MOHON MAAF APABILA SUSUNANYA ADA YANG BERANTAKAN , KARENA HASIL COPY PASTE DARI FILE WORD/EXEL KE POSTINGAN BLOG

Sunday, September 13, 2026

SOP PENGUKURAN RANGE OF MOTION (ROM) SENDI


 

SOP PENGUKURAN RANGE OF MOTION (ROM) SENDI

A. IDENTITAS DOKUMEN

KomponenKeterangan
Nama Fasilitas Kesehatan................................................
Judul SOPPengukuran Range of Motion (ROM) Sendi
Nomor Dokumen................................................
Nomor Revisi................................................
Tanggal Terbit................................................
Halaman1/.....
Unit/ProgramPelayanan Klinis / Rehabilitasi Medik
Disahkan olehKepala Puskesmas ................................

B. KATA KUNCI SEO UTAMA

SOP pengukuran ROM sendi

C. KATA KUNCI TURUNAN

  • pengukuran Range of Motion

  • pengukuran ROM sendi

  • cara mengukur ROM sendi

  • pemeriksaan lingkup gerak sendi

  • SOP pemeriksaan ROM

  • pengukuran rentang gerak sendi

  • ROM aktif dan pasif

  • pemeriksaan gerak sendi

  • goniometer sendi

  • SOP fisioterapi Puskesmas

  • pemeriksaan muskuloskeletal

  • evaluasi fungsi sendi


1. PENGERTIAN

Range of Motion (ROM) atau lingkup gerak sendi adalah luas gerakan yang dapat dilakukan oleh suatu sendi pada bidang gerak tertentu.

Pengukuran ROM merupakan pemeriksaan untuk mengetahui derajat pergerakan sendi, baik melalui gerakan aktif yang dilakukan pasien maupun gerakan pasif yang dibantu oleh pemeriksa, dengan menggunakan teknik pemeriksaan yang sesuai dan, bila diperlukan, alat ukur seperti goniometer.

Hasil pengukuran ROM dapat digunakan sebagai data dasar untuk menilai fungsi gerak, memantau perubahan kondisi pasien, mengevaluasi perkembangan terapi, serta mendukung perencanaan tindak lanjut.


2. TUJUAN

2.1 Tujuan Umum

Memperoleh data lingkup gerak sendi yang objektif, konsisten, dan dapat digunakan untuk evaluasi kondisi serta fungsi muskuloskeletal pasien.

2.2 Tujuan Khusus

  1. Mengetahui luas gerakan suatu sendi.

  2. Menilai keterbatasan gerak sendi.

  3. Membandingkan ROM antara sisi kanan dan kiri bila relevan.

  4. Menilai perubahan ROM dari waktu ke waktu.

  5. Mendukung evaluasi kondisi muskuloskeletal.

  6. Membantu menentukan kebutuhan tindak lanjut atau rehabilitasi.

  7. Menjadi data dokumentasi perkembangan pasien.


3. KEBIJAKAN

  1. Pengukuran ROM dilakukan oleh petugas yang kompeten sesuai kewenangan.

  2. Pemeriksaan dilakukan dengan memperhatikan keselamatan dan kenyamanan pasien.

  3. Pengukuran dilakukan menggunakan teknik yang konsisten.

  4. Goniometer atau alat ukur lain digunakan sesuai petunjuk penggunaannya.

  5. Pemeriksaan dihentikan apabila pasien mengalami nyeri hebat, pusing, gangguan neurologis akut, atau keluhan lain yang mengharuskan pemeriksaan dihentikan.

  6. ROM aktif dan pasif dibedakan dalam dokumentasi apabila keduanya diperiksa.

  7. Hasil pemeriksaan dicatat dalam rekam medis.

  8. Hasil ROM harus diinterpretasikan bersama keluhan, pemeriksaan fisik, dan kondisi klinis pasien.


4. PETUGAS

Pemeriksaan dapat dilakukan oleh:

  • Dokter;

  • Fisioterapis;

  • Perawat atau tenaga kesehatan lain sesuai kompetensi dan kewenangan fasilitas;

  • Petugas kesehatan yang telah mendapatkan pelatihan pemeriksaan muskuloskeletal sesuai kebijakan fasilitas.


