|
92 Dinkes Kab Defgh |
DEMAM
DENGUE DAN
DEMAM BERDARAH DENGUE |
Puskesmas Abcde |
|||
|
SOP |
Nomor |
: |
|||
|
Terbit ke |
: 01 |
||||
|
No.Revisi |
: 00 |
||||
|
Tgl.Diberlakukan |
: 2-01-2018 |
||||
|
Halaman |
: 1 / 2 |
||||
|
Ditetapkan
Kepala Puskesmas Abcde |
|
Kapus NIP. nipkapus |
|||
|
A. Pengertian |
Demam dengue dan
demam berdarah dengue adalah infeksi yang disebabkan oleh virus dengue. Penyakit demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi salah satu masalah
kesehatan masyarakat di Indonesia. Tingkat insiden penyakit DBD Indonesia
merupakan yang tertinggi diantara negara-negara Asia Tenggara. Sepanjang
tahun 2013, Kementerian Kesehatan mencatat
terdapat 103.649 penderita dengan angka kematian mencapai 754 orang.
Keterlibatan dokter di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama sangat
dibutuhkan untuk menekan tingkat kejadian maupun mortalitas DBD. |
||||||
|
B. Tujuan |
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk penatalaksanaan pasien
dengan Demam Dengue dan DBD |
||||||
|
C. Kebijakan |
SK Kepala UPTD Puskesmas Abcde Nomor ... tentang Kebijakan Pelayanan
Klinis UPTD Puskesmas Abcde |
||||||
|
D. Referensi |
Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/Menkes/514/2015 tentang Panduan
Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama |
||||||
|
E. Prosedur |
Anamnesis (Subjective)
1. Demam
tinggi, mendadak, terus menerus selama 2 – 7 hari. 2. Manifestasi
perdarahan, seperti: bintik-bintik merah di kulit, mimisan, gusi berdarah,
muntah berdarah, atau buang air besar berdarah. 3. Gejala
nyeri kepala, mialgia, artralgia, nyeri retroorbital. 4. Gejala
gastrointestinal, seperti: mual, muntah, nyeri perut (biasanya di ulu hati
atau di bawah tulang iga) 5. Kadang
disertai juga dengan gejala lokal, seperti: nyeri menelan, batuk, pilek. 6. Pada
kondisi syok, anak merasa lemah, gelisah, atau mengalami penurunan kesadaran.
7. Pada bayi,
demam yang tinggi dapat menimbulkan kejang. Faktor Risiko 1. Sanitasi
lingkungan yang kurang baik, misalnya: timbunan sampah, timbunan barang
bekas, genangan air yang seringkali disertai di tempat tinggal pasien
sehari-hari. 2. Adanya
jentik nyamuk Aedes aegypti pada genangan air di tempat tinggal pasien
sehari-hari. 3. Adanya
penderita demam berdarah dengue (DBD) di sekitar pasien. Hasil
Pemeriksaan Fisik dan penunjang sederhana (Objective) Pemeriksaan
Fisik Tanda
patognomonik untuk demam dengue 1. Suhu >
37,5 derajat celcius 2. Ptekie,
ekimosis, purpura 3. Perdarahan
mukosa 4. Rumple
Leed (+) Tanda
Patognomonis untuk demam berdarah dengue 1. Suhu >
37,5 derajat celcius 2. Ptekie,
ekimosis, purpura 3. Perdarahan
mukosa 4. Rumple
Leed (+) 5.
Hepatomegali 6.
Splenomegali 7. Untuk
mengetahui terjadi kebocoran plasma, diperiksa tanda-tanda efusi pleura dan
asites. 8. Hematemesis
atau melena Pemeriksaan
Penunjang : 1. Darah
perifer lengkap, yang menunjukkan: a.
