|
|
SPO Angina Pectoris Stabil |
|
|
|
SPO |
No. Dokumen : |
||
|
No. Revisi : |
|||
|
Tanggal Terbit: |
|||
|
Halaman : |
|||
|
PUSKESMAS ABCD |
|
Nama Kepala Puskesmas |
||||||||
|
1.
Pengertian |
No. ICPC-2 : K74 Ischaemic heart
disease with angina No. ICD-10 : I20.9 Angina pectoris,
unspecified Tingkat Kemampuan 3B Angina pektoris stabil merupakan tanda klinis pertama pada
sekitar 50% pasien yang mengalami penyakit jantung koroner. Angina pektoris
dilaporkan terjadi dengan rata-rata kejadian 1,5% tergantung pada jenis
kelamin, umur, dan faktor risiko. Data dari studi Framingham pada tahun 1970
menunjukkan prevalensi sekitar 1,5% untuk wanita dan 4,3% untuk pria berusia
50 – 59 tahun. |
|||||||||
|
2.
Tujuan |
Semua pasien Angina
Pectoris Stabil yang
datang ke Puskesmas Somagede mendapatkan pelayanan yang sesuai
dengan prosedur |
|||||||||
|
3.
Kebijakan |
SK Nomor :
……………. Tentang |
|||||||||
|
4.
Referensi |
1.
KEPUTUSAN
MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.02.02/MENKES/514/2015 TENTANG PANDUAN PRAKTIK
KLINIS BAGI DOKTER DI FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN TINGKAT PERTAMA 2.
Isselbacher, J Kurt. Harrison
Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit Dalam Edisi 13 Volume 3. Jakarta: EGC. 2000.
(Isselbacher, 2000) 3.
O’Rouke., Walsh., Fuster.
Hurst’s The Heart Manual of Cardiology.12th Ed. McGraw-Hill. 2009. (O'Rouke,
et al., 2009) 4.
Priori, S. G., Blanc, J. J.,
(France), Budaj., A., Camm, J., Dean, V., Deckers, J., Dickstein. K.,
Lekakis, J., McGregor. K., Metra. M., Morais. J., Osterspey. A., Tamargo, J.,
Zamorano, J. L., Guidelines on the management of stable angina pectoris, 2006,
European Heart Journal doi:10.1093/eurheartj/ehl002 ESC Committee for
Practice Guidelines (CPG). (Priori, et al., 2006) 5.
Sudoyo, W. Aaru, Bambang
Setiyohadi. Ilmu Penyakit Dalam Jilid III Edisi IV. Jakarta: FKUI.2007.c
(Sudoyo, et al., 2006) |
|||||||||
|
5.
Prosedur |
Hasil
Anamnesis (Subjective) Keluhan Pasien datang dengan keluhan nyeri
dada yang khas, yaitu seperti rasa ditekan atau terasa seperti ditimpa beban
yang sangat berat. Diagnosis seringkali berdasarkan
keluhannyeri dada yang mempunyai ciri khas sebagai berikut: 1. Letak Sering pasien merasakan nyeri dada
di daerah sternum atau di bawah sternum (substernal: tidak dapat
melokalisasi), atau dada sebelah kiri dan kadang-kadang menjalar ke lengan
kiri, dapat menjalar ke punggung, rahang, leher, atau ke lengan kanan. Nyeri
dada juga dapat timbul di tempat lain seperti di daerah epigastrium, leher,
rahang, gigi, dan bahu. 2. Kualitas Pada angina, nyeri dada biasanya
seperti tertekan benda berat, atau seperti diperas atau terasa panas,
kadang-kadang hanya mengeluh perasaan tidak enak di dada karena pasien tidak
dapat menjelaskan dengan baik. 3. Hubungan dengan aktivitas Nyeri dada pada angina pektoris
biasanya timbul pada saat melakukan aktivitas, misalnya sedang berjalan
cepat, tergesa-gesa, atau sedang berjalan mendaki atau naik tangga. Pada
kasus yang berat aktivitas ringan seperti mandi atau menggosok gigi, makan terlalu
kenyang atau emosi, sudah dapat menimbulkan nyeri dada. Nyeri dada tersebut
segera hilang bila pasien menghentikan aktivitasnya. Serangan angina yang
timbul pada waktu istirahat atau pada waktu tidur malam sering akibat angina
pektoris tidak stabil 4. Lamanya serangan Lamanya nyeri dada biasanya
berlangsung 1-5 menit, kadang-kadang perasaan tidak enak di dada masih terasa
setelah nyeri hilang. Bila nyeri dada berlangsung lebih dari 20 menit,
mungkin pasien mengalami sindrom koroner akut dan bukan angina pektoris biasa.
