|
74 Dinkes Kab Defgh |
ABORTUS
SPONTAN KOMPLIT |
Puskesmas Abcde |
|||
|
SOP |
Nomor |
: |
|||
|
Terbit ke |
: 01 |
||||
|
No.Revisi |
: 00 |
||||
|
Tgl.Diberlakukan |
: 2-01-2018 |
||||
|
Halaman |
: 1 / 2 |
||||
|
Ditetapkan
Kepala Puskesmas Abcde |
|
Kapus NIP. nipkapus |
|||
|
A. Pengertian |
Abortus spontan
komplit adalah pengeluaran seluruh hasil konsepsi dari kavum uteri sebelum
janin dapat hidupdi luar kandungan, dan sebagai batasan digunakan kehamilan
kurang dari 20 minggu atau anak kurang dari 500 gram |
||||||
|
B. Tujuan |
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk penatalaksanaan pasien
dengan abortus spontan komplit |
||||||
|
C. Kebijakan |
SK Kepala UPTD Puskesmas Abcde Nomor ... tentang Kebijakan Pelayanan
Klinis UPTD Puskesmas Abcde |
||||||
|
D. Referensi |
Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/Menkes/514/2015 tentang Panduan
Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama |
||||||
|
E. Prosedur |
Hasil Anamnesis (Subjective) Keluhan a. Perdarahan
sedikit b. Nyeri
perut atau kram ringan c. Mulut rahim
sudah tertutup d.
Pengeluaran seluruh hasil konsepsi Faktor Risiko 1. Faktor
Maternal a. Penyakit
infeksi b. Kelainan
hormonal, seperti hipotiroidisme c.
Gangguan nutrisi yang berat d. Penyakit
menahun dan kronis e. Alkohol,
merokok dan penggunaan obat-obatan f.
Anomali uterus dan serviks g. Gangguan
imunologis h. Trauma
fisik dan psikologis 2. Faktor
Janin Adanya kelainan genetik pada janin 3. Faktor
ayah Terjadinya kelainan sperma Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana
(Objective) Pemeriksaan Fisik 1. Penilaian
tanda vital (tekanan darah, nadi, respirasi, suhu) 2. Penilaian
tanda-tanda syok 3. Periksa
konjungtiva untuk tanda anemia 4. Mencari
ada tidaknya massa abdomen 5.
Tanda-tanda akut abdomen dan defans musculer 6.
Pemeriksaan ginekologi, ditemukan: • Osteum
uteri tertutup • Perdarahan
sedikit • Ukuran
uterus lebih kecil usia kehamilan Pemeriksaan Penunjang 1.
Pemeriksaan USG. 2.
Pemeriksaan tes kehamilan (BHCG): biasanya masih positif sampai 7-10 hari setelah abortus. 3.
Pemeriksaan darah perifer lengkap Penegakan Diagnostik (Assessment) Diagnosis Klinis Diagnosis
ditegakkan berdasar anamnesis,
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaam penunjang. Diagnosis Banding Kehamilan ektopik, Mola hidatidosa, Missed abortion Komplikasi Komplikasi yang dapat terjadi pada abortus ialah
perdarahan, infeksi, perforasi, syok Penatalaksanaan Komprehensif (Plan) Penatalaksanaan Umum Pada keadaan abortus kondisi ibu bisa memburuk dan
menyebabkan komplikasi. Hal pertama yang harus dilakukan adalah penilaian
cepat terhadap tanda vital (nada, tekanan darah, pernasapan dan suhu). Pada
kondisi di jumpai tanda sepsis atau dugaan abortus dengan komplikasi, berikan
antibiotika dengan kombinasi: 1. Ampicilin
2 gr IV /IM kemudian 1 gr setiap 6 jam 2. Gentamicin
5 mg/KgBB setiap 24 jam 3.
Metronidazole 500 mg IV setiap 8 jam 4. Segera
melakukan rujukan ke pelayanan kesehatan Sekunder / RS Penatalaksaan Tidak memerlukan pengobatan khusus, hanya apabila
menderita anemia perlu diberikan sulfas ferosus dan dianjurkan supaya
makanannya mengandung banyak protein, vitamin dan mineral. Pencegahan 1.
Pemeriksaan rutin antenatal 2. Makan
makanan yang bergizi (sayuran, susu,ikan, daging,telur). 3. Menjaga kebersihan diri, terutama daerah
kewanitaan dengan tujuan mencegah infeksi yang bisa mengganggu proses
implantasi janin. 4. Hindari
rokok, karena nikotin mempunyai efek vasoaktif sehingga menghambat sirkulasi
uteroplasenta. 5. Apabila
terdapat anemia sedang berikan tablet Sulfas Ferosus 600 mg/hari selama 2
minggu,bila anemia berat
maka berikan transfusi darah. Rencana Tindak Lanjut 1. Melakukan
konseling untuk memberikan dukungan emosional 2.
Menganjurkan penggunaan kontrasepsi pasca keguguran karena kesuburan
dapat kembali kira-kira 14 hari setelah keguguran. Untuk mencegah kehamilan,
Alat Kontrasepsi Dalam
Rahim (AKDR) umumnya dapat dipasang secara aman setelah aborsi spontan
atau diinduksi. Kontraindikasi pemasangan AKDR pasca keguguran antara lain
adalah infeksi pelvik, abortus septik, atau komplikasi serius lain dari
abortus. 3. Follow up
dilakukan setelah 2 minggu. Kriteria Rujukan - Peralatan 1. Inspekulo 2.
Laboratorium sederhana untuk pemeriksan tes kehamilan . 3.
Laboratorium sederhana untuk pemeriksaan darah rutin. Prognosis Prognosis umumnya bonam. |
||||||
|
F. Diagram Alir |
Memberikan
tata laksana pada pasien sesuai hasil pemeriksaan menulis hasil
anamnesa, pemeriksaan dan diagnose ke rekam medic menegakan
diagnose berdasarkan hasil pemeriksaan melakukan
vital sign dan pemeriksaan fisik Melakukan anamnesis pada pasien menulis
diagnose pasien ke buku register. |
||||||
G. Unit Terkait |
Ruang Pemeriksaan Umum |
G. Rekaman Historis:
|
No |
Halaman |
Yang dirubah |
Perubahan |
Diberlakukan Tanggal |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
No comments:
Post a Comment