Trombositopenia (≤ 100.000/μL). b. Kebocoran
plasma yang ditandai dengan: • peningkatan
hematokrit (Ht) ≥ 20% dari nilai standar data populasi menurut umur • Ditemukan
adanya efusi pleura, asites •
Hipoalbuminemia, hipoproteinemia c. Leukopenia
< 4000/μL. 2. Serologi
Dengue, yaitu IgM dan IgG anti-Dengue, yang titernya dapat terdeteksi setelah
hari ke-5 demam. Penegakan
Diagnosis (Assessment) Diagnosis
Klinis Demam Dengue 1. Demam 2–7
hari yang timbul mendadak, tinggi, terus-menerus, bifasik. 2. Adanya
manifestasi perdarahan baik yang spontan seperti petekie, purpura, ekimosis,
epistaksis, perdarahan gusi, hematemesis dan atau melena; maupun berupa uji
tourniquet positif. 3. Nyeri
kepala, mialgia, artralgia, nyeri retroorbital. 4. Adanya
kasus DBD baik di lingkungan sekolah, rumah atau di sekitar rumah. 5. Leukopenia
< 4.000/mm3 6.
Trombositopenia < 100.000/mm3 Apabila
ditemukan gejala demam ditambah dengan adanya dua atau lebih tanda dan gejala
lain, diagnosis klinis demam dengue dapat ditegakkan. Diagnosis
Klinis Demam Berdarah Dengue 1. Demam 2–7
hari yang timbul mendadak, tinggi, terus-menerus (kontinua) 2. Adanya
manifestasi perdarahan baik yang spontan seperti petekie, purpura, ekimosis,
epistaksis, perdarahan gusi, hematemesis dan atau melena; maupun berupa uji Tourniquette
yang positif 3. Sakit
kepala, mialgia, artralgia, nyeri retroorbital 4. Adanya
kasus demam berdarah dengue baik di lingkungan sekolah, rumah atau di sekitar
rumah a. Hepatomegali b. Adanya
kebocoran plasma yang ditandai dengan salah satu: • Peningkatan
nilai hematokrit, >20% dari pemeriksaan awal atau dari data populasi
menurut umur • Ditemukan
adanya efusi pleura, asites •
Hipoalbuminemia, hipoproteinemia c. Trombositopenia <100.000/mm3 Adanya demam
seperti di atas disertai dengan 2 atau lebih manifestasi klinis, ditambah
bukti perembesan plasma dan trombositopenia cukup untuk menegakkan diagnosis
Demam Berdarah Dengue. Tanda bahaya (warning
signs) untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya syok pada
penderita Demam Berdarah Dengue. Kriteria
Diagnosis Laboratoris Kriteria Diagnosis
Laboratoris diperlukan untuk survailans epidemiologi, terdiri atas: Probable
Dengue, apabila diagnosis klinis diperkuat oleh hasil
pemeriksaan serologi antidengue. Confirmed
Dengue, apabila diagnosis klinis diperkuat dengan deteksi
genome virus Dengue dengan pemeriksaan RT-PCR, antigen dengue pada
pemeriksaan NS1, atau apabila didapatkan serokonversi pemeriksaan IgG dan IgM
(dari negatif menjadi positif) pada pemeriksaan serologi berpasangan. Isolasi virus
Dengue memberi nilai yang sangat kuat dalam konfirmasi diagnosis klinis,
namun karena memerlukan teknologi yang canggih dan prosedur yang rumit
pemeriksaan ini bukan merupakan pemeriksaan yang rutin dilakukan. Diagnosis
Banding 1. Demam
karena infeksi virus (influenza , chikungunya, dan lain-lain) 2. Idiopathic
thrombocytopenic purpura 3. Demam
tifoid Komplikasi Dengue Shock
Syndrome (DSS), ensefalopati, gagal ginjal, gagal hati Penatalaksanaan
komprehensif (Plan) Penatalaksanaan
pada Pasien Dewasa 1. Terapi
simptomatik dengan analgetik antipiretik (Parasetamol 3x500-1000 mg). 2.
