|
124 Dinkes Kab Defgh |
FILARIASIS |
Puskesmas Abcde |
|||
|
SOP |
Nomor |
: |
|||
|
Terbit ke |
: 01 |
||||
|
No.Revisi |
: 00 |
||||
|
Tgl.Diberlakukan |
: 2-01-2018 |
||||
|
Halaman |
: 1 / 2 |
||||
|
Ditetapkan
Kepala Puskesmas Abcde |
|
Kapus NIP. nipkapus |
|||
|
A. Pengertian |
Filariasis (Penyakit Kaki Gajah) adalah penyakit menular yang disebabkan
oleh cacing Filaria yang ditularkan oleh berbagai jenis nyamuk. Penyakit ini
bersifat menahun (kronis) dan bila tidak mendapatkan pengobatan dapat
menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki, lengan dan alat kelamin
baik perempuan maupun laki-laki. WHO sudah menetapkan Kesepakatan Global untuk mengeliminasi filariasis pada
tahun 2020 (The
Global Goal of
Elimination of
LymphaticFilariasis as a Public
Health problem by The Year
2020). Program eliminasi dilaksanakan melalui pengobatan massal dengan
DEC dan Albendazol
setahun sekali selama
5 tahun di
lokasi yangendemis serta perawatan kasus klinis baik yang akut maupun
kronis untuk mencegah kecacatandan mengurangi penderitaannya. Indonesia melaksanakan eliminasi
penyakit kaki gajah
secara bertahap yang telah dimulai sejak tahun 2002 di 5 kabupaten.
Perluasan wilayah akan dilaksanakan setiap tahun. Penyakit kaki gajah disebabkan oleh tiga spesies cacing filaria, yaitu:
Wucheria bancrofti, Brugia malayi dan Brugia timori. Vektor penular di
Indonesia hingga saat ini telah diketahui ada 23 spesies nyamuk dari genus
Anopheles, Culex, Mansonia, Aedes, dan Armigeres yang dapat berperan sebagai
vektor penular penyakit kaki gajah. |
||||||
|
B. Tujuan |
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk penatalaksanaan pasien
dengan filariasis |
||||||
|
C. Kebijakan |
SK Kepala UPTD Puskesmas Abcde Nomor ... tentang Kebijakan Pelayanan
Klinis UPTD Puskesmas Abcde |
||||||
|
D. Referensi |
Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/Menkes/514/2015 tentang Panduan
Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama |
||||||
|
E. Prosedur |
Hasil Anamnesis (Subjective) Keluhan Gejala filariasis bancrofti sangat berbeda dari satu
daerah endemik dengan daerah endemik lainnya. Hal ini mungkin disebabkan oleh
perbedaan intensitas paparan
terhadap vektor infektif
didaerah endemik tersebut. Manifestasi akut, berupa: 1. Demam
berulang ulang selama 3-5 hari. Demam dapat hilang bila istirahat dan timbul
lagi setelah bekerja berat. 2.
Pembengkakan kelenjar getah bening (tanpa ada luka) didaerah lipatan
paha, ketiak (lymphadentitis) yang tampak kemerahan, panas, dan sakit. 3. Radang
saluran kelenjar getah bening yang terasa panas dan sakit menjalar dari
pangkal kaki atau pangkal lengan ke arah ujung (retrograde lymphangitis). 4. Filarial
abses akibat seringnya menderita pembengkakan kelenjar getah bening, dapat pecah dan mengeluarkan nanah
serta darah. 5.
Pembesaran tungkai, lengan,
buah dada, kantong
zakar yang terlihat agak
kemerahan dan terasa panas (Early Imphodema). Manifestasi
kronik, disebabkan oleh
berkurangnya fungsi saluran limfe terjadi
beberapa bulan sampai
bertahun-tahun dari episode akut. Gejala kronis filariasis
berupa: pembesaran yang menetap (elephantiasis) pada tungkai, lengan, buah dada,
buah zakar (elephantiasis skroti) yang
disebabkan oleh adanya
cacing dewasa pada sistem
limfatik dan oleh reaksi hiperresponsif berupa occult filariasis. Perjalanan penyakit tidak jelas dari satu stadium ke
stadium berikutnya tetapi bila diurut dari masa inkubasi maka dapat dibagi
menjadi: 1. Masa
prepaten, yaitu masa antara masuknya larva infektif hingga terjadinya mikrofilaremia berkisar
antara 37 bulan.
