bulu kucing, anjing, ayam, burung, dan sejenisnya. Faktor Pemicu 1. Makanan:
telur, susu, gandum, kedelai, dan kacang tanah. 2. Tungau
debu rumah 3.
Sering mengalami infeksi
di saluran napas
atas (kolonisasi Staphylococus aureus) Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana
(Objective) Pemeriksaan Fisik Tanda patognomonis Kulit penderita DA: 1. Kering
pada perabaan 2.
Pucat/redup 3. Jari
tangan teraba dingin 4. Terdapat
papul, likenifikasi, eritema, erosi, eksoriasi, eksudasi dan krusta pada
lokasi predileksi Lokasi predileksi: 1. Tipe bayi
(infantil) a.Dahi, pipi, kulit kepala, leher, pergelangan
tangan dan tungkai, serta lutut (pada anak yang mulai merangkak). b. Lesi
berupa eritema, papul vesikel halus, eksudatif, krusta. 2. Tipe anak a.Lipat
siku, lipat lutut,
pergelangan tangan bagian
dalam, kelopak mata, leher, kadang-kadang di wajah. b. Lesi berupa
papul, sedikit eksudatif, sedikit
skuama, likenifikasi, erosi. Kadang-kadang disertai pustul. 3. Tipe
remaja dan dewasa a.Lipat
siku, lipat lutut,
samping leher, dahi,
sekitar mata, tangan dan
pergelangan tangan, kadang-kadang ditemukan setempat misalnya
bibir mulut, bibir kelamin, puting susu, atau kulit
kepala. b. Lesi berupa
plak papular eritematosa, skuama,
likenifikasi, kadang-kadang erosi dan eksudasi, terjadi
hiperpigmentasi. Berdasarkan derajat keparahan terbagi menjadi: 1. DA ringan
: apabila mengenai < 10% luas permukaan kulit. 2. DA sedang
: apabila mengenai 10-50% luas permukaan kulit. 3. DA
berat : apabila mengenai > 50%
luas permukaan kulit. Tanpa penyulit (umumnya tidak diikuti oleh infeksi
sekunder). Dengan penyulit (disertai infeksi sekunder atau
meluas dan menjadi rekalsitran (tidak membaik dengan pengobatan standar). Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan
IgE serum (bila
diperlukan dan dapat
dilakukan di fasilitas
pelayanan Tingkat Pertama) Penegakan Diagnostik (Assessment) Diagnosis Klinis Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan
pemeriksaan fisik harus terdiri dari 3 kriteria mayor dan 3 kriteria minor
dari kriteria Williams (1994) di bawah ini. Kriteria mayor: 1. Pruritus 2. Dermatitis
di muka atau ekstensor pada bayi dan anak 3. Dermatitis
di fleksura pada dewasa 4. Dermatitis
kronis atau berulang 5. Riwayat
atopi pada penderita atau keluarganya Kriteria minor: 1. Xerosis 2. Infeksi
kulit (khususnya oleh S. aureus atau virus herpes simpleks) 3. Iktiosis/
hiperliniar palmaris/ keratosis piliaris 4. Pitriasis
alba 5. Dermatitis
di papilla mamae 6. White
dermogrhapism dan delayed blanch response 7. Kelilitis 8. Lipatan
infra orbital Dennie-Morgan 9.
Konjungtivitis berulang 10. Keratokonus 11. Katarak subskapsular anterior 12. Orbita menjadi gelap 13. Muka pucat atau eritem 14. Gatal bila berkeringat 15. Intolerans terhadap wol atau pelarut lemak 16. Aksentuasi perifolikular 17. Hipersensitif terhadap makanan 18. Perjalanan penyakit dipengaruhi oleh faktor
lingkungan dan atau emosi 19. Tes kulit alergi tipe dadakan positif 20. Kadar IgE dalam serum meningkat 21. Mulai muncul pada usia dini Pada bayi, kriteria diagnosis dimodifikasi menjadi: 1. Tiga
kriteria mayor berupa: a. Riwayat
atopi pada keluarga b. Dermatitis
pada muka dan ekstensor c. Pruritus 2. Serta tiga kriteria minor berupa: a. Xerosis/iktiosis/hiperliniaris palmaris,
aksentuasi perifolikular b. Fisura di
belakang telinga c. Skuama di
scalp kronis Diagnosis banding Dermatitis seboroik (terutama pada bayi), Dermatitis
kontak, Dermatitis numularis, Skabies, Iktiosis , Psoriasis (terutama di
daerah palmoplantar), Sindrom Sezary, Dermatitis herpetiformis Pada
bayi, diagnosis banding,
yaitu Sindrom imunodefisiensi(misalnya sindrom
Wiskott-Aldrich), Sindrom hiper IgE Komplikasi 1. Infeksi
sekunder 2. Perluasan
penyakit (eritroderma) Penatalaksanaan Komprehensif (Plan) Penatalaksanaan 1.