Pemeliharaan volume cairan sirkulasi - Alur
penanganan pasien dengan demam dengue/demam berdarah dengue,
yaitu:pemeriksaan penunjang Lanjutan - Pemeriksaan
Kadar Trombosit dan Hematokrit secara serial Gambar 1.7 Alur penanganan pasien dengan demam dengue/demam berdarah Kriteria
Rujukan 1. Terjadi
perdarahan masif (hematemesis, melena). 2. Dengan
pemberian cairan kristaloid sampai dosis 15 ml/kg/jam kondisi belum membaik. 3. Terjadi
komplikasi atau keadaan klinis yang tidak lazim, seperti kejang, penurunan
kesadaran, dan lainnya. Penatalaksanaan
pada Pasien Anak Demam berdarah
dengue (DBD) tanpa syok 1. Bila anak
dapat minum a. Berikan
anak banyak minum • Dosis
larutan per oral: 1 – 2 liter/hari atau 1 sendok makan tiap 5 menit. • Jenis
larutan per oral: air putih, teh manis, oralit, jus buah, air sirup, atau
susu. b. Berikan
cairan intravena (infus) sesuai dengan kebutuhan untuk dehidrasi sedang.
Berikan hanya larutan kristaloid isotonik, seperti Ringer Laktat (RL) atau
Ringer Asetat (RA), dengan dosis sesuai berat badan sebagai berikut: • Berat badan
< 15 kg : 7 ml/kgBB/jam • Berat badan
15 – 40 kg : 5 ml/kgBB/jam • Berat badan
> 40 kg : 3 ml/kgBB/jam 2. Bila anak
tidak dapat minum, berikan cairan infus kristaloid isotonik sesuai kebutuhan
untuk dehidrasi sedang sesuai dengan dosis yang telah dijelaskan di atas. 3. Lakukan
pemantauan: tanda vital dan diuresis setiap jam, laboratorium (DPL) per 4-6
jam. a. Bila
terjadi penurunan hematokrit dan perbaikan klinis, turunkan jumlah cairan
secara bertahap sampai keadaan klinis stabil. b. Bila
terjadi perburukan klinis, lakukan penatalaksanaan DBD dengan syok. 4. Bila anak
demam, berikan antipiretik (Parasetamol 10 – 15 mg/kgBB/kali) per oral.
Hindari Ibuprofen dan Asetosal. 5. Pengobatan
suportif lain sesuai indikasi. Demam berdarah
dengue (DBD) dengan syok 1. Kondisi ini
merupakan gawat darurat dan mengharuskan rujukan segera ke RS. 2.
Penatalaksanaan awal: a. Berikan
oksigen 2 – 4 liter/menit melalui kanul hidung atau sungkup muka. b. Pasang
akses intravena sambil melakukan pungsi vena untuk pemeriksaan DPL. c. Berikan
infus larutan kristaloid (RL atau RA) 20 ml/kg secepatnya. d. Lakukan
pemantauan klinis (tanda vital, perfusi perifer, dan diuresis) setiap 30
menit. e. Jika
setelah pemberian cairan inisial tidak terjadi perbaikan klinis, ulangi
pemberian infus larutan kristaloid 20 ml/kgBB secepatnya (maksimal 30 menit)
atau pertimbangkan pemberian larutan koloid 10 – 20 ml/kgBB/jam (maksimal 30
ml/kgBB/24 jam). f. Jika nilai
Ht dan Hb menurun namun tidak terjadi perbaikan klinis, pertimbangkan
terjadinya perdarahan tersembunyi. Berikan transfusi darah bila fasilitas
tersedia dan larutan koloid. Segera rujuk. g. Jika
terdapat perbaikan klinis, kurangi jumlah cairan hingga 10 ml/kgBB/jam dalam
2 – 4 jam. Secara bertahap diturunkan tiap 4 – 6 jam sesuai kondisi klinis
dan laboratorium. h. Dalam
banyak kasus, cairan intravena dapat dihentikan setelah 36 – 48 jam. Hindari
pemberian cairan secara berlebihan. 3. Pengobatan
suportif lain sesuai indikasi. Rencana Tindak
Lanjut Demam berdarah
dengue (DBD) tanpa syok 1. Pemantauan
