|
Puskesmas Cangkringan |
SPO |
NO DOKUMEN : SPO-TND-12 |
|||
|
TGL
TERBIT : 01-04-2014 |
|||||
|
BENDA ASING |
NOMOR
REVISI : 00 |
||||
|
HALAMAN : 1/2 |
|||||
|
Dibuat oleh Koordinator R.Tindakan Iwan Susanto,AMK NIP. 19880617
201101 1 003 |
Disetujui Oleh Management Representative dr. Dyah Arum R NIP. 19860512 201101 2
002 |
Disahkan Oleh Ka. Pusk Cangkringan Maryadi, SKM NIP. 19640209 198511 1
001 |
|
||
|
RUANG LINGKUP |
Protap ini
mencakup manifestasi klinis benda asing di liang telinga, hidung dan mata
serta penatalaksanaan. |
||||
|
TUJUAN |
Mampu
mengeluarkan benda asing di hidung dan liang telinga bila pasien kooperatif,
benda asing terlihat/ mudah terjangkau. Benda asing di mata harus dirujuk. |
||||
|
KEBIJAKAN |
Benda asing di mata harus dirujuk agar tidak terjadi kerusakan pada bola
mata. |
||||
|
PETUGAS |
Dokter, Perawat |
||||
PERALATAN
|
1. Tensimeter 2. Stetoskop 3. Senter 4. Pinset 5. Pengait 6. Otoskop |
||||
|
PROSEDUR |
1. Benda asing
di liang telinga 1.1. Manifestasi
klinis: 1.1.1. Rasa tidak
enak di telinga, tersumbat dan pendengaran terganggu. 1.1.2. Pada inspeksi
telinga akan tampak benda asing. 1.2. Penatalaksanaan: 1.2.1. Usaha
pengeluaran harus dengan hati-hati. Biasanya dijepit dengan pinset dan
ditarik keluar. 1.2.2. Bila benda
asing adalah serangga yang masih hidup harus dimatikan lebih dulu dengan
meneteskan minyak atau alkohol baru kemudian dikeluarkan. 1.2.3. Bila pasien tidak kooperatif atau anak-anak rujuk ke rumah
sakit atau ahli THT. 2. Benda asing
di hidung 2.1. Manifestasi klinik: 2.1.1. Pada inspeksi
tampak benda asing dalam kavum nasi. 2.1.2. Kadang disertai rasa nyeri, demam, epistaksis, bersin,
tersumbat sekret mukopurulen dan atau berbau busuk. 2.2. Penatalaksanaan: 2.2.1. Benda asing
dengan permukaan kasar dapat dikeluarkan memakai forcep. Benda asing yang
bulat dan licin dipergunakan pengait yang ujungnya tumpul. |
||||
|
Puskesmas Cangkringan |
SPO |
NO DOKUMEN : SPO-TND-12 |
|||
|
TGL
TERBIT : 01-04-2014 |
|||||
|
BENDA ASING |
NOMOR
REVISI : 00 |
||||
|
HALAMAN
: 2 / 2 |
|||||
|
PROSEDUR |
2.2.2. Pemberian antibiotik sistemik selama 5 – 7 hari hanya
bila ada infeksi hidung dan sinus. 2.2.3. Tidak dianjurkan mendorong ke nasofaring dengan tujuan
agar masuk ke mulut karena dapat terus masuk ke laring dan saluran nafas,
sehingga timbul sesak nafas dan kegawatan. 2.2.4. Bila pasien tidak kooperatif dan alat tidak memadai,
rujuk ke rumah sakit atau ahli THT. 3. Benda asing di mata Semua pasien dengan benda asing di mata dirujuk
ke rumah sakit atau spesialis mata. |
||||
|
REFERENSI |
Kapita Selekta Kedokteran Edisi
Ketiga Jilid 1
hal 92 dan 116, Media
Aesculapius FKUI, 2001 |
||||
No comments:
Post a Comment