5. INDIKASI

Pengukuran ROM dapat dilakukan pada pasien dengan:

  1. Keluhan nyeri atau kekakuan sendi.

  2. Keterbatasan gerak anggota gerak.

  3. Cedera muskuloskeletal.

  4. Kondisi setelah imobilisasi.

  5. Gangguan fungsi sendi.

  6. Kondisi pasca tindakan atau operasi sesuai indikasi klinis.

  7. Gangguan neurologis yang memengaruhi gerakan.

  8. Pemantauan rehabilitasi.

  9. Evaluasi perkembangan kondisi pasien.

  10. Pemeriksaan fungsional muskuloskeletal.


6. KONTRAINDIKASI DAN KEWASPADAAN

Pengukuran ROM harus dilakukan dengan hati-hati pada pasien dengan:

  1. Kecurigaan fraktur yang belum mendapatkan penanganan.

  2. Dislokasi atau instabilitas sendi.

  3. Cedera akut dengan nyeri berat.

  4. Luka terbuka di sekitar area yang akan diperiksa.

  5. Kondisi pascaoperasi yang memiliki pembatasan gerak tertentu.

  6. Inflamasi akut atau pembengkakan berat.

  7. Gangguan neurologis akut.

  8. Kondisi lain yang menurut pemeriksa berisiko memburuk apabila sendi digerakkan.

Pada kondisi yang dicurigai mengalami cedera struktural serius, jangan memaksakan gerakan sendi.


7. ALAT DAN BAHAN

  1. Goniometer sesuai kebutuhan.

  2. Tempat pemeriksaan atau bed pasien.

  3. Formulir pemeriksaan/rekam medis.

  4. Alat tulis.

  5. Hand sanitizer atau sarana kebersihan tangan.

  6. Alat pelindung diri sesuai risiko pelayanan.


8. PERSIAPAN PETUGAS

  1. Melakukan kebersihan tangan.

  2. Memastikan alat yang digunakan bersih dan dalam kondisi baik.

  3. Memastikan goniometer dapat digunakan dengan baik.

  4. Mengetahui sendi dan gerakan yang akan dinilai.

  5. Menjelaskan pemeriksaan kepada pasien.

  6. Memastikan privasi pasien.


9. PERSIAPAN PASIEN

  1. Identifikasi pasien sesuai prosedur.

  2. Jelaskan tujuan dan proses pemeriksaan.

  3. Minta persetujuan pasien sesuai ketentuan fasilitas.

  4. Posisikan pasien sesuai sendi yang akan diperiksa.

  5. Area yang diperiksa harus dapat diamati dengan baik.

  6. Pastikan pasien dalam posisi nyaman dan aman.

  7. Tanyakan lokasi dan tingkat nyeri sebelum pemeriksaan.


10. ANAMNESIS SINGKAT

Sebelum melakukan pengukuran, petugas menilai:

  1. Keluhan utama.

  2. Lokasi keluhan.

  3. Awal munculnya keluhan.

  4. Riwayat cedera atau trauma.

  5. Riwayat operasi.

  6. Riwayat penyakit sendi atau muskuloskeletal.

  7. Nyeri saat bergerak.

  8. Gerakan yang dirasakan terbatas.

  9. Aktivitas yang terganggu akibat keterbatasan gerak.

  10. Riwayat terapi atau rehabilitasi sebelumnya.


11. PEMERIKSAAN AWAL

Petugas melakukan pemeriksaan sesuai indikasi, antara lain:

  1. Inspeksi bentuk dan posisi sendi.

  2. Penilaian pembengkakan.

  3. Penilaian kemerahan atau perubahan kulit.

  4. Penilaian nyeri.

  5. Penilaian kekuatan otot bila diperlukan.

  6. Penilaian fungsi gerak.

  7. Pemeriksaan neurologis dan vaskular bila terdapat indikasi.


12. PROSEDUR PENGUKURAN ROM

12.1 Menentukan Sendi dan Gerakan

  1. Tentukan sendi yang akan diperiksa.

  2. Tentukan jenis gerakan yang akan diukur.

  3. Tentukan posisi pemeriksaan yang sesuai.

  4. Bila diperlukan, periksa sisi tubuh yang berlawanan sebagai pembanding.


12.2 ROM Aktif

  1. Jelaskan gerakan yang akan dilakukan kepada pasien.

  2. Minta pasien melakukan gerakan secara aktif.

  3. Amati kelancaran dan luas gerakan.

  4. Perhatikan munculnya nyeri atau keterbatasan.

  5. Ukur dengan goniometer apabila diperlukan.

  6. Catat hasil pengukuran.

  7. Jangan memaksa pasien mencapai gerakan yang menimbulkan nyeri berat.


12.3 ROM Pasif

ROM pasif dilakukan oleh pemeriksa dengan menggerakkan sendi pasien secara hati-hati.

  1. Posisikan pasien dengan benar.

  2. Stabilkan bagian tubuh yang diperlukan.

  3. Pegang anggota gerak dengan teknik yang sesuai.

  4. Gerakkan sendi secara perlahan dan terkendali.

  5. Amati respons pasien.

  6. Hentikan gerakan apabila terdapat nyeri bermakna atau tanda bahaya.

  7. Ukur sudut gerak dengan goniometer bila diperlukan.

  8. Catat hasil ROM pasif secara terpisah dari ROM aktif.


13. PENGGUNAAN GONIOMETER

Secara umum:

  1. Posisikan sendi sesuai teknik pemeriksaan.

  2. Tentukan titik acuan anatomi.

  3. Tempatkan titik poros goniometer pada area poros gerakan sendi.

  4. Sejajarkan salah satu lengan goniometer dengan segmen tubuh yang relatif tetap.

  5. Sejajarkan lengan lainnya dengan segmen tubuh yang bergerak.

  6. Lakukan gerakan sesuai jenis ROM yang dinilai.

  7. Baca nilai sudut pada skala goniometer.

  8. Catat hasil dalam satuan derajat (°).

Teknik penempatan goniometer harus disesuaikan dengan sendi dan jenis gerakan yang diperiksa.


14. JENIS GERAKAN SENDI

Gerakan yang dapat dinilai antara lain:

14.1 Fleksi

Gerakan yang mengurangi sudut antara dua bagian tubuh.

14.2 Ekstensi

Gerakan yang meningkatkan sudut antara dua bagian tubuh.

14.3 Abduksi

Gerakan anggota gerak menjauhi garis tengah tubuh.

14.4 Adduksi

Gerakan anggota gerak mendekati garis tengah tubuh.

14.5 Rotasi Internal

Gerakan memutar anggota gerak menuju arah garis tengah tubuh.

14.6 Rotasi Eksternal

Gerakan memutar anggota gerak menjauhi garis tengah tubuh.

14.7 Gerakan Khusus

Pada sendi tertentu dapat dilakukan pemeriksaan gerakan lain, seperti:

  • pronasi;

  • supinasi;

  • dorsifleksi;

  • plantarfleksi;

  • inversi;

  • eversi;

sesuai sendi dan kebutuhan pemeriksaan.


15. PENILAIAN HASIL

Hasil ROM dinilai berdasarkan:

  1. Jenis sendi.

  2. Jenis gerakan.

  3. Nilai ROM yang diperoleh.

  4. ROM aktif dan pasif.

  5. Perbandingan sisi kanan dan kiri bila relevan.

  6. Keluhan nyeri.

  7. Kualitas gerakan.

  8. Kondisi klinis pasien.

  9. Fungsi anggota gerak.

Nilai ROM tidak boleh dinilai hanya berdasarkan satu angka tanpa mempertimbangkan variasi individu, posisi pemeriksaan, teknik pemeriksaan, serta kondisi klinis.