Pada angina pektoris dapat timbul keluhan lain seperti sesak napas, perasaan
lelah, kadang-kadang nyeri dada disertai keringat dingin. 5. Nyeri dada bisa disertai
keringat dingin, mual, muntah, sesak dan pucat. Faktor
Risiko Faktor risiko yang tidak dapat
diubah: 1. Usia Risiko meningkat pada pria di atas
45 tahun dan wanita diatas 55 tahun (umumnya setelah menopause) 2. Jenis kelamin Morbiditas akibat penyakit jantung
koroner (PJK) pada laki-laki dua kali lebih besar dibandingkan pada
perempuan, hal ini berkaitan dengan estrogen endogen yang bersifat protektif
pada perempuan. Hal ini terbukti insidensi PJK meningkat dengan cepat dan akhirnya
setara dengan laki-laki pada wanita setelah masa menopause. 3. Riwayat keluarga Riwayat keluarga PAK (Penyakit
Arteri Koroner) dini yaitu ayah usia < 55 tahun dan ibu < 65 tahun. Faktor risiko yang dapat diubah: 1. Mayor a. Peningkatan lipid serum b. Hipertensi c. Merokok d. Konsumsi alkohol e. Diabetes Melitus f. Diet tinggi lemak jenuh,
kolesterol dan kalori 2. Minor a. Aktivitas fisik kurang b. Stress psikologik c. Tipe kepribadian Hasil
Pemeriksaan Fisik dan Penunjang (Objective) Pemeriksaan
Fisik Pemeriksaan Fisik 1. Sewaktu terjadi serangan angina
dapat tidak menunjukkan kelainan. Walau jarang pada auskultasi dapat
terdengar derap atrial atau ventrikel dan murmur sistolik di daerah apeks.
Frekuensi denyut jantung dapat menurun, menetap atau meningkat pada waktu serangan
angina. 2. Dapat ditemukan pembesaran
jantung. Pemeriksaan Penunjang 1. EKG Gambaran EKG saat istirahat dan
bukan pada saat serangan angina sering masih normal. Gambaran EKG dapat
menunjukkan bahwa pasien pernah mendapat infark miokard di masa lampau.
Kadang-kadang menunjukkan pembesaran ventrikel kiri pada pasien hipertensi
dan angina, dapat pula menunjukkan perubahan segmen ST atau gelombang T yang
tidak khas. Pada saat serangan angina, EKG akan menunjukkan depresi segmen ST
dan gelombang T dapat menjadi negatif. Gambaran EKG penderita angina tak
stabil/ATS dapat berupa depresi segmen ST, inversi gelombang T, depresi
segmen ST disertai inversi gelombang T, elevasi segmen ST, hambatan cabang
berkas His dan bisa tanpa perubahan segmen ST dan gelombang T. Perubahan EKG
pada ATS bersifat sementara dan masing-masing dapat terjadi sendiri-sendiri
ataupun bersamaan. Perubahan tersebut timbul di saat serangan angina dan
kembali ke gambaran normal atau awal setelah keluhan angina hilang dalam
waktu 24 jam. Bila perubahan tersebut menetap setelah 24 jam atau terjadi
evolusi gelombang Q, maka disebut sebagai Infark Miokard Akut (IMA). 2. X ray thoraks X ray thoraks sering menunjukkan
bentuk jantung yang normal. Pada pasien hipertensi dapat terlihat jantung
membesar dan kadang-kadang tampak adanya kalsifikasi arkus aorta. Penegakan
Diagnostik(Assessment) Diagnosis Klinis Diagnosis ditegakkan berdasarkan
anamnesis, pemeriksaan fisik, dan penunjang. Klasifikasi Angina: 1. Stable Angina Pectoris (angina
pektoris stabil) Keluhan nyeri dada timbul bila
melakukan suatu pekerjaan, sesuai dengan berat ringannya pencetus, dibagi
atas beberapa tingkatan: a. Selalu timbul sesudah latihan
berat. b. Timbul sesudah latihan sedang
(jalan cepat 1/2 km) c. Timbul waktu latihan ringan
(jalan 100 m) d. Angina timbul jika gerak badan
ringan (jalan biasa) 2. Unstable Angina Pectoris (angina
pektoris tidak stabil/ATS) Angina dapat terjadi pada saat
istirahat maupun bekerja. Pada patologi biasanya ditemukan daerah iskemik
miokard yang mempunyai ciri tersendiri. 3. Angina prinzmetal (Variant
angina) Terjadi tanpa peningkatan jelas
beban kerja jantung dan sering timbul pada waktu beristirahat atau tidur.