klinis (tanda vital, perfusi perifer, diuresis) dilakukan setiap satu jam. 2. Pemantauan
laboratorium (Ht, Hb, trombosit) dilakukan setiap 4-6 jam, minimal 1 kali
setiap hari. 3. Pemantauan
cairan yang masuk dan keluar. Demam berdarah
dengue (DBD) dengan syok Dokter di
fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama merujuk pasien ke RS jika
kondisi pasien stabil. Persyaratan
perawatan di rumah 1. Persyaratan
untuk pasien dan keluarga a. DBD
non-syok(tanpa kegagalan sirkulasi). b. Bila anak
dapat minum dengan adekuat. c. Bila
keluarga mampu melakukan perawatan di rumah dengan adekuat. 2. Persyaratan
untuk tenaga kesehatan a. Adanya 1
dokter dan perawat tetap yang bertanggung jawab penuh terhadap tatalaksana
pasien. b. Semua
kegiatan tatalaksana dapat dilaksanakan dengan baik di rumah. c. Dokter
dan/atau perawat mem-follow up pasien setiap 6 – 8 jam dan setiap
hari, sesuai kondisi klinis. d. Dokter
dan/atau perawat dapat berkomunikasi seara lancar dengan keluarga pasien
sepanjang masa tatalaksana. Kriteria
Rujukan 1. DBD dengan
syok (terdapat kegagalan sirkulasi). 2. Bila anak
tidak dapat minum dengan adekuat, asupan sulit, walaupun tidak ada kegagalan
sirkulasi. 3. Bila
keluarga tidak mampu melakukan perawatan di rumah dengan adekuat, walaupun
DBD tanpa syok. Konseling dan
Edukasi a. Penjelasan
mengenai diagnosis, komplikasi, prognosis, dan rencana tatalaksana. b. Penjelasan
mengenai tanda-tanda bahaya (warning signs) yang perlu diwaspadai dan
kapan harus segera ke layanan kesehatan. c. Penjelasan
mengenai jumlah cairan yang dibutuhkan oleh anak. d. Penjelasan
mengenai diet nutrisi yang perlu diberikan. e. Penjelasan
mengenai cara minum obat. f. Penjelasan
mengenai faktor risiko dan cara-cara pencegahan yang berkaitan dengan
perbaikan higiene personal, perbaikan sanitasi lingkungan, terutama metode 4M
plus seminggu sekali, yang terdiri atas: 1) Menguras
wadah air, seperti bak mandi, tempayan, ember, vas bunga, tempat minum
burung, dan penampung air kulkas agar telur dan jentik Aedes aegypti mati.
2) Menutup
rapat semua wadah air agar nyamuk Aedes aegypti tidak dapat masuk dan
bertelur. 3) Mengubur
atau memusnahkan semua barang bekas yang dapat menampung air hujan agar tidak
menjadi sarang dan tempat bertelur nyamuk Aedes aegypti. 4) Memantau
semua wadah air yang dapat menjadi tempat nyamuk Aedes aegypti berkembang
biak. 5) Tidak
menggantung baju, menghindari gigitan nyamuk, membubuhkan bubuk abate, dan
memelihara ikan. Prognosis Prognosis jika
tanpa komplikasi umumnya dubia ad bonam, karena hal ini tergantung
dari derajat beratnya penyakit. |
||||||
|
F. Diagram Alir |
Memberikan
tata laksana pada pasien sesuai hasil pemeriksaan menulis hasil
anamnesa, pemeriksaan dan diagnose ke rekam medic menegakan
diagnose berdasarkan hasil pemeriksaan melakukan
vital sign dan pemeriksaan fisik Melakukan anamnesis pada pasien menulis
diagnose pasien ke buku register. |
||||||
G. Unit Terkait |
Ruang Pemeriksaan Umum |
G. Rekaman Historis:
|
No |
Halaman |
Yang dirubah |
Perubahan |
Diberlakukan Tanggal |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
No comments:
Post a Comment