16. CONTOH FORMAT PENCATATAN

SendiGerakanROM AktifROM PasifNyeriKeterangan
Bahu kananFleksi.....°.....°Ya/Tidak........
Bahu kiriFleksi.....°.....°Ya/Tidak........
Siku kananFleksi.....°.....°Ya/Tidak........
Siku kiriFleksi.....°.....°Ya/Tidak........
Lutut kananFleksi.....°.....°Ya/Tidak........
Lutut kiriFleksi.....°.....°Ya/Tidak........

Format dapat disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan.


17. INTERPRETASI

Secara umum:

  • ROM normal/baik: gerakan sesuai fungsi sendi dan tidak ditemukan keterbatasan bermakna.

  • ROM terbatas: luas gerakan berkurang dibandingkan kondisi yang diharapkan atau sisi pembanding.

  • Nyeri saat ROM: perlu dikaitkan dengan lokasi, jenis gerakan, dan kondisi klinis.

  • Perbedaan ROM aktif dan pasif: dapat memberikan informasi tambahan mengenai kemungkinan faktor nyeri, kelemahan, kekakuan, atau keterbatasan mekanis.

Interpretasi akhir dilakukan oleh tenaga kesehatan yang berwenang berdasarkan keseluruhan pemeriksaan pasien.


18. MONITORING DAN EVALUASI

Pengukuran ROM dapat diulang untuk memantau:

  1. Perubahan luas gerak sendi.

  2. Perubahan nyeri.

  3. Perkembangan fungsi anggota gerak.

  4. Respons terhadap terapi atau rehabilitasi.

  5. Perkembangan setelah cedera atau tindakan medis.

Pengukuran lanjutan sebaiknya menggunakan posisi dan teknik yang konsisten agar hasil dapat dibandingkan.


19. KRITERIA RUJUKAN/TINDAK LANJUT

Pertimbangkan evaluasi atau rujukan lebih lanjut apabila ditemukan:

  1. Keterbatasan ROM yang signifikan.

  2. Nyeri berat atau semakin memburuk.

  3. Deformitas atau perubahan bentuk sendi.

  4. Kecurigaan fraktur atau dislokasi.

  5. Pembengkakan berat.

  6. Gangguan fungsi yang bermakna.

  7. Gangguan sensorik atau motorik.

  8. Gangguan sirkulasi pada anggota gerak.

  9. Keterbatasan yang tidak membaik sesuai pemantauan.

  10. Kondisi yang memerlukan pemeriksaan spesialistik atau rehabilitasi medik.


20. EDUKASI PASIEN

Petugas menjelaskan:

  1. Tujuan pemeriksaan ROM.

  2. Hasil pemeriksaan secara sederhana.

  3. Pentingnya mengikuti anjuran terapi atau latihan apabila diberikan oleh tenaga kesehatan.

  4. Pasien tidak dianjurkan memaksakan gerakan yang menimbulkan nyeri berat.

  5. Pasien perlu kembali apabila keluhan bertambah atau muncul tanda bahaya.

  6. Jadwal evaluasi berikutnya bila diperlukan.


21. RISIKO/KOMPLIKASI

Pemeriksaan ROM umumnya aman apabila dilakukan dengan teknik yang benar. Risiko dapat meningkat apabila sendi digerakkan secara berlebihan atau pada kondisi yang memiliki kontraindikasi.

Kemungkinan yang dapat terjadi:

  • nyeri sementara;

  • ketidaknyamanan;

  • spasme otot;

  • perburukan keluhan pada cedera tertentu apabila pemeriksaan dilakukan tanpa memperhatikan kondisi klinis.

Karena itu, pemeriksaan harus dilakukan secara hati-hati dan sesuai kompetensi petugas.