Hanya sebagian saja dari
penduduk di daerah endemik yang menjadi mikrofilaremik,
dan dari kelompok mikrofilaremik ini pun tidak semua kemudian menunjukkan
gejala klinis. Terlihat bahwa kelompok ini termasuk kelompok yang
asimptomatik amikrofilaremik dan asimptomatik mikrofilaremik. 2. Masa inkubasi, masa antara masuknya larva
infektif sampai terjadinya gejala klinis berkisar antara 8 – 16 bulan. 3. Gejala
klinik akut merupakan limfadenitis dan limfangitis disertai panas dan
malaise. Kelenjar yang terkena biasanya unilateral. Penderita dengan gejala
klinis akut dapat amikrofilaremik maupun mikrofilaremik. 4. Gejala
menahun, terjadi 10 – 15 tahun setelah serangan akut pertama.Mikrofilaria jarang
ditemukan pada stadium ini, sedangkan adenolimfangitis masih dapat terjadi.
Gejala menahun ini menyebabkan terjadinya cacat yang mengganggu aktivitas
penderita serta membebani keluarganya. Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana
(Objective) Pemeriksaan Fisik Pada manifestasi akut dapat ditemukan adanya
limfangitis dan limfadenitis yang berlangsung 3 – 15 hari, dan dapat terjadi
beberapa kali dalam setahun. Limfangitis
akan meluas kedaerah distal
dari kelenjar yang terkena tempat cacing ini tinggal. Limfangitis dan
limfadenitis berkembang lebih sering di ekstremitas bawah daripada atas. Selain
pada tungkai, dapat mengenai alat kelamin, (tanda khas infeksi W.bancrofti)
dan payudara. Manifestasi
kronik, disebabkan oleh
berkurangnya fungsi saluran limfe. Bentuk manifestasi ini dapat
terjadi dalam beberapa bulan sampai bertahun-tahun dari episode akut. Tanda
klinis utama yaitu hidrokel, limfedema, elefantiasis dan chyluria yang
meningkat sesuai bertambahnya usia. Manifestasi genital di banyak daerah endemis,
gambaran kronis yang terjadi adalah hidrokel. Selain itu dapat dijumpai
epedidimitis kronis, funikulitis, edema karena penebalan kulit skrotum,
sedangkan pada perempuan bisa dijumpai limfedema vulva. Limfedema dan
elefantiasis ekstremitas, episode limfedema pada ekstremitas akan menyebabkan
elefantiasis di daerah saluran limfe yang terkena dalam waktu bertahun-tahun.
Lebih sering terkena ekstremitas bawah. Pada W.bancrofti, infeksi didaerah
paha dan ekstremitas bawah sama seringnya, sedangkan B.malayi hanya mengenai
ekstremitas bawah saja. Pada keadaan akut infeksi filariasis bancrofti,
pembuluh limfe alat kelamin laki-laki sering terkena, disusul funikulitis,
epididimitis, dan orkitis. Adenolimfangitis inguinal atau aksila, sering
bersama dengan limfangitis retrograd yang umumnya sembuh sendiri dalam 3 –15
hari dan serangan terjadi beberapa kali dalam setahun. Pada filariasis
brugia, limfadenitis paling sering mengenai kelenjar inguinal, sering terjadi
setelah bekerja keras. Kadang-kadang disertai limfangitis retrograd. Pembuluh
limfe menjadi keras dan nyeri dan sering terjadi limfedema pada pergelangan
kaki dan kaki. Penderita tidak mampu bekerja
selama beberapa hari.