Pada angina prinzmetal terjadi spasme arteri koroner yang menimbulkan iskemi
jantung di bagian hilir. Kadang-kadang tempat spasme berkaitan dengan arterosklerosis.
Klasifikasi Angina Pektoris menurut
Canadian Cardiovascular Society Classification System: 1. Kelas I : Pada aktivitas fisik
biasa tidak mencetuskan angina. Angina akan muncul ketika melakukan
peningkatan aktivitas fisik (berjalan cepat, olahraga dalam waktu yang lama).
2. Kelas II : Adanya pembatasan
aktivitas sedikit/aktivitas sehari-hari (naik tangga dengan cepat, jalan
naik, jalan setelah makan, stres, dingin). 3. Kelas III : Benar-benar ada
pembatasan aktivitas fisik karena sudah timbul gejala angina ketika pasien
baru berjalan 1 blok atau naik tangga 1 tingkat. 4. Kelas IV : Tidak bisa melakukan
aktivitas sehari-sehari, tidak nyaman, untuk melakukan aktivitas sedikit saja
bisa kambuh, bahkan waktu istirahat juga bisa terjadi angina. Diagnosis Banding Gastroesofageal Refluks Disease
(GERD), Gastritis akut, Nyeri muskuloskeletal, Pleuritis, Herpes di dada,
Trauma, Psikosomatik Komplikasi Sindrom koroner akut. Penatalaksanaan
Komprehensif (Plan) Penatalaksanaan Terapi farmakologi: 1. Oksigen dimulai 2 L/menit 2. Nitrat dikombinasikan dengan
β-blocker atau Calcium Channel Blocker (CCB) non dihidropiridin yang tidak
meningkatkan denyut jantung (misalnya verapamil, diltiazem). Pemberian dosis
pada serangan akut : a. Nitrat 5 mg sublingual dapat
dilanjutkan dengan 5 mg peroral sampai mendapat pelayanan rawat lanjutan di
pelayanan sekunder. b. Beta bloker: • Propanolol 20-80 mg dalamdosis
terbagi atau • Bisoprolol 2,5-5 mg per 24 jam. c. Calcium Channel Blocker (CCB)
non dihidropiridine Dipakai bila Beta Blocker merupakan
kontraindikasi, misalnya: • Verapamil 80 mg (2-3 kali sehari)
• Diltiazem 30 mg (3-4 kali sehari)
3. Antipletelet Aspirin 160-320 mg sekali minum
pada serangan akut. Konseling dan Edukasi Menginformasikan individu dan
keluarga untuk melakukan modifikasi gaya hidup antara lain: 1. Mengontrol emosi danmengurangi
kerja berat dimana membutuhkan banyak oksigen dalam aktivitasnya 2. Mengurangi konsumsi makanan
berlemak 3. Menghentikan konsumsi rokok dan
alkohol 4. Menjaga berat badan ideal 5. Mengatur pola makan 6. Melakukan olah raga ringan
secara teratur 7. Jika memiliki riwayat diabetes
tetap melakukan pengobatan diabetes secara teratur 8. Melakukan kontrol terhadap kadar
serum lipid 9. Mengontrol tekanan darah Kriteria Rujukan Dilakukan rujukan ke layanan
sekunder (spesialis jantung atau spesialis penyakit dalam) untuk tatalaksana
lebih lanjut. Peralatan 1. Elektrokardiografi (EKG) 2. Radiologi (X ray thoraks) Prognosis Prognosis umumnya dubia ad
bonamjika dilakukan tatalaksana dini dan tepat. |
|||||||||
|
6. Diagram Alur |
|
|||||||||
|
7.
Unit terkait |
|
|||||||||
|
8.Rekaman
Historis Perubahan |
|
|||||||||


No comments:
Post a Comment