22. DOKUMENTASI

Dokumentasi minimal mencakup:

  1. Identitas pasien.

  2. Sendi yang diperiksa.

  3. Jenis gerakan.

  4. ROM aktif.

  5. ROM pasif bila dilakukan.

  6. Nilai dalam derajat.

  7. Nyeri atau keluhan selama pemeriksaan.

  8. Temuan penting lainnya.

  9. Rencana tindak lanjut.

  10. Nama/inisial petugas.


23. INDIKATOR MUTU

IndikatorTarget
Pemeriksaan ROM terdokumentasi≥ 95%
Hasil pengukuran dicatat dalam derajat≥ 95%
Identitas sendi dan jenis gerakan tercatat≥ 95%
Pemeriksaan dilakukan sesuai kompetensi petugas100%
Temuan yang membutuhkan tindak lanjut ditindaklanjuti≥ 95%

Target dapat disesuaikan dengan indikator mutu internal fasilitas.


24. UNIT TERKAIT

  • Poli umum

  • Poli KIA/anak bila diperlukan

  • Fisioterapi

  • Rehabilitasi medik

  • Unit gawat darurat

  • Rekam medis

  • Unit rujukan/spesialistik sesuai kebutuhan


25. DOKUMEN TERKAIT

  1. Rekam medis pasien.

  2. Formulir pemeriksaan muskuloskeletal.

  3. Formulir pengukuran ROM.

  4. SOP pemeriksaan fisik.

  5. SOP kebersihan tangan.

  6. SOP rujukan pasien.

  7. Pedoman pelayanan rehabilitasi medik/fisioterapi yang berlaku.


26. DIAGRAM ALIR SOP

Identifikasi pasien

Jelaskan prosedur

Anamnesis dan pemeriksaan awal

Tentukan sendi dan gerakan yang akan diperiksa

Pastikan tidak terdapat kondisi yang mengharuskan pemeriksaan ditunda/dihentikan

Posisikan pasien

Ukur ROM aktif

Ukur ROM pasif bila diperlukan

Gunakan goniometer bila diperlukan

Catat hasil dalam derajat

Nilai nyeri dan keterbatasan gerak

Interpretasi hasil

Tentukan tindak lanjut/rujukan bila diperlukan

Edukasi pasien

Dokumentasi


27. CATATAN KESELAMATAN

  1. Jangan memaksakan gerakan sendi.

  2. Hentikan pemeriksaan apabila muncul nyeri berat atau tanda bahaya.

  3. Hindari pemeriksaan ROM yang tidak sesuai pada kecurigaan fraktur atau dislokasi sebelum evaluasi yang tepat.

  4. Stabilkan bagian tubuh sesuai teknik pemeriksaan.

  5. Jaga privasi pasien.

  6. Gunakan alat yang bersih dan layak.

  7. Hasil ROM harus dibandingkan menggunakan teknik yang konsisten.

  8. Pemeriksaan harus dilakukan sesuai kompetensi dan kewenangan petugas.


28. REKAMAN HISTORIS PERUBAHAN

NoYang DiubahIsi PerubahanTanggal Mulai Berlaku
1-Dokumen baru................
2--................

29. SEO SIAP PAKAI

Judul SEO

SOP Pengukuran ROM Sendi: Cara Pemeriksaan Range of Motion Aktif dan Pasif

Meta Description

SOP pengukuran ROM sendi lengkap untuk Puskesmas dan FKTP, meliputi persiapan, pemeriksaan ROM aktif dan pasif, penggunaan goniometer, pencatatan, interpretasi, dan tindak lanjut.

Slug

sop-pengukuran-rom-sendi

Keyword Utama

SOP pengukuran ROM sendi

Keyword Pendukung

pengukuran Range of Motion, pemeriksaan lingkup gerak sendi, cara mengukur ROM, ROM aktif dan pasif, goniometer, pemeriksaan sendi, pemeriksaan muskuloskeletal, SOP fisioterapi, pengukuran rentang gerak sendi.

No comments:

Post a Comment

POSTINGAN POPULER