Penatalaksanaan dilakukan dengan modifikasi gaya hidup, yaitu: a. Menemukan faktor risiko. b. Menghindari
bahan-bahan yang bersifat
iritan termasuk pakaian
seperti wol atau bahan sintetik. c. Memakai sabun dengan pH netral dan mengandung
pelembab. d. Menjaga kebersihan bahan pakaian. e. Menghindari pemakaian bahan kimia tambahan. f. Membilas
badan segera setelah
selesai berenang untuk menghindari kontak klorin yang
terlalu lama. g. Menghindari stress psikis. h. Menghindari bahan pakaian terlalu tebal, ketat,
kotor. i. Pada
bayi, menjaga kebersihan
di daerah popok, iritasi oleh kencingatau feses, dan hindari pemakaian
bahan-bahan medicatedbaby oil. j. Menghindari pembersih yang mengandung antibakteri
karena menginduksi resistensi. 2. Untuk
mengatasi keluhan, farmakoterapi diberikan dengan: a. Topikal (2 kali sehari) • Pada lesi di kulit kepala, diberikan
kortikosteroid topikal, seperti:
Desonid krim 0,05%
(catatan: bila tidak
tersedia dapat digunakan fluosinolon asetonid krim 0,025%) selama
maksimal 2 minggu. • Pada kasus dengan manifestasi klinis likenifikasi
dan hiperpigmentasi,dapat diberikan golongan betametason valerat krim 0,1%
atau mometason furoat krim 0,1%. • Pada kasus
infeksi sekunder, perlu
dipertimbangkan pemberian antibiotik topikal atau sistemik bila lesi
meluas. b. Oral sistemik •
Antihistamin sedatif: klorfeniramin maleat 3 x 4 mg per hari selama
maksimal 2 minggu atau setirizin 1 x
10 mg per hari selama maksimal 2 minggu. •
Antihistamin non sedatif: loratadin 1x10 mg per hari selama maksimal 2
minggu. Pemeriksaan Penunjang Lanjutan (bila diperlukan) Pemeriksaan untuk menegakkan atopi, misalnya skin
prick test/tes uji tusuk pada kasus dewasa. Konseling dan Edukasi 1. Penyakit bersifat kronis dan berulang sehingga
perlu diberi pengertian kepada seluruh anggota keluarga untuk menghindari
faktor risiko dan melakukan perawatan kulit secara benar. 2. Memberikan
informasi kepada keluarga bahwa prinsip pengobatan adalahmenghindari gatal,
menekan proses peradangan,
dan menjaga hidrasi kulit. 3. Menekankan
kepada seluruh anggota keluarga bahwa modifikasi gaya hidup tidak hanya
berlaku pada pasien, juga harus menjadi kebiasaan keluarga secara
keseluruhan. Rencana tindak lanjut 1. Diperlukan
pengobatan pemeliharaan setelah fase akut teratasi. Pengobatan pemeliharaan dengan kortikosteroid
topikal jangka panjang (1 kali
sehari) dan penggunaan krim pelembab 2 kali sehari sepanjang waktu. 2. Pengobatan pemeliharaan dapat diberikan selama
maksimal 4 minggu. 3. Pemantauan efek samping kortikosteroid. Bila
terdapat efek samping, kortikosteroid dihentikan. Kriteria Rujukan 1. Dermatitis
atopik luas dan berat 2. Dermatitis
atopik rekalsitran atau dependent steroid 3. Bila
diperlukan skin prick test/tes uji tusuk 4. Bila
gejala tidak membaik dengan pengobatan standar selama 4 minggu 5. Bila
kelainan rekalsitran atau meluas sampai eritroderma Peralatan Tidak diperlukan peralatan khusus untuk mendiagnosis
penyakit ini. Prognosis Prognosis
pada umumnya bonam,
dapat terkendali dengan pengobatan pemeliharaan. |
||||||
|
F. Diagram Alir |
menegakan
diagnose berdasarkan hasil pemeriksaan Memberikan
tata laksana pada pasien sesuai hasil pemeriksaan menulis hasil
anamnesa, pemeriksaan dan diagnose ke rekam medic melakukan
vital sign dan pemeriksaan fisik Melakukan anamnesis pada pasien menulis
diagnose pasien ke buku register. |
||||||
G. Unit Terkait |
Ruang Pemeriksaan Umum |
G. Rekaman Historis:
|
No |
Halaman |
Yang dirubah |
Perubahan |
Diberlakukan Tanggal |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
No comments:
Post a Comment