|
123 Dinkes Kab Defgh |
CUTANEUS
LARVA MIGRAN |
Puskesmas Abcde |
|||
|
SOP |
Nomor |
: |
|||
|
Terbit ke |
: 01 |
||||
|
No.Revisi |
: 00 |
||||
|
Tgl.Diberlakukan |
: 2-01-2018 |
||||
|
Halaman |
: 1 / 2 |
||||
|
Ditetapkan
Kepala Puskesmas Abcde |
|
Kapus NIP. nipkapus |
|||
|
A. Pengertian |
Cutaneus Larva Migrans (Creeping Eruption) merupakan kelainan kulit
berupa peradangan berbentuk linear atau berkelok-kelok, menimbul dan
progresif, yang disebabkan oleh invasi larva cacing tambang yang berasal dari
anjing dan kucing. Penularan melalui
kontak langsung dengan larva. Prevalensi Cutaneus Larva Migran di Indonesia yang dilaporkan oleh sebuah
penelitian pada tahun 2012 di Kulon Progo adalah sekitar 15%. |
||||||
|
B. Tujuan |
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk penatalaksanaan pasien
dengan cutaneus larva migran |
||||||
|
C. Kebijakan |
SK Kepala UPTD Puskesmas Abcde Nomor ... tentang Kebijakan Pelayanan
Klinis UPTD Puskesmas Abcde |
||||||
|
D. Referensi |
Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/Menkes/514/2015 tentang Panduan
Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama |
||||||
|
E. Prosedur |
Hasil Anamnesis (Subjective) Keluhan Pasien mengeluh gatal dan panas pada tempat infeksi.
Pada awal infeksi, lesi berbentuk papul yang kemudian diikuti dengan lesi
berbentuk linear atau berkelok-kelok yang terus menjalar memanjang. Keluhan
dirasakan muncul sekitar empat hari setelah terpajan. Faktor Risiko Orang yang berjalan tanpa alas kaki, atau sering
berkontak dengan tanah atau pasir. Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana
(Objective) Pemeriksaan Fisik Tanda Patognomonis Lesi awal berupa papul eritema yang menjalar dan
tersusun linear atau berkelok-kelok meyerupai benang dengan kecepatan 2 cm
per hari. Predileksi penyakit ini terutama pada daerah telapak
kaki, bokong, genital dan tangan. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan penunjang yang khusus tidak ada. Penegakan Diagnosis (Assessment) Diagnosis Klinis Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan
pemeriksaan fisik. Diagnosis Banding Dermatofitosis, Dermatitis, Dermatosis Komplikasi Dapat terjadi infeksi sekunder. Penatalaksanaan Komprehensif (Plan) Penatalaksanaan 1.
Memodifikasi gaya hidup
dengan menggunakan alas
kaki dan sarung tangan pada
saat melakukan aktifitas yang berkontak dengan tanah, seperti berkebun dan
lain-lain. 2.
Terapi farmakologi dengan
Albendazol 400 mg
sekali sehari, selama 3 hari. 3. Untuk mengurangi gejala pada penderita dapat
dilakukan penyemprotan Etil Klorida pada lokasi lesi, namun hal ini tidak
membunuh larva. 4. Bila terjadi infeksi sekunder, dapat diterapi
sesuai dengan tatalaksana pioderma. Konseling dan Edukasi Edukasi
pasien dan keluarga
untuk pencegahan penyakit
dengan menjaga kebersihan diri. Kriteria Rujukan Pasien dirujuk apabila dalam waktu 8 minggu tidak
membaik dengan terapi. Peralatan Lup Prognosis Prognosis umumnya bonam. Penyakit ini bersifat
self-limited, karena sebagian besar larva mati dan lesi membaik dalam 2-8
minggu, jarang hingga 2 tahun. |
||||||
|
F. Diagram Alir |
menegakan
diagnose berdasarkan hasil pemeriksaan Memberikan
tata laksana pada pasien sesuai hasil pemeriksaan menulis hasil
anamnesa, pemeriksaan dan diagnose ke rekam medic melakukan
vital sign dan pemeriksaan fisik Melakukan anamnesis pada pasien menulis
diagnose pasien ke buku register. |
||||||
G. Unit Terkait |
Ruang Pemeriksaan Umum |
G. Rekaman Historis:
|
No |
Halaman |
Yang dirubah |
Perubahan |
Diberlakukan Tanggal |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
No comments:
Post a Comment