|
131 Dinkes Kab Defgh |
DERMATITIS
NUMULARIS |
Puskesmas Abcde |
|||
|
SOP |
Nomor |
: |
|||
|
Terbit ke |
: 01 |
||||
|
No.Revisi |
: 00 |
||||
|
Tgl.Diberlakukan |
: 2-01-2018 |
||||
|
Halaman |
: 1 / 2 |
||||
|
Ditetapkan
Kepala Puskesmas Abcde |
|
Kapus NIP. nipkapus |
|||
|
A. Pengertian |
Dermatitis numularis adalah dermatitis berbentuk lesi mata uang (koin)
atau lonjong, berbatas tegas, dengan efloresensi berupa papulovesikel,
biasanya mudah pecah sehingga basah (oozing/madidans). Penyakit ini pada
orang dewasa lebih sering terjadi pada pria daripada wanita. Usia puncak
awitan pada kedua jenis kelamin antara 55 dan 65 tahun, pada wanita usia
puncak terjadi juga pada usia 15 sampai 25 tahun. Dermatitis numularis tidak
biasa ditemukan pada anak, bila ada timbulnya jarang pada usia sebelum satu
tahun, umumnya kejadian meningkat seiring dengan meningkatnya usia. |
||||||
|
B. Tujuan |
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk penatalaksanaan pasien
dengan dermatitis numularis |
||||||
|
C. Kebijakan |
SK Kepala UPTD Puskesmas Abcde Nomor ... tentang Kebijakan Pelayanan
Klinis UPTD Puskesmas Abcde |
||||||
|
D. Referensi |
Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/Menkes/514/2015 tentang Panduan
Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama |
||||||
|
E. Prosedur |
Hasil Anamnesis (Subjective) Keluhan Bercak merah yang basah pada predileksi tertentu dan
sangat gatal. Keluhan hilang timbul dan sering kambuh. Faktor Risiko Pria, usia 55-65 tahun (pada wanita 15-25 tahun),
riwayat trauma fisis dan kimiawi (fenomena Kobner: gambaran lesi yang mirip
dengan lesi utama), riwayat dermatitis kontak alergi, riwayat dermatitis
atopik pada kasus dermatitis numularis anak, stress emosional, minuman yang
mengandung alkohol, lingkungan dengan kelembaban rendah, riwayat infeksi
kulit sebelumnya Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana
(Objective) Pemeriksaan Fisik Tanda patognomonis 1. Lesi akut
berupa vesikel dan papulovesikel (0,3 – 1 cm), berbentuk uang logam,
eritematosa, sedikit edema, dan berbatas tegas. 2. Tanda
eksudasi karena vesikel mudah pecah, kemudian mengering menjadi krusta
kekuningan. 3. Jumlah
lesi dapat satu, dapat pula banyak dan tersebar, bilateral, atau simetris,
dengan ukuran yang bervariasi. Tempat
predileksi terutama di
tungkai bawah, badan,
lengan, termasuk punggung tangan. Pemeriksaan Penunjang Tidak diperlukan, karena manifestasi klinis jelas
dan klasik. Penegakan Diagnostik (Assessment) Diagnosis Klinis Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan
pemeriksaan fisik. Diagnosis Banding Dermatitis kontak, Dermatitis atopi, Neurodermatitis
sirkumskripta, Dermatomikosis Penatalaksanaan Komprehensif (Plan) Penatalaksanaan 1. Pasien
disarankan untuk menghindari
faktor yang mungkin memprovokasi seperti stres dan
fokus infeksi di organ lain. 2. Farmakoterapi yang dapat diberikan, yaitu: a. Topikal (2 kali sehari) •
Kompres terbuka dengan
larutan permanganas kalikus 1/10.000, menggunakan 3 lapis kasa bersih, selama
masing-masing 15-20 menit/kali kompres (untuk lesi madidans/basah) sampai
lesi mengering. •Kemudian terapi dilanjutkan dengan kortikosteroid
topikal: Desonid krim 0,05% (catatan: bila tidak tersedia dapat
digunakanfluosinolon asetonid krim
0,025%) selama maksimal 2
minggu. •Pada
kasus dengan manifestasi
klinis likenifikasi dan hiperpigmentasi, dapat diberikan
golongan Betametason valerat krim 0,1% atau Mometason furoat krim 0,1%). •Pada
kasus infeksi sekunder,
perlu dipertimbangkan pemberian
antibiotik topikal atau sistemik bila lesi meluas. b.Oral sistemik •Antihistamin sedatif: klorfeniramin maleat 3 x 4 mg
per hari selama maksimal 2 minggu atau
setirizin 1 x 10 mg per hari selama maksimal 2 minggu. •Antihistamin
non sedatif: loratadin
1x10 mg per
hari selama maksimal 2 minggu. c.Jika ada infeksi bakteri dapat diberikan
antibiotik topikal atau antibiotik sistemik bila lesi luas. Komplikasi Infeksi sekunder Konseling dan Edukasi 1. Memberikan
edukasi bahwa kelainan bersifat kronis dan berulang sehingga penting untuk
pemberian obat topikal rumatan. 2. Mencegah
terjadinya infeksi sebagai faktor risiko terjadinya relaps. Kriteria Rujukan 1.
Apabila kelainan tidak
membaik dengan pengobatan
topikal standar. 2.
Apabila diduga terdapat
faktor penyulit lain,
misalnya fokus infeksi pada
organ lain, maka konsultasi danatau disertai rujukan kepada dokter spesialis
terkait (contoh: gigi mulut, THT, obgyn, dan lain-lain) untuk penatalaksanaan
fokus infeksi tersebut. Peralatan Tidak diperlukan peralatan khusus untuk mendiagnosis
penyakit dermatitis numularis. Prognosis Prognosis pada umumnya bonam apabila kelainan ringan
tanpa penyulit, dapat sembuh tanpa komplikasi, namun bila kelainan berat dan
dengan penyulit prognosis menjadi dubia ad bonam. |
||||||
|
F. Diagram Alir |
menegakan
diagnose berdasarkan hasil pemeriksaan Memberikan
tata laksana pada pasien sesuai hasil pemeriksaan menulis hasil
anamnesa, pemeriksaan dan diagnose ke rekam medic melakukan
vital sign dan pemeriksaan fisik Melakukan anamnesis pada pasien menulis
diagnose pasien ke buku register. |
||||||
G. Unit Terkait |
Ruang Pemeriksaan Umum |
G. Rekaman Historis:
|
No |
Halaman |
Yang dirubah |
Perubahan |
Diberlakukan Tanggal |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
No comments:
Post a Comment