Serangan dapat terjadi 12 x/tahun sampai beberapa kali perbulan.
Kelenjar limfe yang terkena dapat menjadi abses, memecah, membentuk ulkus dan
meninggalkan parut yang khas, setelah 3 minggu sampai 3 bulan. Pada kasus menahun filariasis bancrofti, hidrokel
paling banyak ditemukan. Limfedema dan elefantiasis terjadi di seluruh
tungkai atas, tungkai bawah, skrotum, vulva atau buah dada, dan ukuran
pembesaran di tungkai dapat 3 kali dari ukuran asalnya. Chyluria terjadi
tanpa keluhan, tetapi pada beberapa penderita menyebabkan penurunan berat
badan dan kelelahan. Filariasis brugia, elefantiasis terjadi di
tungkai bawah di
bawah lutut dan
lengan bawah, dan ukuran pembesaran ektremitas tidak
lebih dari 2 kali ukuran asalnya. Pemeriksaan Penunjang 1.
Identifikasi mikrofilaria dari sediaan darah. Cacing filaria dapat
ditemukan dengan pengambilan darah tebal atau tipis pada waktu malam hari
antara jam 10 malam sampai jam 2 pagi yang dipulas dengan pewarnaan Giemsa
atau Wright. Mikrofilaria juga dapat ditemukan pada cairan hidrokel atau
cairan tubuh lain (sangat jarang). 2.
Pemeriksaan darah tepi terdapat leukositosis dengan eosinofilia sampai
10-30% dengan pemeriksaan sediaan darah jari yang diambil mulai pukul 20.00
waktu setempat. 3. Bila sangat diperlukan dapat dilakukan
Diethylcarbamazine provocative test. Penegakan Diagnostik (Assessment) Diagnosis Klinis Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang identifikasi mikrofilaria. Didaerah endemis, bila ditemukan adanya limfedema di
daerah ekstremitas disertai dengankelainan genital laki-laki pada penderita
dengan usia lebih dari 15 tahun, bila tidak ada sebablain seperti trauma atau
gagal jantung kongestif kemungkinan filariasis sangat tinggi. Diagnosis Banding 1.
Infeksi bakteri,
tromboflebitis atau trauma dapat mengacaukan adenolimfadenitis
filariasis akut 2.
Tuberkulosis, lepra, sarkoidosis dan
penyakit sistemik
granulomatous lainnya. Komplikasi Pembesaran organ (kaki, tangan, skrotum atau bagian
tubuh lainnya) akibat obstruksi saluran limfe. Penatalaksanaan Komprehensif (Plan) Penatalaksanaan Terapi
filariasis bertujuan untuk
mencegah atau memperbaiki perjalanan penyakit, antara
lain dengan: 1. Memelihara
kebersihan kulit. 2.
Fisioterapi kadang diperlukan pada penderita limfedema kronis. 3. Obatantifilaria adalah Diethyl carbamazine
citrate (DEC) dan Ivermektin (obat ini bermanfaat apabila diberikan pada fase
akut yaitu ketika pasien mengalami limfangitis). 4. DEC dapat
membunuh mikrofilaria dan cacing dewasa. Ivermektin merupakan
antimikrofilaria yang kuat, tetapi tidak memiliki efek makrofilarisida. 5. Dosis DEC
6 mg/kgBB, 3 dosis/hari setelah makan, selama 12 hari, pada TropicalPulmonary Eosinophylia (TPE)
pengobatan diberikan selama tiga minggu. 6. Efek
samping bisa terjadi sebagai reaksi terhadap DEC atau reaksi terhadap cacing
dewasa yang mati. Reaksi tubuh terhadap protein yang dilepaskan pada saat
cacing dewasa mati dapat terjadi beberapa jam setelah pengobatan, didapat 2
bentuk yang mungkin terjadi yaitu reaksi sistemik dan reaksi lokal: a. Reaksi
sistemik berupa demam,
sakit kepala, nyeri
badan, pusing, anoreksia,
malaise, dan muntah-muntah. Reaksi sistemik cenderung berhubungan
dengan intensitas infeksi. b. Reaksi
lokal berbentuk limfadenitis, abses,
dan transien limfedema. Reaksi
lokal terjadi lebih lambat namun berlangsung lebih lama dari reaksi sistemik. c. Efek samping DEC lebih berat pada penderita
onchorcerciasis, sehinggaobat tersebut tidak diberikan dalam program
pengobatanmasal didaerah endemis
filariasis dengan ko- endemis Onchorcercia valvulus. 7. Ivermektin
diberikan dosis tunggal 150 ug/kgBB efektif terhadappenurunan derajat
mikrofilaria W.bancrofti, namun pada filariasis oleh Brugia
spp. penurunan tersebut
bersifat gradual. Efek samping ivermektin sama dengan DEC,
kontraindikasi ivermektinyaitu wanita hamil dan anak kurang dari 5 tahun.
Karena tidak memiliki efek terhadap cacing dewasa, ivermektin harus diberikan
setiap 6 bulan atau 12 bulan untuk menjaga agar derajat mikrofilaremia tetap
rendah. 8.
Pemberian antibiotik dan/atau
antijamur akan mengurangi seranganberulang, sehingga mencegah
terjadinya limfedema kronis. 9.
Antihistamin dan kortikosteroid diperlukan untuk mengatasi efek
samping pengobatan. Analgetik dapat diberikan bila diperlukan. 10. Pengobatan operatif, kadang-kadang hidrokel
kronik memerlukan tindakan operatif, demikian
pula pada chyluria
yang tidak membaik dengan
terapi konservatif. Konseling dan Edukasi Memberikan informasi kepada pasien dan keluarganya
mengenai penyakit filariasis terutama dampak akibat penyakit dan cara
penularannya. Pasien dan
keluarga juga harus
memahami pencegahan dan pengendalian penyakit menular ini melalui: 1.
Pemberantasan nyamuk dewasa 2.
Pemberantasan jentik nyamuk 3. Mencegah
gigitan nyamuk Rencana Tindak Lanjut Setelah pengobatan, dilakukan kontrol ulang terhadap
gejala dan mikrofilaria, bila masih terdapat gejala dan mikrofilaria pada
pemeriksaan darahnya, pengobatan dapat diulang 6 bulan kemudian. Kriteria rujukan Pasien dirujuk bila dibutuhkan pengobatan operatif
atau bila gejala tidak membaik dengan pengobatan konservatif. Peralatan Peralatan laboratorium untuk pemeriksaan
mikrofilaria. Prognosis Prognosis pada umumnya tidak mengancam jiwa. Quo ad
fungsionam adalah dubia ad bonam, sedangkan quo ad sanationam
adalah malam. Prognosis penyakit ini tergantung dari: 1.
Jumlahcacing dewasa dan mikrofilaria dalam tubuh pasien. 2. Potensi
cacing untuk berkembang biak. 3. Kesempatan
untuk infeksi ulang. 4. Aktivitas
RES. Pada
kasus-kasus dini dan
sedang, prognosis baik
terutama bila pasien pindah
dari daerah endemik. Pengawasan daerah endemik tersebut dapat
dilakukan dengan pemberian
obat serta pemberantasan vektornya.
Pada kasus-kasus lanjut terutama dengan edema pada tungkai, prognosis lebih
buruk. |
||||||
|
F. Diagram Alir |
menegakan
diagnose berdasarkan hasil pemeriksaan Memberikan
tata laksana pada pasien sesuai hasil pemeriksaan menulis hasil
anamnesa, pemeriksaan dan diagnose ke rekam medic melakukan
vital sign dan pemeriksaan fisik Melakukan anamnesis pada pasien menulis
diagnose pasien ke buku register. |
||||||
G. Unit Terkait |
Ruang Pemeriksaan Umum |
G. Rekaman Historis:
|
No |
Halaman |
Yang dirubah |
Perubahan |
Diberlakukan Tanggal |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
No comments:
Post a Comment